Wednesday, April 25, 2012

Serigala Berbulu Musang: Kiamat Sudah Dekat?


     Ini adalah sebuah kisah akhir zaman, tanda-tanda kiamat sudah dekat, zaman edan, era gila, musibah peradaban, fitnah kemanusiaan di ujung tanduk teknologi bumi. Peribahasa “Musang berbulu ayam” sudah terlalu usang, hanya penjahat kecil berkedok pahlawan kecil, khushushon arena permainan para kurcaci. Sedikit agak berkelas, ”Serigala berbulu domba”, penjahat lumayan besar berkedok pahlawan besar. Panggung besar yang hanya melibatkan aktor-aktor besar, berkelas dan profesional di bidangnya, mereka-mereka yang pintar bermain drama dan para ‘ilusionis’, mahir menghipnotis mata jelata tak terlatih agar melihat kejahatan sebagai kebaikan.

      “Serigala berbulu musang,” ini baru baru bonafide, penjahat besar berkedok penjahat kecil. Dua-duanya sama-sama penjahat, hanya saja penajahat ini sesungguhnya telah melakukan kejahatan besar, namun karena kepiawaian memainkan akal bulus, kejahatan kasar dan besar nampak halus  dan terbungkus, esensinya ‘luar biasa’ namun kostum yang terlihat oleh mata nampak sebagai remeh-temeh biasa. Mungkin pula karena kasus-kasus kejahatan sudah menjadi hal biasa, telah terpola sebagai budaya, ala bisa karena biasa. Bahkan Extra ordinary crime pun hanya dipandang sebelah mata. Benar-benar ‘prestasi’luar biasa. Bagaimana bisa?

      Ketika adab ewuh-pekewuh salah taruh dan toleransi mengalami pembengkokan posisi, pemaafan kebablasan menyikapi kejahatan, terciptalah tradisi slogan, “Kecil-kecil nggak apa-apalah, jamak aja, namanya juga manusia.” Dengan dalih “Tiada manusia yang suci”, dan ‘mengakal-akali’ ke-Maha Pengampun-an Tuhan, penjahat-penjahat kecil beraksi tiap hari tanpa rasa dosa melanggar koridor agama dan kitab suci. Salah cerna ransum agama turut andil membentuk sifat manusia, dari sifat menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi karakter, lalu lahir bayi tradisi dan budaya baru dengan ‘sehat wal ‘afiat.’Seiring waktu berlalu, sang bayi tumbuh menjadi bocah bengal bertubuh gempal, hingga pada saatnya dewasa mengukuhkan diri dab ber-evolusi menjadi drakula raksasa.

      Inilah musibah peradaban, fitnah zaman. Budaya malu tenggelam, rasa takut pada sanksi dan hukuman menghilang, iman urusan belakang. Maksiat, kekejian dan kemungkaran terbuka blak-blakan tanpa tedeng aling-aling, seperti terbukanya aurat perempuan belia di tengah keramaian, mengundang syahwat binatang mata-mata jalang. Malu itu telah hilang. Perzinahan, perjudian, pencurian, penyuapan, penipuan, pendurhakaan nilai-nilai dan norma-norma kemanusiaan membuncah seperti air bah, tersebar luas dengan kesadaran dan berjama’ah.

      “Serigala berbulu musang,” Drakula raksasa tumbuh cerdas bukan kepalang. Intelektual tanpa spiritual, secara signifikan terproduksi massal manusia-manusia kanibal. Homo homini lupus, tak hanya serigala memangsa serigala, lahirlah era manusia memangsa manusia. Tak hanya menghisap darah, namun sekaligus daging berikut tulang-tulangnya. “Serigala berbulu musang.” Kejahatan besar berkedok kejahatan kecil. Sang Kala menyusup di jasad bayi. Drakula raksasa berkostum  kurcaci. Penjahat kelas kakap berbaju penjahat kelas teri. Di negeri surga para pelancung, tradisi culas berlangsung. Raksasa akademis dengan senjata kavaleri teori praktis  mengkhianati ilmu pengetahuan untuk aksi kejahatan.

      Sudah menjadi spesialisasi tersendiri dalam dunia musang berbulu serigala. Profesional dalam meng-kamuflase angka-angka statistik, manipulasi grafik dan mutilasi data-data otentik. ‘Manusia memangsa manusia’ dengan dalih terpaksa, desakan keluarga, demi istri tercinta, demi kepentingan organisasi, demi rakyat yang diwakili, bahkan tak jarang dengan terang-terang berjuang demi Tuhan dan misi Suci. Dalih, dalih dan dalih pembenaran. Menipu manusia adalah menipu diri, jika yang melakukan adalah manusia. Menipu kebenaran adalah menipu diri, sebab kebenaran ‘dipersembahkan’ hanya untuk manusia.

       Singkat kata, musang atau serigala sama saja, tetap memangsa korban. Namun “Serigala berbulu musang,” adalah strategi paling berbahaya dengan daya hancur luar biasa, sebab kejahatan dilakukan dengan kesadaran, profesioanal, terorganisir, terang-terang berbaur suram-suram, menyembunyikan ‘yang mega akbar’ di balik ‘yang mini kecil’. Tidak “musang berbulu ayam, serigala berbulu domba, atau “serigala berbulu musang,” ketiganya adalah kejahatan, kakalulah beda hanya saja pada tingkat dan derajat, dan tentu beda pula akibat yang didapat.

      Yang pasti semua itu suatu sinyalemen kuat bahwa kiamat sudah dekat. Tak harus menunggu hancur leburnya jagad raya, bahkan hancurnya budaya sudah cukup mengancam keberadaan kita sebagai sebuah keluarga-bangsa. Hanya ada dua pilihan, bersatu bersama bergandeng tangan berjuang membangun kesadaran dan penyadaran untuk memotong daftar panjang korban ayam-ayam dan domba bangsa, kaum lemah rakyat jelata, hanya itu cara terbaik menyelamatkan spesies manusia Indonesia. Atau bergabung dalam koloni musang dan serigala, lalu menunggu saatnya petaka besar tiba, itupun hanya bagi siapa di antara kita yang masih percaya, bahwa janji dan ancaman Tuhan benar adanya. 


Salam...
El Jeffry