Tuesday, March 27, 2012

Sindroma BBM



( Sekilas Meretas Jiwa Cerdas )

BBM naik tinggi, susu tak terbeli,
orang pintar tarik subsidi,
bayi kami kurang gizi
...”
( Iwan Fals “ Galang Rambu Anarki ” – 1977 )

     Pengulangan cerita sedih rakyat kecil 35 tahun silam, kembali terjadi dalam putaran roda sejarah negeri. Ganti rezim, ganti orde, ganti kroni, ganti wakil rakyat, ganti pemimpin, tetap saja menghidangkan 'kue' cerita yang sama. Menu klasik. 

     Dengan berbagai alasan, argumen, hujjah dan dalil- dalil penuh retorika, rakyat kecil masih selalu tetap menjadi pelengkap penderita dari kebijakan penguasa, pemerintah dan wakil rakyat, mereka memang tak bermaksud khianat, tapi realitanya gagal mengemban amanat.

     BBM naik, harga-harga naik, efek domino, reaksi berantai, inflasi menjadi konsekuensi pasti. Daya beli menurun, kebutuhan hidup tak kenal kompromi, rakyat kecil makin tercekik, sesak nafas, megap- megap, tambal sulam keuangan, gali lobang tutup lobang, jeratan hutang sana sini, tersisa satu solusi populer, sabar lagi, sabar lagi, sabar dan sabar lagi.

      Rakyat kecil menjerit, entah pada siapa mereka harus mengadu, hanya bisa berteriak lantang dengan wajah lesu: 

“Tak perlu ajari kami bersabar, sebab kami terbiasa menahan perut lapar, sebab kami telah hafal pedihnya jatuh terkapar, sebab kami telah cukup pintar, menahan tegaknya punggung keluarga kecil agar tidak menggelepar...!!! “

“ Tak perlu ajari kami bersabar, sebab kami telah akrab dengan kerasnya rimba belukar, sebab kami bukan tak mau membayar beras di pasar-pasar, tapi memang tak cukup uang sebagai nilai tukar... !!! “

“ Seandainya kami tidak bersabar, niscaya sudah bergelimpangan jasad-jasad di pinggiran kota dan pelosok desa karena bunuh diri, putus asa terhimpit kesulitan.
Wahai orang-orang pintar, kalau berkenan, ajari saja kami untuk berlaku adil, mengemban amanat selembar kartu suara dalam surat, sebab itulah yang telah hilang dari negeri ini, khianat telah menjadi tradisi basi, merusak tubuh tapi tetap dinikmati.
Ajari saja kami nurani, kepedulian akan nasib lemah-dlu’afa, empati dan kepekaan rasa akan derita sesama...”

     Keadilan, amanat, nurani, kepedulian, empati dan kepekaan rasa, itulah pilar- pilar tegak kokohnya sebuah bangunan umat-bangsa-negara. Selama itu belum tumbuh di dalam jiwa- jiwa anak bangsa, maka sindroma BBM akan selalu menjadi bencana. Regenerasi kepemimpinan tak mengubah apa-apa, hanya ganti pemeran, berubah rupa, berganti panorama, tapi isi ceritanya selalu sama, atas nama kebijakan dan atas nama rakyat, ujung-ujungnya mengorbankan rakyat.

     Cerdaslah wahai rakyat, sindroma BBM adalah pelajaran berharga, buang kepandiran akal sehat dan kepandiran iman. Dalam memilih pemimpin, pilihlah yang teruji konsistensinya mengemban amanat. Tengoklah ke belakang sebentar. Berapa kali berbuat kesalahan. Menukar sekantung keadilan demi sekeping uang recehan. Menjual suara satu hari, membeli derita dua ribu hari. Terlalu murah untuk harga sebuah amanat. Defisit besar, rugi berlipat ganda, 'tekor' tak terkira.

     Peristiwa telah lewat, waktu berlalu mustahil diputar balik. Cukuplah semua dijadikan pelajaran. Jika memang telah salah pilih wakil dan para pemimpin, tak perlu terulang kedua kali. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Wakil dan pemimpin lancung, curang, culas, mestinya tak tampil lagi ke muka. Jika kelak mereka kembali naik ke atas panggung, artinya kecerdasan itu sudah tak ada, kepandiran massal, kebodohan berjama’ah, blunder sejarah dua arah, yang dipilih jelas salah, namun yang memilih juga ikut andil salah.

     Rekonstruksi fondasi jiwa rumah-bangsa-negara. “Baldatun thoyyibatun warabbun ghafur.“ Negeri makmur aman sentosa penuh kebaikan dalam ampunan Tuhan. Guyub rukun, gotong-royong, kekeluargaan dan ukhuwwah-persaudaraan dalam persatuan-jama’ah-kebersamaan.

Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani. “ Pemimpin di depan memberi teladan, kaum menengah membangun kehendak dan cita-cita, rakyat kecil di belakang andil menopang memberdayakan. Untuk satu tujuan ‘tanah surga’ bumi nusantara Indonesia, “ Gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem kerto raharjo. “ Ragam dalam kesatuan, satu dalam keragaman. “ Bhinneka Tunggal Ika “

Rombaklah jiwa, cerahkanlah spiritual, rubah jalan, benahi hidup, perbaiki hari- hari.

“ Hirup dan hembuskan ke udara kehidupan, nafas-nafas pembaharuan...!!! “

Salam...
El Jeffry