Monday, April 23, 2012

TERBLOKIRNYA AKUN LEMBAGA DEWA KEADILAN



      Pernahkah terlintas oleh pikiran kita ‘lemot’-nya ‘loading’ kinerja KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam men’download’ kasus-kasus mega-akbar sekaligus akar dari pohon korupsi di negeri ini disebabkan karena salah nama? Lalu dari ‘lemot’ pertama berentet ‘lemot’ lanjutan dalam men-‘delete’ para koruptor kelas kakap, tak mampu mem-‘protect’ akun pribadi lembaga suci sehingga terbuka lebar  terhadap serangan virus perusak program keadilan rakyat-bangsa-negara.

      ‘Hacker-hacker’ politik dan kekuasaan tetap leluasa ‘browsing’, menjelajah dalam jutaan celah, meretas, mencuri dan membajak ‘kata sandi’ pemilik akun asli, sang raja lembaga dan seluruh jajarannya. Tak jelas siapa lagi yang bertanggung jawab, mungkin semuanya telah dilakukan dengan benar, sesuai prosedur dan legal-formal, tapi rasanya akun ‘lembaga dewa’ itu mungkin telah terblokir, tak bisa membuka akunnya sendiri.

      Bahasa teknologi media komunikasi mungkin terlalu membingungkan, sebab komunikasi di antara kita juga masih ‘tulalit’ karena lemahnya sinyal alam pikir dan dunia rasa manusia Indonesia, indikasi raibnya wawasan nusantara. Tak ada salahnya sejenak kita belajar dari bahasa petani, bagaimana hasil akhir dari panen tergantung dari kesuksesan PHPT,  Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman. 

     Korupsi adalah hama dan penyakit yang mengancam, atau kali ini telah mengintimidasi bahkan telah ganas menyerang tanaman keadilan-kemakmuran-kesejahteraan rakyat-bangsa. Pemberantasan bukan ajian pamungkas jika tidak ada pencegahan. Keduanya berkedudukan sebagai unsur penyusun senyawa sempurna pengendalian. 

         Dengan kata lain, pengendalian adalah judul, pemberantasan dan pencegahan adalah dua sub judul. Pengendalian adalah pohon, pemberantasan adalah pokok, sedang pencegahan adalah akarnya. Selama akar korupsi belum ditemukan dan dibongkar, maka buah korupsi akan rimbun dan ranum bergelantungan dan bermunculan tanpa kenal musim. Menciptakan obat pengendalian dengan ramuan antibiotik pemberantasan dan antibodi pencegahan adalah keharusan.

      Bicara soal nama, kenapa kita tidak memakai nama Komisi Pengendalian Korupsi? Sebagaimana yang terjadi pada tanaman, hama dan penyakit itu selalu ada, mustahil keduanya hilang, sebab itu bagian dari ‘skenario dinamis’ romantika alam, sebagaimana setan dibutuhkan untuk memenuhi hak neraka. Yang dibutuhkan petani untuk bisa sukses panen hanyalah memperlakukan hama dan penyakit agar ‘terkendali’, ‘undercontrol’, tidak liar, buas mengganas dan ‘nggragas’. 

     Soal angka terkendalinya terserah, bisa juga mengikuti rumus bisnis ritel, patok 5 % untuk aset yang bakal tercuri, terkutil, ‘lahan rejeki’ koruptor-koruptor kecil, sebab ‘impossible’ mencetak laba 100 %, dan menjaga aset agar utuh 100 %. Se’impossible’nya petani mematok target 100 % panen dari setiap batang tanaman yang ditancapkan di awal musim. Peternak ikan mematok angka 80 % SR (Survival Ratio), angka kehidupan yang layak dijadikan ukuran bahwa kultur itu tumbuh sehat alias usaha yang menguntungkan dan layak dilanjutkan. Target 0% korupsi di Indonesia mustahil tercapai, bahkan di seantero duniapun tak ada yang bisa, kecuali setan telah di-’remove’ dan di-‘uninstall’ dari ‘file program’ kehidupan bumi.

     Mungkin dengan mengubah nama ada harapan mengubah paradigma, mengubah peruntungan ‘lembaga dewa’, mengubah wajah ‘seram’ bangsa kita atau lebih 'obsesif' lagi  tak mustahil mengubah ‘peta percaturan perkorupsian’ dunia. Apa arti sebuah nama, kata pujangga, tapi seorang teman berkata, bukankah kata Nabi nama adalah sebuah do’a? Dan do’a adalah awal dari penentu hasil akhir dari segalanya? Sebab dalam do’a ada niat, iradah, kehendak dan itikad kuat untuk berikhtiar mencapai tujuan? Dan bukankah hasil seseorang tergantung dari apa yang ia niatkan?

       Tak ada salahnya mengubah nama kepanjangan KPK menjadi Komisi Pengendalian Korupsi. Tutup akun lama, pembaharuan akun dengan email baru, kode dan kata sandi baru yang terkunci rapi dalam hati-nurani-sanubari ‘sang raja’ lembaga dewa beserta ‘hulubalang dan balatentara’nya. Semoga ‘hacker-hacker’ dan ‘virus-virus’ politik dan kekuasaan terpaksa ‘bersusah payah’ untuk melancarkan serangan, kecuali hanya tak lebih dari 5% saja yang ‘lolos’ menerabas proteksi akun uang negara, masih lebih dari cukup untuk 95% para petani rakyat untuk panen raya memetik buah hak keadilan-kemakmuran-kesejahteraan.

       Dan terakhir jangan lupa pesan para leluhur, para resi dan begawan. ‘Ruwatan massal’, tradisi ritual pagelaran wayang kulit semalam suntuk untuk mengusir ‘roh-roh jahat’ sang sambikala, pencerahan dan pembaharuan spiritual seluruh komponen umat-bangsa. Dan agar nama baru ini memiliki ‘tuah’, bergigi, bertenaga, bernyali dan ber’laku’ layaknya Dewa Keadilan,  ‘wajib’ hukumnya memohon ‘pangestu’-restu dan munajat-do’a dari seluruh kaum miskin-lemah-‘dlu’afa’ yang selama ini teraniaya, bukankah kita masih percaya bahwa do’a orang teraniaya tak akan tertolak oleh Tuhannya...??? **

Salam...

El Jeffry