Tuesday, June 26, 2012

Gaji Ronaldo 1 Hari: Gaji Saya 40 Tahun!


Konon kabarnya, bintang sepakbola asal Portugal Cristiano Ronaldo mendapat gaji dari klubnya taempat bermain, Real Madrid paling kurang 12 juta euro per tahun. Dengan kurs 1 euro Rp. 12.000,- saja, maka pemain yang kondang dengan CR7 ini berarti menerima Rp. 144 milyar pertahun, atau Rp. 12 miliar perbulan, atau sekitar Rp. 400 juta perhari!

Jumlah yang fantastis jika dibandingkan dengan gaji saya. Sebagai petani ikan tradisional di kampung dengan hasil bersih panen rata-rata  Rp. 1,5 juta per periode (masing-masing periode 2 bulan), maka dalam setahun praktis gaji saya hanya berkisar Rp. 9 juta. Untuk mengumpulkan Rp. 400 juta saya harus bersabar menunggu sampai 40 tahun, itupun dengan catatan puasa seumur hidup, atau semua kebutuhan hidup harus gratis tis, sehingga tidak mengutak-utik uang penghasilan!

Tapi itulah kenyataan hidup, rambut boleh sama hitam, tapi nasib bisa berlainan, kadang bagai bumi dengan langit. Bicara soal nasib, kadang hati ini heran. Apa bedanya saya dengan Ronaldo? Nama, sekilas mirip, malah sama-sama17 karakter (termasuk spasi). Coba bandingkan Cristiano Ronaldo dan El Jeffry Handoyo? Usia, saya justru 12 tahun lebih tua, dia baru 27 tahun. Postur, cuma beda 13 cm lebih tinggi dia. Di pentas Piala Eropa yang beberapa hari lagi akan berakhir, saya dan dia sama-sama aktif. Saya ‘aktif ‘ sebagai penonton setia lewat siaran televisi, dia aktif bermain dan sukses mengantarkan Portugal mencapai semifinal. Yang jelas, sama-sama manusia. Lalu, apa bedanya?

Pertanyaan baru sedikit terjawab ketika seorang teman menyampaikan ulasan tajam, “Ronaldo dan sampeyan sebenarnya tak jauh berbeda. Satu-satunya beda adalah cara dia dan sampeyan bekerja. Ronaldo  bekerja membesarkan dirinya dengan 1 otak di kepala untuk membentuk kecerdasan 2 otak di lutut kaki. Sedang sampeyan bekerja membesarkan kepala dengan 2 otak di lutut kaki  dengan mengabaikan kecerdasan 1 otak yang diri sampeyan punya.”

Keterlaluan juga teman saya ini. Tapi, pikir punya pikir ada benarnya juga. Sedikit menghibur hati, (atau justru celakanya?), orang-orang yang bernasib seperti saya tak sedikit jumlahnya di Indonesia. Atau jangan-jangan ini pula yang membedakan secara keseluruhan bangsa Indonesia dengan bangsa Portugal? Jadi ingat pada sejarah, ketika mbah moyang-nya Ronaldo, admiral Alfonso de Albuquerque mampir ke negeri ini 5 abad silam untuk mulai imperialismenya. Pantas saja, lebih dari 380 tahun orang Portugal sukses menancapkan cengkeraman kolonialisasinya di bumi nusantara. Malah mungkin itu pula yang menyebabkan Timor-Timur terlepas kembali dari NKRI pada tahun 1999. Kita kalah kecerdasan pemain, kalah pula  dalam teknik dan taktik permainan layaknya pertandingan sepakbola. Bagaimana bisa menang Indonesia melawan bangsa Eropa?

Jika sudah begini, bagaimana mungkin seorang petani berani bermimpi menjadi selebriti, sedang untuk sekedar berlepas dari himpitan ekonomi saja sudah kembang-kempis setengah mati? Apalagi petani di negeri ini yang sudah identik sebagai ‘komunitas dengkul-pacul,’ anak tiri di negeri agraris yang selalu menjadi ‘tumbal’ ekonomi dan teknologi-industri. Ironi dengan peran vitalnya sebagai sumber utama pemasok energi. Padahal, melihat tradisi makan masyarakat yang masih kuat, andai saja seluruh petani di negeri ini ngambek dengan memboikot tanam padi, niscaya sedan Mercy tak berarti lagi tanpa sepiring nasi. Lalu bagaimana negeri ini bisa berjaya jika keliru dalam menempatkan prioritas energi? ‘Ruh’ sebuah bangsa berasal dari tanah-air dan laut-bumi? Kekuatan daya saing bangsa tercipta dari perpaduan energi fisik yang bersumber dari makanan berkarbohidrat seperti nasi dengan kecerdasan otak yang bersumber dari makanan berprotein seperti ikan.

Entah dari mana harus mengurai dan memulainya. Mungkin sama seperti nasib yang mencegah saya bermimpi, bangsa ini butuh waktu yang cukup lama untuk sekedar bermimpi ‘tim garuda’ berbicara di pentas sepakbola dunia. Bangsa Indonesia  butuh waktu 400 untuk menyingkirkan Portugal 1 hari saja dari Indonesia. Saya butuh waktu 40 tahun untuk menyamai gaji Ronaldo dalam 1 hari bekerja. Maka mungkin timnas sepakbola Indonesia juga butuh waktu 40 tahun, atau bisa jadi 400 tahun lagi, untuk sekedar tampil 1 hari mengalahkan Portugal di pentas Piala Dunia. Tapi semua itu bisa juga berbeda, jika pada pilpres 2014 nanti tampil RI1-7 yang cerdas belajar dari kesuksesan fantastis CR-7!

Salam...
El Jeffry