Friday, March 16, 2012

DUDUK PERKARA DAN PAYUNG KEADILAN

       Duduk perkara. Duduk dalam menghadapi perkara. Mendudukkan perkara pada tempat yang yang benar dan dan menyikapi perkara dengan cara yang baik. Perkara, urusan, masalah, ragam problem kehidupan, adalah perihal yang tak pernah lepas dari setiap manusia, baik sendirian maupun bersama dalam sebuah kelompok atau kumpulan.

      Perkara, ia bisa menjadi besar atau kecil tergantung dari perlakuan dan penyikapan, ia bersifat relatif, ada ketergantungan banyak hal saling berkaitan di dalamnya. Perkara besar bisa menjadi kecil dan hilang tuntas manakala dihadapi dengan perlakuan bijak dan penyikapan yang benar. Sebaliknya, perkara kecil bisa menjadi besar dan perkara besar bahkan bisa menjadi buyar, tak terselesaikan dengan baik manakala dihadapi dengan perlakuan buruk dan penyikapan yang keliru.


     Perkara hampir menyerupai makhluk bernyawa, ia bisa dengan tiba- tiba berubah bentuk dan ukuran, bergerak-gerak ke sana ke mari, bahkan bisa berjalan dan berlari-lari sehingga lepas kendali, maka kadang perlu untuk ditangkap dan dijinakkan terlebih dahulu sebelum digelar. Perkara juga seperti api, semula hanya menyimpan potensi, tapi bisa dengan tiba-tiba menyala dan membesar dan bergolak membakar apa saja manakala ia disulut dan minyak disiramkan, dikipas-kipas dan dihembus-hembuskan ke udara. Polusi hasil pembakaran perkarapun bisa mencemari jernih dan sejuknya udara kenyamanan kebersamaan.


     Mengendalikan perkara tak ubahnya seperti mencocok hidung kerbau beringas, ia harus diikat kuat jika masih meronta, lalu didudukkan di atas meja, diletakkan tepat di tengah-tengah ruang terbuka agar semua mata bisa memandang lebih gamblang, melihat lebih cermat dan menelaah lebih terarah. Bila perlu, putar posisinya perlahan agar bisa dilihat dari seluruh sudut pandang, semakin banyak sisi yang terlihat maka akan semakin mudah di analisa dan diagnosa, mencari titik temu dari berbagai perselisihan karena pandangan yang berbeda. Penglihatan dari segala sisi dengan objek perkara tenang dan terkendali akan sangat membantu mempermudah menyusun data, bukti dan alasan akurat untuk mengambil keputusan akhir perkara.


     Ilustrasi perkara dalam gambar tiga dimensi, objek akan nampak jelas bagai lingkaran bola, kearifan memandang masalah tak hanya dari satu sisi, apalagi lebih sempit lagi, satu titik. Cara pandang satu titik inilah yang paling berpotensi menimbulkan intrik, polemik hingga konflik, sebab objek dalam ruang memiliki milyaran titik luar, dari situlah mata manusia memandang. Semakin besar jumlah mata yang memandang objek ini, semakin besar pula ukuran dan bobot suatu perkara.

      Jika tiap mata bersikukuh pada posisinya, tidak sesekali bergeser mencoba melihat dari titik lain, maka perbedaan yang terjadi berpotensi melahirkan perkara-perkara baru, terlepas perkara lama terselesaikan atau tidak. Bahkan tidak mustahil perkara yang baru muncul lebih besar dari perkara sebelumnya. Lalu perkara sesungguhnya akan lenyap tak terlihat sebab semua orang yang berperkara terjebak dalam intrik, polemik dan konflik berkepanjangan. Solusi buntu, keputusan gagal, inti perkara, objek sesungguhnya masih tetap tergeletak di atas meja. Dalam keputus asaan akhirnya perkara di kunci rapat dalam peti es, dimasukkan ke gudang penundaan, semakin berat beban hidup dengan perkara yang bertumpuk-tumpuk, deposit perkara dalam bank kehidupan kita.


     Duduk perkara. Jika perkara telah didudukkan dengan tenang, tinggal orang-orang yang mendudukkan juga harus duduk dengan tenang. Bukan berdiri atau berlari, sebab perkara akan semakin sulit di atasi, akan terjadi kejar mengejar antara perkara dengan orang–orang yang berperkara dan antara masing- masing orang yang berperkara satu sama lain, bahkan tak jarang justru perkaralah yang akhirnya mengejar orang yang berperkara. Perkara mengejar orang, orang di kejar- kejar perkara.

     Kadang menggelikan, tapi sering terjadi dalam kenyataan. Urusan jadi buyar, berputar-putar melingkar-lingkar. Kusut, semrawut, saling sikut, saling sulut, saling tuntut, akhirnya kalut, terjadilah kemelut, mana kepala mana buntut, seperti benang yang salah rajut, perkara tetap berlanjut, tanpa kesudahan, tanpa penyelesaian. Amarah dan emosi ambil kendali, objektivitas hilang, akal sehat tak berfungsi lagi, sumber utama timbulnya kekerasan dan kehancuran, karena gagal menempuh cara yang benar dalam menghadapi perkara.

     Piring terbang dalam rumah tangga, banting pintu di ruang kerja, lempar batu dalam tawuran antar warga, tembakan peluru di kerumunan pengunjuk rasa, ricuh antar pemain di lapangan sepak bola, hingga dentum meriam dalam perang dunia, ilustrasi nyata bahwa ketika manusia enggan menyelesaikan perkara sambil duduk akan selalu berakhir tragis dan buruk. Kehancuran majemuk.


    Dengan duduk hati menjadi tenang, kepala menjadi dingin, urat saraf rileks, otot- otot mengendur, amarah relatif teredam, emosi terkendali, akal sehat bekerja lebih optimal, modal utama menemukan jalan keluar yang lebih baik bagi kepentingan, kebutuhan dan keinginan bersama. Dengan duduk pikiran menjadi tajam, fokus dalam memandang, konsentrasi dalam menelaah suatu hal, energi memuncak, cerdas menemukan inti sari perkara, seberapa pun rumit dan besar ukuran maupun jumlahnya. Lalu akan lebih tepat mengambil kesimpulan, lebih bijak mengambil keputusan. Tarik ulur pihak- pihak yang berperkara akan mudah dikendalikan.

    Duduk perkara memang tak bisa lepas dari tarik ulur. Saling menarik, saling mengulur. Satu tangan menarik, lain tangan mengulur, yang satu menegang, yang lain mengendur, ibarat tali- temali yang berkait pada tiap tangan lalu tersimpul di tengah-tengah lingkaran, pusat perkara dan di meja perkara, semua berkeliling membentuk formasi lingkaran, tiap tangan duduk digaris luar.Tarik-ulur kepentingan, kebutuhan dan keinginan, ibarat payung, perkara adalah jari-jari, dan ujungnya adalah perkara semua orang yang terlibat, sebanyak itu pula perkara yang ada.
    
    Payung keadilan harus segera ditegakkan. Tarik ulur kepentingan, kebutuhan dan keinginan yang beragam antara pemimpin dan rakyat, antara rakyat dengan rakyat dan antara pemimpin dengan pemimpin tak kunjung terselesaikan dengan indah sebagaimana indahnya payung mengembang tegak sempurna. Tegaknya payung keadilan adalah ketika posisi payung berdiri tegak lurus sempurna, tidak miring ke kiri atau ke kanan, tidak condong ke depan atau ke belakang, formasi ideal, rapi, indah, rata, terpusat pada gagang payung, poros utama, tepat di pusat lingkaran.

      Gagang adalah simbol kepemimpinan. Ia mesti berdiri tegak di tengah, lentur dan luwes memainkan tarik ulur antar kekuatan anak bangsa. Tegaknya payung keadilan juga tergantung dari kontribusi tiap komponen kerangka payung, semua bekerja bersama, saling terkait dan saling menopang. Eloknya gerakan mengembang dan melipatnya payung adalah perpaduan gerakan bersama yang rampak dan berirama, di bawah komando dirigen, pemegang gagang payung.

     Jika salah satu jari payung rusak, maka berkuranglah kesempurnaan payung dan gerakannya secara keseluruhan. Satu dalam kebersamaan, bersama dalam kesatuan. Namun bagaimanapun gagang pegangan payung tetaplah menjadi poros utama yang sangat menentukan nasib sang payung, adakah ia tegak sempurna atau miring posisinya, adakah ia mengembang tinggi menjulang atau melipat tak berdaya.


    Siapa pemegang gagang yang berdiri di tengah adalah kesepakatan bersama, yang jelas dia harus yang terkuat dan terbaik diantara jari-jari payung yang ada, sebab gagang itu juga berasal dari jari- jari dan jari-jari adalah cikal bakal pengganti jika gagang itu telah lelah atau habis masa tugasnya, lalu gagangpun kembali manjadi jari. Rotasi, regenerasi dan mutasi.

      Payung bangsa adalah rangkaian dari jari-jari payung dua ratus juta lebih jiwa manusia Indonesia, semua punya kepentingan, kebutuhan dan keinginan, sekaligus potensi dan kewajiban untuk bergantian mengemban tugas sebagai gagang maupun jari-jari.
Gagang payung harus siap jika suatu saat kembali menjadi jari-jari, manakala gagal menjalankan fungsi sebagai poros, atau memang telah habis masa pakai.

      Dan kesiapan tiap jari untuk suatu saat mendapat amanat berdiri di tengah-tengah sebagai gagang juga harus ditempa jauh-jauh hari semenjak dini. Jari-jari mesti banyak belajar dari pengalaman bersama, tentu agar jika saatnya tiba mendapat amanat menempati poros benar-benar telah siap dan layak memegang payung bangsa, arif dan bijaksana merangkum perkara-perkara besar bersama, menyelesaikan masalah bangsa dengan lebih baik dan lebih benar, lentur dan luwes memainkan tarik ulur kekuatan.

     Mungkin payung keadilan kita sedang mengalami ujian, robek sana sini, tambal sulam, kadang mengembang kadang melipat, namun semua itu adalah pembelajaran sebuah bangsa menuju perbaikan ke arah kesempurnaan. Tak semestinya anak bangsa putus asa, selama payung itu masih ada, selama waktu masih tersedia, selalu ada harapan.

     Duduk perkara, mendudukkan perkara pada tempat semestinya, menyelesaikan perkara dengan duduk bersama, menyikapi tarik ulur antar kekuatan tangan-tangan tangan yang terlibat dalam perkara, di bawah payung keadilan, kesadaran rakyat dan kearifan pimpinan, maka pergelaran perkara akan selalu berkesudahan baik untuk semua pihak, semakin mematangkan kedewasaan dan mendewasakan kematangan bangsa.

    Duduk perkara di bawah payung keadilan. Kelak jika saatnya telah tiba, payung indah pasti mengembang dengan sempurna, mau dihias dengan motif dan desain apa sata tetap indah. Payung keadilan yang kuat akan menangkal gangguan alam luar, serangan iklim dan buruknya cuaca dunia global, tempat anak-anak bangsa bernaung di bawah perlindungannya dari terik matahari ancaman dan curah hujan serangan, apapun yang datang dari kekuatan asing dan dunia luar.

      Tegakkan payung keadilan, cita-cita bersama anak bangsa, menuju Indonesia Baru yang lebih baik…***Top of Form
Bottom of Form

Salam...
El Jeffry
Top of Form
Bottom of Form

RANTAI PERSELINGKUHAN ,,,PUTUSKAN…!!!

     Selingkuh menurut bahasa adalah tindakan tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong, menyeleweng, suka menyembunyikan sesuatu, korup, menggelapkan uang. Secara lebih luas, selingkuh adalah seluruh tindakan penyalahgunaan hak yang dilakukan secara sembunyi- sembunyi, baik secara sendirian maupun bersama- sama, baik yang berkaitan dengan materi, uang, maupun non materi, waktu, kesempatan, kekuasaan, kepercayaan . 


     Selingkuh adalah pelanggaran, pengambilan diam-diam hak orang dengan cara yang tidak benar. Selingkuh adalah pengkhianatan terhadap amanat kebersamaan dan penyimpangan kepercayaan untuk tujuan tertentu tanpa mengindahkan nilai- nilai, norma- norma, aturan dan hukum yang berlaku.

     Perselingkuhan selalu melibatkan beberapa pihak untuk melicinkan jalan, menutupi perbuatan agar aman sampai tujuan. Maka perselingkuhan adalah mata rantai kunci dari lingkaran rantai kejahatan jika tumbuh dan berkembang tanpa bisa dikendalikan. Ketika selingkuh sudah menjadi tradisi, maka kejahatan seolah wabah endemik yang tak terbendung penyebarannya, sulit diobati, sulit diatasi, rantai lingkaran setan yang menjerat tatanan kehidupan. 


     Selingkuh adalah penyakit mematikan, menular begitu cepat, melumpuhkan sumber daya secara menyeluruh, dampak sistemik. Ibarat terjadi pada tubuh, virus perselingkuhan secara sporadis menyerang seluruh sendi, organ, tulang, daging, urat saraf, otot dan aliran darah, menggerogoti kesehatan, menurunkan produktivitas, melemahkan kreativitas, dan pada puncaknya melumpuhkan imunitas.

     Dalam sebuah komunitas, perselingkuhan adalah sumber kerusakan tatanan, ikatan, kebersamaan. Ia akan mencerai beraikan keutuhan persatuan dan kesatuan, beranak pihak dari jalinan kerja sama antar orang yang berselingkuh, bergerak dari dalam, menohok kawan seiring, saling berkhianat dan saling makan, kejam, buas bagai kanibal. Tanpa disadari, kuburan telah digali, nampak dari luar memang normal- normal saja, seakan tak terjadi apa- apa, tapi sesungguhnya nyawanya terancam, kematian mendadak tinggal menunggu hari.


      Dalam rumah tangga hingga istana raja, jika virus perselingkuhan telah menggejala, kehancuran hampir mustahil dihindari. Perilaku serong dan menyeleweng, menjamurnya prostitusi, korupsi, kolusi, suap, politik uang, pencucian uang, kongkalikong, sindikat, komplotan, main mata, kecurangan pemilu, dan masih banyak kejahatan lain yang kian hari kian menjadi- jadi adalah rantai lingkaran setan yang diakibatkan virus perselingkuhan tak segera diatasi semenjak dini. Penyakit kronis kini nyaris melampaui ambang kritis.


     Menjadi semakin tragis ketika pasien hilang kesadaran karena penyakit itu sudah bercokol terlalu lama menjadi tradisi. Jika telah terbiasa, rasa sakitpun tak lagi terasa. Salah kaprah, yang benar tidak lumrah. Dokter spesialis yang secara medis telah mendiagnosis juga tak digubris. Pasien tetap saja keras kepala, tak ubahnya seperti penghuni rumah sakit jiwa, memang tak ada orang gila yang menyadari kegilaannya.


    Mungkin sudah terlambat, tapi terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali. Harapan itu selalu ada. Tinggal satu cara, membangunkan kembali sedikit kesadaran yang masih tersisa di dalam jiwa. Semua berawal dari kesadaran, pengakuan, lalu bergegas menjalani terapi pengobatan. Betapapun sakitnya menjalani operasi, tapi keinginan dan semangat untuk sehat dan hidup lagi akan menjadi kekuatan yang mengalahkan penyakit, sampai ke akar- akarnya, virus penyebab bencana.

  
     Rantai perselingkuhan,,, putuskan...!!!


Salam...
El Jeffry

MANUSIA- RAYAP- SETAN



 ( Antara Konspirasi dan Tradisi )

Manusia, rayap dan setan berkonspirasi. Menebar wabah infeksi, tak perduli usia, strata dan kasta. Tak peduli motif, harta, wanita atau tahta. Tak peduli pangsa, miskin dlu’afa atau kaya. Penyakit menular, virus berbahaya, lebih ganas dari disentri dan kolera, lebih buas dari HIV-Aids, lebih merusak dari flu burung dan narkoba. “MANUSIA-RAYAP-SETAN“ adalah kombinasi sempurna antara rupa MANUSIA, pola makan RAYAP dan perilaku SETAN. Sungguh mengerikan.

Sebuah konspirasi dan juga tradisi, sebab wabah itu telah meluas, berkembang pesat dan menjamur selama bertahun- tahun, tumbuh subur, bercokol dan mengakar di seluruh sendi kehidupan tanpa bisa diatasi. Patah tumbuh hilang berganti. Gugur satu tumbuh seribu. “ Manusia-Rayap-Setan “ selalu hadir dan beranak pinak dari generasi ke generasi. Mereka telah 'sukses' membangun kroni dan tradisi. Warisan penyakit di sebuah negeri berbuah tragedi.

Mereka beroperasi diam- diam tanpa disadari. Mereka menyebar ke mana- mana, dari alam terbuka hingga instansi tertutup dan birokrasi. Menjarah hutan, pencurian kayu dan pembalakan liar hingga penggasakan brankas anggaran pambangunan, uang rakyat habis dilibas mulut- mulut buas yang ‘nggragas’ tak pernah puas, tak berbekas hingga kayu dan kertas terakhir tanpa ampas.

“ Manusia-Rayap-Setan “ terus bergerak menumpang kendaraan para pejabat dan politisi, aparat dan para priyayi, merayap-rayap dan mengendap-endap di bawah kursi, bersafari dan berdasi, bertameng lidah dalam berdiplomasi, tapi modus operandinya tak pernah berubah.

Ada aroma nikmat, santap dengan lahap hap hap hap...!
Berkumpul di gelap malam berpesta dan berdansa ca ca ca...!
Bersuka ria dan bernyanyi tri li li li...!
Berselebrasi dalam tawa ha ha ha ha... !
Mengusap taring sambil menyeringai hi hi hi hi...!

Sementara di luar sana, korban-korban lunglai tak berdaya meratapi rumah-rumah yang ambruk sebab tiang dan dindingnya telah lapuk. Bocah bocah kurus menangis menahan lapar sebab simpanan beras telah bablas. Anak-anak sekolah belajar di bermandi keringat terbakar matahari sebab dana renovasi gedung sekolah telah musnah.

Rayap-rayap kesetanan mendulang kenyang di atas penderitaan banyak orang. Merobek-robek kantong ‘raskin’ hingga jatah subsidi tak cukup lagi untuk si miskin, tercecer sana sini sepanjang perjalanan. Menggembosi dana BOS hingga ongkos pendidikan melambung tinggi. Memusnahkan berkas-berkas dan barang bukti pelaku korupsi hingga peradilan tak bergigi. Merusak kertas hukum dan konstitusi hingga gerbang kemerdekaan kembali terkunci .

Mereka melahap kertas-kertas lembaran keramat, petuah dan kitab-kitab suci hingga ajaran-ajaran dan norma-norma tak nampak lagi. Rayap-rayap tak jemu beraksi, tanpa basa basi, tanpa kompromi, tanpa rasa malu, rasa bersalah dan rasa berdosa, tanpa ‘sense of crysis’, 'tepo seliro', welas asih dan rasa kasih-sayang-cinta sesama. Memang itulah sifat mereka.

Bencana besar ! Bencana besar ! Bencana besar jika wabah itu tak segera dikendalikan.

Singsingkan lengan, kerahkan tenaga dan pikiran, satukan kekuatan, semua yang merasa belum terinfeksi virus " Manusia-Rayap-Setan " harus bersegera mengambil tindakan penyelamatan. Gemakan pembaharuan. Langkah nyata perubahan, perbaikan, pembenahan, pensucian, pencerahan 'ruh' penghuni 'rumah surga' nusantara.

Hancurkan koloni mereka sampai ke akar-akarnya, dalam tiap JIWA ANAK BANGSA, sampai rayap terakhir tak tersisa dalam dada manusia Indonesia. Jika tidak, mereka akan kembali hidup dan berkembang biak lagi seperti semula, tanpa disadari, tanpa disadari, tanpa disadari.

Dan jika itu yang terjadi, maka bersiaplah untuk menjadi korban berikutnya, menjadi mangsa, atau bergabung dalam kelompok spesies mereka !

“ Sesungguhnya Tuhan tidak merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu merubah nasibnya sendiri…” ***

El Jeffry

SANDAL JEPIT : SELALU TERGANJAL DAN TERHIMPIT

Siapa tak kenal sandal jepit. Sepasang alas kaki yang identik dengan rakyat kecil, kaum marjinal yang terjepit. Setali tiga uang dengan nasib sandal, pengguna sandal jepit adalah komunitas sosial yang nasibnya selalu terganjal dan terhimpit Belum lama berselang, sang sandal sempat fenomenal ketika mengorbitkan A’al menjadi berita nasional. Kasus pencurian sandal membawanya terjungkal dan terbelit, nasib sial menjadi penyakit, aparat arogan yang gatal menggaruk duit.

Sindroma A’al, potret sosial bagaimana orang kecil selalu kalah dan terpental ketika berhadapan dengan orang besar. Meski mencuri juga sudah menjadi tradisi, namun penegakan hukum dan keadilan akan selalu gagal ketika alat- alat hukum masih berjiwa kanibal, gemar mencuri kesempatan untuk menggit mangsa sesama saudara, rakyat jelata.

A’al yang sial dan aparat yang gatal memicu publik untuk ramai- ramai bereaksi karena sudah sama- sama gatal dan mual melihat tingkah polah polisi nakal. Semua gatal, semua mual, maka wajib digaruk dan dimuntahkan. Namun itulah budaya kita, tradisi latah dan mental panas- panas tahi ayam, ikut- ikutan bersikap tanpa tahu ujung pangkal dan hanya panas sesaat lalu hilang begitu angin menerpa. Dingin seketika. Berhenti setelah gatal hilang dan perut mual kembali lega. Aksi seribu sandal tak terdengar lagi.

Sindroma A’al dan sandal jepit tak menghasilkan apa- apa, lenyap ditelan berita yang lebih hot dan mak nyos untuk dinikmati, padahal pada dasarnya punya pakem yang sama, hanya pergelarannya yang berbeda. Isi yang sama, hanya kemasannya yang berubah desain, motif dan warna. Persis seperti opera Romeo Juliet atau pentas Mahabarata, cerita yang sama, tapi tetap saja membuat penonton terkesima dan pok ame- ame setelah pementasan paripurna. Lalu pulang ke rumah membawa kepuasan tanpa memperoleh ‘pencerahan’ sedikitpun, meski telah membayar mahal hanya untuk beberapa jam pertunjukan. 

Mental penonton, sifat komentator, tradisi penggembira, itulah refleksi wajah kita. Selalu gagal menangkap pesan di balik peristiwa. Gagal mengambil hikmah di balik musibah. Maka cerita yang sama akan selalu berulang, tanpa pernah menghargai dengan mahalnya sebuah pengalaman, lalu bagaimana akan bisa melakukan pembenahan, perbaikan dan penyempurnaan ? Bukankah pembetulan,revisi atau koreksi dimulai dengan jalan mengetahui kesalahan, lalu dengan bijak menemukan sebuah cara untuk memperbaiki kesalahan itu agar tak terulang ?

Sandal jepit adalah sebuah simbol. Ia adalah cermin. Kacabenggala. Sandal jepit adalah gambar rakyat yang selalu ada di bawah, menjadi aspal penyangga lalu lalang mobil- mobil elit. Sandal jepit adalah cermin untuk melihat keadaan mereka yang kumal dan selalu menjerit, mayoritas lokal namun lingkup geraknya dipersempit.  Sandal jepit adalah kacabenggala korban kapitalis brutal dan penguasa   yang  jiwanya sakit, terus- menerus jadi tumbal kaum feodal dan ekonominya terpuruk pailit, mulut- mulut yang disumpal dan tangan kaki diapit, dihimpit masalah bergumpal tanpa mampu berkelit, hidup gagal matipun sulit.

Sandal jepit, memang hanya  menjadi ganjal dan terjepit,sengaja atau tidak sengaja. Namun orang-orang yang berdiri berpijak beralas kaki padanya, yang menghindari tanah agar tak menginjaknya, yang terjaga dari kuman dan kerikil tajam sehingga sehat dan aman dari bahaya, mereka berhutang jasa kepada sang sandal, dan juga berpiutang dosa jika tak menghargai sandal jepit sebagai sepasang pahlawan yang menopang hidup sehari- hari. Jangan pernah menyangka sandal jepit yang remeh tanpa daya tak punya makna. Ia bisa saja tiba- tiba menampar wajah dalam hitungan yang tak terduga.

Sudah waktunya kita menempatkan sandal jepit pada martabat yang selayaknya. Mungkin spirit sandal jepit bisa membangunkan bangsa kita dari tidur panjang, karena kelamaan kaki- kaki anak negeri tidak pernah merasakan sentuhan sang sandal karena lebih akrab dengan sepatu kulit, sepatu roda dan sepatu kaca. Larut dalam gaya perlente, gemar hura- hura dan pesta dansa di dalam istana. Lupa pada beratnya kehidupan di luar sana, di pelosok- pelosok desa, tempat- tempat terkucil, lingkungan kumuh, pengemis dan gelandangan, pemulung dan pengamen jalanan, petani kecil dan buruh- buruh bangunan, nelayan pesisir dan penduduk pedalaman, mereka yang lebih sering bertelanjang kaki dan bergulat dengan lumpur, tanah dan debu. Merekalah yang menghargai sepasang sandal itu sebagai barang mewah lalu menempatkannya sebagai sahabat mulia.

Andai sehari saja dicanangkan Gerakan Sandal Jepit Nasional, mungkin akan banyak problem- problem besar bangsa ini yang terpecahkan dan teratasi, karena diskusi dan orasi, seminar dan guyuran rohani, sidang DPR dan rapat- rapat menteri, yang menjejali media setiap hari tetap saja tak mengubah situasi. Mungkin saja dengan sandal jepit di kaki, sehari saja, jika ratusan juta manusia Indonesia merasakan sentuhan sandal, itu akan menyentuh hati nurani. Sehingga tanpa banyak penjelasan dan teori, tiap jiwa akan dengan cerdas memahami, bahwa carut marut hukum dan keadilan dimulai dari lubuk hati. Hati  para aparat, polisi, hakim, jaksa dan pimpinan KPK, termasuk juga seluruh warga negara yang  terlibat di dalam lingkaran hukum bersama. Tidak hanya saling tuding dan saling teriak semata ketika terjadi pelanggaran dan ketidakadilan.

 Lingkaran hukum menjadi lingkaran setan. Ketika mata dan telinga mengalami malfungsi mungkin sentuhan kaki dapat membangunkan hati, membuka akal sehat, menghidupkan nalar, menggedor kesadaran. Ruh sandal jepit. Maka sandal jepit akan jadi sejarah, symbol kebangkitan, bukan lagi A’al yang terjungkal dan terbelit, atau marjinal yang terjepit, namun sebuah bangsa yang handal dan manunggal, unggul di arena internasional, sembuh dari sakit dan terbebas dari hukum dan keadilan yang berbelit- belit. Sandal jepit, mari jadikan dia sebagai spirit…!!! ***

El Jeffry

MENGGENGGAM BARA CAHAYA

     Ada suatu masa di mana nilai-nilai kebenaran seakan seonggok bara. Panas dan menyala. Siapa yang masih berpegang, maka rasa panas membakar telapak tangan. Pedih, perih tak terkira. Itu adalah ujian besar, akankah dilepaskan genggaman itu, hilangkan sara tersiksa dari telapak tangan, ataukah tetap bertahan, sabar dalam derita dan luka- luka. Roda zaman berputar. Siang dan malam saling mengisi. Cahaya dan kegelapan silih berganti. Kebenaran dan kebatilan menjadi siklus abadi, pasangan serasi namun berlainan sisi.

    Grafik peradaban kadang bagai busur panah. Bermula dari bawah, lalu meninggi, lalu menurun lagi kembali seperti semula. Gelap, terang, lalu gelap kembali. Kebenaran datang sebagai ‘orang asing’, dan suatu saat akan kembali ‘asing’. Awal kehadiran para Nabi dan ‘delegasi’ Tuhan selalu dituduh sebagai orang gila, aneh, anomali tradisi dan peradaban.

    Namun setelah masa- masa keemasan ajaran- ajarannya menyinari dunia, ada saatnya ajaran- ajaran itu kembali dicampakkan karena dianggap usang dan ketinggalan zaman. Orang- orang yang masih berpegang teguh padanya akan dikucilkan, terhimpit, tersisih dan arena kehidupan. Dari aneh kembali aneh. Dari asing kembali asing. Dari anomali kembali anomali.

    Ronggowarsito telah 'memprediksi' indikasi ini jauh-jauh hari, akan datang zaman edan, yang tidak ikut ‘mengedan’ tidak kebagian. Tapi jangan lupa, sehebat- hebatnya mereka yang ‘mengedan’, tetap lebih hebat orang yang waspada. Waspada adalah terjaga, menjaga dan selalu siaga dalam penjagaan. Orang yang terjaga akan selamat dari bencana di saat mereka yang lelap terlena tertidur dalam kenikmatan tergagap panik saat petaka datang tiba-tiba.

    Berpegang teguh pada nilai- nilai kebenaran di zaman edan memang seakan menggenggam bara. Tapi di balik panas pedih perih dalam derita, ada kenikmatan dan keindahan yang tak sanggup dirasakan oleh mereka yang enggan menggenggam bara. Sebab mereka sudah tak memiliki indera peraba dan telah mati rasa. Bagaimana bisa membedakan antara nikmat dan siksa?

    Yang tertidur tak punya kesadaran seperti orang yang terjaga. Mereka tak pernah membuka mata, bahwa dalam bara itu tersimpan cahaya. Bara cahaya kebenaran. Dia hanya berkenan hinggap di tangan- tangan yang teguh menggenggam.

    Eksotika dan cita rasa, upah nikmat yang hanya diberikan bagi mereka bersabar menghayati rasa panas, pedih dan perih dalam hidupnya. Genggamlah bara kebenaran itu betapapun sakitnya, sebab di dalamnya ada cahaya, dia yang akan mengeluarkan jiwa dari kegelapan dan menyelamatkan dari kebinasaan.

      Genggamlah, bertahanlah, bersabarlah, jangan pernah terlepas dari tangan.

" Sesungguhnya Allah bersama orang- orang yang sabar… " ***


El Jeffry

Api Amarah


     Setitik api kecil amarah telah tersemat dalam setiap jiwa manusia, ia tak bisa dipadamkan, sebab itu sebagian dari ujian dan anugerah bagi kesempurnaan manusia, mekanisme pertahanan diri dari gangguan yang mengancam kelangsungan hidupnya. Bila ia terjaga dan dikendalikan untuk melawan keburukan, kejahatan dan perbuatan dosa, ia menjadi kebaikan bagi jiwa.

     Namun jika ia tak terjaga dan terlepas kendali, maka dalam sekejap bisa menyala berkobar membakar segalanya. Hanguslah akal sehat, hancurlah keimanan, musnahlah kesadaran, hilanglah kemanusiaan. Jiwa tak lebih dari binatang buas yang lapar siap menerkam mangsa, mencari pelampiasan, butuh pelepasan dan pemuasan segera.

       Lalu tiba- tiba disadari jiwa telah terjun bebas ke jurang nista, lembah dosa, berkubang di lumpur noda, terjerumus kedurhakaan dan kehinaan yang lebih rendah dari binatang melata.

   Setitik api tak terjaga dan terkendali, bisa membesar berkobar membakar dan menghanguskan seisi bumi. Berapa banyak api amarah menjadi penyebab kekerasan,  penganiayaan, pembunuhan, perpecahan, permusuhan, pertarungan, peperangan antar bangsa.

    Air mata dan darah yang tumpah menjadi saksi, betapa amarah menciptakan tragedi, selayaknya api yang  membakar, menghanguskan dan menghancurkan kehidupan. Tinggallah kepulan asap tebal yang menyesakkan dada, arang sejarah hitam kelam, abu peradaban terbang tersapu angin, tak tersisa, musnah tanpa bekas.

     Jiwa yang terbakar amarah menggelora akan mengalami nasib serupa, musnah, tanpa bekas, hilangnya predikat manusia.
Sebelum amarah terlanjur tersulut, terbakar berkobar membakar dan menghancurkan, menjaga dan mengendalikan nyala apinya lebih dekat bagi jiwa untuk selamat sebagai makhluk sempurna bermartabat…***

Salam...
El Jeffry

AMNESIA DAN PHOBIA

    Amnesia dan phobia adalah dua penyakit kejiwaan yang ditakuti banyak manusia. Keduanya secara ekstrem berada di dua kutub yang berseberangan, menyerang ingatan, merusak stabilitas memori otak dan mengganggu pikiran. Bedanya jika amnesia  merusak daya ingat tapi menjaga daya lupa, sedang phobia  justru merusak daya lupa tapi menjaga daya ingat.Penderita amnesia terganggu dengan lupa pada masa lalu dari hidupnya, sedang penderita phobia justru terganggu ingatan memori negatif, kejadian buruk di masa lalu sehingga kerap dihantui ketakutan jika berhadapan dengan hal serupa sepanjang hidupnya.


   Dengan kecerdasan jiwa, keburukan yang ada pada kedua penyakit ini bisa diubah menjadi kebaikan, hanya dengan pertukaran posisi dan pengendalian arah, mana yang harus ‘diamnesiakan’ dan mana yang harus ‘diphobiakan’. Mustahilkah ?


    Bayangkan, jika amnesia bisa dikendalikan dan diarahkan hanya untuk hal- hal negatif berkenaan dengan luputnya dan keinginan di masa lalu, maka segala kesalahan, kekalahan dan kegagalan tentu tak akan berimbas kekecewaan dan kesedihan berlarut- larut. Lupakan masa lalu, hidup riang tanpa beban, tak ada gangguan pikiran sehingga hari- hari penuh ketenangan. 

    Perbuatan baik jika ‘diamnesiakan’ akan mencegah tumbuhnya benih- benih kebanggaan, kesombongan, sikap sok pahlawan. Jiwa justru terpacu untuk berbuat lebih baik lagi karena dirinya merasa belum seberapa dalam hal kebaikan, bahkan mungkin merasa belum berbuat apa- apa. Munculnya jiwa sok- sok dan berlagak adalah ketika seseorang merasa telah berbuat baik dan paling berjasa dan hanya itu yang selalu teringat di kepala, padahal bisa jadi itu belum seberapa, hanya prasangka berlebihan terhadap diri sendiri saja. 




    Amnesia juga bisa diarahkan untuk menghapus memori keburukan orang, perlakuan menyakitkan, perbuatan menyinggung atau menjengkelkan, maka betapa indahnya hubungan persahabatan dan persaudaraan. Sebesar apapun kesalahan orang tak berbekas sedikitpun dalam memori, tak perlu menunggu orang menghiba meminta maaf untuk sebuah kesalahan. Tak ada lagi benci dan dendam, atau ucapan, “ Tiada maaf bagimu ! “, sebesar apapun kesalahan orang. Kecerdasan ‘mengamnesiakan’  keburukan orang membuat jiwa berlapang dada, pemaaf dan toleran terhadap sesama.
 

    Sedang phobia yang diarahkan terhadap akibat buruk dari kesalahan sikap dan keburukan perbuatan di masa lalu, akan menjadi benteng kokoh mencegah dari kesalahan serupa, sebab selalu teringat akibat buruk bakal menimpa. Rasa takut yang ditempatkan pada posisi yang tepat akan membawa kebaikan. 


    Phobia terhadap dampak buruk dari pelanggaran, penyelewengan, penyimpangan, pengkhianatan dan segala bentuk kejahatan sangat membantu sesorang untuk tetap berada di rel yang benar, di jalan kebaikan, anti kejahatan. Hanya jiwa- jiwa cerdas yang pintar ‘mem-phobia kan’ dampak buruk dari kejahatan perilaku dengan segala bentuknya. Rasa takut dosa dan bayangan neraka begitu jelas di depan mata seorang hamba yang cerdas ketika terbersit pikiran dari bisikan setan untuk melanggar larangan Tuhannya. Budak cerdas selalu was- was akan murka tuannya.


    Demikianlah, amnesia dan phobia, di balik sisi negatif sebagai penyakit dan momok menakutkan kebanyakan orang ternyata tersimpan khazanah bernilai tinggi, inspirasi dan sumber energi yang tiada tara bagi mereka yang cerdas memanajemen pikiran, sikap dan perilaku. Jiwa cerdas mampu mengolah limbah menjadi berkah, membalik penyakit menjadi spirit, menganalisis krisis menjadi eksis, mentransformasi keburukan menjadi kebaikan. 


    Amnesia dan phobia ternyata hanya sebagian dari tabiat yang ada dalam setiap jiwa manusia, jika salah menempatkannya, keduanya membawa siksa, derita dan petaka, tapi jika cerdas mengendalikannya, keduanya membawa nikmat, bahagia dan karunia…***

Salam...
El Jeffry 

Juara-Juara Lancung


     Pepatah berkata, “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.“ Betapa mahalnya sebuah kepercayaan sampai-sampai harus ditanggung seumur hidup sekali saja ternodai. Tapi kini pepatah tinggal pepatah, hanya sepotong kalimat patah-patah dan tak lagi bertuah, benar-benar telah dipatahkan oleh godam keburukan tradisi zaman. 

     Cara-cara lancung makin dinikmati oleh para peserta ujian kehidupan diseluruh negeri. Itulah repotnya bila sesuatu sudah menjadi tradisi, karena semua sudah terbiasa, kelancungan dianggap sah-sah saja. Kelancungan mengiringi kelangsungan sejarah dari hari ka hari. Generasi lancung sambung menyambung menjadi rantai hitam berkarat yang terjalin kuat saling terhubung. Generasi lancung, muncullah sebuah pertanyaan abadi, kenapa harus terjadi ?

     Entah kenapa dan mulai kapan tradisi lancung ini muncul sudah tak jelas lagi, yang pasti juara- juara lancung terus bermunculan tak terbendung, kian hari kian menggunung. Praktek kelancungan bahkan tak lagi dilakukan dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tapi telah berani terang- terangan dan tanpa basa- basi. Di negeri lancung, kelancungan adalah hal biasa, yang tidak lancung justru menjadi luar biasa, pesertanya hanya terhitung jari, yang normal makin tersisih dan terpental dari arena percaturan hidup yang semakin brutal. 

    Kelancungan, kecurangan, keculasan, kelicikan dengan berbagai bentuk dan istilahnya yang marak di negeri ini adalah cermin dari kegagalan umat anak bangsa menjaga nilai- nilai kejujuran dan keadilan warisan suci para leluhur yang sebelum ini dijunjung tinggi sebagai bangsa berbudi pekerti. Selama materi menjadi tolok ukur dari kesuksesan dan hasil akhir menjadi target kemenangan, maka praktek-praktek kelancungan akan terus terjadi. 

    Orientasi kebendaan-duniawi adalah unsur hara utama yang menjaga pohon-pohon jiwa lancung di belantara manusia. Tabiat jiwa memang menyukai yang dekat dan lalai yang jauh. Sifat tergesa-gesa, terburu-buru, kemalasan  dan kecemasan berlebihan akan monster kegagalan dan kekalahan melengkapi pembenaran untuk manusia memilih jalan-jalan lancung dalam menggapai cita-cita. Jiwa lancung, manusia lancung, masyarakat lancung, bangsa lancung, tradisi dan budaya lancung. Peradaban lancung akhirnya menjadi keniscayaan.  

    Para pelancung telah lupa atau memang tidak menyadari, bahwa sebuah kesuksesan hanya bisa diraih dengan mengikuti proses yang benar, kesabaran, kesungguhan dan kerja keras. Bukan dengan cara-cara instan ala sulapan, jalan pintas dan potong kompas dengan melanggar nilai- nilai, norma, etika dan ajaran agama.

    Lembaga pendidikan adalah salah satu mata rantai utama dari lingkaran setan kelancungan berikut kelangsungan tradisinya di negeri ini. Lulusan sekolah dan sarjana-sarjana lancung tercipta ketika pendidikan bukan dipahami sebagai proses menuntut ilmu mencari pengetahuan sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan berikut ragam permasalahan yang siap menghadang di depan. Namun tercipta paradigma mengejar gelar dan titel formal, selembar ijazah seolah medali emas yang wajib direbut dengan segala cara. Kelancungan akhirnya menjadi pilihan utama. 

     Tradisi mencontek, skandal bocoran jawaban ujian nasional dan jual beli skripsi adalah contoh nyata bagaimana lembaga pendidikan yang diharapkan menjadi ‘kawah candradimuka’ menggodok calon-calon pemimpin masa depan bangsa telah tercemar oleh polusi tradisi lancung. Tak pelak lagi, intelek-intelek lancung wajah baru bermunculan setiap tahun, menambah panjang daftar manusia lancung sementara para pelancung lama yang masih bercokol kuat di segenap lini kehidupan masyarakat. 

    Mereka lalu bermutasi dan berevolusi dalam dunia berikutnya, dunia profesi. Muncullah pelancung-pelancung profesional, pegawai, pejabat, pengusaha, artis, pengamen, wartawan, atlet, politisi, pengacara, diplomat, teolog, aparat, birokrat, dan berbagai profesi lain termasuk wakil rakyat dan para pemimpin yang tersebar di seluruh jajaran lembaga, badan dan instansi, para pelancung mengisi silih berganti. Bisa dibayangkan, bagaimana kelancungan bisa diharapkan membawa pembenahan dan perbaikan bagi kesejahteraan bangsa ? Negeri ini benar- benar telah menjadi surga bagi para pelancung sejati. 

    Pertandingan dan permainan lancung, betapapun brilian strateginya dan seberapapun hebat hasilnya tak akan pernah membawa kemenangan sejati. Para juara lancung hanya juara gadungan, pemenang imitasi, kesuksesan ilusi. Mereka hanya terobsesi pada untaian bunga dan kalungan medali, tepuk meriah, sanjungan dan puja-puji saat naik ke podium tinggi. Tapi, pepatah juga mengatakan, “ Sepandai- pandai menyimpan bangkai, bau busuk akan tercium jua. “ Serapi- rapi menyembunyikan kelancungan, pada saatnya akan terbongkar juga. Pada saatnya sepotang kalimat patah-patah ini akan benar-benar mematahkan hidup para pelancung.

     Bila aib kelancungan sudah terbuka, prestasi juara akan dianulir. Gelar dicopot. Sanksi diberlakukan. Denda ditimpakan. Hukuman dijatuhkan. Keputusan awal batal demi hukum. Yang bathil akan musnah oleh kebenaran. Sanjungan dan puja-puji berganti menjadi caci maki. Tepuk meriah berubah menjadi sumpah serapah. Kehormatan menjadi kehinaan. Habislah harga diri. Tak tersisa sedikitpun. Hidupnya defisit, kerugian besar diluar perkiraan. 

    Mereka hendak menipu kebenaran, tapi sesungguhnya mereka tengah menipu diri sendiri. Para penipu adalah yang tertipu. Hutang kelancungan yang akan ditebus dengan harga mahal. Bahkan mungkin mereka akan menghabiskan sisa-sisa hidup di balik jeruji penjara atau bisa saja, tiang gantungan, kursi listrik atau ruang eksekusi. Kehancuran dan kebinasaan dalam kehinaan.

     Jika sampai saat ini para pelancung masih dibiarkan melenggang dengan tenang dalam ketertipuan kelancungannya, itu hanya penundaan dan pemberian kesempatan untuk menghentikan kelancungan hidupnya. Namun jika terlambat, kelancungan itu akan ditebus di pintu kubur, saat sunyi senyap gelap pekat tiada seorangpun penolong, jasad terbenam di dalam tanah, tapi jiwa-jiwa lancung meratap panjang dalam penyesalan saat malaikat meminta pertanggung jawaban atas segala kelancungan yang pernah diperbuat selama hidupnya di dunia.

“ Maka barangsiapa memperbuat kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat ( balasan ) nya. Dan barangsiapa memperbuat kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat ( balasan ) nya ( pula )…” ( QS Al Zalzalah : 7-8 )...*** 

Salam...
El Jeffry

Falsafah Tartil

      Tartil adalah perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa. Membaca dengan tartil adalah membaca dengan perlahan-lahan, mencermati setiap kata dari sebuah kalimat, menghadirkan hati, mengerahkan pikiran dan memusatkan perhatian pada setiap kata untuk mendapatkan pemahaman mendalam, meninggalkan ketergesa-gesaan dan tidak terobsesi pada akhir pekerjaan. 


“ …Dan bacalah Al Qur’an dengan perlahan- lahan…” ( QS Al Muzzammil : 4 )

     Tartil adalah cara cerdas meraih kesuksesan, tujuan akhir dari setiap pekerjaan, termasuk di dalamnya adalah membaca. Tujuan membaca adalah menangkap makna dari sebuah pesan. Dalam setiap surat dari Al Qur’an terkandung pesan yang memiliki karakteristik tertentu. Pemahaman sempurna dari sebuah pesan dalam satu surat hanya dapat diperoleh dari cara membaca perlahan-lahan, memahami makna kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga keseluruhan makna dalam satu surat. 


     Membaca tartil dalam arti lebih luas, untuk seluruh bacaan tidak sebatas Al Qur’an, adalah membaca dengan menjaga setiap hak dari bacaan, kejelasan kata, suara, panjang pendeknya, intonasinya, dan yang paling utama adalah hak makna yang terkandung di dalam. 


      Tartil adalah falsafah, prinsip dan kaidah. Bahwa hasil terbaik hanya bisa diperoleh dengan menjalani proses dengan sebaik-baiknya, dan sebuah hasil akhir terbentuk dari serangkai proses yang berlangsung bertahap, berurutan, berkaitan dan berkesinambungan saling mnyempurnakan. Tartil adalah kunci utama keberhasilan meraih tujuan dari seluruh aktivitas. Dan keberhasilan hanya diperoleh dari kecermatan, ketelitian dan kesungguhan menghadapi setiap detil dari proses panjang dari awal sampai akhir. 

      Tartil mengilhamkan manusia agar selalu waspada, konsentrasi dalam setiap situasi, tidak mengabaikan hal-hal kecil. Tartil mendidik pengendalian nafsu yang cenderung terburu-buru dan terobsesi pada akhir tujuan. Tartil mengajarkan bahwa kesabaran dan kesungguhan akan mengantarkan setiap pekerjaan pada kesempurnaan. 

       Tartil adalah jalan yang ditempuh oleh orang yang memiliki keluhuran misi, keluasan visi dan standar tinggi dalam suatu aksi. Mereka itulah kaum perfeksionis, pekerja sejati, tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun dari setiap detil, sebab kehilangan satu detil saja akan berakibat hilangnya kesempurnaan hasil akhir secara keseluruhan. Tartil adalah kunci utama pembuka pintu-pintu kemenangan, kesuksesan dan keberhasilan.


     Membaca adalah sebuah simbol aktivitas, pekerjaan, perbuatan dan perilaku. perilaku tartil akan mengantarkan seseorang kepada keberhasilan sempurna. Semakin tartil semakin sempurna. Dalam setiap tujuan ada proses yang harus dilalui sebagai sebuah keniscayaan, kaidah tetap dan prinsip baku yang berlaku dalam segenap aspek kehidupan. Perilaku tartil adalah pemahaman akan hal ini, bahwa hasil sempurna menuntut proses yang benar dari seluruh tahapan, rangkaian keterkaitan tak terpisahkan. 


      Layaknya sebuah kalimat, pekerjaan juga butuh perlakuan tartil. Setahap demi setahap, dengan kesungguhan, konsentrasi dan kesabaran, tak terjebak ketergesa-gesaan dan tidak terobsesi agar proses cepat selesai. Tabiat manusia memang tergesa- gesa, suka bercepat-cepat dan terburu-buru oleh dorongan nafsu. Itu adalah ujian, siapa yang mau bersabar akan meraih keberhasilan dan siapa yang tidak akan memperoleh kekecewaan. 


Godaan setan menyusup lewat nafsu dan ambisi, kecenderungan menyukai yang cepat, dekat dan singkat. padahal bila proses dijalani dengan serampangan, banyak hal-hal kecil terlewatkan, pasti akan berakhir kekecewaan, kesia- siaan dan kerugian. Setan memang selalu menjerumuskan manusia kedalam kegagalan dan kehancuran. Setan hanya bisa dicegah dengan kesabaran, kesadaran dan pemahaman bahwa hasil yang sempurna ditentukan oleh proses yang benar, dan proses yang benar harus dilakukan dengan perlahan- lahan, tartil.


      Sebuah pekerjaan ibarat proses mendirikan bangunan. Fondasi dibuat sebaik- baiknya. Satu persatu bata ditata, pasir dan semen dipadu merata, perlahan-lahan. Tiang ditegakkan, tembok didirikan, atap disiapkan. Kayu-kayu sebagai jendela dan pintu dipasangkan. Pasak dan paku ditancapkan untuk mengikat setiap rangkaian. Demikianlah seterusnya sampai pada waktu tertentu tercipta sebuah rumah sesuai dengan rencana. Itulah rangkaian tartil dalam penataan, perencanaan, manajemen, pengaturan dari sebuah pekerjaan besar.

     Istana tak bisa dibangun dalam semalam. Semua ada prosesnya, semua ada syarat-syarat yang tak bisa dilanggar jika ingin mendapatkan hasil optimal. Membangun rumah dengan tartil, perlahan-lahan, tahap demi tahap, akan memberi kepuasan pada akhirnya, tepat sesuai tujuan awal. 


   Hidup dengan tartil akan mengantarkan seseorang menjadi yang terbaik dan hasil terbaik. Itulah impian, harapan, keinginan, obsesi, tujuan dan cita-cita setiap manusia. 
Tartil pikiran, ucapan dan perilaku, dan tinggal menyambut waktu keberhasilan, kesuksesan, keberuntungan, kemenangan, kesempurnaan... *** 

Salam...
El Jeffry