Monday, April 9, 2012

Sebaiknya Anda Tidak Tahu!



     Ketika dikatakan “Sebaiknya Anda tahu!“, janganlah Anda memaksakan diri untuk mencari tahu. Demi kebaikan, ada hal-hal yang sebaiknya Anda “tahu” dan ada hal-hal yang sebaiknya Anda tidak perlu “tahu”.

     Tidak selamanya “tahu” sesuatu membawa kebaikan bagi Anda. Terkadang “tahu” justru membawa keburukan yang sesungguhnya sangat-sangat tidak Anda harapkan dan hanya menimbulkan penyesalan pada akhirnya.

     Ada kalanya “tidak tahu”nya Anda membawa kebaikan dibandingkan dengan “tahu”nya Anda. Dan Anda mungkin akan bersyukur dengan berkata: “Alhamdulillah, syukurlah, untung saya tidak tahu. Kalau saja saya tahu pasti saya sudah tersiksa dan celaka karenanya.“

     Manusia adalah makhluk pencari kebenaran, punya tabiat penasaran dan selalu berada dalam ‘keingin-tahuan’. Namun, (yang ini Anda harus tahu!), ada lima kaidah pokok hukum dalam hal mencari “tahu”, pencarian pengetahuan. Ada hal-hal yang ‘fardlu-wajib-harus’ Anda tahu, ada yang ‘sunnah-sebaiknya’ Anda tahu dan ada hal-hal yang ‘mubah-boleh’, ‘makruh-sebaiknya tidak’ bahkan ‘haram-terlarang’ untuk Anda tahu.

     Yang terakhir ini ”Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk tahu, jangan mencari cara untuk tahu, dan jangan sembunyi-sembunyi mencuri tahu!“ Jika Anda percaya bahwa yang melarang Anda bermaksud baik kepada Anda, maka patuhilah saja, itu lebih aman dan selamat bagi Anda. Tapi jika Anda curiga bahwa yang melarang Anda punya maksud jahat menyembunyikan sesuatu, maka Anda bisa mengambil tindakan terbaik menurut Anda.  

Keterbatasan Otak Manusia.

     Otak manusia, adalah gudang memori, ibarat chip dari sebuah program komputer, meskipun secara mendasar kemampuan otak hampir tanpa batas, namun tetap saja memiliki batasan pada level tertentu.

     Sebagaimana chip komputer, otak manusia (sebagian menyebutnya akal, pikiran, hati, jiwa) mampu menyimpan milyaran “memori-pengetahuan-informasi” yang dikirim lewat panca indera. Pada level tertentu otak juga bisa mengalami ‘over load’ (kelebihan muatan), over capacity (kelebihan beban) dan over dosis (kelebihan takaran).

Seperti sebuah cangkir yang hanya bisa menampung air dalam kadar tertentu, otak  juga bisa mengalami ‘drop’ dan ‘error’ jika kadar itu melampaui batas, persis seperti lubernya air yang tertuang ke dalam cangkir telah penuh. Terjadilah ‘stress’, gangguan keseimbangan otak, penyakit dan abnormalnya akal, pikiran, hati, mental atau jiwa.
***

Efisiensi, Efektivitas dan Skala prioritas

    Penting bagi Anda untuk sedikit mengadopsi prinsip ekonomi dalam bisnis-perniagaan.  “Keuntungan maksilmal dengan modal minimal “tanpa melanggar asas“ hasil yang didapat sepadan dengan apa yang diperbuat.“ Beralihlah dari hidup di atas standar kuantitas (jumlah) kepada standar kualitas (mutu). Kecerdasan menjadi peran sentral dalam meraih keuntungan (keberuntungan, kemenangan, kesuksesan, keberhasilan).

     Hasil optimal (terbaik) ditentukan oleh sinergi tiga hal: efisien (berhasil guna), efektif (tepat guna-sasaran) dan ketepatan skala prioritas (penanganan berdasarkan unsur keutamaan-manfaat dan keterdesakan-darurat).

Beberapa kiat sederhana manajemen otak :

- Pasanglah filtrasi (saringan) dan efisiensi (penghematan) pada mulut teko “memori-pengetahuan-informasi” dengan mengambil sesedikit mungkin jumlahnya tapi berbobot dan berkualitas, dan pastikan yang masuk adalah sesuatu yang manfaat, positif dan ada nilai kebaikan, filter yang Anda aktifkan di otak Anda akan mencegah masuknya sesuatu yang tidak manfaat (mudlorot), negatif dan keburukan.

- Batasi kadar inputnya sesuai dengan kapasitas cangkir (chip) otak Anda agar kondisinya Anda tetap ‘fresh’ dan kinerjanya selalu ‘fit’, terhindar dari ‘malafungsi’ karena overload, over capacity atau over dosis.

- Prioritaskan pada apa yang Anda harus tahu, lalu sebaiknya tahu dan terakhir apa yang Anda boleh tahu. Terapkan efisiensi pada otak Anda dengan tidak membuang-buang waktu dan energi untuk hal-hal yang tidak atau kurang bermanfaat, apalagi tidak utama dan juga tidak mendesak. Anda tidak perlu “tahu” dan jangan pernah “tahu”.

- Dan jika Anda perkirakan, atau ada pemberitahuan tentang bahaya dan keburukan yang bakal menimpa diri Anda jika tahu, atau itu sebuah rahasia yang bersifat privacy tentang aib seseorang, perkara-perkara gha’ib yang sengaja Tuhan hindarkan atau yang berhak dan lebih baik untuk terkunci rapat dalam lemari besi misteri, maka cerdaslah untuk meninggalkannya seberapapun tingginya syahwat-setan  “keingintahuan” menggoda Anda.

       Kualitas mengalahkan kuantitas. Dengan kecerdasan manajemen otak Anda, sedikit ilmu “memori-pengetahuan-informasi” terfiltrasi, tepat kadar, tepat prioritas yang digunakan secara efektif dan efisien jauh lebih baik dan lebih menguntungkan dari pada banyak ilmu “memori-pengetahuan-informasi” tapi tidak terfiltrasi, tidak tepat kadar, keliru prioritas dan tidak digunakan secara efektif dan efisien. Adalah suatu kebaikan bagi Anda meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat dan urusan yang tidak ada kaitan, termasuk, jangan pernah melanggar larangan: “Sebaiknya Anda tidak tahu...!!! “


     Demi kebaikan Anda, ada yang harus dibuka, sebaiknya dibuka, boleh dibuka, sebaiknya tidak dibuka dan ada yang terlarang dibuka alias RAHASIA. Biarlah rahasia menjadi sebuah rahasia. Biarlah misteri tetap menjadi sebuah misteri. Itu sebagian dari urusan pribadi antara seseorang dengan pemilik kunci-kunci rahasia, Tuhan alam semesta.

     Orang bijak berkata: “Memberi “memori-pengetahuan-informasi” kepada orang yang tidak membutuhkan adalah kesia-siaan. Sedang menahannya dari orang yang membutuhkan adalah kezaliman...“
Wallahu a’lam

Salam...
El Jeffry