Thursday, March 22, 2012

Robohnya Tiang Agama Indonesia

( Muhasabah atas Redupnya Ruh Shalat )

 “Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mendirikannya, ia telah mendirikan agama, dan barang siapa meninggalkannya, ia telah merobohkan agama.“

Namun berkaca dari kenyataan yang ada, adalah ironis manakala hampir seluruh media dipenuhi oleh kabar berita memprihatinkan, kejahatan, kriminal, maksiat, kekejian dan kemungkaran makin merebak, sangat sangat bertolak belakang dengan ketekunan umat dalam menjalankan ibadah dan syari’at, dalam konteks ini, shalat. Perjudian, perselingkuhan, pencurian, penipuan, perampokan, pembunuhan, peredaran miras dan narkoba, penganiayaan, aborsi, prostitusi, skandal kolusi dan korupsi yang menjadi-jadi, pelanggaran hak- hak rakyat kecil dan ketidak adilan dalam penegakan hukum, dan masih banyak fakta lain dan terlalu banyak untuk disebutkan.

Lingkaran rantai pengkhianatan terhadap ajaran agama telah menjerat begitu kuat di seluruh organ kehidupan, rusaklah norma-norma dan nilai-nilai umat bangsa. Tubuh bangsa besar ini terkunci mati dalam ketidak berdayaan untuk membebaskan diri, hanya bisa  menyisakan sebaris pertanyaan tanpa akhir, apa yang terjadi dengan agama ini ?

Bukankah “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.“ ?

Bukankah mayoritas umat di negeri ini adalah umat yang taat dalam menjalankan shalat? Adakah tiang agama telah roboh? Adakah ruh shalat masih hidup? Bila telah roboh,  adakah cara membangkitkan, mendirikan dan menegakkan kembali tiang itu? Bila telah redup, adakah cara menyalakan ruh shalat itu? Pertanyaan abadi selalu saja terngiang mengusik hati. Kebingungan, gagap, meraba- raba, mencari-cari.

Mungkinkah rayap-rayap syahwat yang telah, tengah dan terus memakan jalinan tiang, menggerogoti dengan ganas dan beringas tiada henti? Mungkinkah ular-ular berbisa yang menjulurkan lidah telah siap memangsa keyakinan, lalu dengan ketakutan para penghuni berhamburan keluar, ke tempat terbuka, alam liar, sedang di sana justru semakin rentan sebab makin jauh dari perlindungan dan pertahanan?

Maka setan- setan gentayangan menebar ranjau dan jerat-jerat muslihat, ringanlah pekerjaan mereka, sebab manusia masuk ke medan perang tanpa pertahanan, tanpa pakaian, tanpa perisai dan senjata di tangan, ibarat lalat kecil, sekali tepuk tersungkur hina dalam kekalahan. Memang hidup adalah peperangan abadi melawan setan.
   
Tapi kenapa tiang itu tak bisa berdiri? Sesungguhnya tiang itu telah dibuat, tapi terbuai dengan kesibukan mengukir dan mengukur rancangan tiang itu, menghias dan membahas bagaimana membentuk motif, relief dan ornamen indah dan sempurna, akhirnya lupa akan tugas utama, mendirikannya untuk menyangga atap rumah agama.

Tiang itu! Tiang itu ! Dirikanlah segera! Azan berkumandang, nyanyian pujian dilantunkan, iqomat bergema. Para penghuni berbaris rapi bergerak berirama. Ritual tarian suci, senam kesehatan jasmani, angkat tangan, rukuk sujud duduk dan salam dua muka. Selesai. Namun ruhnya tertinggal di luar, di pasar- pasar, kantor kantor dan jalan-jalan raya, di sawah- sawah dan di meja rapat, di ruang bursa efek, di balai desa, di gedung-gedung bioskop dan stadion, di gunung-gunung, dihutan-hutan, diatas lautan.

Sembahyang, seharusnya menyembah Sang Hyang, Sang Maha Kuasa, namun ruh itu tertinggal di luar altar, jadilah wayang-wayang berbaris menyembah bayang-bayang berhala. Yang menyembah hanyalah jasad, yang disembah bukanlah hakikat. Robot- robot dan android terprogram tanpa cita rasa. Maka mereka hanya menghadap program yang tak pernah ada.

“Celakalah orang- orang yang shalat, mereka yang lalai dari shalatnya...“

Shalat telah ditunaikan. Takbir, tahmid, tasbih, tahlil, istighfar, biji tasbih yang berputar, do’a- do’a panjang nan indah, syahdu, sejuk, wajah- wajah tertunduk. Tapi ruh itu tertinggal di luar, tak hadir dalam tiap gerak dan ucapan.  Tiada kekhusyu’an dan keikhlasan. Keresahan tak kunjung reda. Ragam tujuan dan keinginan, cita-cita dan kebutuhan, angan-angan dan kepentingan bercampur aduk dalam dada, dunia di luar sana selalu terbawa ketika menghadapNya.

Andai saja ruh itu hadir, sejatinya shalat adalah ibadah paripurna, perpaduan olah pikir, olah gerak dan olah rasa, sensibilitas. Ketiganya akan terpadu secara cantik dan selaras, kontemplasi dan riyadlah terintegrasi, saling melengkapi dari dimensi perilaku dan lisan, respon motorik anggota badan, penalaran akal sehat dan kepekaan jati diri, rasa cinta dan kasih sayang pada ilah, sesembahan satu-satunya, Allah azza wa jalla.
   
“Rapatkan shaf dan luruskan!“.

Kaki- kaki merapat, barisan lurus menghadap kiblat. Tapi tiang tetap saja gagal didirikan, sebab beban itu sangatlah berat, kecuali bagi mereka yang khusyu’. Ruh shalat hanya tersimpan di dalam kekhusyu’an, fokus, konsentrasi, memusatkan pandangan dan meluruskan tujuan ke arah kiblat hakiki, sesembahan suci, sumber dari segala sumber  energi. Dari-Nya memancar kekuatan membangun tiang, mendirikan dan menegakkannya hingga kokoh terpancang.

Di dalam ikhlas ada kekuatan, ruh utama penghidup hati, jika mengalir dalam tiang, ia akan mudah ditegakkan, kokoh menopang rumah agama perlindungan. Barisan merapat, tapi ruh jama’ah tak melekat, tetap saja jiwa-jiwa terpisah satu sama lain, membuka ruang dan celah masuk setan, permusuhan dan perpecahan tak tercegah, ukhuwwah melemah, seruan imam tak lebih dari hanya perintah di ujung lidah. Setan telah mencuri barisan shalat, memecah-mecah kekuatan tiang, maka rumah itu tetap saja terbengkelai, tak kunjung selesai.  
   
Kumandang azan, seruan meraih kemenangan, hanya bagi mereka yang punya kesungguhan dan siap mengerahkan seluruh upaya membentuk tiang, mendirikan dan menegakkannya. Satu takbir pembukaan, tujuh belas raka’at, ruku’ dan bacaaan alfatihah, tiga puluh empat sujud di atas tanah, sepuluh reformasi syahadat dan  pengulangan salam adalah rangkaian sempurna jika ada ruh di dalamnya.

Ruh itu masih ada di sini, di dalam hati, tersembunyi. Nyala apinya memang hanya setitik, tapi ia masih ada, tinggal menuangkan minyak kekhusyu’an, mengalirkan udara keikhlasan, meluruskan sumbu niat, merapatkan barisan pagar persaudaraan, menyatu sebagai satu tubuh, satu nyawa, satu jiwa, satu akidah, satu ilah, satu rasul, satu kitab suci, satu kiblat, satu dien, islam, agama salam, rumah agung keselamatan dan rahmat bagi semesta alam.
  
“Jadikan sabar dan shalat sebagai penolong.“

Shalat yang baik akan menghasilkan kekuatan kesabaran, dan kesabaran yang baik akan menghasilkan shalat yang berkualitas. Ruh shalat menyatu dengan ruh kesabaran, buah dari pohon yang tertanam, terawat dan terjaga kesuburannya. Pohon kesabaran, tiang penyangga dan penopang, fondasi keyakinan, atap kesungguhan, tembok-tembok kewaspadaan, pintu-pintu ilmu pengetahuan, jendela-jendela hikmah, perabot dan hiasan akhlak, satu kesatuan tak terpisahkan.

Ia akan menjadi kawasan perlindungan sempurna, benteng pertahanan terkokoh menjaga dari gilasan roda zaman, hantaman taufan peradaban, hempasan beliung kebebasan, terpaan badai informasi,  gelombang tsunami teknologi, getaran gempa pembangunan materi, gempuran kavaleri globalisasi, dan serbuan bala tentara setan dengan segala bentuk, strategi dan persenjataanya.
    
Ruh itu, kekhusy’an, keikhlasan, kerapatan dan kelurusannya dalam barisan persaudaraan, akan membuahkan ketenangan jiwa, inti sari kekuatan manusia beragama.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati bening dalam ridlaNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba- hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu...“

Dirikan! Dirikan tiang segera! Bangunlah rumah agama perlindungan jama’ah umat bangsa! Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang penuh kebaikan dalam ampunan Tuhan...
      
Hanya Dia tempat bermohon petunjuk dan pertolongan. Tiada daya dan upaya kecuali atas izin dan kehendakNya,  Allah, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Agung...***


El Jeffry

Alam Bersujud


“Bintang dan pepohonan, keduanya bersujud.“

     Matahari, bumi dan bulan bersujud.  Meteor dan gugusan galaksi bersujud. Awan-awan, burung-burung, gunung dan lautan bersujud. Virus, bakteri, binatang ternak dan melata, yang di darat laut dan udara, yang di dalam bumi, langit dan angkasa raya bersujud. Semua benda- benda, yang hidup dan yang mati, yang terkecil hingga yang terbesar, yang nampak dan yang tersembunyi, seluruhnya bersujud.

     Sujud adalah tunduk dan takluk. Sujud adalah ketaatan dan kepatuhan. Sujud adalah pembuktian kelemahan, kerendahan dan ketidak berdayaan. Sujud adalah keberserahan dalam kesadaran. Sujud adalah kecerdasan menangkap kebenaran.

    Alam bersujud. Tak ada yang tahu cara sujud mereka, sebagaimana tak ada yang tahu cara tasbih mereka dalam mensucikan dan memuji Tuhan, Pencipta, Tuan, Penghulu dan Pemelihara semesta. Mungkin memang tak harus tahu, sebab secuil akal yang ada di kepala tak akan mampu menjamah pengetahuan itu.

    Tapi yang pasti peristiwa terjadi, semesta bergerak, berputar, berjalan peristiwa- peristiwa dan kejadian dalam keteraturan dan tatanan.

 “Matahari dan bulan, terjadi dan bergerak di atas perhitungan.“  
Seluruh isi langit dan bumi tak berdaya melawan hukum alam, sujud kepada kebenaran, tunduk kepada perintah Tuhan, suka rela atau terpaksa, patuh pada kehendakNya.

     Tapi manusia begitu angkuh, kepala-kepala ditegakkan, dada dibusungkan, penuh kebanggan, kesombongan dan kepongahan. Alangkah bodohnya kepala, padahal beban itu sungguh berat bagi badan, namun begitu enggan untuk direndahkan. Isi kepala belum menyatu dengan isi hati. Akal tertidur atau mati suri. Keyakinan, iman tertinggal di ujung lidah, berhenti di lorong leher, macet lagi macet lagi.

Mereka yang beriman hanyalah mereka yang jika mendapat peringatan dengan bukti- bukti nyata segera tersungkur sujud merendahkan kepala di atas tanah dan mensucikan dengan memuji Tuhan dan mereka tidak menyombongkan diri.“

      Tapi manusia memang pandir. Wajah tersungkur, tapi isi kepala tetap berdiri, akal tertinggal, kesadaran terpental, sebab akal itu telah mati, isi kepala tak menyatu dengan isi hati. Tertinggal di ujung lidah, berhenti di lorong leher, macet lagi macet lagi. Keyakinan basa basi, hiasan bibir sekadar sensasi. Sujudnya alam tak cukup sebagai bukti, ketundukan alam tak cukup memberi inspirasi.

“Mereka yang beriman dalam kesadaran, dikenali pada wajah mereka bekas- bekas sujud...“

     Bukan hanya kepala yang tunduk dan tersungkur, namun isi kepala dan isi hati turut lebur, merendahkan diri tanpa takabur. Sujud menjadi energi  penggerak lidah dan anggota badan.

Sujud sejati adalah sebagaimana sujudnya alam semesta, tunduk dan menyerahnya isi kepala dan isi hati, taat dan patuhnya akal pikiran di atas kesadaran dan keyakinan, lalu ternyatakan dalam setiap gerak, ucapan, sikap dan perbuatan... ***

Salam...
El Jeffry