Sunday, July 15, 2012

Dunia Butuh Pemimpin ‘Gila’!



    Plato adalah filusuf gila pada zamannya. Tapi kegilaannya menjadi ‘ruh’ filsafat yang senantiasa mewarnai pemikiran dan logika manusia hingga kini. Socrates gila ketika menganggap dunia material seperti yang tampak terlihat oleh mata  kita bukanlah dunia nyata, tetapi hanya foto atau salinan dunia nyata. Galileo Galilei menghabiskan  sisa usianya sebagai tahanan rumah ketika ‘dikutuk’ membawa logika sesat dan bid’ah dengan ide-ide heliosentris, kegilaan yang justru mendapat pujian dari Newton dan Einstein, penerus generasi gila di abad sains modern.

    Aristoteles berkata, “Tidak pernah ada seorang jenius tanpa ‘ramuan’ kegilaan.” Kegilaan adalah sebagian dari logika, hanya saja ketika ia tak terjangkau oleh logika mayoritas, maka ia mesti digusur dari sisi keping koin logika kesepakatan zaman untuk dicap sebagai logika gila. Sebagaimana logika sejarah, ia bisa sebagai kebenaran dan bisa pula sebagai kebohongan. Bahkan Napoleon Bonaparte menganggap bahwa “sejarah adalah serangkaian kebohongan yang disepakati.”

     Logika kekuasaan, meski ia minoritas akan menjadi benar ketika ia sejajar dengan sisi koin logika penguasa. Rakyat mayoritas berada di seberang sisi, logika gila. Di saat yang sama, rakyat punya logika berbeda. Penguasa sesat dengan logika gila, karena mereka gila logika dengan paradigmanya sendiri. Logika hukum tekstual yang bertentangan dengan keadilan berubah menjadi berhala yang selalu dijadikan senjata untuk membenarkan kebijakan negara.

     Penguasa berlogika gila karena tergila-gila logikanya sendiri, lalu menabrak logika negara. Thomas Jefferson menafsir demokrasi sebagai vox populi, vox dei, suara rakyat, suara Tuhan. Demokrasi adalah ‘ruh absolut negara,’ agama publik,  bonum commune-bonum publicum. Jika suara rakyat sebagai pijakan logika akal sehat dipinggirkan, maka penguasa sama saja dengan berlogika gila iblis yang melawan ‘logika’ Tuhan.

     Sayangnya, dinamika dunia dimeriahkan oleh orang-orang gila, begitupun dengan negara. Logika negara sama saja dengan logika keluarga dan logika manusia. Maka gagal negara, gagal keluarga, dan gagal manusia berada dalam satu garis logika. Kegagalan diakibatkan oleh berseberangannya dua sisi keping koin, antara elit dan alit. Elit di satu sisi, alit di sisi lain. Penguasa-yang dikuasai, pemimpin minoritas-rakyat mayoritas. Sukses negara baru tercipta jika logika negara pada posisi benar, ketika semua elemen berada pada satu sisi keping koin, satu arah, satu pandangan.

     Jika sisi keping koin dimekarkan ke dunia, logika manusia di dunia pun terbelah dua. Sisi keping koin logika suatu negara sisi   koin logika  negara-negara lain. Obama di sisi logika-waras ala Amerika versus  Osama di sisi logika gila ala teroris-Islam. “Serang teroris sebelum mereka menyerang Amerika!” atas nama keamanan dan HAM, itulah logika Obama. “Hancurkan antek zionis Amerika sebelum mereka menghancurkan Islam dengan cara gerilya!” atas nama perjuangan menegakkan kebenaran, itulah logika Osama.

1342333132426893021
Napoleon Bonaparte. Pemimpin
    Untuk satu sisi keping  koin logika, negara selalu berutang jasa kepada pemimpin-pemimpin gila. Adolf Hitler, Napoleon Bonaparte, Bennedict Mussolini dengan kegilaan ultranasionalisme mengantarkan Jerman, Perancis dan Italia membawa negara itu selalu digdaya. Pun demikian pula kegilaan ‘saudara tua’ Jepang, dengan kegilaan spirit bushidodan samurai, kaisar Meiji dan para pemuda gila pembaharuan sukses merestorasi politik dan sosial-budaya dalam Restorasi Meiji. Kegilaan sebuah bangsa yang akhirnya membawa negeri Sakura maju pesat dalam ekonomi dan teknologi.

     Bahkan dunia berutang jasa pada para pemimpin gila. Ernesto ‘Che’ Guevara, Fidel Castro, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi dan Bung Karno adalah para pemimpin gila yang tercatat dalam sejarah dunia. Dengan kegilaan mereka mengobarkan api revolusi melawan “imperialisme-kolonialisme-kapitalisme” barat serta spirit cinta kasih dan kerakyatan sebagai ruh perjuangan. Spirit kegilaan itu menjadi inspirasi bangsa-bangsa di dunia untuk berani bertarung nasib dalam lemparan koin logika, perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan.

      Sejarah nusantara penuh warna para pemimpin gila, dengan kegilaan pemberontakan pada keadaan untuk perubahan. Ken Arok dengan kegilaannya meretas kekuasaan tahta, lalu dari keturunannya lahir raja-raja besar. Kegilaan Raden Wijaya membabat hutan belantara untuk cita-cita mendirikan sebuah negara, lalu mencapai puncak kejayaannya ketika kegilaan Gajah Mada membuatnya bersumpah Palapa untuk menaklukkan dan mempersatukan nusantara.

      ‘Generasi gila’ pemimpi kemerdekaan berganti memainkan peran. Bung Karno, pemimpin besar revolusi, beserta ‘angkatan gila’ pada masanya tergila-gila pada kemerdekaan dan kejayaan bangsa. Mereka menabrak logika Belanda dan mendobrak logika mayoritas rakyat yang berabad-abad lemah tertindas dalam kebodohan. Bagaimana mungkin keris dan bambu runcing mampu mengalahkan senapan, meriam dan persenjataan yang jauh unggul dalam teknologi? Bagaimana bisa menyatukan ekstra keragaman nusantara dengan satu falsafah Pancasila?

   Pada akhirnya, setiap kegilaan pemikiran pada satu zaman akan berubah menjadi kewarasan di zaman lain, setelah manusia terbiasa menyeberang berbolak-balik antara dua sisi keping koin logika. Logika gila dan logika waras hanyalah posisi pada dua sisi koin logika, antara gelap-terang, iblis-Tuhan, sesat-benar, Quraisy-Muhammad, Fir’aun-Musa, DPR- KPKelit-alit, penguasa-rakyat. Manusia bebas untuk memilih sisi yang mana. Ada suatu masa di mana negara benar-benar membutuhkan pemimpin gila. Seperti kegilaan Bung Karno ketika berkata, “Amerika kita seterika, Inggris kita linggis!” Akankah hadir lagi di negeri ini seorang pemimpin revolusioner-visioner ‘gila’, tergila-gila pada harga diri, kejayaan bangsa dan rakyat sejahtera meski kadang harus menabrak dan mendobrak logika? ***

Salam…
El Jeffry

Kagawa Dan Garuda Menggebrak Liga Inggris!


1342328338252256700
Shinji Kagawa (kiri) bersama pelatih MU, Sir Alex Ferguson (tengah). Pemain Jepang ke-5 yang bermain di Liga Primer Inggris. sumber photo: http://www.arenabola.com)
     Sepakbola Jepang kembali menyuguhkan berita spektakuler. Salah satu pemain muda bertalenta, Shinji Kagawa resmi menjadi pemain di klub elit Liga Primer Inggris, Manchester United, setelah sebelumnya bermain di klub besar Jerman, Borussia Dortmunt. Konon kabarnya, bintang muda berusia 23 tahun ini dikontrak MU dengan gaji 6 juta Euro per tahunnya. (sekitar Rp. 6 miliar/bulan dengan kurs 1 Euro= Rp. 12.000).

    Kagawa menjadi pemain kelima Jepang untuk bermain di Liga Inggris setelah Junichi Inamoto (Arsenal dan Fulham), Kazuyuki Toda (Tottenham), Hidetoshi Nakata (Bolton), dan Ryo Miyaichi (Arsenal dan Bolton). Kepindahan Kagawa memang jadi pembicaraan hangat di kalangan para pemain Jepang. Ada yang iri dengan hal itu, ada juga yang termotivasi.

   “Shinji adalah pemain yang sempurna untuk sebuah tim kelas dunia. Sebagai sesama pemain Jepang, saya bangga padanya,” ujar Keisuke Honda. Gelandang CSKA Moskow itu menyebut Kagawa sebagai saingannya untuk mendapat peluang bermain di klub elit Eropa. “Tapi pada saat yang sama sebagai saingan, saya bertujuan untuk bermain di klub besar juga, dan saya pikir saya sama hebatnya dengan dia,” kata Honda.

   Rekan senegaranya yang sama-sama bermain di Liga Primer, Arsenal, menjadikan kehadiran Kagawa sebagai motivasi baginya. “Dia benar-benar bisa bermain dengan baik di sana, dan sebagai nomor Jepang 10, saya pikir dia akan menjadi bagian utama dari tim,” kata Miyaichi, yang mungkin bermain melawan Kagawa di musim berikutnya sebagai anggota skuad Arsenal. “Tapi sebelumnya aku harus bisa menampilkan penampilan terbaikku, aku tak sabar untuk bermain melawan dia,” katanya.

    Seakan tak mau kalah dengan gebrakan para ‘ksatria samurai’ lapangan hijau di Liga Primer Inggris, Garuda Indonesia melakukan hal yang sama. Tapi bukan ‘tim garuda merah putih,’ melainkan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Bedanya, jika Kagawa menggebrak sebagai pemain di klub ‘Si Iblis Merah’ MU, maka Garuda Indonesia datang sebagai salah satu sponsor klub elit ‘Si Merah’ Liverpool untuk 3 musim kompetisi sejak musim 2012/2013.

     “Meskipun bukan sponsor utama, promosi Garuda dengan menjadi sponsor Liverpool akan menguntungkan,” ucap Emirsyah Satar, Presiden and CEO Garuda Indonesia, di sela-sela acara pameran kedirgantaraan Farnborough International Air Show di London, Rabu (11/7/2012) waktu setempat. Menurut laporan wartawan Kompas, Agus Mulyadi, dari London, Emirsyah menyebutkan, pilihan dijatuhkan kepada Liverpool karena tim berjuluk “The Reds” itu bagus untuk promosi. Liverpool memiliki banyak penggemar di negara-negara di Asia, termasuk di Indonesia. (Kompas.com-15/07).

     Managing Director Liverpool Ian Ayre mengatakan: “Ini adalah kerjasama yang fantastis bagi kedua belah pihak. Liverpool memiliki fans yang mendunia dan akan bekerjasama dengan Garuda Indonesia di berbagai pasar. Kami berharap mampu membantu pertumbuhan Garuda yang sangat cepat.” (http://olahraga.plasa.msn.coml)

      Kehadiran Kagawa dan Garuda di Liga Primer Inggris adalah sebuah ilustrasi bagaimana kedua negara, Jepang dan Indonesia menyikapi sepakbola sebagai sebuah industri dan prestasi di dunia dengan cara yang sangat jauh berbeda. Jika Jepang telah terbukti sukses sebagai negara industri berteknologi tinggi dan menjadikan sepakbola berprestasi untuk  memperkuat ekonomi, sedang Indonesia lustru lebih menjadikan industri sepakbola untuk memperkuat bisnis dan ekonomi.

      Maka tidak heran jika Indonesia selalu ketinggalan dari Jepang, dalam segala hal, industri, ekonomi maupun sepakbola. Sayang kita enggan belajar dari kesuksesan Jepang, padahal dari segi potensi dan talenta pemain, Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa seharusnya tak kalah dari Jepang. Berbeda dengan Jepang yang telah menerapkan filosofi bahwa segala hal tergantung dari proses untuk mencapai tujuan, maka kita lebih cenderung mengabaikan proses untuk bersegera mencapai tujuan, gemar menempuh jalan pintas dengan cara-cara instan.

      Dalam sebuah wawancara, pelatih timnas U-22 Jepang, Yushasi Yoshida. Ia membeberkan beberapa cara agar sepakbola Indonesia bisa semaju Jepang. Kunci kesuksesan Jepang dimulai dari tim nasional kelompok umur. Federasi Sepak bola Jepang (JFA) memiliki sistem pembinaan untuk beberapa kelompok umur, seperti U-10, U-13, U-14, dan U-16. Para anak akan dididik dan dipersiapkan untuk mencapai level lebih tinggi di timnas senior. Para pemain muda ini dilatih untuk memiliki teknik bermain yang baik dan berlatih setiap hari.

    Selain itu JFA juga membuat sistem kompetisi yang selalu mengadakan pertandinagn setiap minggu, untuk semua kelompok kategori umur. Hal ini dilakukan agar mereka memiliki jam terbang yang banyak, seperti yang juga dilakukan di Eropa. Untuk sistem timnas, ada dua kategori. Tim sepakbola pelajar dan tim yang berasal dari klub. JFA membuat banyak pertandingan yang memungkinkan kedua timnas ini saling bertemu. Ada juga talent scout yang dimiliki oleh setiap klub dan akademi kelompok umur. (Kompas.com-19/07).

     Memang, menghasilkan sesuatu yang besar tidak bisa dilakukan dengan instan. Semua butuh proses panjang, bertahap dan konsisten. Pengiriman pemain ke Belanda, Italia, Uruguay ataupun Brazil mungkin membuat pemain belajar lebih baik, karena langsung belajar ke negeri-negeri yang budaya sepakbolanya kuat. Tetapi hasil yang didapat dari program instan ini terbukti tak banyak meningkatkan prestsai sepakbola Indonesia. Pretasi ‘tim garuda’ tak beranjak alias jalan di tempat. Jangankan untuk bisa berbicara di level dunia atau Asia, bahkan untuk kawasan Asia tenggara saja, seperti Piala AFF dan Sea Games, telah belasan tahun kita masih gagal menjadi juara.

      Kehadiran Kagawa dan Garuda Indonesia di Liga Primer Inggris mestinya menjadi sebuah pelajaran berharga, sebagai refleksi bersama bagaimana kita mesti banyak belajar dari Jepang. Bukan hanya sebagai ‘PR’ besar PSSI untuk kemajuan sepakbola tanah air, tapi dalam segala hal, kemajuan bangsa Jepang layak dijadikan ‘PR’ besar bangsa Indonesia. Karena bagaimanapun juga meski sama-sama bangsa Asia, kita selalu kalah dengan Jepang dalam hal menggebrak dan ‘berbicara’ di arena percaturan dunia. ***

Salam…
El Jeffry

Jokowi, Jokowisme Dan Siklus Sejarah Bangsa


  Fenomena Jokowi dan ‘jokowisme’ dalam pilkada DKI semakin menarik untuk diperbincangkan. ‘Kemenangan’ Jokowi pada putaran pertama 11 Juli mengalahkan Foke lebih dari sekadar ‘kemenangan’ pilkada. Ini adalah kemenangan ‘psikologis’ wong cilik-ndeso-pembaharuan atas  birokrat-kota-kemapanan. Entahndilalah (kebetulan) atau sudah menjadipakem ‘alur cerita’ darisononya, Jokowi dan PDIP tak lepas dari kemiripan sejarah PNI dan Bung Karno, beserta catatan peristiwanya dalam sejarah bangsa. Fenomena Jokowi seakan menjadi pembuka akan adanya perulangan dalam siklus 70 tahun sejarah nusantara.

   Pada 28 Oktoer 1928 Kongres Pemuda II di Batavia diketuai oleh Sugondo Djojopuspito menerima Sumpah Pemuda: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Inilah awal revolusi kemerdekaan berlandaskan kebangsaan dengan peran utama pemuda terpelajar, ‘ruh’ pembaharuan yang manabrak logika zaman. Suatu hal yang mustahil melihat kolonialisme Belanda yang telah berabad-abad mencengkeram bumi nusantara. Di tahun ini pula, PNI (Partai Nasional Indonesia) muncul sebagai partai, setelah sebelumnya didirikan pada 4 Juli 1927 oleh Bung Karno dan dr. Tjiptomangunkusumo dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia.

    Seakan usia manusia yang butuh waktu 17 tahun untuk meraih pengakuan kedewasaan, baru pada 17 Agustus 1945 proklamasi membuka gerbang Indonesia merdeka. Impian dan kemustahilan para pemuda 1928 tiba-tiba menjadi realita. “Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa…” Indonesia bisa merdeka. Mukjizat telah menabrak logika. Bahkan kalau saja bukan karena ‘penculikan-paksa’ beberapa pemuda dalam peristiwa Rengasdenglok, mungkin Bung Karno sendiri belum tentu meyakini bahwa hari itu adalah momen terbaik untuk proklamasi. Momentum datang, kesempatan tersedia plus ‘nekad,’ sejarah akhirnya mencatat.
13422866217379091
Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928, Jilid 1 revolusi Indonesia merdeka.(sumber photo: http://www.exelbyte.com/pemerintahan)
   Berselang 70 tahun sejak Sumpah Pemuda, perulangan sejarah terjadi. Gelombang reformasi menggelora pada 1998, kembali dimotori oleh pemuda-mahasiswa. Runtuhlah rezim orba setelah 32 tahun berkuasa, ditandai dengan turunnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Sejarah reformasi tak lepas dari sejarah PDIP. Setelah mengalami gonjang-ganjing dan berjuang ‘berdarah-darah’ melawan penindasan rezim orde baru, Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan PDIP, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,  pada 14 Februari 1999 setelah sebelumnya bernama PDI.

    Perjalanan reformasi tak seindah yang dibayangkan. Seperti kisah sejarah sebelumnya, ‘mukjizat nasional’ runtuhnya rezim orde baru ternyata hanyalah euforia sesaat. Empat belas tahun berlalu, sayup-sayup gema pembaharuan makin menghilang. Reformasi tinggal wacana. Nyaris tak lagi terdengar, lenyap, senyap, sepi ditelan hari. Gelombang harapan kandas, tinggal buih-buih dan riak kecil di tepian. Senada dan seirama dengan nasib mayoritas penghuni wilayah tepian, kaum marjinal yang terpinggirkan.

   Harta, nyawa dan kekeluargaan bangsa yang sempat terguncang gagal ditebus dengan harga yang layak dan sepadan. Reformasi, tak lebih dari  sambel terasiPedas, panas dan sedap terasa di lidah dalam sesaat, hanya tersisa aroma terasi yang masih sedikit menyengat hidung, itupun hanya ketika uap dari mulut dihembuskan ke udara. Seperti itulah aroma reformasi, tak lebih kata-kata bersejarah, sisa-sisa aroma tajam di hidung rakyat, hanya sesekali dihembuskan di pinggir halaman koran, tapi cita rasa dan manfaat nyata bagi rakyat kecil nyaris tak tersisa.

13422869911561245864
Proklamasi 17-8-1945, 17 tahun setelah sumpah pemuda 1928. (sumber photo http://listofhenri.blogspot.com)
    Ternyata alur sejarah tak bisa diduga. Realita tak selamanya terjadi sesuai dengan rencana, perhitungan logika dan analisis berdasarkan data-data statistik semata. Kini bangsa ini sedang terkurung lingkaran setan ‘kebingungan’ nasional. Bahkan bangsa ini telah kehilangan logika. Agama telah kehilangan logika. Negara telah kehilangan logika. Dalam logika-gila-dan-gila-logika, manusia tak lagi bisa membedakan mana yang logis dan mana yang tidak logis. Waras dan gila sudah tak ada lagi batasnya. Tak ada orang gila yang mengakui kegilaannya.

     Kita memasuki era “zaman edan.” Di zaman edan, semua manusia ‘merasa’ waras, meski faktanya tak waras. Ketika manusia telah ‘gila’ logika, semua peristiwa hanya diukur dengan logika dangkal, bahkan tanpa pernah menyadari bahwa logika yang dipakai sebenarnya logika gila, tidak logis, tidak masuk akal, alias pikiran edan. Hingga akhirnya ketika kegilaan pada logika masih saja gagal menyelesaikan carut-marut berbagai problema, masih saja hampir seluruh anak bangsa ‘keukeuh’ memakai logika lama dan tidak berusaha memutar arah dan cara berlogika.

    Negeri edan di zaman edan menjadi satu realitas sosiohistoris Republik“burnaskopen”masyarakat homo homini lupus nusantara yang memprihatinkan. Lingkaran setan sistemik ‘negara gagal’, rusaknya lingkungan alam dan lingkungan kehidupan, hancurnya tata keadaban publik, rusak ngeblangsak tata masyarakat, tata bangsa dan tata negara, kepandiran berpikir dan kegagapan bersikap, kekalahan peradaban, kesadaran ‘banal-magis’ elit-alitmatinya hukum dan keadilan, jurang kesenjangan menganga lebar-dalam, pola hidup hedonisme-materialisme dengan wabah endemik watak elit poly-tikus politik berpolitik  transaksional ‘banal abal-abal’ pragmatisme sempit-pendek partaikular-partambal sulam.

    Kini fenomena Jokowi dan Jokowisme bercampur aduk antara cerita rakyat, dongeng, legenda, mitos dan sejarah menyentak publik dan ‘kenyamanan’ politik. Ketika ‘spirit kebangkitan Jokowi’ menohok logika dalam ‘kemenangan’ sementara di  pilkada ibukota, banyak orang masih belum percaya meski sempat terkesima. Itu hanya kebetulan belaka! Maka ketika sebagian besar rakyat kecil banyak berharap fenomena Jokowi dan Jokowisme menjadi “momen-momentum” perubahan-pembaharuan  mendasar dan holistik bagi masyarakat-bangsa-negara Indonesia yang saat ini dalam keadaan ‘sakit parah,’ tetap saja belum cukup menggugah kesadaran dan logika.

     Ternyata tak gampang untuk melakukan revolusi mental bangsa yang sudah terlanjur sekian lama  berkesadaran ‘magis-banal‘ tanpa kesadaran ‘kritis emansipatoris transformatif, apalagi liberatif’. Kata Romo Mudji Sutrisno, kesadaran pembebasan bangsa ini telah lumpuh dan mati-beku. Di realitas dunia maya saja (mungkin termasuk Kompasiana) yang terlihat hanya ekspresi masyarakat nggrundel-mengeluh (fret society) yang fatalis-pesimis-permisif dan ‘au ah gelap.

    J. Kristiadi juga pernah berkata, “Masih jauh panggang dari api.” Dalam 10-15 tahun ke depan dengan sistem demokrasi prosedural abal-abal tanpa ’sukma demokrasi’ belum akan melahirkan elit otentik, negarawan bersukma kerakyatan. Tak akan lahirleader, yang ada cuma ‘dealer, agen atau broker politik berkepentingan partikular sempit-pendek bercorak transaksional-dagang sapi, lagi-lagi mengkhianati amanat penderitaan rakyat.
13422872911798692629
Reformasi 1998, perulangan sejarah revolusi-pembaharuan 70 tahun setelah Sumpah Pemuda 1928. (sumber photo: http://www.shnews.co)
    “Tanpa visi dan pemimpin otentik berintegritas-berkomitmen kebangsaan sejati, publik-rakyat akan menjadi liar.” Reformasi 1998 tak ada anasir-anasir itu semua, Andrinof Chaniago mengibaratkan nasi setengah matang yang gagal tanak dan tak didukung elemen golongan publik yang matang SDM demokrasi-nya. Bahkan Amin Rais saja sebagai salah satu pelopor reformasi, 5 tahun lalu telah mengatakan “Reformasi telah mati sebelum sempat tumbuh.”

    Namun memang alur sejarah tak selamanya bisa diduga. Realita tak selamanya terjadi sesuai dengan rencana, perhitungan logika dan analisis berdasarkan data-data statistik semata. Semua akan tergantung pada rakyat dan Tuhan, “Vox Populi Vox Dei, Suara Rakyat Suara Tuhan”. Tangan rakyat tangan Tuhan. Bila Tuhan telah ‘menghadiahkan’ momentum, rakyat cerdas menangkap kabar langitan, seharusnya 2015 waktu yang tepat untuk menggugah kesadaran rakyat untuk perubahan. Karena jika momentum itu terlewatkan, mungkin kita harus menunggu siklus berikutnya 70 tahun lagi di tahun 2085.

     Spirit revolusi kebangsaan pemuda pada 1928 melihat Indonesia merdeka sebagai hal yang logis pada 17 tahun setelahnya, di tahun 1945. Maka spirit reformasi mahasiswa juga mungkin akan melihat Indonesia ‘benar-benar’ merdeka sesuai tujuan reformasi sebagai hal yang logis pada 17 tahun setelahnya, di tahun 2015. Ini seperti pengulangan sejarah, “Indonesia merdeka jilid 2.” Dalam ramalan satrio piningitRonggowarsito, satrio pertama adalah Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, pemimpin yang akrab penjara dan tokoh pemimpin tersohor di seluruh dunia. Bung Karno, sang proklamator telah membuka gerbang pertama.

    Dan satrio ke-7, satrio pinandhito sinisihan wahyu, presiden RI ke-7 bakal tampil pada 2014, setahun menjelang 70 tahun usia NKRI merdeka, 2015. Jayabaya menyebutnya sebagai “ratu adil” yang akan membawa nusantara mencapai kejayaan, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja. Ia yang akan menumbangkan penguasa feodal-ningrat-birokrat arogan, para elit raksasa buta betara kala. Siklus 70 tahun dalam sejarah memang misterius, tapi momentum 70 tahunan akan selalu ada, percaya atau tidak, tak jelas bedanya, seperti ketidakjelasan batas waras pada koin logika.

      Apa arti sebuah ramalan? Bukankah itu hanya mitos, dongeng sebelum tidur untuk mengusir rasa bersalah atas kegagalan? Ramalan hanya diperuntukkan bagi wong edan! Tapi di zaman edan, siapa yang berhak mengklaim diri masih waras? Waras-edan hanyalah keberpihakan pada salah satu di antara dua sisi keping koin logika. Sepekan sebelum pilkada digelar, mungkin ketika ada yang berkata, “Jokowi akan memenangi putaran pertama!” kita akan menganggapnya gila. Bahkan ketika dikatakan gubernur DKI adalah Jokowi? Ngimpi!. Apalagi jika ada yang berkata, Jokowi bakal menjadi presiden Indonesia pada 2014 atau 2019, mungkin akan keluar pernyataan yang sama. Gila, edan, sinting, ngimpi!

    Baru ketika Jokowi-Ahok berhasil menohok ‘kepintaran’ para analis politik dan berbagai lembaga survei yang lebih menjagokan Foke-Nara pada pilkada 11 Juli, tiba-tiba semua menjadi logis, masuk akal. Ternyata para ‘peramal edan’ kembali memperoleh predikat kewarasan. Fenomena Jokowi di pilkada DKI dan gelombangJokowisme adalah suluk dan indikasi bahwa saat itu hampir tiba, kebangkitan wong cilik, kaum sandal jepit-rakyat kecil lemah tertindas dan tergilas zaman, zaman edan di negara edan yang kebingungan.

1342287879161148551
Spirit Jokowi dan jokowisme semoga menjadi pembuka RI1-7 pada 2014, 17 tahun pasca reformasi dan 70 tahun Indonesia merdeka pada 2015 (sumber photo: http://yangcocok.blogspot.com)
    Takdir sejarah tak selamanya secara matematis dan logis bisa dihitung. Gelombang perubahan, bila riaknya telah terlihat tak akan bisa dibendung. Siklus sejarah selalu berulang sepanjang zaman. Dan hanya ‘wong-wong edan’yang bisa meyakini akan adanya perulangan. Apakah itu ‘wangsit,’ ilham, wahyu, atau de javu, ada hal-hal misterius yang tak bisa terjangkau dengan logika, apalagi jika logika itu juga sudah menabrak dan melabrak otentitas logika negara dan spiritualitas republik-demokrasi Pancasila.

    Lalu bagaimana ketika ada sebuah ramalan: “Akan (telah) ada seseorang di suatu kota di tanah Jawa yang ‘merintis’ kasta dari orang biasa (sudra), ‘naik kelas’ ke kasta pengusaha (waisya) sebelum kemudian ‘naik kelas’ lagi memakai ‘baju’ ksatriyamemimpin sebuah pemerintahan kota dengan melepaskan ikatan ke-waisya-sudra-annya. Dengan ikhlas ia persembahkan ‘kerajaan kecil’ bisnisnya untuk kepentingan masyarakat tanpa secuilpun menerima ‘upah materi’ dari pengabdian ke-ksatriya-annya di pemerintahan.

    Jika ia tetap berjalan di atas jalur pakem firah caturwarna dalam ‘perjalanan spiritual’-nya, maka tidak mustahil ia akan terus meretas ‘kenaikan kelas’ kasta demi kasta, hingga kasta meraih tertinggi sebagai lakon utama sejarah “satrio pinandhito sinisihan wahyu,” ksatriya berwatak brahmana yang mengemban amanat ‘perintah langitan’ untuk tampil sebagai salah satu daftar pemimpin terbaik bangsa-negara.“ (bait terakhir Sudra Berkuasa, Kiamat Negara!)

    Biarlah sejarah menjadi sejarah, biarlah ramalan menjadi ramalan, dan biarlah yangedan tetap edan. Jokowi jadi gubernur DKI atau tidak, jadi presiden RI atau tidak, jadi pedagang atau budak, Jokowi tetaplah Jokowi, inspirasi jokowisme, simbol pembaharuan dan perlawanan terhadap kejenuhan zaman. Yang penting adalah kita tak di’haram’kan berharap akan munculnya ‘Jokowi-Jokowi’ baru yang selalu dirindukan rakyat dan jokowisme yang akan menjadi ideologi dan spirit menjelang jilid 2 perulangan sejarah bangsa, mewujudkan cita-cita reformasi 1998, semoga di tahun 2015 Indonesia benar-benar telah merdeka. ***

Salam…
El Jeffry