Wednesday, December 12, 2012

SBY dalam Perangkap “Panic Room” Politik


13553255681794212254
SBY BERPIDATO. (sumber photo: http://politik.news.viva.co.id)

     Senin, 10 Desember 2012. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono berpidato di Istana Negara. Tak terduga, alangkah pidato presiden buruk kosakata, cikal-bakal preseden buruk masa depan negara. Tepat ketika dunia memperingati Hari Anti-korupsi, secara kontradiktif, SBY membabar dalil-dalil logis pro-korupsi. Dengan bahasa khas kepala negara, SBY berkata bahwa banyaknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia disebabkan karena ketidakpahaman pejabat terhadap kategori korupsi.

     Maka, negara wajib menyelamatkan pejabat yang tidak berniat melakukan korupsi, namun dapat dianggap bersalah dalam mengemban tugasnya. Di tengah gencarnya upaya pemberantasan korupsi di negeri ini, pernyataan SBY tak hanya tidak tepat. Potensi demoralisasi bagi KPK dan elemen bangsa ini mengancam di depan mata. Pernyataan itu juga menjadi semacam pembenaran, pemakluman atau apologasi terhadap perilaku korupsi di kalangan pejabat.

      Pernyataan ini juga seakan menelanjangi anatomi tubuh asli sang presiden, pukulan balik bagi pemimpin negeri yang selalu dengan berapi-api mengklaim diri sebagai “panglima tertinggi” yang berdiri di garda terdepan pemberantasan korupsi. “Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.” Wajah ganda SBY dalam menghadapi monster gurita korupsi, terlihat gamblang setelah kedok retorikanya sendiri terbuang.

     Kita akhirnya membaca dengan bahasa sederhana. Tragedi kejujuran tanpa kemunafikan, lakon klasik para pemimpin kita. Kontradiktif, kontraindikatif dan  kontraproduktif antara ucapan dan perilaku, apalagi yang ada dalam pikiran dan hati? Dari pidato SBY, ada dua dua kosakata yang mesti tebal dicatat dan layak digugat karena memuat logika sesat. “Tidak niat” dan “tidak paham” jadi alasan koruptor wajib diselamatkan!

    SBY (mungkin) lupa, bahwa “tidak niat” dan “tidak paham” adalah justru dua tameng paling terkuat dari para koruptor untuk terus melancarkan aksi kejahatannya tanpa rasa bersalah dan rasa berdosa. Logika sederhana, tidak ada manusia (sehat normal baligh berakal) bercita-cita jadi penjahat. Kaidah dasar kejahatan, termasuk korupsi, adalah bertemunya niat dan kesempatan. Selebihnya hanya faktor penunjang yang memperbesar peluang terjadinya kejahatan.

     Tidak niat, tidak ingin, tidak bercita-cita, tidak berencana dan tidak menyengaja, semuanya berkenaan dengan kejiwaan-bathin-internal manusia. Berapa banyak manusia yang membunuh, merampok, memperkosa, mencuri, dan melanggar hak-hak sesama tanpa didasari oleh niat, cita-cita, keinginan dan kesengajaan, namun lebih karena kesempatan dan ketidakteguhan berpegang pada nilai-nilai prinsipil kemanusiaan dan ketuhanan?

      Bukankah ketika berhadapan dengan hukum, tidak ada alasan bagi mereka untuk lepas dari pertanggungjawaban? Itulah gunanya penjara, sebagai alat penjera perbuatan jahat manusia, tak peduli niat atau tidak niat. Menjadi keanehan luar biasa, bagaimana seorang pemimpin negara, yang notabene terbaik di antara lebih dari 240 juta manusia bisa berlogika gila dan sesat pula? Mental childish, perilaku “anak TK” (seperti pernah dikatakan Gus Dur), para pemimpin negeri ini sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya sebagai manusia, apalagi sebagai pemimpin berkelas dunia!

     Lalu bagaimana pula “tidak paham” aturan hukum, perundang-undangan dan amanat anggaran bisa dijadikan dalih pembenaran terhadap perilaku korupsi? Negara dipingpong hingga bodong layaknyabagong. Di satu sisi, negara mesti menyelamatkan anak-anak negeri dari kezaliman koruptor. Di sisi lain, negara mesti juga menyelamatkan koruptor dengan alasan yang melawan akal sehat. Sudra berkuasa, kiamatlah negara! Sanggupkah presiden berpola pikir banal, sempit-pendek-rendah, akan mengangkat martabat bangsa?

     Tidak paham adalah bahasa awam tak tersentuh pendidikan dan pengajaran (formal maupun agama) untuk pembenaran korupsi. Tapi bagi pejabat (dan para pemimpin), yang rata-rata bergelar sarjana, mustahil “tidak paham” dengan arti kata korupsi termasuk berbagai kategorinya sesuai aturan perundang-undangan.  Tidak paham, tidak tahu, tidak kenal, tidak sadar, lupa, lalai, terlena, secara makna mengandung arti sama, hilangnya kesadaran dan akal sehat-logika, alias gila!

    Seorang teman pernah berkata, “Jika untuk tidak telanjang di jalanan raya mesti menunggu peraturan perundang-undangan, maka ia tidak layak sebagai manusia.” Kalau tidak gila, edan atau sinting, pasti iasakau, mabuk kecubung atau bocah balita. Sepertinya SBY (dan mungkin kita) perlu pencerahan jiwa dengan membaca pelajaran dari orang-gila!

     Tidakkah SBY menyadari, setiap patah kata kepala negara tak ubahnya sebagai sabda saja, titah yang mestinya sarat tuah dan dieja oleh ratusan juta manusia di Indonesia dan mungkin dunia? Tidakkah SBY menyadari bahwa kekuatan kata-kata satu manusia bisa mengubah dunia, memperbaiki, atau justru menghacurkannya? Kita tak akan sanggup menjawabnya, karena mungkin bahasa sang presiden “di luar jangkauan area” manusia biasa. Yang menjadi pertanyaan, apa yang membuat Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik 2003 sedemikian buruk berbicara sehingga melakukan blunder kosakata?

     Ada secuil pelajaran dari “Panic Room,” sebuah film Holywood mungkin menjawab tanda tanya kita. Kisah seorang ibu bersama anaknya yang terjebak dalam kamar rahasia untuk bersembunyi, ketika sekelompok perampok datang menyatroni rumahnya. Alih-alih menyelamatkan diri dari perampok, justru “ruang kepanikan” ini menjadi bencana, karena di kamar itulah tersimpan target yang justru dicari para perampok. Di panic room inilah, sang ibu dengan energi cintanya yang luar biasa terpaksa berjuang menyelamatkan diri dan anaknya dari ancaman bahaya.

     Rasanya, SBY saat-saat ini tengah terjebak dalam sindrom “panic room” di istana negara. Beliung politik mendera Demokrat dengan terseretnya kader-kader dan pengurusnya dalam kasus-kasus korupsi. Setelah NazaruddinAngelina SondakhHartati Murdaya, terakhir, Menpora Andi Mallarangeng telah resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Alhasil, perahu politik Demokrat retak-retak terancam tenggelam. Elektabilitas menurun secara teratur. Jika tak ditempuh upaya penyelamatan, Pemilu 2014 kemungkinan partai bakal hancur dan terkubur. Siapa yang tak galau-balau, alias panik?

      Tak urung, SBY sebagai Ketua Dewan Pembina pun panik. Sindrom umum orang panik, akal sehat mulai tanggal, pikiran tak lagi jernih, logika mulai sirna, komitmen pun lupa. Dalam keadaan panik, niat atau tidak niat, paham atau tidak paham, orang akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan diri dan anak-anak atau keluarga yang dicintainya. Demokrat, termasuk di dalamnya Andi Mallarangeng adalah anak-anak kesayangan “Sang Bapak.”

      Demi cinta kepada anak-anak dan keluarganya, terutama dari serangan bertubi-tubi KPK, SBY lari ke tempat persembunyian di balik kamar baja istana negara. Tanpa disadari, justru di situlah, tempat SBY berpidato, sasaran tembak efektif bagi siapa saja yang dianggap membahayakan SBY dan Demokrat. Alih-alih membela Demokrat untuk menghindari ancaman kehancuran, isi pidato SBY dengan logika sesat tentang korupsi, justru menjadi sumber petaka baru yang nyata-nyata lebih berbahaya.

     Sebagaimana tidak ada kader Demokrat yang berniat menjadi penjahat dengan berkorupsi, SBY pun pasti “tidak berniat” untuk lari ke “ruang panik” menghadapi ancaman kemerosotan partai. Dan sebagaimana tidak ada manusia yang tidak paham tentang makna korupsi kecuali gila, balita atau bukan manusia, maka SBY bukan tidak paham tentang sia-sianya kepanikan.

      Dengan atau tanpa niat, dan dengan atau tanpa paham kategori “panic room,” SBY kini tengah berada dalam perangkap “ruang panik” di istana negara, dalam pusaran kumuh politik negeri ini. Akankah SBY dan Demokrat akan sanggup menghindar dan selamat dari ancaman bahayanya? Atau justru tergulung oleh tsunami politik secara tak terduga, buah dari blunder lidah seperti kisah tragis “setetes madu meruntuhkan istana”? Kita tunggu saja kelanjutan ceritanya...

Salam...
El Jeffry

2 comments:

  1. Kalau disimpulkan, sama aja SBY bilang : " Tanpa korupsi - pemerintahannya tidak jalan "

    ReplyDelete