Saturday, December 22, 2012

SBY dalam Kumparan Cinta Segitiga





          Dengan cinta, rumah keluarga akan menjadi istana surga. Tetapi ketika cinta tak dibarengi ketegasan, maka ia akan berbuah petaka, istana dan negara bisa seketika berubah menjadi neraka. Hukum alam dari Sang Maha Pecinta, Tuhan alam semesta berlaku atas seluruh spesies manusia. Tak terkecuali manusia nomor wahid di negeri ini, presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, alias SBY.

          Kita, anak bangsa ini (mungkin masih) percaya bahwa SBY adalah pribadi berlimpah cinta. Hidup dinamis dalam romantika, sejarah membawanya ke kasta tertinggi di antara 250 juta manusia Indonesia. Dengan cinta, SBY mengundang pesona­ untuk mengantarkannya setahap demi setahap pendakian tangga kehidupan. Dari setetes air hina buah cinta kedua orang tua, menjadi bocah kecil lucu dan lugu, menginjak remaja, tumbuh dewasa, hingga kini memasuki usia baya, cinta mengangkat diri dan hidupnya dengan sempurna.

          Cinta pula yang membopong kariernya setingkat demi setingkat, dari seorang prajurit berprestasi selepas lulusan Akabri 1973, cemerlang mendaki  24 anak tangga karier selama 39 tahun. Dua per tiga di militer, sepertiganya di politik. Di politik, SBY masih menebarkan cinta, dari Senayan 1998, masuk lingkaran istana sebagai Mentamben dan Menko Polkam di masa Presiden Gus Dur, berlanjut sebagai ‘abdi dalem’ dengan jabatan sama di masa Presiden Megawati.

          Bermodal pesona cinta yang dikemas apik dalam politik citra, SBY sukses menyita pesona anak-anak bangsa. Bersimpati dan jatuh hati kepada anak negeri ‘terzalimi,’ anak-anak bangsa sepakat mengantarnya ke puncak tertinggi dalam tangga kariernya, Presiden Indonesia ke-6 pada 2004. Tak berhenti sampai di sini, citra dan cinta kembali membawa presiden petahana makin mempesona dengan kembali memimpin rumah surga keluarga besar Republik Indonesia pada 2009.

          Butuh waktu panjang bagi bangsa ini untuk menelaah cinta sang presiden. Memasuki tahun ke-4 pemerintahan dan kekuasaannya, puncak ujian cinta bagi SBY tiba. Layaknya kehidupan rumah tangga, tak ada keabadian dari jalinan cinta. Tak ada keluarga benar-benar  merdeka dari kemelut dan sengketa, betapapun ruh cinta masih tertanam di dalam dada para penghuninya. Gangguan, godaan, cobaan, ujian, dalam bentuk tipuan, jebakan, rekayasa, perselingkuhan hingga pengkhianatan. Setan selalu hadir untuk menghancurkan romantisme manusia di dunia.

          Layaknya seorang wanita yang merasa dikhianati oleh pria kekasihnya, tiba-tiba sebagian (besar) dari anak-anak bangsa mengalami sesak dada. Tak urung, beberapa di antaranya bahkan yakin bahwa talak tiga adalah solusi atas segala problema. Cinta yang didambakan, kebencian yang dirasakan. Surga yang diimpikan, neraka yang didapatkan. D’Llyoid bertanya, “Mengapakah kita harus berjumpa, di saat kita telah berdua? Berdosakah diriku kepadanya, pabila aku mencintaimu?”

          Ternyata, cinta segitiga menjadi sumber prahara bahtera rumah tangga. Istana negara, simbol kekuasaan-kenegaraan, bagai kumparan yang menggulung sang presiden ke dalam prahara cinta segitiga. Anak-anak bangsa merasa, bahwa ‘Sang Bapak’ telah membagi cinta. Ibarat nikah siri, SBY menduakan kesetiaan bangsa dengan lingkaran partikular keluarga, kolega, partai dan kelompok secara diam-diam tapi tak diam. SBY terjebak dalam kumparan cinta segitiga.

          Kita (mungkin masih) percaya, bukan SBY kehabisan stok cinta, karena cinta berlimpah, tak akan pernah habis sebagai anugerah. Tapi lebih karena SBY gagal menegakkan neraca keadilan dalam ‘bercinta.’ Distribusi dan komposisi cinta tak proporsional, abai nilai urgensi dan skala prioritas, ruh cinta pun gagal mengharmoniskan anggota komunitas. Sentimentil dan kepekaan emosi berlebihan, karakter khas Jawaisme ewuh pekewuh, bisa menyeret seseorang untuk terombang-ambing dalam keraguan dan ketidakpastian.

          Kisruh kompetisi KPK-Polri menjadi bukti aktual. Sebagai sama-sama anak bangsa penjaga rumah hukum, keduanya layak memperoleh cinta yang sama. Petaka tiba, ketika keduanya berantem oleh sebab satu perkara. Kemana kita harus berpihak? Dilema, Simalakama. Dibiarkan ibu mati, dimakan bapak mati. Pembiaran, atau intervensi? KPK mesti diselamatkan, Polri juga ya. KPK dan Polri menjadi ujian urgen laten SBY dalam kumparan cinta segitiga. Dalam keraguan berkepanjangan, terlambat turun tangan, ketegasan SBY mati suri. Lewat pidato bersayap Republik MoU, ia pun memilih ibu (pertiwi-hukum) yang mati.

          Drama cinta segitiga berulang. Masih berkait dengan godaan setan korupsi, SBY terjebak dalam cinta segitiga antara negara dan pejabat koruptor. Di satu sisi, sebagai seorang prajurit yang memegang teguh saptamarga, tak ada yang meragukan cinta SBY kepada negara. Kontradiktif dengan yang pertama, di sisi lain justru sang presiden mewajibkan negara menyelamatkan pejabat yang ‘tidak berniat’ dan ‘tidak paham’ korupsi, tapi terlanjur berkorupsi.

          Dalihnya, untuk membuat suatu kebijakan, dibutuhkan kesigapan sehingga terhindar dari keragu-raguan. Orang Jawa bilang, Kyai Jarkoni, iso ngajari ning ora iso nglakoni (bisa mengajari tapi tak bisa menjalani). Keraguan tanpa ketegasan itulah justru yang menjadi sumber petaka SBY. Atau justru dari perspektif pribadi itulah SBY membuat persamaan kacamata pandang para pejabat (dan pemimpin) tentang kategori korupsi? Dalam kekacau-balau-galauan, hilanglah logika-akal sehat manusia.

          
         Cinta segitiga membawa SBY dalam perangkap “panic room” politik. Pembelaan orang tua dengan cinta menggelora kepada anak-anak bangsa, tapi dalam kepanikan, penyelamatan justru akan berbuah menjadi petaka. Cinta kepada partai, cinta kepada negara, ketika tidak diletakkan dalam proporsi yang benar, keadilan hanya akan menjadi bangkai wacana dan retorika. Demokrat bagian dari Indonesia. Partai bagian dari negara. Semua butuh cinta, tapi ada prioritas di antara keduanya.

          Kumparan cinta segitiga juga menggulung SBY di lingkaran internal partai. Gonjang-ganjing Demokrat dengan konflik Anas Urbaningrum-Ruhut Sitompul memuncak. Seperti pada kisruh hukum konflik KPK-Polri, kedua anak partai ini sama-sama berhak mendapatkan cinta ‘Sang Bapak,’ dan keduanya mesti diselamatkan, tentu demi selamatnya partai agar di Pemilu 2014 tidak ‘terbantai’ di ruang jagal kompetisi politik. Ruhut adalah anak kesayangan ‘Pak Bos,’ loyalis sejati baginya dan Demokrat.

           Ruhut adalah ‘penyambung lidah’ SBY, yang selalu pasang badan setiap keselamatan bendoro terancam. Ruhut adalah penerjemah suara hati SBY. Maka ketika Ruhut mbalelo tanpa tedeng aling-aling megehembuskan isu pelengseran Anas demi memerdekakan Demokrat dari sanderaan kasus korupsi, itu tak lebih dari ‘suara hati’ SBY sendiri. Bulan Juni silam, dalam forum silaturahmi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat, SBY telah menghimbau agar kader yang tak sanggup menjalankan garis politik bersih segera mundur dan keluar dari partai.

          Cinta kepada partai lebih utama dari cinta kepada kader, itu teorinya. Tapi tanpa ketegasan, apalah arti sebuah cinta. Konon katanya, Anas paham benar ihwal virus 3L akut pada diri SBY, Lamban-Lembek-Letoy (atau plus satu lagi, Lebay?). bagi Anas, ini adalah kelemahan ‘Pak Bos’ yang membuka celah pemberontakan. Maka, ketika Ruhut menjadi korban pemecatan, kembali SBY tergulung kumparan cinta segitiga. Dilema, simalakama. Pilih Ruhut, atau Anas? Pilih Ruhut, Anas mati, citra Demokrat belum tentu kembali. Pilih Anas, Ruhut mati, salah satu anak tercinta terzalimi.

          Dalam keraguan dan jebakan “panic room” politik, sedikit kalkulasi matematik demi cinta partai, di forum Silatnas pertengahan Desember kemarin, SBY pilih Anas. SBY tak peduli kendatipun Anas telah ‘dihakimi’ opini sebagai ‘public enemy’ dan menjadi incaran besar KPK untuk digantung di Monas secepatnya. Nazaruddin kabur, Angie menyongsong bui, Hartati undur diri, Andi Mallarangeng pergi, apa jadinya Demokrat jika Anas juga lari? Alhasil, kumparan cinta segitiga tak akan pernah lepas SBY. Ya, seorang anak manusia, bapak keluarga, penjaga saptamarga, ‘founding father’ Demokrat, dan kepala negara, presiden Republik Indonesia.

          Akan selalu ada cinta dalam jiwa manusia. Akan selalu ada kemelut dalam setiap rumah tangga, termasuk keluarga besar negara-bangsa. Dan akan selalu ada setan penggoda yang menjerumuskan manusia dalam dilema kumparan cinta segitiga. Citra dan cinta, ketika ditempatkan sesuai fitrahnya yang suci dan mulia, ia akan menjadi ruh penghidup rumah surga. Namun, ketika fitrahnya telah cedera, ketidakseimbangan proporsi, komposisi dan prioritasnya, ia akan mengubah istana surga menjadi lembah neraka.

Salam...
El Jeffry  

No comments:

Post a Comment