Monday, June 11, 2012

Efek Domino 8 Belenggu Jiwa



Jiwa manusia pada hakikatnya belum merdeka sebelum terbebas dari 8 belenggu utama yang senantiasa siap menjerat sepanjang perjalanan hidup di dunia. Belenggu itu ibarat jerat- jerat tali saling berkaitan dan saling menguatkan. Simpul ujung yang satu akan menjadi simpul baru yang menyambungkan ikatan yang satu dengan ikatan lainnya. Ia bekerja dalam reaksi berantai dengan mekanisme efek domino, di mana belenggu yang satu menjadi sebab dari belenggu selanjutnya, hingga ketika semuanya telah terjalin 'sempurna' ia benar-benar menjadi algojo yang siap mengeksekusi 'nyawa-jiwa.' Belenggu itu terdiri dari empat pasang secara ganda mengikat bertahap dari ujung pertama sampai pada ujung terakhir. Belenggu- belenggu ganda siap menjerat jiwa merdeka.

Belenggu ganda I: Kegelisahan dan Kesedihan.

Penyikapan hati yang keliru terhadap takdir berkenaan dengan waktu dan kejadian adalah belenggu terkuat yang paling efektif ‘membunuh’ jiwa. Ibarat tali menjerat leher, jiwa yang tak berdaya berlepas dari ikatanya bagai mayat tergantung di dahan kehidupan. Gelisah akan masa depan dan sedih pada masa lalu menjadi mata belenggu utama yang akan menjalar dan berkembang membentuk belenggu selanjutnya. Belenggu ini menjerat ketika jiwa kehilangan kesabaran dan kesadaran, bahwa segala peristiwa yang terjadi di dunia berjalan di atas ketetapan dan keputusan Tuhan, dan bahwa keputusan Tuhan itu mutlak benar, tak bisa diganggu gugat dan berlaku sepanjang waktu, masa lalu masa kini dan masa depan.

Belenggu ganda II: Kelemahan dan Kemalasan.

Inilah rantai lanjutan dari belenggu pertama. Ketika sedih dan gelisah sudah menjerat, lumpuhlah kekuatan jiwa dan raga, fisik dan mental, zhahiriah dan bathiniah. Fisik lemah, kesehatan dan daya tahan tubuh menurun, melemah dan akhirnya mentalpun ikut terpuruk dihadapkan pada persoalan hidup. Tak ada yang lebih berbahaya bagi kemajuan hidup seseorang selain kekalahan sebelum berperang dan putus asa sebelum berjuang.
Kemalasan adalah salah satu pemicu kemandegan dan kemunduran bisa berakibat kehancuran, terutama di zaman persaingan hidup yang semakin keras seperti sekarang. Tak ada yang bisa diharapkan dari jiwa yang kehilangan gairah, semangat dan dorongan untuk bergerak, berupaya dan berikhtiar berpacu meraih kemajuan dan perbaikan. Jika belenggu kelemahan fisik kemalasan tidak segera dilepaskan maka bersiaplah menunggu datangnya belenggu lanjutan yang lebih mengancam.

Belenggu ganda III: Kepengecutan dan Kekikiran.

Setelah jeratan belenggu kegelisahan, kesedihan, kelemahan dan kemalasan melumpuhkan daya, terpuruk dalam himpitan ragam problema, maka porak porandalah hidup, ekonomi, kehormatan dan kepercayaan diri. Tibalah jerat ketiga, kejatuhan mental, ciut nyali menghadapi manusia dan tantangan hidup. Jiwa pengecut, rendah diri dan memandang orang lain terlalu tinggi, hidup hanya diukur dari segi kebendaan-materi. Lalu jerat belenggu kekikiran turut memperparah keadaan. Logikanya, bagaimana akan bisa mengulurkan tangan membantu orang apabila dirinya sendiripun butuh pertolongan ? Bagaimana dari jiwa yang terpuruk akan tumbuh kedermawanan ? Sikap mental yang buruk membentuk sifat buruk pula di lain hal, kekikiran menjadi sebab sekaligus akibat yang saling berkaitan.

Kekikiran adalah tali tajam yang paling kejam menjerat jiwa- jiwa merdeka. Kekikiran membuat orang menjadi pengecut, tidak berani ber-jibaku ambil resiko karena kekhawatiran kehilangan harta. Kekikiran juga memicu kegelisahan, tidak mampu berkonsntrasi karena harta memang butuh penjagaan. Kekikiran juga menjadi sumber kesedihan pada saat oleh suatu hal harta menjadi berkurang atau menghilang di luar keinginan. Setelah kepengecutan dan kekikiran memperkuat jalinan seluruh belenggu, jiwa lunglai terjerat, mati tidak, hiduppun sekarat.

Belenggu ganda IV: Jeratan Hutang dan Ditindas Musuh.

Inilah konsekuensi dari rangkaian belenggu sebelumnya yang dibiarkan mengikat jiwa dan terakumulasi dalam waktu lama. Penjajahan, penindasan dan tiran muncul ketika jiwa-jiwa lemah bertemu jiwa-jiwa kuat nan jahat. Setan adalah musuh yang nyata. Manusia yang dikuasai setan adalah musuh yang selalu ada dan berkeliaran mencari mangsa, jiwa-jiwa lemah yang mati ‘bunuh diri’ dalam jeratan belenggu kegelisahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kekikiran dan jeratan hutang. Penjajah dan penindas tinggal menyambut bola, ibarat menepuk lalat kecil, mudah saja berkuasa, terciptalah perbudakan, penjajahan dan penindasan antar manusia.

Indonesia Sebagai Sebuah Bangsa-Negara.

Semua akan jadi jelas dan layak dipercaya ketika melihat fakta terkini Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa, benar atau tidaknya tiran-penjajahan berakar dari 8 belenggu yang saling terkait bekerja dengan mekanisme efek domino. Bermula dari kesedihan pada masa lalu sehingga antar generasi cenderung menyalahkan rezim masa lalu, kegelisahan berlebihan kepada masa depan karena tiadanya persiapan dan perencanaan jangka panjang yang kokoh matang.

Lalu menjadi bangsa yang lemah dalam segala aspek, perilaku malas (budaya instan dan rendahnya etos kerja), berimbas pada jatuhnya mental petarung dalam percaturan dunia global. Jadilah bangsa pengecut, minder dan tunduk pada kekuatan asing, kikir karena tak berharta, bergelut dengan kemelut defisit anggaran negara dan angka kemiskinan terus menggila, dan akhirnya negara ini terjebak dalam jeratan hutang pada lembaga-lembaga finansial asing. Pada akhirnya, terpuruk tak berdaya di bawah kendali musuh dan kekuatan asing adalah keniscayaan yang tak terhindarkan.

Tiran-penjajahan dan segala bentuknya, imperialisme, kolonialisme, kapitalisme atau isme-isme yang lain hanya dapat dihancurkan dengan memperjuangkan kemandirian, berdikari, melepaskan diri dari belenggu-belenggu jiwa, seperti yang selalu digembar-gemborkan pemimpin bangsa ini sampai ‘meniren’ pada masa-masa awal pasca merdeka. Membangun bangsa mandiri, berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Di situlah baru akan diraih hakikat makna dari kemerdekaan sesungguhnya.

Sebuah bangsa ada dari sekumpulan manusia. Bicara tentang Indonesia adalah bicara tentang 240 juta jiwa manusia. Satu bangsa bisa dianalogikan sebagai satu tubuh. Maka ia bekerja dalam mekanisme yang sama sebagai sebuah sistem. Ketika bangsa ini sudah bersepakat untuk memilih ‘manhaj’ sistem demokrasi-republik sebagai ‘ruh absolut negara’ di mana setiap jiwa berperan berdaulat-berkuasa, maka ‘hidup-mati’ bangsa tergantung dari ‘hidup-mati’nya setiap jiwa yang ada, tanpa kecuali. (lihat: Syahwat Nekolim Vs Jiwa (Bangsa) Merdeka).

Tertera di alinea ke-3 Pembukaan UUD ’45: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. ”

Ketika memahami agama sebagai ‘ruh’ bangsa, kemerdekaan tak terlepas dari ‘campur tangan’ Tuhan, maka do’a perlindungan adalah spirit yang membuka kesadaran jiwa untuk menemukan akar dari tiran-penjajahan, beritikad kuat memperjuangkan hakikat kemerdekaan. Sebagai bangsa beragama, mau tak mau mesti mengakui bahwa setan-kejahatan (termasuk di dalamnya tiran-penjajahan-nekolim) hanya dapat dihindarkan dengan berlindung kepada-Nya, Dialah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pelindung.

Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhli, wa a’udzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijal…” 

“Ya Allah, sungguh, aku berlindung kepada Engkau dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan dari jeratan hutang dan penindasan musuh…” ***

Salam...
El Jeffry