Wednesday, December 19, 2012

Politisi, Diplomasi dan Kanjeng Nabi



     Ada sebuah pepatah tentang janji seorang diplomat. “Jika ia berkata pasti, itu berarti mungkin. Jika ia berkata mungkin, itu berarti tidak. Dan jika ia berkata tidak, itu berarti ia bukan diplomat.”
     Diplomat adalah ahli diplomasi. Diplomat adalah ahli komunikasi. Diplomat adalah ahli permainan kata untuk memenangkan perkara yang menjadi tujuan dan kepentingannya. Baik buruknya diplomat dan diplomasi, tergantung dari tujuan dan kepentingan masing-masing manusianya.
Lalu apa bedanya diplomasi dengan komunikasi politik? Tak sama, tapi serupa. Diplomat dengan politisi (bentuk jamak dari politikus) tak jauh berbeda. Demi tujuan dan kepentingan, pribadi, kelompok hingga negara, keduanya memiliki mekanisme kerja yang nyaris sama.
     Diplomat dan politisi, pada fitrahnya luhur-mulia -suci. Setiap manusia pada dasarnya adalah seorang diplomat dan politisi. Sejak dikenalnya bahasa sebagai media interaksi antar manusia, komunikasi menjadi hal niscaya. Manusia adalah makhluk diplomasi dan makhluk berpolitik.
     Yang menjadi perkara, ketika penyimpangan dari nilai-nilai luhur tabiat manusia, maka diplomasi dan politik mengalami pembusukan luar biasa. Lihatlah realita masyarakat-negara-bangsa kita. Komunikasi berbahasa terjun bebas ke lembah rendah. Tata krama, tata susila dan tata bahasa khas nusantara yang dikenal santun, ramah, penuh unggah-ungguh dan andhap asor, di zaman ini nyaris tak lagi ada.
      Di ruang demokrasi negeri yang cenderung liberal, kebebasan berbicara menjadi berhala. Tata-komunikasi lepas kendali dari koridor etika-norma. Terlebih menjelang pesta demokrasi pemilu, pilpres, pilkada hingga pilkades, perang diplomasi dan politik membuncah bak bendungan pecah. Pembusukan komunikasi, diplomat dan politisi berkompetisi tanpa lagi abai norma-etika, apalagi nurani.
     Berkaca dari pepatah diplomat di atas, kemunafikan menjadi komoditas yang diabsahkan dan dihalalkan. Tak ada keselarasan antara hati, ucapan dan perbuatan. Maklum saja, di era hedonisme-materialistik peradaban modern, tujuan dan kepentingan ego individual-parsial menjadi lokomotif kehidupan.
    Siapa jujur hancur, siapa benar terkapar. Dusta adalah hal biasa. Bahasa menjadi alat pemuas syahwat. Semua ingin menjadi pemimpin, tapi terlalu sedikit yang ingin menjadi teladan. Padahal, kepemimpinan tanpa keteladanan adalah pintu gerbang umat-bangsa menuju kehancuran.
    Politik tereduksi ke wilayah paling rendah. Tak ada policy (kebijaksanaan), polite (kesopanan), polish (tiang-negara-kota). Ketika kekuasaan menggeser fitrah otentik politik, jangan harap ditemukan pemimpin bernurani kerakyatan, bersukma kenegarawanan, apalagi satrio pinandhito beraras res-publica (daulat rakyat), atau philosopher king (raja filsuf).
    Komunikasi semu-palsu-imitasi. Diplomasi dan politik diperalat sebagai kendaraan mengkhianati amanat publik-rakyat. Kata tinggal kata, bahasa tinggal bahasa, janji tinggal janji, orai tinggal orasi, kampanye tinggal kampanye. Habis manis sepah dibuang. Berhasil dalam diplomasi dan politik naik panggung kekuasaan, rakyat tanpa segan-segan langsung dicampakkan.
    Bicara diplomasi dan politik sejati, layak bagi kita untuk sedikit menegok kembali keteladanan Kanjeng Nabi. Adalah Muhammad saw., nabi besar dan termulia bagi umat Islam, komunitas mayoritas bangsa ini. Bicara Kanjeng Nabi, tak cuma bicara agama (karena masih banyak kalangan yang alergi terhadap solusi agama, meskipun mereka orang beragama).
    Dalam ranah politik dan diplomasi, khususnya bagi umat Islam, Kanjeng Nabi adalah prototip sempurna keteladanan manusia. Bukan cuma umat Islam yang mengakuinya, namun juga seluruh dunia. Tanpa kepemimpinan revolusioner-visioner, mustahil Kanjeng Nabi mampu merombak peradaban bar-bar jahiliyyah-kegelapan jazirah Arab hanya dalam tempo singkat.
     Satu hal kecil yang sering umat Islam lupakan, adalah keteladanan komunikasi seorang Muhammad sebagai manusia. Gelar al-amin (kredibel-terpercaya) sebagai sumber energi keberhasilan meraih segala tujuan. Baik itu sebagai pedagang sewaktu muda di Mekkah maupun dalam politik pemerintahan negara-kota di Madinah.
    Kanjeng Nabi berpesan, di hampir segala aspek, kejujuran berbicara tak bisa ditawar-tawar, bahkan untuk sebuah guyon (candaan). Setiap patah kata adalah karma. Setiap huruf dan harakat ada konsekuensi dan tanggung jawabnya. Umat Islam mengenal kunci keberhasilan kepemimpinan beliau hanya dari 4 perkara, STAF (Shiddiq-Tabligh-Amanah-Fathanah).
    Jika diterjemahkan ke dalam bahasa sederhana, STAF adalah implementasi dari kapasitas, kapabilitas dan integritas. Benar-jujur, komunikatif (menyampaikan), terpercaya dan cerdas. STAF adalah rangkaian sempurna fondasi kepemimpinan manusia.
    Dengan kapasitas kecerdasan (intelektual-emosional-spiritual), manusia mampu menangkap urgensi dan esensi kebenaran dan kejujuran, sehingga terpancang karakter integral, lahirlah integritas dan kapabilitas. Dengan kecerdasan itu pula muncul kemampuan berbahasa-komunikasi (diplomasi) yang luar biasa efektif dalam mempengaruhi manusia.
      Kombinasi kapasitas, intergritas dan kapabilitas dengan kecerdasan, kebenaran-kejujuran dan diplomasi, melahirkan kepercayaan publik, termasuk di dalamnya popularitas (ketenaran), elektabilitas (terpercaya) dan akseptabilitas (diterima). Perilaku Kanjeng Nabi yang menjaga kepercayaan umat-publik mengokohkan dirinya sebagai salah satu manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah peradaban manusia.
         Setiap manusia punya potensi yang meski berbeda, namun sejatinya relatif sama, selagi ia masih memiliki akal sehat dalam hidupnya. Sayangnya, sebagian besarnya mudah lupa, tergesa-gesa, berpikir sempit-pendek dan enggan bercermin di kacabenggala mayapada.
       Bila setiap diplomat dan politisi di negeri ini berkenan mengambil saja sebutir dari jutaan mutiara ajaran nabi yang diyakininya, niscaya hukum dunia akan banyak menganggur dan tidak lelah bekerja. Tak ada yang rumit dari ajaran agama (itupun jika masih percaya), hanya saja manusia yang gemar memperumitnya sendiri.
      Seorang sahabat pernah berkata, “Aku percaya pada agama (Islam) dan Kanjeng Nabi hanya pada 3 perkara. Dengannya aku tak butuh ribuan ayat dan tumpukan kitab tebal seperti layaknya para ulama. Berusaha konsisten untuk jujur dalam berbicara, menepati  janji sebisanya, dan memenuhi amanat semampunya.”
Salam...
El Jeffry


No comments:

Post a Comment