Friday, May 25, 2012

Matinya Keadilan: Salah Tradisi, Sistem, atau Hukum?


Alkisah, 'Negeri Antah Berantah' terguncang oleh sebuah peristiwa besar, terbunuhnya Sang Raja Keadilan. Berbagai rumor berkembang tentang siapa gerangan pembunuh sang Raja, sampai akhirnya ditemukan tiga tersangka pelaku utama yang berkonspirasi dalam kejahatan terencana itu.

Mereka adalah tradisi, sistem dan hukum. Setelah melalui sidang panjang dan berliku, akhirnya diputuskan, bahwa ketiganya dijatuhi hukuman mati. Pada hari yang telah ditentukan, eksekusipun siap dilakukan dengan dipimpin langsung oleh Sang Pangeran, putra mahkota. Sebelumnya, ketiga terpidana diberi kesempatan untuk menyampaikan permintaan terakhir.

Sang Pangeran bertanya kepada tradisi: “Wahai tradisi, apa permintaan terakhirmu?“

Tradisi berkata: “Aku hanya ingin menyampaikan pesan. Sesungguhnya aku tak bersalah apa-apa. Semula aku sesuatu yang tak ada, lalu tiba-tiba manusia menciptakan aku, membentuk perilakuku perlahan dari waktu ke waktu, mengajari aku dengan keburukan, menghidupkan aku sebagai penyakit, lalu kutanamkan diriku ke dalam tubuh  Sang Raja bertahun-tahun lamanya tanpa seorangpun manusia menyadarinya. Maka kematian beliau mustahil terelakkan, kedua kolegaku yang akan ambil bagian dalam tugas selanjutnya. Kalau engkau hendak menghukumku, maka demi Sang Raja Keadilan aku meminta agar engkau menuntut manusia, pencipta keberadaanku yang menghidupkan aku, dialah yang paling bertanggung jawab atas keburukanku. ”

Lalu pertanyaan dilanjutkan kepada sistem: “Wahai sistem, apa permintaan terakhirmu ?“

Sistem berkata : “Akupun hanya ingin menyampaikan pesan. Sesungguhnya aku tak bersalah apa-apa. Semula aku hanya butiran-butiran nilai kecil berserakan tak tertata, lalu tiba-tiba manusia berkumpul dan bersepakat untuk merangkaiku menjadi tatanan baru tanpa meminta ijinku terlebih dahulu. Akhirnya aku menjadi satu bangunan kuat saling terkait dan tak terpisahkan satu sama lain. Kalau engkau hendak menghukumku, maka demi Sang Raja Keadilan aku meminta agar engkau menuntut manusia, otak perangkaiku, dialah yang paling bertanggung jawab atas kerusakanku.”

Lalu pertanyaan dilanjutkan kepada hukum: “Wahai hukum, apa permintaan terakhirmu?“

Hukum berkata : “Akupun sama, hanya ingin menyampaikan pesan. Sesungguhnya akupun tak bersalah apa-apa, sama saja dengan dua kolegaku juga.  Semula aku tak lebih dari huruf-huruf yang tersusun menjadi kata-kata, lalu terkumpul membentuk kalimat-kalimat memuat pasal-pasal dan ayat-ayat penjelasan, peraturan dan perundang-undangan. Lalu manusia dengan penafsiran masing-masing memperalatku menjadi wayang-wayang sesat dan lakon-lakon jahat. Kalau engkau hendak menghukumku, maka demi Sang Raja Keadilan aku meminta agar engkau menuntut manusia, dalang dan ruh penggerakku, dialah yang paling bertanggung jawab atas kejahatanku. ”

Sang Pangeran berpikir sejenak, lalu berkata : “ Jika benar apa yang kalian sampaikan, maka berarti yang paling bertanggung jawab adalah manusia, dialah pencipta keburukanmu wahai tradisi, otak dari kerusakanmu wahai sistem, dan dalang atas kejahatanmu wahai hukum. “

Lalu Sang Pangeran lama terdiam. Dalam kebingungan dan kebimbangan ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri :
 “Adakah kalian hendak menuduhku yang bertanggung jawab atas kematian Sang Raja? Bukankah aku adalah manusia itu? Bagaimana mungkin aku membunuh ayahandaku sendiri, sedang dia yang melahirkan aku, merawat dan membesarkanku dengan penuh cinta dan kasih sayang? Mungkinkah aku telah mendurhakai Sang Raja Keadilan? Atau, mungkinkah aku bukan manusia?“

Tak ada yang menjawab, semua terdiam, Sang Pangeran juga terdiam, masih terus terdiam, bertahun-tahun, berabad- abad, senantiasa bertanya-tanya dalam pertanyaan abadi. Namun tak pernah mendapat jawaban pasti. Hanya menyisakan satu pertanyaan yang tertulis di atas batu prasasti yang tersimpan dan terbaca dunia dari zaman ke zaman, dari dahulu hingga kini, dan mungkin sampai esok hari.

 “Adakah semua ini realita, ataukah hanya sebuah ilusi?“ ***

El Jeffry