Tuesday, May 1, 2012

" JANGAN DIBACA...!!! "


Pasti Anda sudah membaca larangan di atas, kan? Jangan heran, itu membuktikan bahwa mayoritas manusia secara naluriah (insting-bawah sadar) berbuat sebelum berpikir. Kesadaran muncul setelah kita melakukan sesuatu. Dengan kata lain, "Lakukan dulu, urusan belakangan..."

Buktinya, Anda membaca tulisan dulu, lalu menangkap maksudnya, baru Anda menyadari bahwa ternyata tulisan itu adalah larangan untuk membaca. Tapi Anda tidak salah juga, bagaimana mungkin sebuah tulisan bisa dipahami maksudnya kecuali dengan cara membacanya terlebih dahulu?

Banyak orang memanfaatkan sisi lemah manusia ini untuk melakukan pengendalian pikiran orang lain, hipnotis salah satunya. Cuci otak, indoktrinasi (pemasukan doktrin-doktrin/ideologi dengan misi tertentu kepada sekelompok orang), sulap, ilusi, magis, dan sejenisnya bekerja di atas kondisi ini.

Manusia tak terlepas dari saling mempengaruhi, itupun sudah jadi naluri dasar. Setiap manusia punya naluri pula untuk memimpin, menguasai, mendominasi dan mengendalikan manusia lain. Dua orang yang bertemu, salah satunya pasti berusaha memimpin yang lain, sekali lagi, itu naluri.

Akhirnya, semua berpulang kepada manusianya, diri kita masing-masing, apakah kita bertujuan untuk kebaikan atau kejahatan. Dan apakah kita bisa berusaha menempatkan kesadaran pikiran sebelum melakukan perbuatan, atau kedua-duanya berbarengan.

Atau jika kesadaran pikiran terpaksa di belakang perbuatan, paling tidak janganlah terlalu jauh jaraknya, alias, telmi (telat mikir), sehingga kita tak menjadi korban dan bulan-bulanan orang yang bermaksud buruk mempengaruhi kita dengan memanfaatkan kelemahan kita.

Silahkan Anda memilih yang terbaik bagi Anda.
Ada sebuah pepatah: "Orang arif berpikir sebelum berbuat, sedang orang pandir berbuat sebelum berpikir..."

"Jangan dipikir...!!!"

***

SURAT KALENG

Surat kaleng, wajah surat tersembunyi di balik topeng. Sebuah hasrat membentur benteng. Pengirim surat ingin berbicara, namun keadaan membuatnya terpaksa, berlindung di balik ruang rahasia, dengan suatu alasan yang telah diperhitungkannya.

Surat kaleng, pesan singkat bagi pembaca. Dari pengirim untuk penerima. Sebuah wasiat, peringatan, laporan, pengaduan, uneg-uneg, ancaman, isi hati, pelampiasan emosi, gelora kerinduan, atau bisa juga ungkapan cinta tak tertahan. Surat kaleng menyimpan seribu misteri, maksud terselubung dan tersembunyi.

Pengirim surat berhak melindungi identitas diri, entah keselamatan jiwa,  keamanan keluarga, demi gengsi, atau memang tiada nyali, sekedar menebar teror, menebar keresahan dan fitnah keji.

Kian hari si lemah kian terhimpit dan terjepit, si kuat kian tegap dan perkasa. Kesenjangan  kian tajam, sportivitas kian amblas, spirit fairplay kian letoy, para pecundang kian menggudang. Surat kaleng akhirnya menjadi jalan keluar, penuh sesak hiruk-pikuk dan hingar-bingar.

Surat kaleng menjadi pertanda retaknya persaudaraan, terkungkungnya kebebasan, tersumbatnya keterbukaan, terusiknya keadilan, hilangnya ke-ksatria-an, terkikisnya kedewasaan dan pudarnya sikap toleran.

Apapun alasan dan motifnya, surat kaleng menulis pesan nyata, bahwa telah macet komunikasi antar manusia. Mesti bagaimana...??? ***


El Jeffry