Saturday, June 30, 2012

Koin KPK: Antara Opini, Hukum Dan Keadilan


1341051072937618472
sumber photo: http://www.berniaga.com/Indonesia+1000+Rupiah+1996+Kelapa+Sawit+Bimetal-9449119
    Satu lagi suguhan cerita terkini panggung politik negeri. Serial ‘dongeng klasik’ penuh polemik, intrik hingga konflik menjadi bumbu penyedap bagi proses meramu tata boga bernegara di kuali republik. Hukum dan keadilan masih tetap jadi bahan baku utama. Terbetik kabar berita, pengajuan anggaran KPK untuk pembangunan gedung baru ditolak DPR.

   Konon kabarnya, gedung lama tak mencukupi lagi menampung ‘balatentara’ pejuang pemberantasan korupsi yang dalam perkembangannya meningkat dua kali lipat di hari ini. Tanpa dukungan fasilitas yang memadai, kinerja KPK tidak akan optimal. Masih konon kabarnya, DPR bukan tak merestui, tapi hanya ‘terganjal’ oleh tanda ‘bintang misterius’ yang menyebabkan kucuran anggaran Rp. 325,7 miliar terpaksa tertahan.

  Anggaran ditolak, KPK yang sudah terlanjur didaulat rakyat sebagai ‘dewa penyelamat’ negeri ini dari belitan gurita korupsi tak patah arang. Perjuangan harus dilanjutkan! Gagasan ‘Sang Dewa Keadilan’ lumayan brilian. Memang “kejahatan luar biasa” harus dihadapi dengan “perjuangan luar biasa.” Wacana digulirkan. Koin dilemparkan. Publik (baca: rakyat) kembali termangu di pojok pemikiran, dengan mulut menganga saking kebingungan karena terlalu lama meringkuk dalam kegelisahan belitan problem hidup yang tak kunjung mengendur, suka tidak suka terkondisikan untuk beropini dan bersikap.

  Seperti biasa lumrahnya negara demokrasi, perbedaan berpendapat adalah karakteristik spesifik yang semakin menambah cita rasa dan dinamika. Pro-kontra, mendukung-menolak, setuju-tak setuju, semua hadir dengan warna baru dan mengharu-biru. Gagasan dilontarkan. Jika DPR sebagai wakil rakyat enggan ‘mengamini’ permohonan KPK, biarlah rakyat sendiri yang secara langsung ditanya, berkenankah guyub-rukun-holopis kuntul baris saweran nasional untuk sebuah gedung baru? Koin saweran untuk KPK. Koin kepedulian anak bangsa. Koin empati ungkapan hati nurani demi cita-cita bersama memerangi korupsi.

    Koin telah dilemparkan ke udara. Kita belajar mengadu peruntungan meretas nasib bangsa dalam perang besar memberantas korupsi.  Sayangnya, di negeri ini, hukum dan keadilan ibarat dua sisi pada sekeping uang logam. Satu di kanan, satu dikiri. Selalu berdampingan dan saling merindukan tetapi tak pernah bertemu pada satu bidang sisi yang sama. Kita sedang belajar arif memilih nasib, berubah keadaan, atau tetap stagnan dalam carut-marut dan kemelut di segala aspek kehidupan.

   Koin telah mengajarkan pralambang. Di satu sisi koin, terpahat jelas Garuda Pancasila yang menjadi simbol cita-cita bersama telah lama terlupakan. Tapi kini semakin tergeser oleh angka rupiah di sisi keping koin yang lain, 25, 100, 200, 500, 1000 dan seterusnya dan seterusnya. Nilai-nilai falsafah bangsa yang menjadi simbol NKRI sering kalah dalam ‘perjudian nasional’ dalam tata-masyarakat, tata-bangsa dan tata-negara. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial selalu bernasib sial, kalah bertarung dan gagal memenangi undian ‘adu nasib.’ Hidup semakin ditentukan oleh angka-angka, pasal-pasal dan ayat-ayat hukum legal formal, teks-teks peraturan dan perundang-undangan.

      Koin telah dilemparkan. Nasib telah dipertaruhkan, opini rakyat tengah diuji. DPR sebagai representasi dari rakyat dan simbol seluruh lembaga-lembaga negara sebagai pengemban amanat secara tak sadar telah memilih sisi angka. Mereka lebih nampak sebagai penguasa dari pada pemimpin, apalagi wakil suara rakyat yang nota bene suara Tuhan. Mereka lebih mementingkan simbol-simbol teks angka-angka pasal hukum, alasan klasik dengan dalih menjaga negara hukum. Namun realitanya ironis dan kontradiktif, keadilan tak kunjung jua sanggup ditegakkan di negara hukum.

    ‘Ruh’ garuda Pancasila terpisah di sisi lain, berseberangan dan bertolak belakang dengan angka-angka pasal hukum. Korupsi menjadi setan-dajjal perusak keadilan, dengan tameng hukum. Kita sebagai sebuah negara nampaknya telah terlupa parah, bahwa hukum dan keadilan semestinya tidak terpisahkan seperti dua sisi keping koin. Hukum dibuat untuk keadilan. Jika keadilan adalah tujuan, maka hukum, lengkap dengan angka-angka dalam pasal-pasal dan ayat-ayatnya hanyalah sebagai alatnya. Hukum tanpa ruh, wayang tanpa dalang. Hukum formal hanyalah wayang, manusia di belakangnya adalah dalangnya. Tegak runtuhnya keadilan tergantung dari tegak runtuhnya hukum. Dan tegak runtuhnya hukum tergantung dari tegak runtuhnya moral manusia sebagai ‘ruh’ dari hukum.

  Akan menjadi kiamat negara ketika moral manusia di balik hukum telah terkontaminasi ‘virus-virus’ korupsi, tak ada bedanya dengan hati nurani manusia yang telah terinvasisetan-dajjal korupsi. Diakui atau tidak, sudah menjadi rahasia nasional-internasional bahwa pemimpin di republik ini telah terpenjara dalam jeruji lingkaran setan korupsi. Korupsi sistemik nan endemik. DPR (dan DPRD) adalah lembaga beraroma korup paling menyengat di hidung rakyat. Sudah menjadi suguhan kabar berita sehari-hari, terutama sejak KPK semakin mendapat dukungan publik (meskipun berdasarkan kinerjanya masih terlalu dini untuk dikatakan sebagai berhasil), satu persatu anggota dewan yang terhormat ‘terpaksa’ dan ‘dipaksa’ berurusan dengan KPK, baik yang sudah terpidana, yang baru tersangka, maupun yang masih dalam pengejaran dan proses penyidikan.

     Tak pelak, perseteruan antara DPR dan KPK, serapi-rapinya berusaha ditutup-tutupi, namun nuansa rivalitas antara kedua lembaga itu terlihat samar-samar tapi jelas. Berita terkini perihal terjegalnya anggaran gedung baru KPK adalah suatu cermin bening untuk berkaca bersama. Logis dan mafhum, setiap manusia punya naluri mendasar untuk mempertahankan diri, tak terkecuali para koruptor yang masih berkedok rapi. Bagaimana mungkin ‘sang tikus’ akan membesarkan ‘sang kucing’ yang secara hukum alamnya bakal mengancam keselamatannya?

    Koin telah dilemparkan. ‘Undian nasib’ masih berlangsung. Cerita selanjutnya mungkin akan jauh lebih ’seru’ dari pada hari ini. DPR mungkin akan ‘bertarung’ sampai titik pasal penghabisan untuk mencegah KPK memperkuat ‘daya terkam’ dengan gedung baru, tentu dengan senjata lama, bertameng hukum legal formal di satu sisi koin. Sedang KPK, di sisi koin yang lain, jika masih konsisten menjaga ‘fitrah’-nya sebagai lembaga ‘bersih-bersih nasional’ dengan tidak memberi ruang untuk terkontaminasi oleh ‘musuh dalam selimut,’ maka posisinya akan semakin kuat dengan meningkatnya dukungan rakyat.

Koin telah dilemparkan. Pilihan telah disuguhkan. Akal sehat dan hati nurani rakyat tengah diuji. Panggung pembelajaran hukum dan keadilan telah digelar. Koin akan memilah dua kekuatan, atau setidaknya sebagai alat penyaring opini publik, apakah masih berpihak pada logika hukum legal formal ala DPR, atau lebih memilih hati nurani keadilan ala KPK. Sekedar sebagai bahan refleksi bersama, gurita korupsi di negeri ini tak bisa di’amputasi’ atau di’suntik mati’ hanya oleh satu lembaga negara seperti KPK. Namun dibutuhkan kerjasama dan peran serta sebanyak mungkin elemen masyarakat, sekecil apapun andilnya akan sangat menentukan keberhasilan memerangi korupsi di negeri ini.

    Tak perlu mengharapkan 100% semua berpihak pada gagasan KPK, namun sepertiga saja rakyat Indonesia merapatkan barisan di kubu penegak keadilan, niscaya lebih dari cukup untuk memulai langkah awal. Empat keping koin ribuan dari 80 juta relawan akan terkumpul Rp. 320 miliar. Jumlah yang cukup untuk meningkatkan kinerja KPK dengan fasilitas gedung baru tanpa menunggu ‘restu’ dari DPR. Soal hukum formal, para pakar yang berpihak pada rakyat dan KPK pasti bisa mencari jalan keluarnya tanpa harus melanggar hukum yang ada. Jika untuk melancarkan “kejahatan luar biasa” para koruptor bisa bertameng pasal-pasal hukum dengan 1001 cara, alangkah tidak adilnya jika untuk “kebaikan luar biasa” tidak ada ruang untuk mengantarkan perjuangan pada tujuan mulia. ***

Salam...
El Jeffry

69 Karakter Misterius



       Di atas papan ketik ada 26 tombol huruf, 10 angka dan 32 tanda baca dan simbol-simbol tulisan utama. Jika di tambah dengan satu spasi, semuanya berjumlah 69 karakter. Jumlah yang tak seberapa dan tiada artinya sebelum tangan seorang manusia menyentuh dan memainkannya. Anehnya, hanya dengan membolak-balik susunannya, mengatur besar kecilnya huruf dan spasi, terciptalah sebuah karakter baru yang berbeda.

     Artikel, risalah, pesan, kabar-berita, nasehat, ajakan, perintah, himbauan hingga ancaman, teror dan berbagai karakter baru lainnya. Berbeda efek yang ditimbulkan dari hasil susunan satu orang dengan lainnya meski semua berasal dari bahan baku yang sama, jumlah yang sama, 69 karakter.

      69 karakter misterius. Jumlah yang sama, alat yang sama, tapi beda sentuhan, beda hasil, beda nilai, beda pula efek yang di timbulkannya. Seseorang menyusun karakter dan mengirimkannya ke media baca, jutaan orang memuji dengan penuh kekaguman dan rasa hormat. Tapi orang lain, dengan bahan baku karakter yang sama dan mengirimkannya ke tempat yang sama, jutaan orang mencaci penuh penuh kebencian dan rasa mual.

     69 karakter misterius. Di satu saat orang melihat susunannya lalu tertawa terbahak-bahak hingga keluar dahak. Di saat yang lain orang dibuat menangis tersedu-sedu hingga lidah kelu. Novel, cerpen, puisi, syair dan berbagai karya sastra lainnya, kumpulan karakter tersusun rapi seperti ‘bernyawa,’ membawa ragam cerita yang bisa mengaduk-aduk emosi manusia. Padahal jumlahnya selalu sama, tak lebih dari 69 karakter.

       69 karakter misterius. Seseorang bisa menyusunnya menjadi sebuah energi positif yang menyebarkan kebaikan, kedamaian, cinta dan persaudaraan antar manusia. Lain orang bisa juga menyusunnya menjadi sebuah energi negatif yang menyebarkan kejahatan, keresahan, kebencian dan permusuhan antar manusia. Bahan baku yang sama, alat yang sama, hanya tersusun berbeda.

     Seorang penulis profesional mahir memainkan 69 karakter dengan susunan tertentu sesuai dengan keahliannya. Terciptalah artikel opini 1.000 karakter. Dikirimkan ke media cetak, bisa dihargai Rp. 1 juta. Rp. 1.000,- per karakter. Luar biasa. Jika ia rutin memainkan 69 karakter dengan hingga terkumpul 1 juta karakter dengan susunan berbeda, Rp. 1 miliar didapat hanya dengan mengutak-utik susunan karakter.

   Benarlah kata orang. “Menulis bisa membuatmu jadi kaya.” Kekayaan intelektual tersimpan di balik tulisan. Berapa kayanya penulis novel terkenal J.K. Rowling yang mendulang uang dari royalti penjualan novel Harry Potter? Tak terhitung! Meski bahan bakunya sama dengan yang ada dalam tulisan ini, tak lebih dari 69 karakter, tapi efek yang dihasilkan antara keduanya sungguh jauh-jauh berbeda.

     Di sisi lain, “Menulis juga bisa membuatmu bangkrut bahkan masuk penjara!” Cobalah susun 1.000 karakter yang berisi fitnah kepada orang penting dan jangan kaget bila sewaktu-waktu mendapat tuntutan hukum atas dasar pencemaran nama baik seseorang. Siapkan saja sejumlah uang sebagai tebusan bila gagal menempuh jalur kekeluargaan.
69 karakter misterius. Seorang pejabat penting menulis selembar surat tak lebih dari 1.000 karakter ditujukan kepada seorang pengusaha yang sedang berburu proyek negara. Ia bisa mendapat imbalan Rp. 1 miliar. Artinya, Rp. 1 juta per karakter!

    Lebih luar biasa lagi jika seorang presiden membuat tulisan khusus sebanyak 1.000 karakter juga  yang dikirimkan kepada alamat yang tepat, lalu dari tulisannya berefek menyelamatkan uang negara sejumlah Rp. 100 triliun dari tangan koruptor. Rp. 100 milyar per karakter! Bahan bakunya sama, 69 karakter, hanya ditulis oleh orang berbeda dengan susunan berbeda.

      69 karakter misterius. Seperti misteriusnya penemuan karakter dalam simbol-simbol dan tanda yang menjadi catatan sejarah manusia sepanjang peradaban. Jika dalam tulisan hanya ada 69 karakter berbeda, maka dalam diri manusia, sejumlah penduduk bumi pada abad ini, setidaknya ada 7 milyar karakter yang tak pernah sama antara satu manusia dengan manusia lainnya. 

    Lebih misterius lagi bagaimana Sang Pencipta menghubungkan milyaran karakter manusia dengan kemampuan berbahasa, saling mengenal dan saling memahami via simbol tak lebih dari 69 karakter hanya dengan cara menulis dan membaca. ***



Salam...
El Jeffry

Tuah Warna Kostum di Final Piala Eropa 2012


    Perhelatan akbar sepakbola Eropa tinggal menyisakan partai puncak. Final Piala Eropa  yang ke-14 kalinya sejak pertama kali digelar tahun 1964 ini rencananya akan digelar di Olympic Stadium, Kiev, Ukraina pada 1 juli, atau 2 Juli pukul 01.45 WIB. Dua tim terbaik Eropa siap bertarung habis-habisan untuk membuktikan diri sebagai jawara. Tim ‘Matador’ Spanyol,  sang juara bertahan sekaligus Juara Piala Dunia 2010 berhadapan dengan tim ‘Azzuri’ Italia, sang juara Piala Dunia 2006.

   Siapa yang bakal memenangi duel pamungkas, rasanya sulit untuk diprediksi. Di atas kertas kedua tim sama-sama tangguh dan berimbang. Dari 30 pertandingan dalam sejarah pertemuan kedua tim, Italia memenangi 10 pertandingan, Spanyol memenangi 9 pertandingan dan 11 di antaranya berakhir imbang. Terakhir kedua tim bertemu pada babak fase grup dengan kedudukan imbang 1-1.

    Konon kabarnya, tuah warna kostum bakal ikut andil sebagai penentu hasil akhir. Selidik punya selidik, ternyata dalam dua putaran terakhir, Piala Eropa 2004 dan 2008 dan Liga Champions Eropa di tahun yang sama, kebetulan ada kemiripan warna kostum tim yang menjadi juara. Mengkait-kaitkan keduanya wajar-wajar saja, apalagi kedua kejuaraan bergengsi itu memang sama-sama bernaung di bawah bendera UEFA.

   Sambil sedikit bernostalgia, FC Porto menjuarai Liga Champions Eropa 2004 setelah di final mengalahkan AS Monaco. Sang juara saat itu mengenakan kostum warna putih bermotif garis biru, kostum yang sama dikenakan tim Yunani beberapa bulan kemudian ketika menjuarai Piala Eropa 2004 setelah di final mengalahkan tuan rumah Portugal 1-0.

13409775972024940020
Tuah warna putih bergaris biru membawa Porto menjadi Juara Liga Champions Eropa 2004 (sumber photo: http: //chaframboesa.blogspot.com/2011_03_01_archive)
1340978144758005029
Yunani menjuara Piala Eropa 2004 berkostum putih garis biru (sumber photo: http://sportige.com/euro-nations)
     Selang empat tahun kemudian, Mancheter United dengan mamakai kostum warna merah sukses memboyong trofi Liga Champions 2008 setelah di final mengandaskan Chelsea. Kostum warna merah juga dipakai Spanyol ketika merebut trofi Piala Eropa di tahun yang sama setelah menumbangkan Jerman 1-0. Kebetulan? Bisa jadi. Sekarang tinggal menunggu hasil satu cerita lagi.

1340978814152958715
'Si iblis merah' MU menjuarai Liga Champions Eropa 2008 (sumber photo: http://www.futbolwins.com/manchester-united-campeon-de-champions-league-20072008)
1340979132285194799
Portugal dengan kostum merahnya menjuarai Piala Eropa 2008 (sumber photo: http://beragamcerita.blogspot.com/2012/04/clickbet88com-agen-bola-terpercaya.html)
    Di tahun 2012 trofi bergengsi Liga Champions Eropa belum lama berhasil direbut ‘The Blues’ Chelsea, setelah di final menaklukkan Bayern Muenchen. Lagi-lagi ‘kebetulan,’ warna kostum sang juara adalah warna biru! Lebih kebetulan lagi, sang pecundang mengenakan kostum berwarna merah. Dan final Piala Eropa 2012 kini juga menyuguhkan warna biru khas Tim ‘Azzuri’ Italia dan warna merah khas tim ‘matador’ Spanyol. Akankah menjadi cerita yang sama dengan warna biru Chelsea melunturkan warna merah Bayern Muenchen?

1340979226893904019
Tuah warna biru membawa Chelsea juara Liga Champions 2012 (sumber photo: http://www.waloetz.com/2012/05/hasil-skor-bayern-munchen-vs-chelsea.html)
134097932069581372
Akankah kembali tuah warna biru membawa tim 'Azzuri' Italia menjadi juara Piala Eropa 2012? (sumber photo: http://www.footballtarget.com/2012/06/spain-italy-preview-euro-2012)
    Akankah tuah warna biru pada kostum tim ‘Azzuri’ Italia akan menjadi pertanda dari simbol jawara Piala Eropa, melunturkan warna merah tim ‘matador’ Spanyol? Apakah Italia akan mengimbangi rekor dua kali Spanyol dalam menjuarai Piala Eropa setelah terakhir meraihnya 44 tahun silam pada 1968, ataukah justru Spanyol yang semakin memantapkan rekor juara Piala Eropa untuk ketiga kalinya setelah 1964 dan 2008, menyamai rekor 3 kali juara tim panser Jerman?

   Mungkin yang bisa menjawab hanya Fernando Torres, jika nanti diturunkan pada pertandingan final. Dialah ikut berperan membawa kostum biru bersama Chelsea merebut trofi Liga Champions beberapa waktu lalu. Tentunya Torres bakal bertarung mati-matian untuk mematahkan mitos tuah warna kostum dengan membuat ’si merah’ Spanyol menumbangkan ‘si biru’ Italia. Sebaliknya, sang pelatih klub tempatnya bermain, Roberto Di Matteo yang kebetulan orang Italia justru mengharapkan tuah warna biru akan berlanjut membawa keberuntungan negaranya, sebagaimana dengan tuah warna biru  ia berhasil membawa Chelsea menjadi juara.

    Bola itu bundar. Apapun prediksinya, semua kemungkinan bisa terjadi. Soal tuah warna kostum apakah hanya sekedar kebetulan, mitos atau memang pertanda, laga final antara kedua tim besar Eropa tetap memiliki daya tarik luar biasa bagi ratusan juta penggemar sepakbola di dunia, termasuk Indonesia. Tunggu saja tanggal mainnya!

Salam…
El Jeffry