Monday, July 2, 2012

Mengintip Kebenaran Lewat Matahari



Suatu saat tepat di tengah siang hari, saya berdiri tepat di atas khatulistiwa, saya berkata, “Demi kebenaran, matahari tepat di atas kepala.“
Anda berdiri di kutub utara, berkata, ”Demi kebenaran matahari ada di sebelah selatan.“
Dia berdiri di kutub selatan, berkata, “Demi kebenaran matahari ada di sebelah utara.“

Dan kita berkata, “Kita bertiga berselisih dan berbeda pendapat. Dengan penuh keyakinan akan kebenaran, masing-masing dari kita akan mempertahankan meski dengan pertaruhan nyawa. Mungkinkah matahari kita berbeda? Atau ada tiga matahari di dunia? Bagaimana mungkin kita bisa bersepakat pendapat?“

Mereka yang memiliki pengetahuan geografi berkata, “Sebenarnya kalian semua benar. Matahari tak pernah berubah, berkurang atau bertambah. Yang kalian perselisihkan adalah benda yang tetap dan sama, matahari yang satu. Mata dan posisi kalian yang membuat kebenaran seolah berbeda. Cobalah kalian bertemu di satu tempat dan lihat bersama.“

Lalu Anda berjalan ke arah selatan, dia berjalan ke arah utara, menempuh jarak yang sama demi keadilan, bertemu tepat di tengah-tengah, saya sebagai tuan rumah, garis khatulistiwa. Setelah semua bekumpul di satu tempat, ternyata perkataan kita sama, satu pendapat, satu suara, satu mufakat.

Alhasil, akhirnya kita bertiga berkata, “Ternyata matahari memang hanya satu, tepat posisi di atas kepala kita bertiga. Tak ada yang berbeda atau berubah arah dan jumlah dari matahari. Kita semua sepakat. Kebenaran baru tercipta dalam satu kata mufakat.“

Di lain hari, matahari ada di sebelah barat. Kita berdiri menghadap ke timur. Maka yang terlihat hanya bayang-bayang badan memanjang. Bila ingin melihat sinarnya, kita mesti memutar posisi  badan, atau ubah arah wajah, berpaling setengah lingkaran, ke arah barat.

Matahari pasti akan jelas terang benderang. Jika kita tetap bersikukuh terpaku diam, maka hingga matahari terbenam kita hanya melihat bayang-bayang, kemudian berganti hitam kelam oleh gelapnya malam.

Perubahan kecil, ternyata banyak membuat perubahan besar. Kebenaran besar tercipta dari perubahan kebenaran kecil. Hanya dengan sedikit menggeser posisi, berputar, berpaling, menoleh, berganti arah dan sudut pandang, apa yang semula bayang-bayang, samar bahkan gelap hitam-kelam, tiba-tiba saja bisa berubah menjadi nyata, jelas dan terang-benderang. Keadaan baru, jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Kebenaran baru, jauh lebih nyata dari kebenaran sebelumnya.

Boleh jadi semua manusia benar, tapi kebenaran di dunia adalah kebenaran relatif, bersifat nisbi, bias, semu, maya, penuh ketergantungan pada batasan-batasan, dan sangat beragam. Kebenaran hakiki hanya milik Tuhan, kebenaran absolut, bersifat mutlak, independen, tiada ketergantungan, tiada batasan, lurus, asli, sejati dan hanya satu, ahad, eka, tunggal.

Sebagian besar perselisihan disebabkan oleh perbedaan posisi -tempat, perspektif-sudut pandang dan persepsi-cara pandang. Perubahan dan pembaharuan sudut pandang, kecerdasan membaca keadaan, kecermatan menghadapi permasalahan, akan membuka kebenaran-kebenaran baru yang lebih meyakinkan dan menjangkau lebih banyak orang.

Ilmu pengetahuan, wilayah pertengahan, kelapangan dada dan kearifan menyikapi perbedaan, itikad baik mencari kebenaran bersama, keberanian memperbaharui dengan perubahan dan sesekali berikhtiar melihat dari sisi berbeda, akan membuka peluang  menyatunya ragam perbedaan, redanya perselisihan, terhindarnya perpecahan dan tercegahnya permusuhan antar manusia. ***

Salam…
El Jeffry

Kabilah Di Tengah Rimba


Sekelompok kabilah masih terus melangkah, di tengah-tengah rimba. Tanpa kendaraan atau kuda tunggangan, tanpa perbekalan kecuali sedikit saja. Rimba memaksa mereka beradaptasi untuk mempertahankan diri, kelangsungan hidup kebersamaan harus dijaga. Perjalanan masih panjang. Tapi amanat sudah terlanjur dipikul, terpaksa dipikul, sebab mereka tak punya pilihan. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan. 

Ganasnya belantara tak henti mengancam. Hutan kini tak ramah lagi. Kerusakan di darat, laut dan udara. Pohon-pohon meranggas, sungai keruh oleh limbah industri, langit gelap tertutup asap teknologi, tanah-ranah retak-retak pecah, kering terpanggang alam yang marah. Hujan asam silih berganti, air dan udara tercemar radiasi, peradaban sedang melakukan seleksi. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan.

Kabilah masih terus melangkah. Beberapa di kanan dan beberapa di kiri siaga menghunus pedang. Serigala-serigala dengan mata tajam mengintai dari balik semak belukar. Ular-ular berbisa, binatang-binatang melata, jalang lapar berlalu-lalang mencari mangsa, menunggu waktu kabilah lengah, lalu mereka akan berebut menyerang tiba-iba. Tapi kabilah terus berjaga dan harus tetap terjaga, siaga menghadapi ancaman dan marabahaya. Lalai sekejap saja, hancurlah pertahanan mereka, kegagalan akan menjadi petaka. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan.

Beberapa yang di depan terus menebaskan pedang. Semak belukar, bebatuan, aral dan rintangan harus disingkirkan. Duri-duri tajam, ranting-ranting beracun, darah mengalir di lengan-lengan. Keringat dan luka-luka, pedih perih tiada tara. Tapi jalan harus dibuat, jengkal demi jengkal, hasta demi hasta, tak ada perjuangan yang sia-sia.

Keyakinan dan kesadaran pasti akan menyelamatkan. Tuhan telah mengiringi langkah mereka, mengawal dengan cara yang sempurna. Selama nama-Nya masih disemayamkan di dalam dada, sari pati kekuatan suci menggerakkan tangan-tangan dan kaki-kaki. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan.

Rimba harus diselamatkan. Kerusakan harus dipulihkan. Di tempat tujuan semua akan terjawab seluruh misteri, apa yang sebenarnya terjadi dengan tanah ini. Sebab dulu hutan ini adalah hamparan taman, hijau daun pepohonan penuh kesejukan. Air bening mengalir, udara cerah, kicau burung di kala pagi, senyum riang bocah-bocah bermain di pematang sawah, gemah ripah loh jinawi, keberkahan melimpah ruah.

Surga di antara surga dunia. Sampai tiba-tiba saja semua serba berubah. Manusia telah berganti rupa menjadi binatang-binatang purba. Gegap gempita pertarungan, pergulatan, permusuhan dan peperangan menggelora di antara mereka berabad-abad lamanya. 

Kerusakan tak terelakkan, alam yang semula ramah menjadi marah. Alampun menggugat, menuntut keadilan atas perbuatan manusia. Yang ada kini hanya hamparan hutan rimba raya, semak belukar belantara. Dan hanya tersisa beberapa spesies asli manusia, sekelompok kabilah yang bersembunyi menyelamatkan diri di dalam gua suci. Merekalah yang terjaga dari bencana besar, hanya mereka, tiada lagi selain mereka.

Dan kini mereka mendapat amanat untuk mengembalikan fitrah alam, dalam sebuah pesan. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan. Entah apa isi pesan itu, biarlah menjadi rahasia. Hanya mereka yang mengerti. Karena hanya mereka yang terpilih dan menyanggupi. Hanya mereka, tiada lagi selain mereka…***

Salam…
El Jeffry