Thursday, July 12, 2012

Jokowi-Ahok Menohok, Foke-Nara Sayonara?


13421041051026132949
Jokowi-Ahok vs Foke-Nara. Siapa bakal menjadi jawara ibukota?(sumber photo: http://www.merdeka.com/jakarta)
Masih terlalu dini untuk memastikan siapa di antara kedua pasangan cagub yang bakal menjadi jawara ibukota. Perhitungan resmi belum selesai, meski berdasarkan pengalaman tak ada perbedaan yang signifikan dengan hasil cuick count. Dan masih ada  pertarungan final di putaran kedua yang rencananya akan digelar September mendatang.

Namun kemenangan (sementara) Jokowi-Ahok dengan margin perbedaan suara yang signifikan (42%-34%) dalam hitung cepat menjadi fenomena tersendiri. Jokowi-Ahok telah menohok. Para pengamat dan lembaga survei tertohok dan kecele, karena semula memprediksikan pasangan Foke-Nara yang unggul, sedang Jokowi-Ahok di urutan keduan.  Tohokan yang paling telak tentu Foke-Nara sendiri.

Dalam kampanye pasangan betawi ini begitu nyaring ‘berkokok,’ “Satu putaran!Experience, bukan experiment!” sebuah optimisme yang berkesan berlebihan dan arogan. Bahwa “Kami yakin bisa memenangi pilkada dengan dengan angka mutlak, bila perlu menang KO. Sebab kami adalah senior kaya pengalaman, sedang lainnya masih junior yang miskin pengalaman!” Gubernur DKI Jokowi? Ngimpi…!!!

Maka ketika rakyat menempatkan Jokowi-Ahok justru unggul atas Foke-Nara, seakan rakyat bicara” Kami tak butuh satu putaran dan pengalaman. Berapapun putaran tak masalah, dan pengalaman juga bukan yang utama, kami butuh percobaan dan pembaharuan.” Secara psikologis Foke-Nara telah kalah 2-0, gagal meyakinkan rakyat ibukota, maka dua putaran ‘terpaksa’ harus dihadapi juga. 

Pengalaman adalah modal penting, tapi bukan mudal utama. Kepemimpinan bukanlah seberapa lama seseorang mampu berkuasa, namun seberapa besar seseorang mampu membangun kepercayaan rakyat, membuktikan diri telah berjuang keras hingga ‘berdarah-darah’ untuk kepentingan rakyat.

Kepemimpinan bukanlah seberapa hebat seseorang berorasi dan beretorika dengan segudang ilmu yang yang dimilikinya, namun seberapa banyak seseorang membuktikan dan membaktikan diri mengorbankan ego pribadi-keluarga-famili untuk kepentingan orang banyak, dan terutama kaum lemah, rakyat kecil.

Jokowi-Ahok menohok anggapan bahwa kepemimpinan merakyat ‘ndeso’ bertentangan dengan kepemimpinan modern yang mesti mengedepankan ‘casing’ stylish-klimis dan perlente, bercitra mempesona dan birokratis protokoler seperti yang mayoritas dipraktekkan para pemimpin dan pejabat di negeri ini.

Jokowi-Ahok menohok kepemimpinan ber-sentimen kedaerahan, bahwa untuk menjadi pemimpin harus putra daerah,  hal yang sebenarnya justru kontras dengan semangat nasionalisme. Kecuali untuk presiden yang mempersyaratkan harus WNI asli, selain itu mestinya Indonesia yang dikedepankan. Siapapun orangnya, selama dia masih orang Indonesia, berhak dan berpeluang untuk menjadi pemimpin terbaik, di manapun dia hendak bejuang dan berbakti.

Jokowi-Ahok menjadi simbol pasangan nusantara, kolaborasi apik dua tokoh berbeda etnik, potret ideal Bhinneka Tunggal Ika, Jawa-Cina, satu di barat satu ditimur, bertemu ditengah-tengah kota Jakarta. Keduanya hijrah meninggalkan kampung halaman untuk mencoba membangun daerah perantauan Jakarta.

Jokowi-Ahok dengan usia yang relatif muda (Jokowi-Ahok 51-46, sedang Foke-Nara 64-61) menohok mitos bahwa usia tua lebih baik dari usia muda. Mitos warisan feodal yang terlanjur melekat di kalangan penguasa sejak masa orba, hal yang bertentangan dengan dinamika zaman, sementara sejarah mencatat pemudalah yang memilik energi besar untuk memperjuangkan pembaharuan. Sedang generasi tua dengan kearfi-bijaksanaannya. akan lebih terhormat sebagai bapak bangsa, ‘brahmana’ penasihat spiritual di belakang layar, bukan sebagai aktor utama pelaku tata negara.

Bung Karno pernah berkata: “Berikan Padaku Sepuluh Pemuda, maka Akan Kuguncang Dunia! ” kehadiran Jokowi-Ahok seakan oase di tengah sahara, membuka gerbang sejarah yang telah lama tertutup selama lebih dari enam dasa warsa. Jokowi-Ahok, Terlepas dari apakah kelak akan menjadi gub-wagub DKI 2012, fenomena Jokowi-Ahok adalah suluk, introduksi dari hymne bangsa sebagai pengulangan sejarah kemerdekaan.

Sumpah Pemuda 1928 menjadi titik tolak perjuangan para pemuda pembaharu Indonesia atas tiran Belanda. Jika 17 tahun adalah waktu ideal untuk kedewasaan usia manusia, maka proklamasi 1945 adalah waktu yang tepat untuk mengatakan kepada dunia, bahwa “Indonesia telah dewasa, dan kami layak untuk merdeka.”

Gelombang pembaharuan yang diusung kaum muda-mahasiswa pada 1998 menjadi titik tolak reformasi Indonesia atas tiran orba, maka sejarah harus dilalui dengan perjuangan jatuh bangun dan ‘berdarah-darah’ sebagaimana ‘darah’ kesaksian yang mesti diteteskan ketika seorang pemuda mesti berkhitan, untuk kemudian meraih predikat kedewasaan di usia 17 tahun. Pada 2015 Indonesia akan dewasa dengan tampilnya ”ratu adil” satrio piningit RI1 jilid 7 di 2014.

Maka Jokowi-Ahok lebih dari sekadar pilkada DKI, tapi sebuah fenomena pengulangan sejarah akan kebangkitan Indonesia di usia 70 tahun kemerdekaan. Pilkada DKI hanyalah potret kecil dari gambar potret perjalanan sebuah bangsa yang kadang perlu tertatih-tatih terlebih dahulu untuk kemudian berdiri sebagai bangsa besar dan berjaya.  Pilkada DKI bukan hanya sekadar adu digdaya para ksatria untuk berebut kuasa, namun sebuah langkah bersejarah untuk mengantarkan rakyat adil sejahtera, cita-cita bersama Indonesia merdeka. Mimpi Jokowi adalah mimpi DKI, juga mimpi anak negeri, NKRI.

Maka, akhirnya tak penting lagi pasangan mana yang kelak akan terpilih sebagai pemimpin Jakarta. Namun bagaimanapun. Dalam dunia politik, segala kemungkinan bisa terjadi. Bisa Foke-Nara akan memenangi pertarungan dan memimpin kampung halaman, lalu Jokowi-Ahok pulang kampung untuk meneruskan perjuangan mereka. Bisa juga Jokowi-Ahok jutru kembali menohok dan tampil memimpin ibukota, maka Foke-Nara secara ksatria mesti mengucapkan sayonara. ***

Salam…
El Jeffry

Sebulan Berpuasa, Korupsi Tetap Leluasa


Ramadhan hampir tiba. Bulan suci umat Islam di depan mata. Seperti biasa, bulan penuh berkah ini selalu disambut dengan suka cita. Kedatangan bulan puasa selalu menjadi fenomena keberagamaan Indonesia. 

Di balik berita gembira ini, ada yang aneh dengan keberagamaan di negeri ini. Namun karena keanehan sudah menjadi hal biasa, maka ia tak lagi dilihat aneh. Ala bisa karena biasa. Salah kaprah bener ora lumrah. Karena sudah terbiasa maka menjadi lumrah adanya, tradisi akhirnya menjadi budaya.

Fenomena unik, menarik sekaligus menggelitik. Bulan puasa tiba, namun energi korupsi tetap prima. Lho, kok bisa?Puasa dan korupsi, dua hal yang sangat-sangat-sangat kontradiktif, kontraproduktif dan kontraindikatif! Ternyata bulan puasa tak sanggup menghalangi umat untuk berkorupsi! Sepertinya, belum ada data yang menunjukkan bahwa di bulan puasa angka korupsi menurun secara signifikan, apalagi menghilang.

Setiap bulan puasa tiba, energi korupsi masih tetap prima. Di negeri mayoritas muslim, tentunya para koruptor itu juga muslim, tentunya juga berpuasa jika Ramadhan tiba. Tapi nyatanya, berlapar-lapar dan berdahaga-dahaga belum mampu menahan jiwa-jiwa korup dari kerakusan, keserakahan yang menjadi ‘unsur hara utama’ kejahatan, termasuk kejahatan luar biasa, “korupsi.” Uang, jabatan, kekuasaan dan pesona dunia telah menjadi berhala. Sudah biasa, sudah tradisi dan budaya, apa hendak dikata?

Ada yang keliru dalam umat beragama (baca: pelaku agama) di negeri ini menangkap makna agama. Sepertinya kita, para pelaku agama lupa, bahwa agama adalah agem-ageman kang utama, pakaian yang utama. Pakaian setidaknya berfungsi sebagai pelindung badan untuk menjaga kesehatan, sebagai penutup aurat dan aib untuk membedakan manusia dengan hewan, dan sebagai penghias penambah keindahan.

Agama pada hakikatnya adalah pakaian jiwa. Orang beragama  mestinya terjaga kesehatan jiwanya dari sifat dan  perilaku merusak, terjaga aibnya, perilaku binatang yang tak berakal pikiran dan terjaga dari perilaku jahat. Bila orang beragama tidak terjaga dari perilaku tersebut, sejatinya ia belum beragama (atheis), dan lebih ekstrem lagi telah kufur-kafir-kufar alias ingkar! Ia sama saja dengan berjalan di keramaian hanya mengenakan pakaian dalam. Dan pada titik terendah, bahkan seperti orang telanjang tanpa sehelai benang! Primata modern yang pintar berbahasa Indonesia.

Ramadhan adalah bulan khusus “hadiah” Tuhan bagi umat muslim. Setan-setan dibelenggu, pintu neraka ditutup rapat. Kejahatan dipenjara ketat. Tapi hadiah adalahhidayah, pemberian khusus untuk menunjukkan kedermawanan Tuhan Allah Ar-rahman. Tak ada hadiah yang gratis di dunia ini. Bahkan Tuhan juga tak begitu bodoh untuk memberikan hadiah kepada orang yang tak layak menerima hadiah! Ternyata setan-setan masih bebas berkeliaran. Sebulan kita berpuasa, korupsi masih tetap menggelora.

Hadiah hanya diperuntukkan bagi hamba-Nya yang disukainya karena ketaatan total tanpa menduakan. Hadiah juga diberikan sebagai bentuk dukungan agar si penerima hadiah berbuat lebih baik di masa mendatang. Puasa tahun ini mesti lebih baik dari puasa tahun kemarin, dan puasa tahun depan mesti lebih baik dari puasa tahun ini. Jika yang terjadi sebaliknya, maka tentu hadiah akan distop! Lalu bagaimana kita tahu bahwa hadiah itu pasti kita terima disetiap hari raya, sehingga dengan penuh suka cita merayakannya dengan berpesta?

“Lebaran extravaganza, lebaran euforia!” Banyak dari kita tertipu oleh “kepandiran beragama.” Agama telah kehilangan logika. Manusia tanpa logika, tak lebih baik dari binatang ternak, mamalia. Ketika kesalehan ritual-seremonial berbanding terbalik dengan kesalehan sosial-komunal, maka umat manusia terperangkap dalam kesalahan massal. Ghurur, tertipu, keblingerBlingerisme dan blingerisasi telah sedemikian parahnya melanda!

Evolusi terjadi, dulu oelama, kemarin ulama, dan kini ‘ulama.’ Di masa tempo doeloeilmu masih terjaga, lalu seiring zaman ilmu mengalami pembelokan makna, dan kini ilmu mengalami pembalikan makna dengan grafik tapal kuda. Grafik paradigma menyimpang terlalu jauh dari fitrah agama! Pinter keblinger. Berilmu, tapi tertipu. Semakin berilmu, semakin cenderung menjadi penipu. Ilmu agama dan ilmu dunia sama kongruen dan sebangun dalam mengalami pembelokan dan pembalikan makna. Kejahatan di dominasi orang berilmu, ‘ulama’-alim jahat dan intekek-intelek kualat.

Di negeri “Koruptor dan agama KTP”, agama tak lebih dari label formal di atas selembar kartu identitas. ‘Ruh’ agama gagal menghidupkan jiwa untuk mencegah maraknya kejahatan luar biasa, korupsi. Korupsi Al Qur’an di Depag beberapa hari belakangan ini menjadi bukti, bahwa keilmuan seseorang tidak identik dengan kesalehan sosial, kadang justru menjadi ‘pintu neraka’ kesalahan massal.

Dalam sejarahnya, sangat ironis ketika ternyata Depag sebagai simbol lembaga tersuci dari seluruh lembaga dunia ternyata sudah tak steril dari belitan gurita korupsi. Lebih gila na’udzubillah lagi, Depag menjadi salah satu lembaga terkorup di NKRI!Tuhan telah terdepak dari Indonesia!, kutukan sejarah menjadi niscaya, dhamma-karma dari hamba dan bangsa yang ingkar kepada agama dan durhaka kepada Tuhannya.

Bukan salah siapa- siapa.Yang menulis telah benar,
yang membaca juga telah benar
tapi ruh bacaan menghilang,huruf-huruf tersapu angin menguap ke langit tertangkap satelitlalu satelit menyampaikannya kepada manusia dalam kadar yang samaSatelit pun bersyi’ar, agama langit telah ber-evolusi menjadi agama satelit.

Ramadhan hampir tiba. Tentunya kita telah bersiap meraih pintu surga. Tapi, jika kita enggan melakukan refleksi  “keberagamaan dan keislaman” untuk sedikit ‘waras’ daripada tahun-tahun sebelumnya, maka surga yang kita impikan hanyalah berupa surga imajiner, surga di atas kertas, hanya surga prediksi tanpa dalil dan kalkulasi tanpa data.

Ketika puasa kita belum mampu meredam ‘syahwat’ korupsi dari dalam jiwa, maka surga yang kita impikan, neraka yang bakal Tuhan hidangkan. Surga hanya berhak diharapkan oleh jiwa-jiwa tenang, nafs-al-muthmainnah, bukan jiwa-jiwa ’monster’ koruptor, tikus-tikus kantor yang berenang di sungai yang kotor. Bukan pula jiwa terkontaminasi konspirasi manusia-rayap-setan dengan insting jahat buas, nggragastak kenal puas.

Ramadhan hampir tiba. Bisakah kita me-‘revolusi agama’ (Islam) agar kembali pada hakikatnya? Agar geriap riak gelombang ritual agama yang begitu indah mempesona berbanding lurus dengan nilai-nilainya, meng-eja wantah dalam keseharian umat-bangsa. Andai saja ramadhan tahun ini umat muslim di Indonesia bisa berpuasa dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya sesuai ajaran otentik Nabi Muhammad, niscaya satu bulan menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk melepaskan bangsa-negara ini dari lingkaran setan problema, seberapapun besarnya.

Dengan spirit kembali kepada fitrah kesucian di hari raya Idul Fitri, berapa banyak harta negara yang selamat dari kejahatan korupsi. Sebab mayoritas di antara kita yang terlibat di dalamnya adalah muslim, yang juga tentunya berpuasa, mendambakan surga. Berapa ribu triliun rupiah uang rakyat yang kembali karena para koruptor bertaubat demi hak surga, sebab para saksi, tersangka dan terpidana akan kooperatif terhadap KPK. Maka berapa banyak pula kasus-kasus besar misterius terungkap dan terbuka.

Berapa banyak energi negeri yang selama ini terkuras dalam perang melawan korupsi terhemat, sehingga bisa dialihkan kepada kesejahteraan umat. Berapa banyak kejahatan tercegah sehingga produktivitas meningkat secara signifikan oleh terciptanya ketenteraman. Berapa banyak ekonomi nasional terbantu dengan terjaganya inflasi, karena puasa mengajarkan kesederhanaan dan berlapar-lapar sebagai pelatihan melepas ketergantungan kepada nafsu-syahwat materi-duniawi.

Berapa banyak berkah dan kebaikan Tuhan curahkan di bumi nusantara, prototip surga di dunia, zamrud khatulistiwa, merasakan barang sebulan cita rasa gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kertaraharja, hanya dengan spirit berpuasa. Ramadhan hampir tiba. Untuk sekali saja semoga tahun ini kita dapati bulan suci yang sedikit meredam energi korupsi di negeri ini. Aamien… ***

Salam…
El Jeffry

Sumber photo: http://nbasis.wordpress.com/2009/08/20