Wednesday, June 13, 2012

Sang Arif-Bijaksana, Di Manakah Dia?



     Alkisah, sebuah api ditunjukkan kepada lima orang dalam suatu kumpulan, lalu mereka menyikapinya dengan cara yang berbeda.
Orang Jawa berkata,  “Iki geni… ”
Orang Inggris berkata,  “This is fire… “
Orang Arab berkata,  “Hadzan nar… “
Orang buta berkata dengan nada jengkel, “ Kalian semua salah ! Aku tak melihat apa- apa, kecuali kegelapan dan warna hitam ! “ Orang bisu yang tahu bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, dan Arab berusaha menjelaskan tapi tak sanggup meredakan ketegangan di antara mereka.

    Perselisihan memuncak, hampir saja menjadi perkelahian ketika tiba-tiba seseorang yang menguasai segala bahasa di dunia datang lalu menyampaikan perkataan dengan tenang. “ Kalian bertiga, orang Jawa, Inggris dan Arab semua benar, hanya bicara dengan bahasa yang berbeda, tak ada yang perlu diperselisihkan. Yang buta juga benar, sebab ia tak melihat apa- apa. Yang bisu juga benar, ia hanya tak mampu berkata- kata… “

  Sebuah pelajaran kecil. Kebutaan adalah simbol kebodohan. Baginya dunia adalah kegelapan, tanpa pengetahuan, dia tak melihat apa-apa kecuali hitam kelam. Kepicikan adalah melihat dunia dari sudut sempit, kebenaran hanya berpijak pada diri pribadinya semata. Di luar dirinya, semua nampak salah dan sesat. Kebisuan, meskipun di dalamya ada pengetahuan luas, tapi kepintarannya belum cukup membawa kebaikan sesama jika ia gagal menterjemahkan bahasa manusia sebagai alat komunikasi. Hanya kearifan-kebijaksanaan yang bisa meredam perselisihan, memadamkan api permusuhan dan mencegah perpecahan ketika terjadi pertentangan dalam suatu kumpulan  manusia.

  Jika pengetahuan adalah cahaya, maka orang bodoh adalah berada di dalam kamar tertutup rapat, tanpa celah sedikitpun untuk cahaya masuk ke dalamnya. Hidupnya terkurung oleh tempurung ruang-waktu. Dia akan selalu tersesat jalan terjebak dalam kegelapan, sebab nyaris tak punya pijakan ilmu-pengetahuan untuk memaknai kebenaran. Kelompok orang bodohlah yang selalu menjadi sumber utama perselisihan dan permusuhan dalam perkara antar manusia.

   Orang awam (umum-kebanyakan) berada di dalam rumah dengan pencahayaan yang memadai untuk berktivitas. Sedikit pengetahuan untuk memahami kebenaran, namun masih mudah terpancing dalam perselisihan antar manusia. Sayangnya di dunia kelompok ini mendominasi populasi, menurut Thomas Alfa Edison, konon jumlahnya 85% dari total penghuni bumi. (boleh baca: Pemikir Sejati, Hanya 5% di Dunia)


   Orang pintar-pandai telah berkeliling halaman dan berkelana di satu desa. Ia lebih memahami cara berinteraksi dengan ribuan manusia karena lebih banyak mendapatkan cahaya ilmu-pengetahuan yang telah tersinergi dengan pengalaman. Aetingkat di atas pintar, orang cerdik-cendekia telah berkeliling dalam satu negara, bergaul dengan berbagai macam suku bangsa dan berbagai bahasa daerah. Maka dia termasuk dalam kelompok orang paling fleksibel bersikap dalam pergaulan antar manusia, paling sedikit perselisihan ketika dihadapkan pada perkara bersama. 

    Masih sayang juga, jumlah kedua kelompok ini  hanya berkisar 10% dari total manusia di dunia. Kebanyakan dari mereka terjebak dalam kebisuan, sehingga ‘gudang pengetahuan’ yang terkunci masih belum cukup memadai untuk meredam perselisihan (terlebih dalam skala luas bangsa-negara). Sebagian diantara kelompok cerdik-cendekia kadang masih terjerat dalam ketakutan berlebihan akan pengaruh negatif jika harus berinteraksi dengan kelompok yang 85%, sehingga akhirnya memilih mengambil ‘jalur aman’ dengan lebih terfokus pada penyelamatan diri, cenderung eksklusif, kurangnya kepedulian pada perkara mayoritas komunitas.

    Sedang orang arif-bijaksana telah berkeliling di seluruh dunia, memahami segala bahasa manusia, tumbuhan, binatang, lingkungan bahkan alam semesta. Mereka telah menjelajah bumi dan antariksa sehingga ‘sang mata’ melihat kehidupan merdeka dari batasan dimensi ruang-waktu. Mereka telah menangkap cahaya pengetahuan berikut sumber emanasi energinya. Dunia dan alam semesta terlihat sama , bekerja dengan pola, mekanisme, konsep dan formula hukum yang sama. Hukum, hakim, hikmah. Tatanan, kebijaksanaan dan saripati-esensi pengetahuan, muara dari seluruh kebenaran. 

  ‘Arif (yang mengenal) adalah pengenalan kebenaran sekenal-kenalnya. Nabi berkata: “Siapa mengenal dirinya, niscaya mengenal Tuhannya.” Siapa mengenal Tuhannya, tentu mengenal manusia. Siapa mengenal manusia tentu mengenal dirinya. Nafs (diri, ego, jiwa), rabb (lord-Tuhan) dan insaan-naas (human-manusia) adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Kenal salah satunya, maka kenal semuanya. Arif-bijaksana, melihat manusia plural dalam singular sekaligus singular dalam plural. Seluruh butir padi yang tersebar di muka bumi dalam jumlah tak terkalkulasi alat hitung, hakikatnya satu nama, padi. Ragam dalam satu, satu dalam ragam. Bhinneka Tungal Ika, Tunggal Ika Bhinneka. Berbeda itu (yang) satu itu. Satu itu (yang) berbeda itu. 



    Bagi arif-bijaksana, tak ada bedanya Jawa, Inggris, Arab, Indonesia, bahkan dunia dan jagad raya, termasuk orang bisu dan orang buta. Dalam kebenaran relatif, semua bisa menjadi benar, semua bisa menjadi salah, tergantung dari sudut mana melihantanya.  Arif-bijaksana telah mengenal (bukan mengetahui) sepercik cahaya kebenaran absolut, sehingga tidak kebingungan dalam perselisihan, dia tahu dari mana perselisihan itu muncul, dan tentu saja tahu pula cara meredamnya untuk mengembalikan pada satu kata asal muasal kemanusiaan. Kemanusiaan semesta, humanisme universal, uomo universale. Tugasnya hanya satu menebarkan cinta metta karunia, seperti misi rahmah lil’alamin Muhammad saw, rahmat-kasih-sayang-cinta bagi alam semesta. 

  Kelompok inilah yang hampir tak pernah ada perselisihan dalam memandang dan menyikapi hamper seluruh perkara. Sang Budha Sidharta Gautama, Bunda Theresa, Yesus Isa Al-Masih, Kong Hu Cu, Lao Tze, Gus Dur, Bung Karno, Thomas Jefferson, Abu Hamid Al Ghazali, Mansyur Al Hallaj, Syech Sitti Jenar, Musa (Moses), Raja Sulaiman (King Solomon), mereka semua berada di area millah Ibrahim (Abraham), komunitas nabi-nabi langitan dan ‘nabi-nabi sosial’ berbendera ‘agama publik’ bonum commune-bonum publicum, ‘ruh absolute’ agama universal-manunggal-pertengahan, kalimatun sawa’. 

   Arif-bijaksana adalah puncak dari gunung pemikiran, tangga terakhir manusia pemikir yang menurut Edisonstok-nya hanya berkisar 1-5 % dari jumlah manusia di dunia. Tapi kehadiran mereka selalu ada pada setiap zaman dan setiap umat-bangsa. Mereka hanya muncul dari luar ‘zona nyaman’, lahir dari kaum miskin-papa dan sepanjang hidup bergelut dan bergulat dalam tempaan kawah candradimuka kepedih-perihan ramuan pengetahuan, proses kontemplasi sampai pada saatnya tiba untuk menyampaikan ‘risalah’ amanat penderitaan rakyat (ampera). Bahkan kemunculannya sering tak terdeteksi zaman, kecuali hanya tanda-tanda kondisi sebagai indikasi kemunculannya untuk tampil menyelamatkan umat manusia dan suatu bangsa dari perselisihan, permusuhan dan kehancuran. 

  Imam Mahdi (pemimpin yang mendapat petunjuk), satrio piningit sinisihan wahyu (ksatria-pejuang di bawah petunjuk-wahyu), ‘ratu adil’, ‘juru selamat’, akan selalu ada dalam siklus kehidupan dunia, bukan hanya sebagai mitos dan legenda, namun sebagai suatu keniscayaan ‘hukum kekekalan energi’ yang berlaku abadi sejak pertama kali ‘palu keputusan azali’ diketukkan Al-Hakim, Tuhan Maha Bijaksana. (boleh baca: RI1 2014, Satrio Piningit dan Tuah Angka 7 


    Apakah akan ditafsirkan sebagai figur manusia atau system, mereka yang buta, awam, pintar, cendekia tak akan pernah mampu mengeja kalimatnya dalam satu kata yang sama, sebab hanya mereka yang arif-bijaksana yang dapat mengenali meyakini dengan haqqul-yakin kehadirannya, baik dengan pendahuluan tanda-tanda maupun tiba-tiba.  Yang pasti ketika seluruh manusia tak sanggup lagi untuk meredam perselisihan, permusuhan, ketidakadilan dan kejahatan dalam komunitas manusia, maka hanya dia sang arif-bijaksana yang akan menyelamatkan sebuah bangsa dari kehancuran. Tak ada hal lebih yang bisa dilakukan kecuali bersama-sama menempa kesabaran dan membangun kesadaran sembari menunggu sampai saatnya hari ‘H’ itu tiba.

Salam…
El Jeffry




Waspada, G 3-0: PKI Masih Ada


      Bisakah kita bayangkan apa yang akan kita lakukan jika berada dalam 3 keadaan: kosong perut (lapar), kosong kantong (bokek) plus kosong iman (lupa ajaran agama)? Mencuri? Menjambret? Merampok? Bolehkah bila dikatakan bahwa gejala 3 kekosongan, perut, kantong dan iman adalah sumber utama pemicu tindak kejahatan? Itulah G 3-0: PKI (baca: Gejala kosong: Perut-Kantong-Iman), bukan G 30 S/PKI (Gerakan 30 September/ Partai Komunis Indonesia), meski keduanya ada keterkaitan yang signifikan.


     Gejala kosong perut (lapar) adalah indikasi tidak terpenuhinya kebutuhan dasar (desakan ekonomi), kosong kantong adalah indikasi kemiskinan, rendahnya daya beli (ketidak berdayaan ekonomi), sedang kosong iman adalah hilangnya pegangan pada nilai-nilai dan norma-norma agama. Kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sumber pemicu utama dari persoalan melanda negeri ini tak lepas dari gejala trio kekosongan ini. Bahkan alur cerita G 30 S/PKI bila diurai akan nampak memiliki benang merah yang sama dengan G 3-0: PKI.

     Pasca merdeka bangsa kita (baca: rakyat) memang berkutat dengan rasa lapar (desakan pemenuhan kebutuhan dasar-khususnya pangan) dan kemiskinan/paceklik ekonomi (kondisi pada saat itu energi lebih tersita untuk konsolidasi nasional dan pengakuan kedaulatan, ‘berperang’ melawan musuh-musuh internal dan eksternal). Perang dingin dua ideologi dunia kapitalis ala Amerika Serikat versus komunis ala Uni Soviet (sekarang Rusia) lebih dominan dalam ‘menggambar’ motif sejarah perjalanan republik ini di masa-masa belia kelahirannya.

     Kesuksesan paham komunis dengan tampilnya PKI sebagai 4 besar pada Pemilu 1955 bersama PNI, Mayumi dan NU, lebih sebagai faktor kebetulan ketimbang faktor ideologis dikarenakan ketepatan momentum. Dengan mengusung slogan “sama-rata sama-rasa” sebagai manifestasi ekonomi kerakyatan-keadilan sosial plus keberpihakan pada kaum lemah (buruh-petani-nelayan) membawa partai ‘palu-arit’ itu tiba sebagai ulam yang dicinta pucuk

     Agama (Islam) telah memberi warning; “Kefakiran dekat kepada kekufuran,” menjadi jawaban logis bagaimana ideologi marxisme yang nota bene atheis bisa masuk dengan leluasa kejantung hati rakyat-umat lemah-dlu’afa. Bisa juga ‘fenomena’ itu menjadi suatu indikasi bahwa keberagamaan (keislaman) umat-masyarakat Indonesia masih eksklusif (hanya milik kaum santri) dan belum mendarah daging (kaffah) di kalangan masyarakat umum (awwam), meski dalam sejarah, Islam telah dikenal nusantara sejak adab ke-12 (sebagian mengatakan abad ke-7).

     Jika G 30 S/PKI sebagai sebuah gerakan politik bisa dikatakan telah ‘mati’, maka G 3-0: PKI sampai detik ini tetap menjadi bahaya laten yang berpotensi menimbulkan kerusakan sistemik dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari perspektif filosofis-psikologis, faktor P pada kekosongan perut menjadi simbol dari nafsu-syahwat mendasar manusia yang tidak terbatas pada perihal pangan (materi) semata.

     Meski angka kemiskinan di negeri ini di lansir masih berada pada tingkat yang memprihatinkan, namun secara umum jika hanya untuk kebutuhan dasar pangan sudah jauh lebih baik dari era pra ’65, hasil perjuangan orde baru masa pak Harto (masih terlepas dari pro-kontra sepak terjang politik Sang Jendral Bintang Lima), namun kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa pada masanya Indonesia pernah mencapai swasembada pangan, suatu prestasi luar biasa yang belum pernah bisa dicapai pemimpin pengganti beliau bahkan di era reformasi sekalipun. Hingga kadang kita bisa sedikit mafhum jika masih terasa sepoi-sepoi berhembus angin kerinduan rakyat kecil pada Soehartoisme, khususnya ketika membandingkan stabilitas keamanan, ketahanan pangan dan daya beli masyarakat ‘hari ini’ dengan ‘hari itu’.

     Mengacu pada berbagai kasus kejahatan yang makin ‘menggila’ akhir-akhir ini, Faktor P dari G 3-0: PKI, akan lebih pas dibaca sebagai nafsu-syahwat manusia yang selalu ‘merasa’ kelaparan, sehingga lahir monster-monster koruptor yang buas nggragas tak kenal puas. Efek domino dari faktor P melahirkan faktor K, kosong kantong (kemiskinan psikologis), seseorang  tak pernah merasa (cukup) kaya seberapapun pundi-pundi uang dan harta berhasil diraupnya. Kembali soal momentum ‘kebetulan,’ kapitalisme yang abad ini mencapai puncak ke’digdaya’annya melahirkan budaya hedonisme, pola hidup konsumerisme-hiper konsumtif, tradisi gemar pesta ala borjuis-bangsawan-raja dan ‘hip-hip hura-hura,’ konvoi-pawai-parade di jalan-jalan raya dengan konsekuensi biaya tinggi. “Nafsu besar tenaga kurang, gemar berhutang, marak budaya kemplang-mengemplang Tuhan urusan belakangan” memang sudah zaman edan, yang ndak ikut ngedan ndak keduman. Faktor I menjadi pelengkap, kosongnya iman dari dalam hati.

     Kalau sudah begini, mana pemicu mana efek sudah tak jelas lagi. Yang pasti jika salah satu faktornya dibiarkan ‘kosong’, maka akan berpotensi ‘mengosongkan’ kedua faktor lainnya. Seperti pepatah klasik, “Telur dan ayam, mana duluan?”, kalaulah boleh dijawab, telur ‘lahir’ dari ayam. Bisa faktor P (kosongPerut-nafsu syahwat) melahirkan faktor K (kosong Kantong-selalu merasa kekurangan) dan faktor I (kosongIman-kekufuran-kemunafikan). Atau lebih tepat dilihat dari perspektif agama, faktor I sebagai melahirkan faktor P dan K. Bila iman sudah tiada, maka manusia tak pernah bisa mengendalikan nafsu-syahwatlaparnya dan otomatis juga akan selalu merasa kekurangan harta. 

     Faktanya, koruptor kelas kakap yang bikin KPK kalang kabut dan menggasak prosentase terbesar uang negara (baca: uang rakyat) bukanlah mereka yang kurang makan dan dan kurang kaya. Korupsi yang merupakan salah satu dari 3 kejahatan besar di negeri ini disamping terorisme dan narkoba, justru dilakukan oleh orang-orang kuat, berharta dan berkuasa, dan yang pasti, 'berilmu tinggi' (intelek). Sedang untuk meng-intelek-kan diri saja butuh biaya yang jelas tidak mungkin terjangkau oleh orang miskin. Salahkah bila dikatakan bahwa kejahatan besar lebih disebabkan oleh G3-0: PKI, secara filosofis-psikologis?

     Tanpa mengurangi pentingnya pemerintah membangun perekonomian bangsa dengan pengisian kekosongan faktor P lewat program pemenuhan kebutuhan dasar pangan-sandang-papan rakyat, pengisian kekosongan faktor K lewat program peningkatan daya beli dengan penyediaan lapangan kerja, peciptaan iklim usaha kondusif dan pengendalian harga kebutuhan pokok, namun pengisian kekosongan faktor I tetap harus dijadikan pijakan strategis keduanya, sebagai ‘ruh-spirit’ pencapaian sebuah tujuan. Tanpa melibatkan faktor iman (agama), proses ‘pengisian perut’ dan ‘penebalan kantong’ tidak akan pernah efektif mencapai sasaran.

     Sekiranya tidak berkesan terlalu menyederhanakan masalah, ada formula three in one untuk menghancurkan gejala three in one. Trio kejahatan terbesar negeri ini, korupsi, terorisme dan narkoba hanya bisa dihancurkan dengan trio pesan Nabi yang masyhur tentang 3 ciri orang munafik, dusta berbicara, ingkar janji dan khianati amanat. Mungkin saja akan ada sejuta alasan untuk kita menyanggah bahwa itulah solusi mendasarnya, tapi jika setiap dari kita, manusia Indonesia ber-jihad akbar memeranginafsu-syahwat untuk belajar jujur berbicara, tepati janji dan tunaikan amanat, masih bisakah kejahatan di negeri ini berkembang leluasa dan merajalela...???

Salam...
El Jeffry