Wednesday, March 14, 2012

LIDAH YANG TERPOTONG



Lidah terpotong, kalimat terpenggal, definisi dikebiri, pengertian dimutilasi, pemahaman diikat kanan kiri, dipersempit, dihimpit dan dijepit, akhirnya sirna keluasan makna, fitnah besar antar manusia. Sudah zamannya. Memang sudah zamannya. Apa hendak dikata ?

Lidah terpotong, kata yang terucap hanya sepotong- sepotong, frasa tak sempurna, maka saat masuk ke sebelah telinga tinggallah hanya sisa- sisa, apa yang tangkap jauh melenceng dari yang dilontarkan. Apa yang dipahami jauh menyimpang dari yang dimaksudkan.

Lidah terpotong, angin bertiup kencang mencemari ucapan, telinga yang menangkap juga tersumbat kotoran debu beterbangan, kalimat- kalimat berhamburan bertabrakan dengan kebisingan, makna semakin jauh dari pesan, tinggal enam potong kata yang tersisa di dalam kepala; apa, mengapa, berapa, di mana dan ke mana, bilamana dan bagaimana. Apa hendak dikata?

Ragam bahasa antar manusia telah menjadi tabir akan pewarisan makna, berabad- abad, dari belahan benua yang satu ke belahan benua yang lain, makna- makna menjelajah samudera, terkemas rapi dalam kitab suci, terjaga dan rapat terkunci agar goresan tinta tak memudarkan warna.

Tapi ketika ditransformasi menjadi suara mengalami pergeseran makna dari asal- usulnya, pembengkokan, pembengkakan, penyimpangan, pengaburan, pengempisan, penyempitan dan pembatasan, kemerdekaan makna pun berkurang, berkurang dan terus berkurang sampai nyaris-nyaris hilang.

Lidah yang terpotong, telah mengiris- iris keutuhan pesan, memutilasi arti, mencuri hak- hak isi. Apa yang di sampaikan, tak dekat dengan isi asli. Apa hendak dikata ?

Tabiat manusia memang suka mempermainkan kata, memelintir perkara, mendramatisir peristiwa, membelokkan, membiaskan dan memperalat kata untuk kepentingan sesaat memuaskan nafsu dan syahwat, kadang tak peduli apakah itu benar atau sesat. Sudah tabiat. Apa hendak dikata ?

Lidah terpotong, sebab ujung nya terasa gatal, atau memang tanpa sadar, ragam bahasa memperparah suasana, sulitnya menterjemahkan makna agar sedekat mungkin dengan aslinya, maka apa yang disampaikan, tak sesuai dengan isi pesan, tercuri oleh ketidakmampuan, komunikasi. Apa hendak dikata ?

Masing- masing memilih memisahkan diri, eksklusif, dengan berbagai motif dan tujuan. Intelektual enggan berbicara dengan awam, orang- orang pintar enggan berbicara dengan orang- orang bodoh.

Yang cerdas tak sabar menghadapi yang bebal, yang bebalpun tak nyaman berhadapan dengan yang cerdas.

Pemimpin malas berinteraksi dengan rakyat, dan rakyat segan berdiskusi dangan pemimpin, sebab menurut rakyat para pemimpin sudah tak layak dipercaya, amanat telah dibalas dengan khianat. Apa hendak dikata ?

Jadilah ruang- ruang tersekat- sekat. Saling menyapa dari balik tembok. Bagaimana akan terhubung ? Bagaimana akan menyambung ? Salah komunikasi, salah bahasa, salah transliterasi. Tak ada transfer makna secara sempurna. Memang mereka saling menyapa, saling berbicara dan saling bercengkerama, namun suara- suara membentur tembok, terserap ke dalamnya, terjebak dalam formalitas sosial, namun sejatinya hanya saling terdiam. Apa hendak dikata ?

Di mana mereka orang- orang bijak, yang mampu mengembalikan potongan lidah itu ? Agar makna- makna dan bahasa kembali pada haknya, sebagai media penghubung antar manusia. Di mana mereka, para penyambung lidah, penyambung suara, penterjemah bahasa, agar apa yang disampaikan pembicara dapat ditangkap oleh pendengar dengan makna yang tak jauh berbeda ? Di mana ? Apa hendak dikata ? ***


El Jeffry

CERMIN KEHIDUPAN




‎ ( Rahasia di Balik Dunia Maya )

Di sini, di tempat ini, dunia paralel kehidupan nyata,
telah ditawarkan kebebasan seluas- luasnya,
tanpa batas, lebih luas dari dunia sesungguhnya di luar sana, 
Bebas berekspresi dan berkreasi, mengungkap rasa dan berkarya cipta,
tak seperti di luar sana, penuh belenggu, ikatan dan tiran,
batasan- batasan buatan manusia.
Bebas berkeluh kesah,
menumpahkan rasa gelisah,
mencurahkan isi hati,
sebab di luar sana tiada lagi kepedulian, sibuk dengan urusan sendiri- sendiri.
Bebas berbicara, tanpa takut dicerca,
dijerat pasal atau dituduh melanggar norma
Di sini bebas memakai topeng, menutupi wajah asli yang tak dikehendaki,
menciptakan lakon, impian dan obsesi,
yang gagal diperankan di luar sana
Bebas berkenalan dengan siapa saja, tak peduli strata, kasta,
jabatan, gelar, kedudukan, pangkat, pendidikan, keyakinan,
jenis kelamin, usia dan status keluarga,
Bebas berdialog, berdiskusi, berdebat, berargumentasi,
berbantah- bantahan dengan santun dan kelembutan
maupun dengan vulgar dan kasar
Bebas memuji, tulus maupun basa- basi,
sebab air muka kita tak terlihat,
juga bebas mencela dan mencaci maki,
menumpahkan amarah dan emosi,
toh tidak bertatap muka,
kalau tak suka, tinggal hapus saja.
Di sini bebas untuk jujur atau dusta, ngibul atau apa adanya,
kabarkan fakta atau fiksi dan rekayasa,
semua pilihan tersedia tanpa ada yang memaksa.
Bebas menuntut keadilan apa yang tak didapatkan di luar sana,
tak peduli ada hasil atau tidak, yang penting sudah disampaikan.
Bebas bertanya dan menjawab segala perkara
tak peduli pertanyaan dan jawaban itu menyelesaikan atau tidak,
itu sudah tak penting lagi.
Di sini semua bebas berdo’a dan munajat,
tak peduli Tuhan mendengar dan menjawab atau tidak,
sebab Dia tak membuat akun, membalas pesan, menjawab permintaan
atau berkomentar, lewat tulisan maupun gambar,
yang penting semua telah tertuang dan terbaca banyak orang.
Di sini semua bebas menawarkan dagangan,
barang, jasa, ide, pemikiran,
jalan- jalan pembaharuan,
kesempatan yang langka di luar sana,
sebab terbentur sistem, sangat prosedural dan birokratis.
Dan di sini semua bebas menampakkan jati diri.
Sadar atau tidak sadar, jati diri itu telah terlihat oleh mata dunia,
dibuka atau dibungkus rapi tetap terlihat, yang asli atau imitasi,
wajah asli manusia, lebih asli dari yang terlihat di luar sana.
Kehidupan di sini, adalah refleksi kehidupan sesungguhnya.
Potret dan cermin realita.
Rekam jejak dalam gambar dan tulisan tak pernah hilang,
seluruh memori tersimpan dalam program,
data- data terperinci dalam catatan,
nomor akun, photo, identitas, ekspresi dan kreasi,
setiap huruf dalam tulisan, setiap titik dalam gambar. 
Yang telah tertulis tak kan bisa terhapus meski telah dihilangkan dari halaman.
Lembar demi lembar akan dibuka dan digelar,
dibaca dan dengar,
konsekuensi besar,
saat pertanggungjawaban sidang akbar,
hari perhitungan, YAUMUL HISAB …*** 


Salam...
El Jeffry

AGAMA LANGIT DAN AGAMA SATELIT


Nasihat- nasihat bijak dan  petuah- petuah arif mengucur deras,
namun seakan menghempas di batu cadas.
Menyusup ke telinga, dari kanan menuju kiri, dari kiri menuju kanan, 
sebagian masuk ke dalam kepala, bergulir ke ujung lidah menjadi suara,
lalu menguap terbawa angin ke udara.

Tak sempat masuk ke dalam dada dan mengendap dalam hati,
bagaimana bisa merasa, bagaimana bisa mengerti ? 

Sejuk di telinga, namun sulit dijalankan. 
Hidup di mata, namun mati di dalam perbuatan.

Bukan salah siapa- siapa. 
Yang menyampaikan telah benar, yang menerima telah benar, 
tapi ruh itu menghilang, tertiup ke udara bersama gelombang suara, 
membubung ke langit tinggi menjadi pesan suci dan kabar berita.

Ajaran- ajaran tertulis jelas, 
di atas lembaran- lembaran kertas dan layar kaca,
beragam cara beragam bahasa beragam media.

Mata membaca, memori masuk ke dalam kepala,
mengalir ke lengan, ujung- ujung jari menggerakkan pena,
terciptalah artikel, risalah dan kitab- kitab tebal, khazanah pengetahuan.

Lalu disebarkan lagi lewat media menjadi bacaan dan pengajaran,
namun tak sempat masuk ke dalam dada, mengendap dalam hati,
bagaimana bisa merasa, bagaimana bisa mengerti ? 

Mudah dipelajari, begitu berat dijalani.
Hidup di tulisan, namun mati di dalam tradisi.

Bukan salah siapa- siapa.
Yang menulis telah benar, yang membaca juga benar,
tapi ruh bacaan menghilang, huruf- huruf tersapu angin,
 menguap ke langit tertangkap satelit.
Lalu satelit mengembalikannya ke muka bumi,
berulang berputar menjadi lingkaran besar di atmosfer.

Satelit bersyi’ar, agama langit ber-evolusi menjadi agama satelit.

Agama tinggal dogma- dogma, 
indoktrinasi para pengemban misi suci,
pelarian bagi mereka yang terbuang dan tersakiti,
tapi ruhnya tak pernah menyentuh bumi. 

Melayang- layang di udara, 
dari kepala ke kepala,
dari mata ke tangan , dari tangan ke mata, 
dari telinga ke lidah, dari lidah ke telinga,
hinggap ke atas kertas dan layar kaca , 
menguap ke udara, membubung ke langit tertangkap satelit, 
lalu kembali ke bumi sebagai siaran langsung maupun tunda.
Berulang- ulang, berbolak- balik, bertahun- tahun, berabad- abad.

Roda teknologi dan informasi menggilas  spiritualitas,
logika mendangkalkan lautan cita rasa, 
lantas Tuhan dan agama tak lebih dari tema- tema, 
daya tarik perbincangan dan daya dorong perdebatan.

Jadilah ia agama panyampaian, saling nasihat dan saling berwasiat ,
namun nilai- nilai luhurnya hanya numpang lewat.

Dari kepala ke kepala, lidah dan mata, jari- jemari dan telinga,
namun tak sempat masuk ke dalam dada, mengendap dalam hati, 
bagaimana bisa merasa, bagaimana bisa mengerti ?

Bukan salah siapa- siapa, sebab tak ada manusia yang mau disalahkan. 
Tapi juga bukan benar siapa- siapa 
sebab Kebenaran hanya milik Tuhan, Maha Berbicara, Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Andai agama dan ajaran tidak hanya sebatas kepala, mata dan telinga, 
namun sempat masuk ke dalam dada, mengendap di dalam hati,
mungkin baru ada rasa, mungkin baru dimengerti. 


Maka agama dan ajaran suci tidak hanya menghambur ke udara, 
menguap lalu membubung ke langit tertangkap satelit,
lalu berbalik ke muka bumi dalam siaran langsung atau tunda, 
di atas kertas dan layar kaca, 
kepingan kaset dan rekaman suara,
namun kehadirannya hanya berkeliling berputar- putar di sekitar kepala. 

Agama langit, mestinya tak berubah menjadi agama satelit...

***

Salam...
El Jeffry

BUMI PUN BERTANYA


Bumipun terheran, ada apa denganmu wahai manusia ? 
kau cium wajahku dalam sujudmu siang malam penuh ketundukan,
Kau bersimpuh di atasku penuh kekhusyu’an,
kau basahi aku dengan air mata penyesalan.

Namun siang malam pula kau injak- injak wajahku dengan hentakan kaki kesombongan,
kau rusak tubuhku dengan beringas,
nafas- nafas mendengus buas, 
kau basahi pakaianku dengan darah mereka yang tak berdosa.

Ada apa denganmu wahai manusia ? 
Peringatan demi peringatan tak kauhiraukan,
Gemuruh letusan gunung berapi,
banjir bandang setiap musim, gelombang tsunami, getaran gempa,
puting beliung, gemeretak pepohonan hutan terbakar, 
banjir lumpur dan lahar dingin, 
jerit tangis orang- orang tertimpa bencana.

Peristiwa demi peristiwa membubung ke langit menjadi tinta,
menuliskan kabar berita perbuatan manusia,
eksekusi bumi, hukuman setimpal atas berbagai kerusakan,
namun tetap saja gagal memberi efek jera.

Dengan bahasa apa lagi alam mesti  berbicara ? 
Bumipun terus terheran, terus bertanya,
ada apa denganmu wahai manusia ? 
***

El Jeffry

KURSI PUN BERTANYA

Ada apa denganmu wahai manusia ? Dulu kau rebut aku dengan kepercayaan, lalu kuberi engkau kekuasaan, apa yang kau inginkan bisa kau dapatkan, puja- puji, penghormatan kiri kanan, kenyamanan, kenikmatan, kesenangan, semua yang tak kau dapatkan saat masih berdiri kelelahan. 

Tapi kini kaukhianati amanat yang kutitipkan. Adakah kau kira aku buta dan tuli ? Tidak, aku melihat dan mendengar, lebih tajam dari penglihatan dan pendengaranmu, sebab aku setia pada janji dan teguh memegang sumpah, tidak seperti engkau, gemar ingkar dan gemar melanggar. 

Ada apa denganmu wahai manusia ? Dengan setia aku memangkumu di gedung terhormat, tapi kau diam- diam bersekongkol di ruang rapat, tersembunyi dan tertutup rapat, bersekutu dengan setan- setan berdasi bersertifikat, rencana terselubung tjuan jahat, kau ciderai amanat rakyat, dengan bermacam aturan resmi sebagai alat, kau bungkus dengan bahasa apa saja tetaplah khianat, tetaplah terlaknat. 

Pemimpin yang zalim, engkau tak bisa berlepas dari apa yang terjadi, aku akan menyeretmu ke dalam kehancuran, hina dan sesal berkepanjangan, bila saatnya telah tiba.

Ada apa denganmu wahai manusia ? Dengan setia aku memangkumu di ruang persidangan, tapi kau putus perkara dengan aniaya, yang benar kau salahkan, yang salah kau benarkan, kau rusak neraca keadilan, kau korbankan si lemah tak berdosa, atas nama hukum pidana atau perdata, kau ketukkan palu, kau jatuhkan vonis- vonis palsu. 


Hakim yang zalim, aku akan menyeretmu ke dalam kehancuran, hina dan sesal berkepanjangan, bila saatnya telah tiba. 

Ada apa denganmu wahai manusia, gengan setia aku memangkumu di ruang pertemuan, kau gunakan aku untuk menyulut kebencian, dendam, perselisihan dan permusuhan, ghibah dan fitnah, tuduhan- tuduhan tanpa bukti yang sah, pergunjingan, perselingkuhan, pencemaran nama baik, cacian makian dan hujatan, demi pemenuhan nafsu dan hasrat, kata- kata kau umbar tanpa tertutup aurat. 


Majelis yang zalim, aku akan menyeret seluruh yang terlibat ke dalam kehancuran, hina dan sesal berkepanjangan, bila saatnya telah tiba.

Ada apa denganmu wahai manusia ? Aku dan semua kursi yang ada di dunia selalu bertanya, sebab kami telah mengemban amanat suci, memangkumu untuk menguji, sejauh mana keteguhanmu memegang janji, memenuhi hak- hak kami, kekuasaan dan kesempatan. Kami, kursi- kursi di seluruh dunia, alam semesta, semua berada dalam pengawasan kursi di atas arasy yang tinggi, akan senantiasa bersaksi dan terus bersaksi, sampai selesai segala urusan, bila saatnya telah tiba...***



El Jeffry

KETIKA MATA GAGAL MEMBACA




( Muhasabah untuk Ketajaman Hati )

Ketika mata gagal membaca
maka sebuah kata tak berarti apa-apa
tak lebih dari rangkaian simbol-simbol, tanda-tanda
kode-kode, huruf-huruf dan aksara-aksara hampa tanpa makna.

Ketika kata tak bermakna
Maka sebuah kalimat tak berarti apa-apa
Tak lebih dari rangkaian kata-kata panjang dengan titik
dan koma
titik dua, tanda seru atau tanda tanya
seperti kereta mati tanpa gerak tanpa suara.

Ketika kalimat tak bermakna
maka sebuah paragraf dalam tema tak berarti apa-apa
tak lebih dari rangkaian kalimat panjang bersaf tertata
sebagai hiasan halaman kertas
belaka
seperti bangunan tua tak berpenghuni
kosong dan sepi.

Dan ketika lembar halaman tak bermakna
maka kitab-kitab tebal dan mahal tak berarti apa-apa
tak lebih dari tumpukan kertas terjilid rapi
dengan sampul indah berwarna
-warni sebagai pengisi almari
pengisi
rak-rak buku, penambah beban tas sekolah dan meja guru
penghias masjid, gereja, kuil dan perpustakaan kampus
penanda tite
l, gelar, jabatan dan status sosial kaum intelektual
tapi hanya itu,
hanya sebatas itu.

Mata yang gagal membaca akan puas dengan kefasehan mengubah tulisan menjadi suara-suara,
namun gagal menyampaikan makna tersimpan di
balik huruf, kata, kalimat, paragraf dan kitab- kitab, rumah khazanah pengetahuan.

Sang mata hanya terpaku pada
lafazh pembungkus makna
kulit pembungkus isi, teks pembungkus konsep, simbol pembungkus hakiki
kode pembungkus arti
.

Ketika mata gagal membaca
maka sang jiwa hanya bisa melihat efek, namun tak pernah mencapai esensi.
Sampul selamanya tetap menutupi, sebelum jari membuka isi.
Jika asap yang terlihat, maka api kan terabaikan.
Jika teks yang terlihat, maka konsep tak kan datang.

Sepasang mata memandang tulisan, hanya alat penerima pesan
penerima makna
ada di baliknya, mata hati yang tersimpan dalam dada.
Mata hati
adalah budi pekerti, akal dan logika, penalaran dan pembandingan
fikiran dan kesadaran, ada dalam setiap jiwa manusia.

Transformasi pesan terjadi seperti dua titik yang terhubung oleh sebuah garis

satu titik
sang pengirim, dan titik lain si penerima
satu titik sang
penulis, titik lain si pembaca.
Dari pesan menuju tulisan, lalu ditangkap mata kepala
mata hati membuka diri, akal menerima dan mengolahnya.

Hakikat makna tak terbatas pada huruf-huruf dan kode-kode bahasa
ia ada dalam seluruh peristiwa
kombinasi ruang waktu, gerak roda kehidupan,
gerak diam alam semesta
mikrokosmos sampai makrokosmos, semua memuat makna.

Matahari,bumi,bulan, bintang, galaksi dan jagat raya
adalah simbol
-simbol, kode-kode dan tanda-tanda
sama dengan tulisan yang tertera di atas kertas baca.
Mereka adalah ayat-ayat, dalam bentuk gambar yang tertangkap mata kepala.

Daun-daun pepohonan, gunung, lautan
langit biru
, merah dan hitam, burung dan awan beterbangan
angin, debu dan asap tebal, panorama dan pemandangan
semua adalah lembar tulisan alam.

Perbincangan, nyanyian, gemericik
air di hulu
gemerincing
pedang beradu, desing peluru dan asap mesiu
perebutan harta dan kekuasaan
perseteruan antar manusia
, dinamika roda peradaban
prasasti sejarah jutaan makna, gambar hidup yang terbukukan.

Di balik gambar ada milyaran makna
kadar yang diterima satu jiwa tergantung dari ketajaman mata hati

kecerdasan akal, kejernihan nalar, kebeningan logika
kejeniusan fikiran dan kekuatan kesadaran
jiwa.

Jiwa manusia adalah gudang pengetahuan tak terhalang batasan.
Layaknya langit berlapis, derajat
jiwa bertingkat berlapis-lapis
dari manusia pertama sampai yang terakhir tercipta.

Buka mata kepala, baca, baca, baca,
eja demi eja
Buka mata hati, sadari, fikirkan, fahami
maka makna-makna akan dimengerti
.

Dari kemasan menuju isi

dari asap menuju api
dari lafazh menuju makna
dari simbolik menuju hakiki

dari efek menuju esensi
dari teks menuju konsep

dari kode menuju arti


Maka mata kepala
baru akan berguna
tak hanya menjadi pelengkap wajah semat
a


El Jeffry

(Sebaiknya) Jangan Bicara

Jangan bicara tentang cinta, sebelum merasakan sesaknya terbakar kebencian.
Jangan bicara tentang rindu , sebelum merasakan panasnya terbakar dendam.
Jangan bicara tentang keadilan, sebelum merasa pedihnya penganiayaan.
Jangan bicara tentang kejujuran, sebelum merasa kecewanya pengkhianatan.
Jangan bicara tentang kemerdekaan, sebelum merasakan pengapnya terpenjara tiran.
Jangan bicara tentang perjuangan, sebelum merasa derita luka- luka penjajahan.
Jangan bicara tentang kebenaran, sebelum merasa tersiksanya dalam kesesatan.
Jangan bicara tentang cahaya, sebelum merasa sengsaranya terjebak dalam kegelapan.
Jangan bicara tentang nikmat, sebelum merasakan pedihnya azab.
Sangat mudah untuk bicara, tapi sebelum merasakan apa- apa, kita tak pernah bisa berbuat apa- apa. Sebab suara hanya keluar dari pengetahuan dan prasangka belaka, qaala wa qiila, katanya dan katanya. Hanya simpati, bukan empati, hanya basa- basi, bukan setulus hati, hanya penghibur, bukan solusi.
Engkau di sana, aku di sini, kita tak pernah saling berbagi dan saling mengisi, kecuali hanya formalitas dan imitasi. Kita memang saudara, saling sapa, saling tatap muka, satu rumah, tapi saling terpisah dalam kamar yang berbeda.
Kita tak pernah benar- benar menjadi saudara, kecuali hanya kemasan luar saja. Sebab saudara sejati adalah seumpama satu jiwa, lahir dari rahim yang sama, kenyang yang sama, lapar yang sama, senang susah yang sama, nikmat siksa yang sama. Aku sakit engkau pun sakit, aku terluka engkaupun terluka, aku terbunuh engkaupun terbunuh. Sehidup semati, itulah satu jiwa. 
Hanya dengan cita rasa kita baru mamahami hakikat makna.
Hanya dengan  cita rasa kita bisa membedakan baik- buruk, benar- salah, cahaya- kegelapan, cinta- benci, rindu- dendam, tidak sebelum itu, tidak akan sempurna.
Hanya dengan  cita rasa kita benar- benar menjadi saudara.
Manusia seisi dunia sejatinya hanya satu. Satu dalam keragaman, ragam dalam kesatuan. Satu rupa, satu karya, satu spesies, satu tubuh, satu jiwa, satu nama,,, manusia…

Salam…
El Jeffry