Monday, April 16, 2012

AKU DAN MEREKA, SAMA TAPI BEDA


(Antara Brahmana dan Sudra)

Bagaimana mereka akan bisa memahami? Aku bicara tentang nasib bangsa untuk tujuh generasi, sedang mereka bicara tentang nasib keluarga untuk tujuh hari. Aku bersiap untuk rencana dua ratus tahun ke depan, sedang mereka hanya bersiap untuk rencana sepekan ke depan. Aku punya rencana, mereka punya rencana. 



Rencana dalam ruang yang sama, kehidupan dunia, hanya dipersembahkan kepada jangka waktu berbeda dan manusia dengan jumlah berbeda.

Bagaimana mereka akan bisa mengerti? Aku melihat dan mendengar kehidupan dalam dalam satu gugus galaksi, sedang mereka melihat dan mendengar hanya dalam satu korps organisasi dan instansi. Aku lelah, mereka juga lelah. Aku heran, mereka juga heran. Aku resah, mereka juga resah. 



Kelelahan, keheranan dan keresahan dalam waktu yang sama, hanya dilayangkan pada luas ruang berbeda.

Bagaimana mereka akan bisa percaya? Aku tengah belajar menebar cinta alam semesta, sedang mereka tengah mengejar cinta seorang wanita. Aku hanya pelajar cinta, sedang mereka pemburu cinta. Aku punya cinta, mereka punya cinta. Cinta dalam waktu dan ruang dunia yang sama, hanya berkait dengan objek berbeda. Aku punya syahwat, mereka punya syahwat. 



Syahwat yang sama sebagai manusia, hanya dikirimkan kepada alamat berbeda.

Bagaimana mereka akan bisa memahami, mengerti dan percaya? Aku di sini, mereka di sana. Aku berlari, mereka berleha-leha. Aku beruban keriput menua, mereka tetap awet muda usia semenjana.  Aku menangis, mereka tertawa. Aku berduka, mereka bergembira. Aku berlapar-lapar dalam derita, mereka mabuk-mabuk dan kenyang dalam pesta pora. Bagaimana mereka akan bisa...??? ***

El Jeffry

BEDA STANDAR, BEDA SIKAP, BEDA NASIB


Sebuah pertanyaan dilontarkan : “Bagaimana kondisi Indonesia saat ini sebagai sebuah umat, bangsa dan negara dalam kancah peradaban dunia dan bagaimana penyikapannya yang benar?”


Anda berkata : “Alhamdulillah, kita baik-baik saja, kita mesti banyak bersyukur atas karunia yang Allah berikan atas Indonesia. Kedamaian dan persatuan yang luar biasa, hidup rukun sentausa, temteram dan penuh toleransi, tak seperti di kawasan Timur Tengah dan beberapa kawasan Eropa yang saat ini penuh dengan konflik antar etnis dan perang saudara, kekerasan senjata, perebutan kekuasaan, dan pergolakan yang tak ada habisnya. 


Kita juga mesti bersyukur hidup dengan kecukupan sandang pangan dan papan, tidak pernah mengalami kelaparan seperti Ethiopia atau kemiskinan di banyak negara Afrika. Kita juda dilindungi oleh Allah dari bencana besar seperti gempa yang sering melanda Jepang, atau kehancuran total pada bangsa-bangsa yang ingkar pada masa lalu seperti  ‘Ad, Tsamud, Madyan atau negeri Saba’ yang dihukum Allah dengan bencana karena tidak bersyukur. Itu artinya Allah masih sayang karena kita ini umat beragama yang taat pada ajaran-Nya. Kita lebih baik dari mereka, dan tak ada penyikapan yang tepat kecuali banyak memuji-Nya.

Dia berkata : “Astagfirullah, kita mesti banyak istighfar, taubat nasional, ini bukan karunia, tapi Allah sedang mengirimkan pesan-pesan peringatan dalam banyak hal, tapi kitanya saja yang tak pernah melihat dan mendengar. Tsunami di Aceh, lahar dingin gunung Merapi, banjir lumpur Lapindo, kekeringan yang selalu datang setiap musim, kebakaran hutan dan bencana-bencana lain yang terlalu banyak untuk disebutkan.

Yang lebih parah adalah bencana kemanusiaan, ketidak-adilan penguasa, korupsi dan kolusi yang menggelora, maksiat dan kemungkaran di mana-mana. Perjudian, prostitusi atau perzinahan, khamr atau miras dan narkoba dan kejahatan-kejahatan lain yang juga terlalu banyak untuk disebutkan. Kita masih terlalu rendah dibanding kualitas hidup negara-negara lain yang lebih menjunjung tinggi hukum dan keadilan, kemakmuran rakyat dan kemajuan bangsa-bangsa Eropa dan Amerika, bangsa di kawasan Asiapun kita belum bisa mengklaim diri sebagai bangsa yang unggul. Apalagi jika dibandingkan dengan zaman Nabi, kita masih jauh dari kriteria masyarakat madani, cita-cita seluruh bangsa berperadaban di muka bumi.

Saya berkata : “Anda dan dia, semuanya relatif benar, hanya saja berbeda standar atau tolok ukur, sehingga melahirkan sikap yang berbeda pula. Anda cenderung bersyukur, sedang dia cenderung bertaubat, istighfar. Anda memakai standar rendah dalam menyikapi masalah, menjadikan bangsa lain yang lebih rendah dan lebih buruk sebagai ukuran, semua yang ada adalah karunia, konsekuensinya adalah mesti bersyukur. Sedang dia mamakai standar tinggi dalam bersikap, menjadikan bangsa lain yang lebih tinggi dan lebih baik sebagai ukuran, ‘istabiqul khairat’, berlomba dalam kebaikan, konsekuensinya adalah mesti bertaubat.

Sebagai sebuah bangsa kita punya pilihan untuk menentukan peringkat di tingkat mana mestinya derajat kita dan standar mana yang akan kita pakai, rendah (minimum), menengah (medium) atau tinggi (maksimum). Konsekuensinya tentu melahirkan penyikapan yang berbeda. Lebih prioritas bersyukur dari pada bertaubat, lebih prioritas bertaubat dari pada bersyukur, atau proprosional antara bersyukur dan bertaubat. Beda standar, beda sikap, beda nasib. Hidupmu, pilihanmu. Hidupnya, pilihannya. Hidup kita, pilihan kita. Hidup umat, bangsa dan negara, adalah pilihan umat, bangsa dan negara.

“ Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri...” ***

El Jeffry