Thursday, April 12, 2012

Cahaya Bertingkat

Sinar rembulan menembus masuk lewat ventilasi rumah, 
jatuh mengenai cermin yang dipasang di dinding, 
lalu memantul ke dinding yang berseberangan dengannya, 
kemudian jatuh memantul ke lantai sehingga lantaipun menjadi bersinar.

Dengan bahasa simpul, cahaya yang di atas lantai itu berafiliasi dengan cahaya di dinding, cahaya di dinding berasal dari cahaya di atas cermin, 
dan cahaya di atas cermin bersumber dari sinar rembulan, 
kemudian sinar bulan berasal dari sinar matahari.

Keempat cahaya ini tersusun urut, di mana sebagian lebih tinggi dan lebih sempurna dari yang lain dan masing-masing juga mempunyai posisi dan tingkatan tertentu yang telah ditentukan dan tidak bisa ia lampaui.

Cahaya adalah simbol dari ilmu, pengetahuan, petunjuk, penglihatan, keberadaan dan kebenaran. Seluruhnya bertingkat, dari yang terendah terbawah hingga yang tertinggi teratas. Dialah cahaya sejati, Sang Maha Cahaya, Nurun ‘alan nuur, Cahaya di atas cahaya, Tuhan alam semesta. 

"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar (mishbah). Pelita itu di dalam tabung kaca (zujajah), (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nuur: 35)


El Jeffry


“ASAH-ASIH-ASUH” DAN “RESAH-RISIH-RUSUH”



     Saling asah adalah kesadaran saling menempa pribadi, melatih ketajaman budi, menjaga pekerti dari ‘karat-karat’ kotoran jiwa dan kemanusiaan. Saling asih adalah kesadaran bersama untuk saling memberi, mengulurkan tangan, kedermawanan, wujud kesalehan sosial yang muncul dari ketulusan cinta-kasih-sayang, bukti nyata terikatnya tali persaudaraan, kebersamaan dan kekeluargaan. Sedang saling asuh adalah kesadaran memelihara, menjaga, ‘ngemong’-mengasuh, yang tua membimbing yang muda, yang kuat menopang yang lemah, yang berkuasa membopong yang tak berdaya.

      Dalam sebuah keluarga, ketika falsafah “saling asah-saling asih-saling asuh” menghilang, maka saling asah berubah menjadi ‘saling gesek-gosok-gasak’. Penempaan dan penajaman pribadi akan berubah menjadi singgungan, gesekan dan benturan yang hanya akan membawa derita dan luka-luka bersama. Pribadi-pribadi tak lagi  bisa membedakan antara pelatihan dengan pertarungan, saling asah seharusnya membangun kekuatan dan ketangguhan tapi 'saling gesek' membawa kerusakan dan kehancuran.

     Embrio pola hidup materialistis-kebendaan-duniawi melahirkan bocah sikap egoisme, individualisme, hedonisme, dan tumbuh dewasa menjadi ‘raksasa-buta’ keserakahan, penonjolan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok atau golongan semata. Dehumanisasi, hilanglah nilai-nilai kemanusiaan, lunturnya 
kepedulian dan kepekaan sosial, pudarnya ‘tepo seliro’, tenggang rasa sesama. Maka jangankan untuk saling asih memberi, yang mentradisi justru saling sikat dan saling sikut, saling rebut dan saling ribut, pencurian, perampasan, pelanggaran hak-hak dan keadilan, pengambilan secara paksa harkat dan martabat manusia.

      Saling asuh menghilang, tak ada lagi ‘ruh’ cinta-kasih-sayang pada sesama dan alam semesta, ‘jasad’ manusia perlahan berubah rupa, muncullah musang berbulu ayam, serigala berbulu domba, kejahatan yang terbungkus dengan kostum kebaikan. Bahkan ketika syahwat melata sudah tak terbendung, kejahatan tak lagi malu-malu dinampakkan terang-terangan, ‘homo homini lupus’, serigala saling memangsa serigala, hukum rimba dipelataran rumah tangga keluarga manusia. Tak ada lagi ‘pamong-pamong’ dayang-inang-biyung pengasuh dengan sentuhan kelembutan cinta. Yang kuat menindas yang lemah, pembodohan, pemiskinan dan pemasungan. Aura cinta pergi entah ke mana.

     Ketika ‘saling asah-saling asih-saling asuh’ menghilang, maka “saling resah-saling risih-saling rusuh” akan segera datang. Jiwa-jiwa resah gelisah, pudarnya ketenangan dan ketenteraman, hilangnya rasa saling percaya, munculnya rasa saling curiga, saling mengintai, menguping pembicaraan rahasia, saling menyebar mata-mata, ‘privacy’ semakin dikebiri. Resah tentang masa depan, resah tentang ketidakadilan, resah tentang ketidakamanan, resah tentang ketidakpastian hukum, berjuta keresahan dalam berjuta kemungkinan dan berjuta ketidakjelasan.

      Keresahan berkepanjangan lalu menghadirkan rasa “saling risih”, ketidaknyamanan dalam berbagai hubungan-interaksi sosial. Hilangnya komunikasi antar sesama. Kesalahpahaman. Semua jadi serba salah, kebingungan melanda, carut marut problema tak ada habisnya, seakan tak ada jalan keluar, sebab perikehidupan telah salah kaprah, yang benar jadi tidak lumrah. Risih, ‘pekewuh’, tidak enak, mau menegur salah, tidak menegur juga salah. Mau ikut-ikutan ‘ngedan’ salah, tidak ikut ‘ngedan’ akan kalah. Mau maksiat salah, tidak maksiat kawatir bernasib payah.

     Resah membawa risih, keresahan dan kerisihan adalah ‘bom waktu’, api dalam sekam, bahaya laten yang pada ambang batasnya akan meledak, membakar dan tumpah keluar seperti air bendungan kelebihan muatan. 
Terminal akhirnya adalah turunnya ‘dajjal-setan-sang kala’ yang menyulut api "rusuh". Kerusuhan itulah ‘buah khuldi’ keabadian dari ‘pohon syajarah’  akibat naluri syahwat ‘syaithaniah-penyimpangan’ fitrah peradaban dan kebudayaan manusia. Rusuh, kisruh, ricuh, adalah simbol azab neraka, hukuman atas pelanggaran yang dipersaksikan dan disegerakan di dunia nyata, sebagai peringatan bagi manusia yang berakal dan berkeyakinan akan neraka yang ‘real’ di alam selanjutnya, akhirat.

     Rusuh dan kerusuhan adalah ‘kiamat sughra’, kiamat percontohan agar manusia mengambil pelajaran sebelum tiba ‘kiamat kubra’, kehancuran dan kemusnahan alam semesta dan seisinya. Manusia yang berakal, akal sehat penalaran maupun akal budi pekerti hati nurani, sudah semestinya secara cerdas, arif dan bijak menangkap tanda-tanda zaman yang telah Dia kirimkan dalam rangkaian peristiwa dan kejadian berulang-ulang sepanjang zaman.

     Rusuh dan kerusuhan, kehancuran dan penderitaan, terbakar dari api amarah yang menghanguskan akal dan nurani, kuburan massal bagi martabat kemanusiaan, peradaban dan kebudayaan. Hanya dengan penyadaran dan kesadaran serta penyabaran dan kesabaran untuk teguh menjaga 'ruh' sikap “saling asah-saling asih-saling asuh” akan tercegah berkobarnya api “saling resah-saling risih-saling rusuh” sehingga selamatlah suatu bangsa dari 'kiamat nasional' kehancuran kebudayaan dan peradaban.

Salam...
El Jeffry