Friday, April 27, 2012

Anak Gembala Bicara Kebenaran Bangsa


Pasal 1
Kebenaran di dunia: Kebenaran Relatif

     Kebenaran yang berlaku di dunia adalah kebenaran relatif. Tidak ada manusia yang sepenuhnya benar, dan bisa jadi tidak ada pula manusia yang sepenuhnya salah. Kebenaran ketergantungan, penuh batasan, banyak eksponen yang menentuka apakah sesuatu dikatakan benar atau salah.

      Bagiku benar, belum tentu bagimu. Bagimu benar, belum tentu baginya. Baginya benar, belum tentubagi mereka. Bagi satu kaum benar, belum tentu bagi kaum lain. Benar bagi bocah kecil, belum tentu benar bagi orang dewasa. Benar bagi orang Jawa, belumtentu benar bagi rang Batak. Benar bagi Indonesia, belum tentu benar bagi Amerika.

       Benar bagi satu kepala, belum tentu benar bagi lain kepala. Berapa jumlah kepala yang ada di muka bumi, sebanyak itulah jumlah kebenaran yang ada di muka bumi. Di bumi Indonesia ada 240 juta jiwa manusia, dan sebanyak itu pula jumlah kebenaran yang ada. Kebenaran suatu bangsa adalah “kebenaran kesepakatan”, kebenaran hasil tarik ulur, sebagian menang dan sebagian kalah, toleransi, perjuangn meramu satu kata yang bisa diterima seluruh kepala yang ada.

      Ketika akhirnya didapati mustahil mempertemukan kebenaran pada satu titik karena terlalu banyaknya perbedaan, maka tiada pilihan kecuali menggunakan asas prioritas suara terbanyak. Kebenaran yang diberlakukan adalah kebenaran yang mewakili sebanyak mungkin, mayoritas dari masing-masing kepala.

     Jika kesadaran “kebenaran kesepakatan” ini tak muncul, ketika setiap manusia yang ada bersikukuh pada kebenaran pribadi-kelompok (ego pertikular), kebenaran suku, kebenaran agama dan kelompok atau golongan, maka mustahil tercipta sebuah bangsa.
 
Pasal 2
Kebenaran: Tanduk Rusa


      Ketika aku benar dan engkau benar, namun terjadi perselisihan, kebenaran yang menyatukan kita harus melalui kesepakatan, mencari satu kata yang menurut kita sama-sama sependapat. Dua orang berbeda bertemu dalam satu kata. Kebenaran tingkat 1.
Kita bertemu lagi dengan dua orang yang mempunyai kebenaran yang berbeda, lalu kita dan mereka bertemu mencari satu kata sepakat. Kebenaran tingkat 2, penyatuan dari 4 kebenaran berbeda.
 

     Begitu seterusnya hingga terkumpul 10 ribu menjadi satu desa dalam kesepakatan, kebenaran tingkat desa, kesepakatan warga untuk hidup bersama. Kebenaran tingkat 19. Demikianlah, kebenaran meluas ketika mencapai kesepakatan dengan desa-desa lain pada satu kata bersama. Kebenaran satu kaum, suku bangsa, kebenara Jawa. Kebenaran tingkat 51. Lalu meluas lagi kepada skala banyak kaum, suku, budaya dan golongan dalam satu bangsa besar, Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 merangkum kebenaran kesukuan di atas 3 kesamaan, satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa, Indonesia. Kebenaran tingkat 99.

      Hingga “Piramida Kebenaran” mengerucut pada satu titik, “Cabang-cabang kebenaran” tanduk bertemu pada satu ujung yang menempel di kepala rusa, satu tubuh kebenaran bangsa. Proklamasi 17 Agustus 1945, falsafah negara Pancasila, simbol burung garuda, slogan Bhinneka Tunggal Ika, rangkuman dari seluruh kebenaran yang ada di bumi nusantara sejak berabad-abad silam, sintesis dari unsur-unsur etnis, suku, adat, budaya, 5 agama utama, norma-norma dan nilai-nilai yang telah mengendap mengkristal menjadi jati diri, karakeristik spesifik, model eksentrik “rusa bumi pertiwi” yang berbeda dengan bangsa-bangsa dan umat-umat lain di dunia.

      Kebenaran hasil godokan pejuang-mujahid “Para Pencari Kebenaran” dalam “kawah candradimuka” bapak-bapak pendiri republik, ulama, begawan, resi, ksatria, pendeta, biksu, rahib, negarawan, kaum terbaik-terpilih-bijak bestari pada zamannya, manusia-manusia visioner yang berkelana melanglang buana untuk menggali permata terbaik bangsanya dengan berdarah-darah menghancurkan setan dajjal kezaliman imperialisme dan kolonialisme Eropa, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 3
Istidraj umat-bangsa


      Kini kita tengah mengalami prahara besar. Grafik kejayaan nusantara masa lalu menukik tajam kepada titik nadir peradaban bangsa.
 

Taufik Ismail menangis :
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak.
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi
.”

      Bangsa ini seperti telur cicak di ujung tanduk rusa. Bicara kebenaran dalam cabang-cabang kecil ego particular, kesukuan, agama, aliran, golongan dan kepentingan-kepentingan pendek, seperti katak terjebak dalam tempurung ruang-waktu. Tapi masing-masing bersikukuh pada atas nama kebenaran, lupa pada sejarah, bahwa kekukuhan itu benar secara persial, tapi salah secara nasional.

      Tak bisa disangkal, Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini yang paling bertanggung jawab terhadap tragedi bangsa. Muslim yang member kontribusi terbesar dalam menulis sejarah bangsa. Di pundak muslimlah nasib dan masa depan bangsa ini terpikul. Maka yang ada hanya “visi buruk” di depan dan “mimpi buruk” di belakang, ketika kita lihat agama terbesar negara di dunia ini masih berkutat dalam tempurung perpecahan dan perselisihan “tekstual-lafazh-kulit-simbol-zhahir-syari’at”, namun belum menuju persatuan dan penyatuan “konseptual-makna-isi-esensi-bathin-hakikat”, lupa pada musuh bersama, kemungkaran dan kezaliman antar anak bangsa-umat Negara,  lupa pada kondisi bersama yang tengah kritis, telur cicak di ujung tanduk rusa.

       “Devide et impera” buatan kompeni Belanda yang mestinya sudah basi ternyata masih bercokol di dalam dada mayoritas uamat mayoritas. Gambar agama terkotak-kotak, pakaian jama’ah ukhuwwah terkoyak-koyak, tiang rumah kiblat berderak-derak. Kafir mengkafirkan, murtad memurtadkan, sesat menyesatkan. Vonis-vonis atas nama kebenaran terlalu mudah dijatuhkan dan terlalu murah dibelanjakan.

      Produk-produk agamis masa kini merasa dengan membusung dada lebih hebat dari ulama generasi 45, dengan kemahiran perdebatan lengkap dalil-dalil kuat masih menganggap bahwa negara ini salah hukum dan salah bentuk. Khilafah, demokrasi, otoriter, entah apa istilahnya tak penting bagi awam-lemah-dlu’afa-marhaen-proletar-marjinal yg selalu tertindas dan terhimpit sesak nafas. Republik, kekaisaran, kerajaan, kesultanan juga tak penting lagi. Presiden, khalifah, raja, perdana menteri, sutan atau kaisar juga tak penting lagi.

      Yang penting adalah bukti nyata dari kemanusiaan manusia. “Nguwongke wong”. Nilai-nilai kemanusiaan itu yang sudah tiada. Kejahatan tak hanya dilakukan oleh penguasa dan pemimpin, tapi juga yang dikuasai dan rakyat jelata. Dari kepala Negara hingga kepala rumah tangga, pengkhianatan nilai-nilai agama dan nilai-nilai kebenaran nyata-nyata dan terang-terang siang malam di tengah-tengah umat beragama.

     Lalu buat apa bicara kebenaran dalam negara, jika untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan terdekat pun tak sanggup menunaikan. Seorang teman berkata, jika untuk tidak telanjang di muka umum menunggu aturan hukum dan undang-undang, maka ia telah gagal menjadi manusia. Bagi orang beriman, hukum ada dalam diri sendiri.  Sadar hukum, bahwa pengawasan Tuhan ada setiap detik, setiap jiwa. Bahwa setiap jiwa bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, bukan orang lain, bukan hukum dunia, bukan tradisi, bukan budaya, bukan pula sistem. Kebenaran itu tak akan pernah ada, sebelum manusia memahami kebenaran sebagai otoritas Tuhan, Sang Maha Benar, sumber dari segala sumber kebenaran.

Pasal 4
Baik, Atau Benar?


      Tuhan tidak menuntut manusia untuk benar, kecuali hanya berusaha mendekatinya saja, lebih dekat, dantak akan pernah sampai, kecuali bagi para nabi, wali dan orang-orang suci. Tuhan hanya menuntut manusia untuk baik, lebih baik, dan lebih baik. Surga disediakan bagi mereka yang berbuat baik, bukan berbuat benar di atas landasan kepercayaan, keyakinan, iman.

      Iman dan amal shalih, percaya dan berbuat baik, cukuplah itu sebagai tujuan, sebab kita tak akan mampu berbuat benar. Kebaikan bersifat universal, nilai-nilai yang mudah difahami, dikenal tanpa banyak teori dan ilmu-ilmu pasti, sebab kebaikan terletak di dalam hati. Kebaikan, ma’ruf di kenal dalam kesepakatan dan tradisi hanya bertolak dari asas keadilan, manfaat dan kemaslahatan.

     Selama sesuatu hal tidak merugikan pihak lain, membawa manfaat dan maslahat umat, maka itulah kebaikan. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Dan tiada balasan bagi mereka yang terbaik kecuali surga, tempat kebaikan sempurna, tujuan setiap jiwa manusia.

Salam...

El Jeffry