Saturday, March 17, 2012

RAHASIA KEKUATAN FOKUS

(Secret Power Of The Focus)



Fokus adalah penghimpunan energi menuju satu titik pusat,
rahasia dari munculnya kekuatan dahsyat..!!!


Fokus adalah konsentrasi, pemusatan pikiran menuju satu kesadaran, hanya satu, tiada yang lain.  
Fokus adalah ketajaman, penyempitan bidang, pengecilan ruang, penyederhanaan urusan.


Alat-alat bantu, perkakas dan senjata tercipta dari prinsip-prinsip fokus.

Dengan fokus, paku, bor, tombak dan pasak mampu menusuk dan menembus benda- benda keras, energi terpusat pada ketajaman ujung.
Dengan fokus, tombak, peluru dan anak panah menembus udara dengan cepat, terkendali dan mencapai sasaran dengan tepat dan akurat.


Dengan fokus, pisau, golok, pedang, gunting, gergaji dan samurai merobek benda- benda, ketajaman sisi dengan daya hancur tak terperi.
Belati adalah contoh perpaduan antara keruncingan dan ketajaman, pemusatan di ujung dan sisi sekaligus.


Dengan fokus kaca pembesar mengubah cahaya matahari menjadi api yang membakar.
Dengan fokus pikiran menyingkap misteri alam memecahkan problem-problem besar isi dan muka bumi.


Dengan fokus do'a-do’a menembus langit menuju Sang Esa.
Dengan fokus zikir-zikir menyibakkan kesedihan dan kecemasan, meraih ketenangan jiwa.


Dengan fokus para petarung menghancurkan musuh-musuh meraih kemenangan.

Fokus adalah kunci efektivitas dari seluruh aktivitas .

Fokus. Pergerakan lurus menuju hanya pada yang satu. Hanya satu, eka, esa, ahad, tunggal.

Fokus adalah khusyu’, hanya satu ingatan dan kesadaran.
Fokus adalah ikhlas, hanya satu tujuan dalam setiap perbuatan.
Fokus adalah konsentrasi, pemusatan pikiran dan penghimpunan energi...!!!


Fokus,,,itu lebih baik untuk hasil terbaik...!!!

Salam...
El Jeffry


BUMIPUN BERTANYA


Bumipun terheran, ada apa denganmu wahai manusia? 
kau cium wajahku dalam sujudmu siang malam penuh ketundukan,
Kau bersimpuh di atasku penuh kekhusyu’an,
kau basahi aku dengan air mata penyesalan.

Namun siang malam pula kau injak-injak wajahku dengan hentakan kaki kesombongan,
kau rusak tubuhku dengan beringas,
nafas- nafas mendengus buas, 
kau basahi pakaianku dengan darah mereka yang tak berdosa.

Ada apa denganmu wahai manusia? 
Peringatan demi peringatan tak kauhiraukan,
Gemuruh letusan gunung berapi,
banjir bandang setiap musim, gelombang tsunami, getaran gempa,
puting beliung, gemeretak pepohonan hutan terbakar, 
banjir lumpur dan lahar dingin, 
jerit tangis orang-orang tertimpa bencana.

Peristiwa demi peristiwa membubung ke langit menjadi tinta,
menuliskan kabar berita perbuatan manusia,
eksekusi bumi, hukuman setimpal atas berbagai kerusakan,
namun tetap saja gagal memberi efek jera,
dengan bahasa apa lagi alam mesti  berbicara?

Bumipun terus terheran, terus bertanya,
ada apa denganmu wahai manusia? ***

El Jeffry

Bendera Setengah Tiang: Negara Setengah Matang





     Tiang telah dipancangkan, tali telah diikatkan, bendera telah dikibarkan. Tapi tali itu berat bukan kepalang, terkunci di tengah-tengah perjalanan, akhirnya berhasil naik juga, tapi sayang, hanya setengah tiang. Semua terdiam, berduka, tinggal sayup-sayup suara hymne Gugur Bunga menggema di lapangan upacara, tanah nusantara, bumi persada.


    Bendera setengah tiang. Merah putih masih berkibar siang dan malam. Tak ada yang menaikkan, tak ada yang menurunkan. Tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Simbol negara itu terabaikan. Waktu berlalu memakan kecerahan warnanya. Buram. Muram. Merahnya tak lagi semerah dulu, putihnya tak lagi seputih dulu. Kobaran api semangat perjuangan melawan penjajahan tak lagi berkobar. Sentuhan suci yang mengilhami kemerdekaan juga menghilang. Lembaran kain pusaka lusuh tertutup debu, bertahun-tahun, berubah menjadi merah hitam- kelabu. Seperti itukah kini wajah bangsa ?


     Bendera setengah tiang. Negara setengah matang. Perjalanan belum usai, tapi kenapa tak diteruskan? Naikkan sampai keujung tiang, agar terlihat gagah berkibar tinggi menjulang! Tuntaskan perjuangan, jangan setengah-setengah, sebab hari masih panjang! Masuklah ke tengah, jangan setengah-setengah, rapatkan barisan dan luruskan, sebab pasukan musuh masih garang menghadang di depan. Kumpulkan sisa- sisa tenaga, belum waktunya berputus asa, masih terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan!


    Bendera setengah tiang. Negara setengah matang. Bendera dan negara adalah satu kesatuan. Simbol dan pesan. Pralambang dan keberadaan. Kematangan negara harus terus ditempa, dilebur di kawah candradimuka, para empu, resi, begawan dan kaum bijak bestari harus berhimpun untuk menyempurnakan proses pematangan ini. 


    Pilar-pilar itu masih terpecah-pecah, terbelah-belah, harus segera disatukan kembali. Satukan wilayah, jangan setengah-setengah, jika tidak, satu persatu akan berlepasan. Satukan rakyat, jangan setengah-setengah, jika tidak, satu persatu akan bertumbangan. Satukan kedaulatan pemerintah, jangan setengah- setengah, jika tidak, akan terjadi saling tikam, satu persatu berubah menjadi tiran.


      Satukan bendera, negara dan semua yang ada, jangan setengah-setengah, jika tidak, bangsa ini akan musnah, kalah dan kembali terjajah. Para penjajah tak pernah menyerah, mereka tetap akan mencari celah dan sabar menunggu saat-saat lengah. Bahkan tanpa disadari anak- anak negeri, mereka telah menyusup membaur dengan seisi rumah, sebab penjajahan itu sudah tabiat manusia, ia bisa hinggap pada siapa saja, asal ada kesempatan, sepak terjangnya pasti dimainkan.


      Manusia adalah makhluk penjajah, tak peduli saudara, teman, sahabat, kerabat, bahkan dalam satu keluarga, saling jajah pasti terjadi. Suami menjajah istri, ayah menjajah anak, teman menjajah kawan, sahabat menjajah kerabat, pejabat menjajah rakyat, atasan menjajah bawahan, penguasa menjajah yang dikuasai. Memang sudah tabiat, naluri dasar manusia sampai hari kiamat. Yang kuat selalu punya tabiat menjajah yang lemah, tinggal apakah ia punya niat dan ada sempat, penjajahan antar manusia pasti terjadi.


    Siapa yang salah? Mungkin semua salah. Penjajah dan terjajah sama-sama salah! Yang menjajah sudah jelas paling salah, tapi yang terjajah juga ikut andil salah, kenapa rela dijajah, kenapa memberi ruang dan celah untuk dijajah ? Kenapa tidak berjuang memberikan perlawanan merebut kemerdekaan, sebagaimana generasi pendahulu contohkan?


   Orang-orang lemah mestinya tidak berpecah pelah, rapatkan barisan dan luruskan, satukan kekuatan teraturkan, sehingga penjajah tak akan pernah bisa berbuat apa-apa. Bukankah kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan kejahatan yang terorganisir?


     Maka bersatulah, jangan berpecah belah, himpun kekuatan dan daya pertahanan, sisihkan perbedaan, kumpulkan kesamaan, senasib sepenanggungan. Satukan arah pada musuh bersama. Kemiskinan, kebodohan, kezaliman, kejahatan, kemungkaran, penindasan, pengkhianatan, tabiat-tabiat buruk yang telah menjajah jiwa bangsa hingga kehormatan dan harga diri terpuruk dan ambruk.


      Bendera setengah tiang. Negara setengah matang. Tujuan setengah jalan. Ikatan setengah kencang. Berjuang setengah kekuatan. Proses belum selesai. Pekerjaan belum usai. Tugas belum tunai. Berkumpullah ke tengah, jangan setengah-setengah. Satukan pemikiran ke pusat masalah, jangan terpecah-pecah. Padukan kekuatan ke dalam kebersamaan, jangan terbelah-belah. 


      Cukuplah sudah berduka bermuram durja belasungkawa. Cukuplah sudah termangu meratapi bendera setengah tiang. Cukuplah sudah terpaku menyesali negara setengah matang. Waktu masih panjang. Jalan masih membentang. Bersatulah seluruh anak bangsa di lapangan nusantara, kerahkanlah seluruh upaya agar bendera berkibar di ujung tiang tinggi menjulang, tanah persada bumi nusantara, Indonesia...!!! ***

Salam...
El Jeffry