Friday, June 15, 2012

PARA PENCARI DAN PARA PENCURI


    Para pencari dan para pencuri mengitari hari memutari bumi. Saling mencari sesama pencari dan saling mencuri sesama pencuri, aktor dan aksi menuliskan cerita berita suka cita dan tragedi. Pencari-pencari saling mencari, lalu mencuri sesama pencari. Pencuri-pencuri saling mencuri, lalu mencari sesama pencuri.

    Para pencari berjalan berlari-lari, mencari khazanah tersembunyi, mengeksplorasi konten langit dan volume bumi. Makna-makna bertebaran di sepanjang jalan, dalam hikmah pengetahuan. Bertriliun-trilun di seluruh dimensi. Tuhan sedang menggelar ‘permainan’ teka-teki. Kebenaran memikat pejalan suci. Para pencari terpesona kebenaran, Tuhan menawarkan hadiah kemenangan. Bertalu ditabuh genderang konvoi akbar pencarian.

    Beragam cara beragam ciri, pencari kebenaran mengeksplorasi konten langit dan volume bumi. Terbang, melayang, menyelam, menggali, membaca, mengaji dan mengkaji. Pencarian panjang, estafet regenerasi di setiap peradaban. Para pencari berkompetisi dengan cara-cara dan ciri-ciri tersendiri. Berkembang cara eksplorasi, penelitian teknologi, cara-cara membuka misteri alam semesta.

  Pencari kebenaran saling mencari saling melengkapi. Pencuri-pencuri berkeliaran, mengejar mimpi dan obsesi. Pencuri mencuri kebenaran, pencari kehilangan simpanan, pencarian terhalang oleh pencurian. Pencurian merusak pencarian. Pencari keadilan datang, mencari para pencuri, mengejar kejahatan. Pencuri-pencuri berlarian dan sembunyi.

      Pencari keadilan mengejar penjaga keadilan, hukum harus ditegakkan, kebenaran harus dimenangkan. Pencarian panjang, pencurian berjenjang. Waktu menelan kebenaran, pencarian kehilangan agunan, pencari keadilan kelelahan, penegak keadilan kebingungan, pencuri-pencuri memasuki seluruh lini kehidupan.

    Para pencuri berbaur dengan para pencari. Saling mencuri saling mencari. Pejalan-pejalan dan pelari, tercecar keinginan dan obsesi. Syahwat melata, pemenuhan kebutuhan, naluri bercampur baur dengan nurani di dalam cangkir hati, berbolak-balik antara kebaikan dan keburukan, cahaya dan kegelapan. Peradaban barbar berulang berkali-kali dan melanglang ke seluruh penjuru bumi.

   Para pencari tereliminasi, yang lurus terurus menghilang, tergantikan mereka yang menyimpang. Pencari kebenaran, pencari Tuhan, pencari keadilan, pencari kedamaian, pencari kesejahteraan, pencari ketenangan, lenyap ditelan pencari kesenangan, kebebasan berekspresi dan berkreasi, hasrat liar kebinatangan, kristalisasi dari pencarian harta, tahta dan cinta, ambisi primata berwajah manusia.

   Pencari harta berlomba, saling mencari di antara mereka. Konsinyasi, kolaborasi, konspirasi, korporatokrasi lokal-global mencuri hak negara. Sindikat dan serikat niaga, konglomerat bertambah kaya, mengeksplorasi volume bumi. Pencari harta kehilangan pencari kebenaran, penegak keadilan kehilangan kekuatan, para pencuri leluasa menggendutkan rekening mereka. Pencari harta saling mencuri. Pencuri harta saling mencari. Pencurian dan pencarian harta merusak lingkaran kebenaran. Lingkaran setan menjadi ciri-ciri kerusakan cara-cara manusia.

  Pencari tahta berlomba, saling mencari di antara mereka. Koalisi, konspirasi, korporatokrasi lokal global mencuri hak negara. Partai-partai berpolitik pragmatis. Primordialisme mencapai ambang kritis. Politisi tercuri, politikus mendengus, tikus-tikus politik menggasak harta negara lewat tahta. Para pencuri berkaca mata dan berdasi, pintar berlogika dan berdiplomasi, mahir membaca dan berorasi, pencurian berkelas tinggi, kejahatan kerah putih melanda negeri.

    Pencari cinta berlomba, saling mencari di antara mereka. Perselingkuhan membudaya, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, aborsi, prostitusi, pengkhianatan lokal global mencuri hak cinta. PSK dan hidung belang saling mencari. Nilai-nilai suci pernikahan tercuri. Syahwat binatang melata, primata berwajah manusia.

    Otoritas akal telah ditidurkan, bukan salah siapa-siapa, pencari dan pencuri pasti akan berjumpa, saling mencari dan saling mencuri. Pencari tak akan tercuri jika dan hanya jika punya cara mengenal ciri-ciri, orisinalitas dan identitas pencari dan pencuri. Di dalam ciri ada tanda, simbol dan kode rahasia. Kunci kebenaran telah dibocorkan, di balik teka-teki ‘permainan’ Tuhan. Sayangnya seribu sayang, mata kepala manusia katarak dan buta warna. Mata hati dibiarkan mati, pintu tertutup oleh syahwat harta, tahta dan cinta buta. Akal tertutup takhyul, mitos, legenda dan taklid buta.

   Pintu hati terkunci tak bisa menerima kebenaran, hari-hari diliputi kebingungan, kegelapan berlapis-lapis, gelap di atas gelap, bagaimana bisa menangkap tanda? Pesan telah disebarkan, berita telah dikabarkan, kurir langitan telah diturunkan, keterangan telah dibeberkan. Tapi pesan dianggap pepesan kosong, dibuka-buka tapi tak dibaca. Kalaupun dibaca hanya buat mainan, lempar sana sini seperti bola pingpong, rongga dada tetap saja kosong.  Mata hati terpejam tak melihat tanda-tanda, ciri-ciripun tak akan bisa dimengerti, para pencari kan bisa menjaga khazanah berharga.

   Hukum, hakim dan hikmah telah tercuri. Pencarian kebenaran dan keadilan mulai terhenti. Keputus-asaan para pencari, para pencuri terus beraksi. Hukum dipertanyakan, hakim dipersalahkan, hikmah diabaikan. Pencarian format hukum terus dilakukan. Undang-undang dan peraturan terus diterbitkan. Tapi pencurian terus berjalan. Manusia tertipu tampilan teks-teks dan lafazh-lafazh redaksional. Dikira hukum adalah huruf-huruf dan tulisan, ayat-ayat, pasal-pasal di balik kitab-kitab tebal.

    Jika hikmah telah tercuri, maka manusia tak punya apa, kecuali memori teori akademik dan kumpulan program, sistematika, statistika dan bermilyar-milyar data-data, tapi hampa dari energi dan daya paksa. Keadilan bukan makhluk hidup, ia hanya hidup setelah ditiupkan ruh ke jasadnya. Jiwa manusia, dalang penegak hukum sesungguhnya, penentu tegak runtuhnya benteng keadilan.

    Jika syahwat mencuri teredam dalam setiap jiwa, lembaga hukum tak akan lelah bekerja, sebab pencurian terminimalisir. Jika kesadaran hukum telah tertanam kuat dalam setiap jiwa, maka tiada pemanggilan paksa, pengejaran tersangka, perburuan terdakwa, tuntutan terpidana, pembelaan pengacara, penebusan, pengadilan dan penghukuman. Para pekerja hukum tak terlalu diperlukan. Biaya hidup menjadi ringan. Efisiensi uang negara. Alokasi maksimal untuk kepentingan bangsa. Rasa lapar rakyat kecil sirna dan merdeka. Anggaran pendidikan nasional ideal. Meningkatnya akal-intelektual. Terjamin kesehatan setiap keluarga. Tercipta ketenangan berkarya-cipta. Kokoh terbangun kemandirian ekonomi bangsa. Makna sesungguhnya Indonesia merdeka.

    Mungkin para pencuri tak pernah menyadari. Apa yang dicuri, apa yang dicari, mereka tak pernah mengerti. Sesungguhnya mereka tak pernah dapati apa yang dicari, sebab hati telah dicuri, adakah yang lebih menyiksa dari jiwa yang kehilangan jiwa, hati kehilangan hati. Seperti mayat hidup dan zombie. Tiada keindahan dan ketenangan. Tiada kehidupan, kegelisahan abadi. Matinya hati, siksaan terbesar sebelum dan kematian raga.

   Jika nama telah tertera di batu nisan, kubur telah dipersiapkan, pencuri tak bisa lagi mencuri dan mencari. Tiada nafas, meringkuk sunyi dalam kegelapan, menunggu hari-hari panjang tak bertepi, saat yang tepat untuk mengadili. Berapa banyak yang dicuri, berapa lama mencuri dan mencari, berapa besar kadar pencurian nilai-nilai kebenaran. Mata sebenarnya baru akan terbuka setelah sekian lama tertutup di dunia, terperangah penuh sesal dengan sepatah kata, “Duhai sekiranya dulu aku hanya menjadi seonggok tanah… !!! “

Salam…
El Jeffry