Tuesday, April 10, 2012

Semesta Dalam Rencana


    Percayakan Anda pada ‘kebetulan’, sesuatu yang tidak di sangka tapi terjadi begitu saja  Ataukah memang sudah direncana dengan pehitungan-perhitungan, ukuran-ukuran, kadar-kadar dan ketetapan-ketetapan tertentu?

    Percayakah Anda adalah suatu kebetulan bahwa setiap peristiwa, kejadian dan keberadaan muncul begitu saja tanpa ada unsur kesengajaan, niat dan tujuan. Bagaimana dengan gerak dan diam pada apa yang ada di alam semesta, dari partikel terkecil hingga batas terluar jagad raya yang tak terjangkau lagi oleh akal dan pengetahuan manusia ?

     Lalu bagaimana dengan gerakan ‘thawaf’ dari mikrokosmos hingga makrokosmos, dari proton dan elektron yang memutari neutron dalam setiap atom, rotasi bumi, bulan memutari bumi dan bulan bersamaan dengan gerakan bumi ber-revolusi mengitari matahari, hingga  gerakan gugus bintang dan galaksi ?

      Semua partikel bekerja dalam pola yang sama, ‘thawaf’ memutar berkeliling dalam keteraturan sempurna. Seluruh yang ada di alam semesta ini bergerak, meski mata kepala manusia menyangkanya diam. Dan tidak ada gerak keteraturan, baik benda hidup atau mati kecuali ada penggerak utama di balik semua itu.

Matahari dan rembulan beredar menurut perhitungan...“ (QS Ar-Rahman: 5)

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah keteta[pan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat oeredarannya yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulandan malampun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.“ (QS Yasin: 38-40)

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu ternag benderang agar kamu dapt mencari karunia dari Tuhanmu, dan agr kamu mengetahui bilangan tahun dan perhiutngan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.“ ( QS Al Israa’ : 12)

Gerak sempurna, pola sempurna, perencanaan dan pengelolaan sempurna dari Kreator Agung Maha Perkasa Maha Daya, Tuhan alam semesta, Allah ‘azza wa jalla.  

Salam...
El Jeffry

Republik "Burnaskopen" dan Sindroma Mpu Gandring


      Inilah sebuah kisah tentang hilangnya ‘pusaka keramat’ kesabaran dari sebuah negeri, Republik burnaskopen. “ Bubur panas kokopen! “ (Bubur panas, makanlah!). Falsafah warisan leluhur Jawa yang seharusnya menjadi pepenget-tadzkirah, pengingat-ingat laku sejarah, namun karena ‘sang pusaka’ tak dirawat, maka pepenget kehilangan greget, tadzkirah dianggap gharah, kebohongan. Tuah luhur makin luntur dan malih rupa menjadi ‘mesin penghancur’, persis seperti salah tanak beras, nasi yang diimpikan, bubur yang didapatkan.

 
      Namun tiada rotan akarpun berguna, tiada nasi buburpun masih bergizi. Seburuk-buruk salah adon asupan nutrisi tubuh bangsa, sebenarnya ia masih bisa bermanfaat. Namun burnaskopen membuat ‘rantai keterlanjuran’ bertumbuh makin ricuh dan penyakit bertambah makin parah. Cobalah makan bubur panas-panas. Nikmat, kenyang dan kesehatan yang ada di niat, justru siksa dan kerusakan organ yang didapat. 


Ketidaksabaran menjadi
penyakit kronis negeri ini. Hal itu terjadi manakala akal sehat menghilang dari kepala dan iman-budi pekerti terlepas dari hati. Ketidaksabaran selalu membawa kegagalan, bahkan kehancuran dan kebinasaan.

     Negara burnaskopen, entah republik, kerajaan, kekaisaran, kesultanan atau apapun bentuknya adalah negara yang sejatinya masih setengah matang. Kematangan menjadi kemestian dari sebuah proses alam yang tidak bisa diganggu-gugat dan ditawar-tawar. Semua ada kadar mutlak dan perhitungan absolut yang tidak bisa dilanggar. Sekali melanggar, kesempurnaan hasil menjadi buyar. Burnaskopen adalah pralambang kecerobohan sikap menganggap final sesuatu yang baru setengah perjalanan. Negara setengah matang hanya akan membawa cerita bendera setengah tiang, upacara duka cita dan prahara belasungkawa sepanjang zaman.

       Politik burnaskopen, sesempurna apapun doktrin dan platform-nya tak akan membawa manfaat apa-apa kecuali hanya menyemarakkan formalitas ‘permainan’ ketatanegaraan semata. Politik  kepentingan sebenarnya adalah keniscayaan, bahkan itulah tujuan luhur dari kemanusiaan, selama berkiblat pada kepentingan orang banyak, mayoritas rakyat, kepentingan jama’ah umat-bangsa-negara. 

     Politik burnaskopen hanya kolektor partai-partai ‘kurcaci’ yang terjebak dalam tempurung ruang-waktu, kepentingan skala sempit-partaikular-parsial-kelompok kecil dan jangka pendek- partambal-sulam, bukan partai massa-masyarakat-bangsa dan bukan pula partai masa depan, alat perjuangan mempersiapkan tatanan generasi mendatang.

     Perilaku burnaskopen tak bisa diharapkan membawa kebaikan dan perbaikan masa depan, bahkan untuk hari ini seringkali sudah membawa kerusakan, persis makan bubur panas-panas, hanya menimbulkan siksa, perih-luka dan melepuhnya citra manusia.

      Legenda Ken Arok dengan skandal Mpu Gandring-Gate telah mengajarkan bagaimana kekuasaan yang diraih dengan manhaj burnaskopen hanya melahirkan luka-luka, rantai dendam dan jatuhnya korban yang tiada habisnya. Komplikasi api syahwat ‘wanita dan tahta’ menjadi virus ganas di dalam jiwa seorang Ken Arok dalam meraih cinta Ken Dedes dan kekuasaan Adipati Tunggul Ametung. 

     Pusaka keris telah dipesan pada seorang maestro pusaka ternama, Mpu Gandring. Namun ketidaksabaran sang legenda karena mabuk syahwat obsesi dan ambisi memaksa sang empu menyerahkan pusaka ‘setengah matang’, keris yang belum finishing terpaksa pula aktif prematur.  Laknat turun, tragedipun tercipta, kutukan yang dibawa oleh sang pusaka merenggut tujuh nyawa, termasuk 
Ken Arok, sang legenda.

      Republik seharusnya res-publica, kekuasaan ada di tangan rakyat. Dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat. Rakyat adalah raja. Rakyat adalah daulat. Rakyat adalah penguasa. Selama falsafah dan nilai-nilai luhur itu dijaga maka ia akan membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi sebuah bangsa. 

     Namun ketika terjadi pengkhianatan terhadapnya, apapun bentuk, model dan istilah politik dan aturan ketatanegaraan hanya akan membawa kehancuran dan penderitaan. Republik burnaskopen hanya akan menjadi slogan, simbol dan teori indah di atas ‘kitab hukum teks’, namun yang dirasakan rakyat selalu saja kepedihan, gerah dan kepanasan serta kerusakan organ, yang akhirnya berbuah pada kerusakan sistemik pada sebuah bangsa.


      Sebuah pekerjaan besar kita semua untuk mengembalikan arah perjalanan kereta republik umat-bangsa agar kembali kepada fitrahnya, ‘rel’ demokrasi luhur-suci, kemerdekaan dan cita-cita anak negeri. Polemik, intrik dan konflik turun temurun yang mencekik leher ibu pertiwi harus segera dilepaskan. Nasi yang telah menjadi bubur biarlah menjadi bubur, mustahil membalik takdirnya menjadi nasi. Kearifan penyikapan dan kebijaksanaan penilaian adalah hal terbaik yang wajib dilakukan. Kesadaran dan penyadaran, kesabaran dan penyabaran, kebaikan dan perbaikan. Hari ini kita makan bubur warisan, tapi jangan kita membuat bubur serupa di kali kedua, apa lagi mewariskannya pada anak cucu kita.  

       Penyakit kronis burnaskopen ketidaksabaran harus dikeluarkan dari jiwa-jiwa kita, lalu memutus mata rantai keterlanjuran agar cukup hanya berhenti pada generasi kini. Semai dan hidupkan benih-benih kesadaran dan kesabaran menjalani setiap proses kehidupan. Jika tidak, maka ‘laknat’ Mpu Gandring akan berulang sepanjang zaman, generasi masa lalu, masa kini dan masa depan, dan kita bukan hanya gagal menjadi sebuah umat-bangsa-negara, namun juga akan gagal menjadi manusia.

Salam...

El Jeffry

Engkau Tuan, Saya Hamba

Kalau bukan karena Tuan, mana mungkin hamba menjadi manusia.
Kalau bukan karena manusia, bumi ini hanyalah sia-sia.
Kalau bukan karena bumi, alam semesta mungkin tak guna.
Kalau bukan karena alam semesta, untuk apa Tuan limpahkan rahmat dan karunia.

Engkau Tuan, saya hambanya. 
Engkau Tuhan, hamba sahayanya. 
Engkau Majikan, sahaya budaknya. 
Engkau sebagai Pencipta, dan saya, hamba, sahaya sebagai ciptaan.

Hamba Engkau citrakan sebagai manusia, 
makhluk paling sempurna di alam semesta. 
Bumi Engkau hamparkan sebagai ujian, 
dunia dan seisinya Engkau amanatkan, 
khalifah bumi Engkau predikatkan,
pemimpin dan penguasa kehidupan.

Kalau bukan karena ampunan, niscaya hamba dalam kebinasaan.
Kalau bukan karena kasih sayang, niscaya hamba dalam kerugian.
Penciptaan hamba sendiri adalah sebuah beban hutang, 
hanya bisa ditebus dengan totalitas penghambaan.

Sunguh berat kehidupan. 
Tapi apa daya hamba, sebab itu otoritas Tuan. 
Tiada hak dan kuasa hamba ajukan tawaran.

Kalau bukan karena cahaya Tuan, niscaya hamba terkurung dalam kegelapan.
Kalau bukan karena petunjuk Tuan, niscaya hamba dalam kesesatan.
Kalau bukan karena ajaran Tuan, niscaya hamba dalam kebodohan.

Apa yang bisa hamba banggakan ?
Semakin hamba mengenal Tuan, semakin hamba dalam kepandiran.
Jangankan memahami dunia, langit, matahari, bintang, bulan, apalagi alam semesta, hakikat sehelai rambutpun hamba masih kebingungan.

“ Maha suci Engkau, tiada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah engkau ajarkan kepada kami... “


El Jeffry