Wednesday, May 23, 2012

Kesepakatan Setan: Virus Ganas Paling Mematikan


“ Dan bertolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah bertolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. “ 



Taman-taman hati memang merasakan nuansa kesejukan di kala menikmati siraman rohani firman-firman Tuhansaking sejuknya sampai tertidur, lalu setelah bangun kembali ke dunia realita efek sejuk itu tak lagi terasa, ranting-ranting kembali kering, tak kuasa menahan panasnya pergulatan hidup, setan-setanpun gentayangan menawarkan barang dagangankesepakatan-kesepakatan panas, virus dosa dan permusuhanpun mengganas.


Bertolong-menolong dalam kejahatan,apapun istilahnya, korupsi ber'jamaah', suap, sogokan, sindikat, kolusi, pelicin, pungli, perselingkuhan, katebelece, surat sakti, tutup mulut, "wani piro?"  dan sederet 'genus' lain yang serupa tetap saja satu keluarga 'famili' pekerjaan setan. Kesepakatan setan adalah kerja sama rahasia dan transaksi tersembunyi bermotif kejahatan dan tercipta dengan cara-cara setan.

Adalah sebuah ironi ketika ‘pohon-pohon neraka’ ini harus tumbuh subur di negeri yang kondang sebagai negeri surga, negeri religius. Akhirnya negeri ini benar-benar menjadi 'surga' bagi setan-setan untuk menciptakan ‘transaksi bisnis haramdengan geriap tak kalah hebat dengan gempita ritual seremonial sakral. Fenomena unik, eksentrik sekaligus 'menggelitik'.

Kesepakatan setan adalah virus ganas yang diam-diam mengancam kelangsungan hidup dengan daya bunuh paling mematikan. Naluri manusia di belahan bumi manapun, terlepas dari warna kulit, bahasa, budaya, dan agama yang berbeda-beda pasti sepakat akan bahaya ‘bisnis’ ini, semua berusaha memeranginya dan menjadikannya sebagai musuh bersama dunia.

Aroma suap tercium kuat di segala sendi kehidupan bermasyarakat, dari seluruh strata sosial, dari kelas VVIP sampai kelas ekonomi, dari yang termanajemen profesional sampai yang amatiran, dari yang terencana sampai yang spontanitas. Tua muda, anak-anak dewasa, pria wanita, miskin kaya, nyaris tanpa kecuali. Dari tradisi menjelma menjadi budaya, kini terbentuklah karakter bangsa.

Setan-setan bebas berkeliaran mencari mangsa, memperluas pangsa, menggerogoti kewarasan bangsa. Dalam rumah tangga, di bangku-bangku sekolah, di meja-meja kantor, di ruang tunggu bandara, di tangga-tangga birokrasi, di kursi-kursi petinggi dan politisi, di brankas surat wakil rakyat, di pinggir jalan, lampu merah dan trotoar, kafe-kafe dan warung-warung lesehan. Kesepakatan setan tak terbendung, menggelembung bak perut buncit, sebuncit perut orang-orang yang terbiasa ber-" salaman ala siluman " dengan senyum khas di bibir, malu-malu tapi mau karena sudah terlanjur nyandu.

Kesepakatan setan dengan segala bentuknya telah 'mengutuk' 
negeri ini mengalami mutasi genetik, kemolekan tubuh ibu pertiwi yang semula bak bidadari turun ke bumi kini tubuhnya kurus kering layaknya kurang gizi dan menyimpan virus ganas menjalar di seluruh organ. Sang ibu sekarat. Sementara anak-anak negeri tak pernah menyadari, atau sengaja membunuh kesadaran karena terlanjur menciptakan figur ‘hologram ibu sendiri tanpa pernah menjenguk kondisi faktual sang ibu yang terbaring lunglai di ruang UGD. Kelangsungan hidupnya hanya ditopang alat pacu jantung, invus nutrisi, tabung oksigen dan alat cuci darah dari segelintir anak-anaknya yang masih sadar dan peduli. 

Cobalah kita bercermin. Lihatlah rambut kita yang kusut masam, telapak tangan tebal oleh daki pengkhianatan, wajah menghitam tanpa aura cahaya. Virus ganas yang menggerogoti kesadaran telah mengkontaminasi metabolisme pemikiran dan cara pandang. Kita benar-benar telah menjadi monster, setan sesungguhnyakarena gagal mencegah invasi balatentara setan itu ke wilayah otoritas jiwa kita.

Namun tak selayaknya kita putus asa. Selagi ada kemauan, selalu
 ada harapan. Tidaklah strategi dan kekuatan setan itu melainkan tipu muslihat lemah jika manusia 'keukeuh' kepada akal sehatnya, penalaran dan logika, kebersihan hati dan kejernihan pikiran. 

K
esepakatan tercipta karena keterlibatan dua pihak. Ia dapat terhenti dan tercegah jika salah satunya menolak untuk bersepakat. Tiada guna maling teriak maling, setan teriak setan, tak akan pernah berbuah penyelesaian. 

Kesadaran dan penyadaran diri, keyakinan kebenaran pesan Tuhan, bahwa sesuatu yang terlarang adalah berbahaya dan merugikan, dan bukti-bukti nyata yang menimpa para pelanggar larangan itu, cukuplah menjadi alasan bagi kita untuk berjuang menghentikan kesepakatan setan, sebelum petaka besar menimpa
.

Sebagaimana ‘warning’ legendaris ‘Jangka Jayabaya’ R. Ng. Ronggowarsito, “ Iki jamane jaman edan. Sing ora ngedan ora keduman. Nanging sakbegja-begjane wong sing ngedan,luwih begja sing waspada…” Ini jamannya jaman gila, yang tidak ikut menggila tidak kebagian. Tapi seberuntung-beruntungnya orang yangmenggila, masih lebih beruntung yang waspada. Waspada dan terjaga adalah kunci utama. Semoga kelak tercipta ‘kesepakatan madani’ yang lahir dari rahim perjanjian suci. Maka ibu pertiwi akan sehat dan cantik lagi, menebar pesona keberkahan di seluruh negeri, wajah baru bangsa yang lebih baik dan lebih berbudi. *** 

El Jeffry