Sunday, June 10, 2012

500 Tahun Benalu Penjajah di Pohon Sejarah


     Pohon sejarah telah tertanam. Hijau rindangnya dedaunan pohon, tertutup rapat oleh dedaunan benalu. Parasit berkembang dan menumpang, tumbuh subur di sekujur dahan dan ranting, sang pohon merana kurus kering. Benalu penjajahan abadi menetap di inang pohon, sejarah bangsa. Berabad-abad sang pohon bergelut dengan parasit, perjuangan untuk kemerdekaan. Namun benalu enggan melepaskan lilitan. Sudah hukum alam, kehidupan benalu tergantung dari ‘kebaikan budi’ sang inang. Tanpa arus nutrisi inang pohon, bagaimana bisa benalu bertahan? Ke mana lagi benalu  mencari sumber energi?

    Di garis waktu kambium pohon sejarah, kronologi Indonesia tertulis sebagai history-syajarah, gambar hidup negeri agraris gemah ripah dengan kekayaan rempah-rempah. Peradaban dunia mengalir di sungai takdir. Rol serial film dokumenter berputar, goro-goromembuka babad cerita bumi nusantara.

    Kocap kacarita
, abad 15 Eropa keluar dari tiran zaman kegelapan ke alam pencerahan.Renaissance-Humanism menggelora, kemanusiaan dilahirkan kembali. 
Uomo Universale,manusia universal menggelora dalam cita-cita. Sains-teknologi menyibak cakrawala dunia. Gelombang revolusi industri menghempaskan era penjelajahan samudera. Eksodus dalam ekspedisi, eksplorasi dan ekspansi, berkibar di atas bendera tiga misi, Gold-Gospel-Glory.

    Portugal di bawah Admiral Alfonso de Albuquerque tiba di Malaka 1511, benalu pertama menempel di pohon nusantara. Hampir seabad menancapkan koloni dan imperialnya, baru 1595 mengecilkan cengkeramannya, bertahan 380 tahun di Timor Timur sampai 1975 koloni berintegrasi dengan Indonesia, meski akhirnya pada 1999 sang pohon Timor Leste terlepas lagi, berdiri sendiri sebagai negara merdeka.

    Tak lama berselang, Ferdinand Magelhaens membawa armada Spanyol tiba di Sulawesi Utara 1521, benalu ke-2 menancapkan koloninya. Hampir dua abad bercokol, 1692 baru mengakhiri ‘masa iddah’-nya. Benalu ke-3, Perusahaan Dagang Hindia Timur, Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) di bawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba di Sunda Kelapa 1602 atas nama niaga. Praktek monopoli perdagangan membuka kolonialisme kompeni-Belanda, penjajahan kemanusiaan dan penindasan diambil alih oleh pemerintahNetherland pada 1816, pohon kemerdekaan nusantara merana 350 tahun lamanya.

     Tak ketinggalan, meski hanya nebeng sebentar menyela meramaikan suasana , benalu ke-4 Inggris, 1814 berkuasa di Bone, Sulawesi, lalu hengkang lagi dalam perjanjian niaga saat kejatuhan Napoleon Bonaparte 1816. Rafflesia menjadi kenangan sejarah untuk mengabadikan nama bunga bangkai temuan ekspedisi Thomas Stamford Raffles 1818.

     Pasca kekalahan Perang Dunia II, Belanda digusur ‘saudara tua’ Jepang 1942, benalu pertama sesama bangsa Asia, sekaligus benalu ke-5 yang pernah ada di pohon sejarah nusantara. Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia merdeka, Jepang ‘dipaksa’ pulang ke negerinya, pohon sejarah pertama tertanam di tanah merdeka. Orde pertama pemerintahan negara berdaulat, Sang proklamator Bung Karno mengajak anak bangsa menggeliat penuh semangat menata republik merdeka. 20 tahun berpayah-payah bersimbah darah menjaga tegaknya pohon bangsa dari sisa-sisa benalu lama.

   Belum lagi sempat menikmati ranumnya buah perjuangan panjang, Soeharto tampil ke panggung kekuasaan, orde baru menawarkan jasa ‘penyelamatan’ paceklik rakyat, orde lama menjadi cerita lama dan ‘phobia.’ Harapan bangsa membubung tinggi, toh akhirnya ‘buah maja’ terpaksa ditelan lagi. Pahit, getir, perilaku benalu ternyata masih tersisa di pohon sejarah bangsa. Penjajahan model baru kental muslihat dan rekayasa. 

      Satu generasi kembali merana, tiga dasa warsa berkuasa, akhirnya orde barupun tumbang lewat ‘hukum karma,’ darah, keringat dan air mata. Bangsa kembali merajut mimpi, “Kali ini pohon bangsa pasti akan tumbuh suci.” Orde reformasi menebar ueforia dan samudera janji. Empat presiden bergantian. B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono. Lagi, lagi dan lagi, penjajahan gaya terkini dimulai. Neokolonialisme dan neoimperialisme termodifikasi di era teknologi komunikasi. Atas nama kebebasan berdemokrasi dan berekspresi, benalu edisi terbaru dari sejarah panjang benalu, tumbuh semakin rimbun-tambun dan seiring waktu.

   Alhasil, trio buta-betara-kala mencekik leher bangsa, korupsi, terorisme dan narkoba. Rakyat menggugat, pohon syajarah bangsa nyaris sekarat. Lilitan benalu masih saja membelit kuat, daun-daun tak lagi rimbun, hilang satu persatu seakan dimakan ulat. Semelimpah apapun unsur hara tanah zamrud khatulistiwa, macetnya arus nutrisi membuat malfungsi metabolisme sang pohon, krisis fotosintesa berujung krisis multidimensi. Benalu penjajahan menghisap seluruh cadangan energi bangsa.

      Barangkali negeri ini butuh jeda,,, menghela nafas panjang untuk menimbang-nimbang, “Ada apa dengan pohon kita?” Mungkinkah kitab “Peladjaran Sedjarah” telah salah  di bangku sekolah? Jika begitu, tak ada salahnya pula sesekali mencicipi nikmatnya ber’putus asa-puasa.’ Tembok baja telah digedor-gedor dengan paksa, tangan-tangan berdarah penuh luka gagal membuka. Coba rehat sesaat sesekali saja, duduk bersila, mencari tanya dalam keheningan cipta. Ada kalanya semangat belaka tak cukup mengubah dunia. Masa depan pohon sejarah bangsa telah terbayang suram di kacabenggala.

   Orde-orde lanjutan hanya soal jadwal pergiliran, siklus benalu penjajahan menjadi lingkaran setan. Penjajah-terjajah, penghisap-terhisap, supply-demand, jual-beli, simbiosis abadi, konsekuensi logis hukum aksi-reaksi. Hukum kekekalan energi. Sebagaimana neraka dan setan saling membutuhkan, neraka diciptakan untuk digunakan.

    Tinggal tersisa catatan di Pembukaan UUD ‘45: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan…”  Telah 500 tahun pohon sejarah berdiri, 5 kolonialis berlomba invasi, 3 orde kekuasaan, 6 presiden memimpin pemerintahan,  67 tahun masa kemerdekaan. Sila kedua dan kelima Pancasilapun mulai layak dipertanyakan. Pertanyaan abadi manusia Indonesia, “Di mana gerangan perikemanusiaan dan perikeadilan? Sampai kapan benalu penjajahan akan terlepaskan?”

    Sejatinya kemerdekaan adalah hak setiap jiwa, setiap manusia, setiap makhluk, bernyawa atau tidak bernyawa. Di sisi lain penjajahan, kolonialisme dan imperialisme juga tabiat manusia. Dalam setiap jiwa tertanam benih benalu di dalamnya. Negara menjajah negara, negara menjajah bangsa, bangsa menjajah negara, bangsa menjajah bangsa, manusia menjajah manusia. Dualisme peran manusia dalam satu jiwa, penjajah-terjajah, seperti benalu-pohon sejarah, keduanya selalu berseteru sekaligus saling merindu.

    Sekedar menghibur diri di kala sepi, konon telah tersirat di surat Ronggowarsito dalam Ramalan Jayabaya, barangkali bisa menanti kemunculan satrio piningit, Imam Mahdi, pemimpin ke-7 di negeri ini,“Ratu Adil Sultan Herucakra”, Resi Begawan-Pinandito yangakan membuka gerbang Zaman Renaissance di Indonesia.

    Atau sesaat men-tafakkuri pertanyaan malaikat ketika Tuhan memutuskan manusia sebagai pemimpin bumi, “Adakah Engkau hendak menjadikan seorang pemimpin di bumi, orang yang gemar membuat kerusakan dan pertumpahan darah?” Tuhan menjawab, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang kalian semua tidak mengetahui.” Tuhan memang gemar berteka-teki dan bermisteri, termasuk pada simbiosis benalu-pohon. Mungkin Dia hendak ‘memaksa’ manusia untuk berpikir, hingga pada akhirnya mengakui bahwa diri-Nya memang benar-benar ada. ***

Salam…
El Jeffry

Syahwat Nekolim Vs Jiwa (Bangsa) Merdeka



Bicara tentang kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme yang selama ini dituding sebagai ‘monster’ biang keladi dari keterpurukan negeri ini adalah bicara tentang tiran-penjajahan sebagai kodrat alam, sunnatullah,  keniscayaan zaman yang mustahil terelakkan. Tiran-penjajahan dalam segala bentuk dan istilahnya, termasuk di dalamnya ideologi adalah ‘belenggu-belenggu’ kemerdekaan manusia dan kemanusiaan yang telah, tengah dan akan selalu ada selama masih bercokol makhluk bernama manusia di belahan bumi manapun berada.

Sejarah mengajarkan, tiran-penjajahan adalah siklus abadi yang tak pernah lenyap sepanjang peradaban dari muka bumi. Ketika sebuah kaum-bangsa berhasil meraih kemerdekaan setelah tertindas oleh tiran-penjajahan, maka dalam fase selanjutnya seiring dengan menguatnya posisi, ia akan bertukar posisi menjadi tiran-penjajah dengan ‘membalas dendam’ kepada mantan musuhnya, atau mencari korban baru untuk melampiaskan gejolak syahwat ke’perkasaan’nya. 

Eropa pada abad pertengahan lolos dari dari zaman kegelapan, pencerahan membuka mata selebar-lebarnya, kebebasan didapatkan, ilmu-pengetahuan berkembang, teknologi ditemukan, revolusi industri, ‘kurcaci’ secara revolusioner berubah menjadi ‘raksasa’. Masih beruntung bagi Eropa, sebab ‘syahwat keperkasaan’ tidak dilampiaskan di kampung halaman, melainkan mencari dunia baru dalam era penjelajahan samudera. Asia dan Afrika yang ibarat gadis manis usia belia nan menggoda ‘digerayangi’ habis-habisan bergiliran, masih lebih beruntung dibanding Amerika yang mutlak di’renggut’ dengan menggeser ‘kedaulatan’ bangsa pribumi, atau Australia yang juga ‘berpindah hak milik’ lewat transisi sebagai ‘tempat jin buang anak,’ tanah buangan ‘preman-preman’ bangsa Eropa.

Kedigdayaan membawa bangsa Eropa segera bermutasi menjadi ‘hantu’ peradaban, maka imperialisme dan kolonialisme tiba-tiba menjadi ‘teror’ kegelapan bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Pencerahan di satu sisi, ‘penggelapan’ di sisi lain. Seperti pertarungan cahaya dan kegelapan di dua sisi mata uang logam, keduanya selalu ada dan saling membutuhkan, tapi tak pernah bertemu pada satu bidang. Penjajahan ideologi, kapitalisme, liberalisme, termasuk komunisme-sosialisme mesti dipahami sebagai alur sejarah naluri manusia, bahwa setiap jiwa punya tabiat yang sama, setiap orang cenderung untuk mendominasi orang lain. Manusia adalah makhluk pedagang. Setiap manusia berusaha agar produknya dibeli oleh dunia, termasuk diantaranya adalah gagasan, pemikiran, keyakinan, dan ideologi. Ia harus terjual, secara suka rela atau terpaksa.

Tiran-penjajahan, imperialisme, kolonialisme, kapitalisme atau isme-isme yang lain hanya dapat dihancurkan dengan memperjuangkan kemandirian, berdikari, melepaskan diri dari belenggu-belenggu jiwa, seperti yang selalu digembar-gemborkan pemimpin bangsa ini sampai ‘meniren’ pada masa-masa awal pasca merdeka. Membangun bangsa mandiri, berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Di situlah baru akan diraih hakikat makna dari kemerdekaan sesungguhnya. Bung Karno meninggalkan sesirat pesan,“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah (baca: bangsa asing), tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Ketika tiran-penjajahan telah dipahami sebagai tabiat jiwa manusia, maka dapat dipahami pula bahwa semua manusia punya potensi untuk menjadi tiran-penjajah. Setiap jiwa berpotensi menjadi penjajah, imperialis, kolonialis, dan kapitalis, termasuk menjadi antek-antek nekolim, budak-budak kapitalis, kepanjangan tangan-boneka-wayang dari otak-dalang nekolim-kapitalis sesungguhnya. Pengalaman sejarah hampir tujuh dekade bangsa ini belum juga sanggup menyuguhkan ‘hakikat kemerdekaan’ bagi rakyat, hanya siklus tiran bersambung lingkaran rantai antar generasi, mestinya 'memaksa' semua untuk belajar cerdas membongkar akar benalu penjajah di pohon sejarah  dengan masuk ke wilayah terdalam sumber petaka peradaban manusia dan kemanusiaan, jiwa manusia itu sendiri.

Sebuah bangsa ada dari sekumpulan manusia. Bicara tentang Indonesia adalah bicara tentang lebih dari 240 juta jiwa. Satu bangsa bisa dianalogikan sebagai satu tubuh. Maka ia bekerja dalam mekanisme yang sama sebagai sebuah sistem. Ketika bangsa ini sudah bersepakat untuk memilih ‘manhaj’ sistem demokrasi-republik sebagai ‘ruh absolut negara’ di mana setiap jiwa berperan berdaulat-berkuasa, maka ‘hidup-mati’ bangsa tergantung dari ‘hidup-mati’nya setiap jiwa yang ada, tanpa kecuali. 

Berbeda dengan monarki yang memposisikan satu jiwa seorang ‘raja’ sebagai ‘nyawa’ negara dan rakyat adalah jasadnya, maka demos-cratein res-publica memposisikan seluruh rakyat (baca: jiwa) adalah ‘nyawa’ sekaligus ‘jasad’ negara. Publik adalah rakyat. Rakyat adalah raja. Raja adalah ‘Tuhan’. Tuhan ada dalam jiwacratein-publica. Suara rakyat, suara raja, dan suara Tuhan berada dalam satu garis lurus yang saling berkaitan. Uomo universale, humanisme universal, kemanusiaan manunggal. Satu dalam keragaman. Ragam dalam kesatuan. Bhinneka Tunggal Ika. Tunggal Ika Bhinneka. Nilai-nilai mistis-filosofis universal panca-tunggal Garuda Pancasila.

Seseorang pernah berkata, “Jika ingin merevolusi peradaban sebuah bangsa, maka revolusilah jiwa-jiwa manusianya, maka dengan sendirinya peradaban bangsa akan berubah secara revolusioner. “ Demokrasi-republik telah menempatkan setiap jiwa yang ada sebagai raja sekaligus ‘Tuhan’ bagi dirinya. Sebaris firman yang masyhur, “Sesungguhnya Tuhan tidak merubah nasib sebuah bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri. “ Setiap jiwa punya hak dan tanggung jawab yang sama untuk menentukan nasib dan masa depan bangsa, sebagaimana setiap jiwa berhak dan bertanggung jawab memerdekakan jiwanya dari tiran-penjajahan tabiat-syahwat kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme.

Empat belas abad silam seorang pemimpin revolusioner-visioner terbaik dunia sekaligus nabi besar, Muhammad saw telah berpesan agar manusia senantiasa memohon perlindungan dari 8 belenggu jiwa  yang mengancam kemerdekaan manusia selama hidup di dunia:


“ Ya Allah, sungguh, aku berlindung kepada Engkau dari kegelisahan dan kesedihan, aku berlindung kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada Engkau dari kepengecutan dan dan kekikiran, dan aku berlindung kepada Engkau dari jeratan hutang dan penindasan (tiran–penjajahan) musuh…”
 ***
Salam…
El Jeffry