Wednesday, March 21, 2012

ACUNGAN JEMPOL : PUJIAN YANG MEMATIKAN…!!!

      Acungan jempol adalah simbol penghormatan, pujian, kekaguman, rasa suka, simpati, dan dukungan yang membuat kita semakin percaya diri akan sebuah karya atau keberadaan. Acungan jempol bisa memotivasi untuk berbuat lebih baik lagi, memperkuat tali silaturahmi, menambah ikatan emosional hubungan pertemanan. Namun di balik itu acungan jempol bisa menjadi senjata pembunuh efektif mematikan kekuatan seseorang, kreativitas dalam berkarya, menghentikan proses meraih prestasi terbaik dalam banyak hal.

   Pada mulanya jari tak berarti apa-apa sebelum tangan mengangkatnya,lalu mengacungkan sebuah jempol. Namun, ketika sang ibu mengacung ke atas, tanpa disadari keempat anak jari justeru menggenggam sesuatu yang disembunyikan,bahkan membentuk kepalan !!! Satu pujian yang kita dapatkan, empat rahasia yang disembunyikan.

       Anak jari pertama memberi petunjuk agar menepuk dada penuh rasa bangga, lalu tiba-tiba muncullah keangkuhan,kesombongan,kepuasan atas sebuah karya, besar kepala. Telunjuk telah mengarahkan kita untuk merasa bahwa sesuatu telah berlangsung secara sempurna, sebuah indikasi nyata kemandekan kreativitas. Ketika seseorang merasa sesuatu telah selesai maka ia akan berhenti pada titik itu. Dan rasa telah sempurna adalah petaka besar bagi kesempurnaan itu sendiri. Proses terhenti. Ide– ide tersumbat. Kerja keras, spirit, gairah mereda. Perjuangan berakhir. Lalu tiba- tiba tertinggal jauh di belakang. Kematian dini di saat kehidupan menawarkan ribuan kesempatan.

       Lalu tiba-tiba anak jari kedua membawa ke tengah istana kemapanan. Asyik berleha- leha menikmati hasil kemenangan yeng mungkin belum seberapa. Jari tengah, dengan keunggulan ukurannya sebagai yang terpanjang semakin mengantar tidur panjang di tengah hari, di saat orang- orang masih sibuk berkarya mengejar cita-cita dengan keringat, darah dan air mata mengucur, sementara penerima jempol mendengkur di atas kasur. Lalu jari manis semakin menghipnotis. 

    Sanjungan ibu jari memang lezat untuk dinikmati jiwa. Terlena oleh decak kagum,penghormatan dan puji- puja. Tantangan besar di depan mata jadi terlupa. Duduk manis dengan senyum manis tak menyadari bahaya yang bisa saja datang tiba-tiba. Lalailah jiwa, hilanglah waspada. Betapa banyak pujian membuat seseorang kehilangan inspirasi dan intuisi, motivasi dan prestasi, terbunuh oleh musuh-musuh yang senantiasa siaga menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan atas kekalahan mereka pada awal pertempuran. Dan waktu yang tepat untuk menghancurkan adalah ketika lawan sedang berhenti, beristirahat, tidur atau terlena dalam pesta pora.

       Jari kelingking semakin melengkapi senjata tersembunyi yang mematikan di balik pujian sang jempol. Acungan jempol hampir selalu sukses ‘membesarkan kepala’ dan di saat yang sama akan mengecilkan lawan. Kesombongan membuat sesuatu yang besar, penting dan berbahaya menjadi kecil, remeh dan jinak untuk dikecilkan dan diabaikan. Berapa banyak kekalahan, kejatuhan dan kebinasaan bermula dari keangkuhan, rasa telah sempurna, kelalaian dalam kenikmatan dan menganggap kecil permasalahan, urusan, dan kekuatan musuh. Orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah adalah mereka yang mencapai kejayaan dan masa keemasan sebelum akhirnya tumbang, jatuh dalam kekalahan, hancur dalam kebinasaan ketika gagal dalam ujian oleh sang ibu jari, acungan jempol. 

     Pujian, sanjungan, decak kagum, respek, penghormatan, kultus, ekspresi rasa suka yang diwakili oleh sang jempol, dibaliknya tersimpan bahaya tersmbunyi dalam genggaman tangan dan kepalan yang setiap saat bisa menjadi pukulan menyakitkan dan mematikan. Bagi orang yang memiliki spirit perjuangan dan kesunguhan untuk meraih kesempurnaan dan prestasi puncak akan lebih menyukai bila acungan itu terbalik ke bawah, rasa tidak suka, penghinaan dan peremehan.

     Meski sekilas terasa menyakitkan, dengan penyikapan bijak hal itu akan lebih membakar jiwa untuk membuktikan eksistensi diri, motivasi untuk lebih keras dalam bekerja, lebih baik dalam berkarya, dan lebih sempurna dalam melakukan segalanya. Tabiat jiwa cenderung menyukai pujian, penghargaan dan penghormatan, namun akal yang cerdas lebih membutuhkan kritikan, saran, sentilan, jeweran karena itu sangat membantu untuk meraih kesempurnaan dan kesuksesan sebuah tujuan.

    Sebagaimana orang bijak berkata,” Bersyukurlah untuk sebuah tamparan yang panas menyengat, sebab itu suatu pertanda bahwa kita masih punya indera perasa, dan membuat jiwa yang tidur menjadi terjaga. Dan waspadalah dengan belaian penuh kelembutan, sebab itu membuat jiwa tertidur dan terlena, lalai terhadap bahaya yang bisa datang secara tiba- tiba…! “ 

Pada akhirnya semua tergantung pada niat si pengacung jempol, apakah dia penuh ketulusan mengekspresikan penghargaan dan rasa suka, memperkuat konfidensi, memotivasi semangat berprestasi atau menjerumuskan lawan dengan menyembunyikan sesuatu di balik kepalan tangan. Dan juga tergantung pada penyikapan si penerima jempol apakah dia tertipu dengannya, ataukah justeru mampu menjadikannya sebagai bentuk dukungan yang memperkuat semangat untuk meraih hasil  lebih sempurna…!!!

El Jeffry