Tuesday, May 8, 2012

Resah Sesaat, Antara Siksa dan Nikmat



Hidup yang kita resahkan sepanjang masa di dunia,
semua akan berhenti begitu saja,
ketika jasad telah terbujur di keranda,
lalu orang berdo'a di atas pusara
penantian panjang hingga kiamat akhiri dunia

Keresahan selanjutnya akan jauh lebih dahsyat,
ketika ruh kita hadir di persidangan malaikat.

Siapa yang resah di dunia pada hak yang tepat
kelak di sana akan tenteram dan selamat
resah di dunia akan menjadi syafaat
akan terganti dengan limpahan rahmat dan nikmat.

Dan siapa yang resah di dunia bukan pada hak yang tepat
hidup bersenang-senang dalam kesenangan sesaat
tanpa memberi manfaat tanpa membawa maslahat
kedamaian pribadi tanpa kepedulian umat
tiada keresahan melihat maksiat
keresahan sesungguhnya baru akan didapat
tersiksa jalani era alam akhirat

Yang percaya silahkan percaya,
yang tak percaya silahkan tak percaya,
semua akan terbukti bila saatnya tiba. ***

Salam...
El Jeffry

Resah Terarah: Anugerah

     Jangan terlalu resah bila saat ini kita tengah dilanda resah. Resah itu suatu pertanda bahwa manusia masih punya jiwa, hidupnya hati, gejolak batin atas sebuah situasi yang bertentangan dengan keinginan. Resah bagi hati ibarat rasa bagi kulit. Jika hati sebagai alat perasa batin, maka kulit sebagai peraba zhohir.

      Bayangkan kulit mati yang mati, kehilangan fungsi sebagai indera peraba, bisakah ia membedakan lembutnya sentuhan cinta, perihnya luka karena tergores pisau, atau panasnya tersengat api? Saraf kulit yang mati kehilangan sensitivitas untuk memdebakan semua itu.

     Demikian pula dengan hati yang mati, ia tak lagi bisa membedakan antara ketenangan dan keresahan, atau merespon dengan keliru atas rangsangan dari luar, peristiwa dan kejadian lingkungan. Emosi bukanlah untuk dipadamkan, tapi diarahkan, termasuk di antaranya, keresahan.

     Kita mendengar berita buruk, melihat kejahatan dan kezaliman, menyaksikan penganiayaan dan kemaksiatan, pelanggaran hak-hak sesama, penjajahan dan penindasan antar bangsa, kekerasan aparat negara pada rakyatnya, pengkhianatan pemimpin atas amanat yang diemban, rapuhnya persaudaraan dan perpecahan umat beragama dan berbangsa. Sementara kita tak berdaya untuk berbuat sesuatu dengan alasan tertentu. Mana yang lebih layak, resah gelisah atau tenang-tenang saja dalam kedamaian?

     Resah terhadap keburukan adalah anugerah, sebab itu masih membuktikan bahwa hati kita belum mati, meski tak berarti sehat sempurna. Resah itu fitrah dan ujian, tergantung apa yang menjadi penyebabnya dan diarahkan ke mana keresahan itu. Jika ia diarahkan untuk keburukan, kemungkaran, kezaliman dan kejahatan, jadilah ia suatu anugerah. Justru jika keresahan itu sudah tak ada, justru itu menjadi masalah, dan jika yang muncul ketenangan, justru itulah musibah.

      Nabi berpesan, “Cegahlah kemungkaran dengan tangan (kekuasaan), jika tidak, dengan lisan (ucapan, nasehat), jika tidak, dengan hati (penolakan, keresahan), dan itu adalah selemah-lemah iman...” Jika hati sudah tak menolak kemungkaran, itu bukan lemah lagi, tapi hati telah mati, sudah tak tersisa iman di dalamnya. Dan ia sudah tergolong kepada orang yang berbuat mungkar, hanya saja ia tak terlibat secara langsung.

      Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS An Nahl [16]: 106)

      Resah yang terarah itu anugerah, dan kelak Allah akan memberi upah (pahala) dan limpahan berkah, cahaya hidayah, dan inayah (pertolongan).
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d [13]: 28)

      Arahkan resah itu pada tempat yang tepat, lalu kita mengingat Allah, Dia akan membalasi keresahan kita itu dengan ketenangan. Dan tetaplah bergerak jangan kita hanya berhenti di sini, suarakan dengan lisan (ucapan), nasehat, pesan, wasiat, peringatan, kata-kata, tulisan, pertolongan-Nya akan meningkat berbanding lurus dengan pemingkatan iman. Lalu bila memungkinkan gerak dengan tangan (kekuasaan, harta, jabatan, wewenang). Inilah derajat terbaik orang beriman, dan semua ini berawal dari resah terarah.
 
     “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
” (QS Muhammad [47]: 7)

Wallohu a’lam...

Salam...

El Jeffry