Monday, April 2, 2012

Obor-Obor dan Do'a

Bor obor obor, nyalakan obor  di tengah malam.
Satu obor dua obor tiga obor, seribu obor berdatangan,
berkumpul berbaris berjajar melingkar di tanah lapang,
merah berkobar cahaya obor berpendar menyebar.

Bor obor obor, sang tutor bersila duduk khusyu’ memimpin do’a,
“Pergilah horor pergilah teror pergilah para koruptor
Tangan-tangan kotor tak layak menjadi kontraktor
mulut-mulut kotor tak layak menjadi orator
jiwa-jiwa kotor tak layak menjadi proklamator...“

Bor obor obor sejuta obor berhimpun di tanah lapang
Pergilah  kegelapan pergilah sejarah kelam pergilah jiwa-jiwa hitam legam.

Rangkaian do’a bergema memohon pengampunan,
deretan dosa jama’ah manusia ditumpahkan tanpa sisa,
menadah tangan menunduk muka menetes air mata,
mengirim pesan beban derita ke ujung langit Sang Penguasa.

“Kami berserah padamu wahai Gusti, Tuhan, Allah, Pemilik tunggal dan Pemelihara alam semesta,
Apa yang hendak Engkau berlakukan adalah sebuah karma bangsa,
Obor-obor di tangan kami hanya tanda dan bukti nyata pengakuan dosa,
Dengan kuasaMu malapetaka mohon ditunda,
Lihatlah, kami tengah berusaha berjuang menebusnya...”


Salam...
El Jeffry

Bumi Terheran, Langit Bertanya


Lihat dan dengarlah di sana
orang-orang bergerak berteriak di ujung putus asa.

Debu mengepul oleh sepakan kuda,
denting gemerincing pedang beradu,
moncong-moncong senapan muntahkan asap mesiu,
dentum meriam bercampur desing peluru.

Puing-puing reruntuhan penuh arang dan abu, 
mayat-mayat bergelimpangan hitam membiru,
keringat, darah dan air mata mengalir sepanjang waktu.

Pembangunan dan penghancuran, 
perbaikan dan perusakan, 
pengobatan dan penyiksaan, 
penyelamatan dan pembunuhan, 
kehidupan dan kematian.

Atas nama cinta, rakyat, kebenaran dan Tuhan,
seperti dua sisi pada sekeping uang logam,
berdekatan, bersandingan, berdampingan, beriringan, bersebelahan
namun tak pernah bertemu pada satu halaman perdamaian.

Perang antar manusia, lagu abadi memilukan,  
di medan terbuka, pemukiman warga, terminal, bandara, dan jalan-jalan raya,
di ruang- ruang sidang, rapat kerja dan mimbar agama,
di perkantoran, gedung dewan dan istana raja.

Kata-kata mewakili dahsyatnya senjata, 
diplomasi, orasi, presentasi, persuasi dan argumentasi.
Tarik-menarik kepentingan, dorong-mendorong  kebutuhan, desak-mendesak keinginan.
Saling tuding saling todong, saling cekal saling jegal, saling sikut saling sudut,
dengan segala cara yang konon terhormat dan bermartabat.

Aroma perang tetap saja berkobaran.
Atas nama cinta, rakyat, kebenaran dan Tuhan,
seperti dua sisi pada sekeping uang logam,
berdekatan, bersandingan, berdampingan, beriringan, bersebelahan
namun tak pernah bertemu pada satu halaman perdamaian.

Bumi terheran, langit bertanya, pertanyaan abadi,
“Apa yang kau cari wahai manusia?”

Salam...
El Jeffry

Kebenaran: Antara Nisbi dan Mutlak

      Tengah siang hari, saya berdiri tepat di atas khatulistiwa, saya berkata: “ Demi kebenaran matahari tepat di atas kepala.“

Anda berdiri di kutub utara, berkata: ”Demi kebenaran matahari ada di sebelah selatan.“

Dia berdiri di kutub selatan, berkata: “Demi kebenaran matahari ada di sebelah utara.“

    Kita berkata: “Kita bertiga berselisih dan berbeda pendapat. Dengan penuh keyakinan dan kebenaran, masing-masing dari kita akan mempertahankan meski dengan bertaruh nyawa. Atau mungkinkah matahari kita berbeda? Atau mungkin ada tiga matahari di dunia? Bagaimana mungkin kita bisa bersepakat pendapat?“

     Mereka yang memiliki pengetahuan geografi, ilmu bumi berkata: “Sebenarnya kalian semua benar. Matahari tak pernah berubah, berkurang atau bertambah. Yang kalian perselisihkan adalah benda yang tetap dan sama, matahari yang satu. Cobalah kalian bertemu di satu tempat dan lihat.“

      Lalu Anda berjalan ke arah selatan, dia berjalan ke arah utara, menempuh jarak yang sama demi keadilan, pertemuan di tempat saya sebagai tuan rumah, tepat di tengah, garis khatulistiwa. Setelah semua bekumpul di satu tempat, ternyata  perkataan kami sama, satu pendapat, satu suara.

“Matahari memang hanya satu, tepat posisi di atas kepala kita bertiga. Tak ada yang berbeda atau berubah arah dan jumlah dari matahari. Kita semua sepakat.“

      Boleh jadi semua manusia benar, tapi kebenaran manusia di dunia adalah kebenaran relatif, bersifat nisbi, penuh ketergantungan, ada batasan-batasan, bias, semu, maya dan beragam. Sedang kebenaran hakiki adalah kebenaran Tuhan, kebenaran absolut, bersifat mutlak, independen, tiada ketergantungan, tiada batasan, lurus, asli, sejati dan hanya satu, ahad, eka, tunggal.

     Perselisihan kebanyakan disebabkan oleh perbedaan posisi (tempat), perspektif (sudut pandang) dan persepsi (cara pandang). Ilmu pengetahuan, wilayah pertengahan, kelapangan dada dan kearifan menyikapi perbedaan, itikad baik mencari kebenaran bersama, keberanian memperbaharui dengan perubahan dan sesekali berikhtiar melihat dari sisi berbeda, membuka peluang menyatunya ragam perbedaan, redanya perselisihan, terhindarnya perpecahan dan tercegahnya permusuhan antar manusia. 


"... Karena itu janganlah engkau berbantahan tentang hal mereka kecuali perbantahan lahir saja..."(QS Al Kahfi: 22)

"...dan katakanlah: Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku untuk lebih dekat (kebenarannya) dari pada ini..." (QS Al Kahfi: 24)

"Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu..." (QS Al Kahfi: 29)

Wallahu a'lam...

Salam…
El Jeffry