Wednesday, March 28, 2012

Peringkat Ujian

      Seorang siswa SMP berangan meraih gelar sarjana. Sang dosen datang, disodorkan selembar kertas ujian. “Selesaikanlah, ijazah sarjana telah disiapkan. “ Sampai seharian si siswa hanya termangu kebingungan. Setelah menyerah tak sanggup mengerjakan, ia berujar: “ Soal ini terlalu berat, saya tak mampu menyelesaikannya. “

      Di lain pihak, seorang mahasiswa mengeluh saat menghadapi ujian semester: “ Susah sekali ujian ini, kenapa tak dibuat yang mudah saja biar tak bikin pusing kepala? “Sang dosen datang, disodorkan selembar kertas ujian. “Kuberikan materi yang mudah, dijamin engkau tak mungkin kesulitan. “Si mahasiswa malah heran: “Ini adalah penghinaan. Masa ujian anak SMP diserahkan pada calon sarjana?“

    Itulah sepenggal kisah manusia dalam menyikapi masalah. Yang satu berangan di luar kemampuan, yang lain mengeluh di dalam kemampuan.

     Hidup adalah ujian. Kehidupan, kematian, masalah, problem, perkara, persoalan, pertanyaan, kesulitan-kemudahan, kelapangan-kesempitan, sehat-sakit, kaya-miskin, susah-senang, nikmat-siksa, baik-buruk, malang-mujur, sial-beruntung, dan lain-lain, dan lain-lain, semua adalah ujian.

Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang terbaik amal perbuatannya di antara kamu.“

     Setiap ujian yang dibebankan kepada manusia sudah terukur, diperhitungkan mutlak sesuai dengan kemampuan, mustahil Allah keliru dalam segala keputusan dan ketetapanNya.

“ Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya “

      Manusia selalu hilang kesadaran dan keyakinan akan takdir dan selalu berkeluh kesah dengan apa yang sudah ditetapkan baginya. Di satu waktu penuh ambisi dan angan-angan, di lain waktu penuh keluh kesah menghadapi kenyataan.

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan tabiat suka mengeluh “ dan “ Sedikit sekali manusia yang pandai bersyukur. “


     Ambisi dan angan-angan muncul pada kebanyakan manusia di akhir zaman. Kemuliaan diukur dengan standar materi-kebendaan-duniawi. Harta, gelar, jabatan, titel, pangkat dan kekuasaan. Padahal seluruh kehidupan dunia adalah ujian agar Allah mengetahui siapa yang terbaik perbuatannya, amal shalih. Itulah standar hakiki kemuliaan, derajat terbaik manusia, dan amal shalih muncul dari iman dan ilmu-pengetahuan.

“ Allah meninggikan mereka yang beriman dan beramal salih di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu-pengetahuan beberapa derajat. “

 “ Sungguh, yang paling mulia di antara kamu adalah dia yang paling taqwa di antara kamu. “

Korelasinya adalah adalah bahwa kehidupan dunia adalah ujian, dan yang terbaik dalam menghadapi ujian berhak mendapat peringkat tertinggi, derajat paling mulia dengan standar ukuran iman, amal salih, ilmu-pengetahuan, dan  perilaku  taqwa. Inilah kualitas tertinggi manusia yang membentuk perilaku-akhlak mulia, akhlakul karimah, dengan efek positif sosial-kemanusiaan maslahat-manfaat-kebaikan dalam pergaulan antar manusia.

Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi manusia lain...“ Kebaikan dua arah, vertikal-horisontal, “Hablum minallah-hablum minannas“, hubungan dengan Allah-hubungan dengan manusia.

Salam...
El Jeffry