Tuesday, June 19, 2012

Politikus, Bukan Poly-Tikus Politik


       Bicara bahasa politik, pakar hukum senior Prof. Dr. J. E. Sahetapy dalam sebuah acara TV beberapa bulan lalu pernah mengungkapkan blak-blakan di depan para pakar hukum (yang intinya kurang lebih), “Politikus-politikus itu mereka yang berpolitik dengan jahat, sedang politisi itu mereka yang berpolitik dengan baik.”

   Membaca bahasa politik kadang cukup membingungkan, terlebih bagi prang awam. Sepintas kata politik berasal dari bahasa Latin plus bahasa Indonesia, poly-itik,banyak itik (bebek). Biasanya orang-orang yang berpolitik hanya ikut-ikutan saja, asalnimbrung, pawai dan konvoi saat kampanye pemilu, kadang tanpa tahu untuk apa dan kenapa harus begitu, sekedar ikut sebagai penggembira. Sampai akhirnya ada juga yang mengatakan bahwa politik itu aslinya dari bahasa Jawa, polahe pletak-pletik(tingkahnya loncat sana loncat sini-kutu loncat) dan pol-polane ngitik (ujung-ujungnya cuma membebek-mengekor). Aktual juga kan?

      Politik juga masih nyerempet-nyerempet dengan kata poly-thick, banyak dan tebal, banyak relasi dan berkantong tebal, atau banyak duit lagi kental. Ini akan agak pas jika membandingkan dengan orang-orang yang berada di luar politik, khususnya jelata di masyarakat desa terpencil yang mayoritas hidup dalam ke-serba minim-an, sedikit relasi, terkucil dari hingar-bingar keramaian dan berkantong tipis alias miskin.

       Nah, giliran merenungi kata pelaku politik, politikus dan politisi, lebih membingungkan lagi. Entah kebetulan atau memang ndilalah (takdir) bahasa, kok tiba-tiba politik lebihnyambung maknanya dengan kombinasi bahasa Latin-Indonesia, poly-tikus , banyak tikus. Aneh bin ajaib, jadi teringat Enno Lerian kecil di tahun 95-an pernah bernyanyi, “Banyak tikus di rumahku, gara-gara kamu, malas bersih-bersih…”

   Semakin hari semakin match saja dengan ranah perpolitikan dalam negeri yang menyuguhkan ‘kontes’ tikus-tikus politik berebut padi di lumbung republik ini. Iwan Fals juga sudah menyuarakan dengan lantang dan fals di tahun 1986 lewat lagu, “(Sebuah) kisah usang (sebenarnya), tikus-tikus kantor, yang suka berenang di sungai yang kotor. Tikus-tikus berdasi, yang suka ingkat janji, lalu sembunyi.” Bahkan lewat lagu Badut di tahun 1989 dia lebih tajam bicara tentang politikus, “Para pengaku intelek tingkah polahnya seperti badut. Kaum pencuri tikus politikus palsu saingi badut…”

    Makin membingungkan lagi, padahal secara etimologi bahasa Inggris, politikus (politican) adalah bentuk tunggal dari politik (politics), jamaknya adalah politisi (politicians). Tapi dalam faktanya, ‘kebetulan’ pas banget dengan kelirumologi bahasapoly-tikus dan kaca mata ‘sang Professor hukum’, politikus (aktor politik jahat) itu justru yang banyak dan mendominasi, sedang politisi (aktor politik baik) nyaris bisa dihitung dengan jari dan terombang-ambing ke sana ke mari. Tak heran jika ‘perjuangan’ kaum politik di dunia perpolitikan negeri ini masih ‘sukses’ menjaga ranking sebagai negara terkorup sedunia. Tidak demikian halnya jika politisi lebih dominan daripada politikus, sebab jika protagonis lebih unggul dariantagonis,tentu kebaikan yang akan menang, dan ranking negara terkorup praktis bisa diturunkan.

      Sedikit meminjam filosofi caturwarna dalam tatanan kasta, segala jalan yang menyimpang dari pakem fitrah (aturan baku orisinil-otentik) tatanan kasta dan urutan ‘perjalanan spiritual’ manusia biasanya tidak akan mencapai sasaran dan tujuan dengan sempurna. (boleh baca:  Sudra Berkuasa, Kiamatlah Negara!). Pun demikian pula dengan politik dalam tata bahasa. Penyimpangan makna dari bahasa asal makna itu dilahirkan, tentunya akan berakibat pula penyimpangan arah dan tujuan. Kebetulan atau memang sudah begitu ‘hukum karma’-nya, politik dan berbagai hal yang berkaitan dengannya mesti dikembalikan padafitrah-nya, jika ingin tujuan tercapai dengan sebaik-baiknya.

      Bentuk tunggal politik berasal dari bahasa Inggris politics, bahasa Belanda politiekdan Perancis politique. Masing-masing berasal dari bahasa Latin politicus, yang merupakan latinisasi dari Yunani politikos (dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara, sipil, milik negara), akar katanya dari polites (warga negara) dan polis(kota). (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

    Masih berkaitan dalam bahasa Inggris ada kata polite (sopan santun), dan politic(bijaksana). Maka fitrah politik seharusnya selalu berkaitan dengan warga, negara-kota, hak-hak sipil, kebijaksanaan publik (umum), kesopansantunan perilaku. Politisiatau politikus, jamak atau tunggal, semua itu hanyalah predikat kata ganti pelaku politik. Yang penting jangan sampai politik di negeri ini terus membingungkan publik awam dengan kekeliruan berkepanjangan, dan yang pasti jangan sampai ‘rel’ negara-kota dijadikan sebagai gorong-gorong tempat berkeliaran tikus-tikus politik hanya karena terkena ‘kutukan’ penyimpangan bahasa dari sebuah nama. Politikus adalah seorang pejuang politik bernurani halus, bukan poly-tikus politik, para perusak politik dari sekawanan tikus… ***

Salam…
El Jeffry
Sumber photo:http://mapikor.files.wordpress.com/2011/01/tikut-duit.jpg