Sunday, December 2, 2012

Petaka 3 Menit Benamkan Garuda



13543827901903947234
Garuda Kalah 0-2 Saat Laga Kontra Harimau Malaya. (Sumber photo: http://lipsus.kompas.com)

      Tragis dan dramatis! Itulah dua kata yang pantas diucapkan melihat hasil laga antara Tim Garuda kala kontra Harimau Malaya. Kegarangan garuda seakan sirna, hanya oleh petaka 3 menit pada Sabtu malam tadi, dalam laga ke-3 penyisihan grup B Piala AFF 2012.  Dua gol Malaysia tak terbalas hingga peluit terakhir prakts melumpuhkan harapan dan mimpi Indonesia. 

      Stadium Bukit Jalil, Kuala Lumpur seakan mengulang sejarah kelam “diinjak-injaknya” Garuda setengah abad silam, kala Indonesia memproklamirkan konfrontasi dengan Malaysia yang lebih dikenal sebagai gerakan “Ganyang Malaysia.” Alih-alih menuntaskan “pembalasan dendam” atas kejumawaan negeri jiran yang sepanjang sejarah kerap “melecehkan” Indonesia, yang didapat justru Malaysia berhasil “mengganyang” Tim Garuda dengan garang.

     Bermain dengan mental dan kepercayaan diri yang tinggi setelah dalam pertandingan terakhir mampu menggulung Singapura serta diuntungkan sebagai pemuncak klasemen grup, Indonesia hanya butuh hasil seri untuk memastikan diri lolos ke babak semifinal. Namun dewi fortuna tak berpihak, Garuda justru menjadi “bulan-bulanan” Harimau Malaya. 

     Praktis, sepanjang 90 menit pertandingan, tim asuhan Nil Maizar mampu menggebrak menit-menit awal babak pertama. Petaka bagi tim Garuda tiba hanya 3 menit, dengan terciptanya gol beruntun Malaysia pada menit ke-26 dan menit ke-29. Gol yang terjadi sebagai konsekuensi rapuhnya barisan pertahanan yang gagal dibenahi. Garuda kehilangan ketajamannya, bahkan setelah Andik Vermansyah, dimasukkan di menit ke-34 menggantikan Ellie Aiboy. 

     Tony Cussel yang juga dimasukkan di babak kedua tak banyak mengubah keadaan. Hilangnya konsentrasi, permainan tanpa pola dan cenderung monoton, tumpulnya alur serangan, kesalahan-kesalahan yang tak seharusnya terjadi. Suka tak suka, Tim Merah Putih “kalah kelas” dengan tim tuan rumah sekaligus juara bertahan asuhan Rajagopal ini.

     Sebenarnya harapan Indonesia masih ada ketika di saat yang sama, Laos sempat unggul 2-0 atas Singapura. Jika Laos berhasil memenangi laga, dengan berharap “adu nasib” dengan keunggulan produktivitas gol, Indonesia sebenarnya bisa lolos, sebab kedua tim ini akan memiliki nilai sama dengan 4 poin. Sayang, petaka kedua datang melengkapi, karena akhirnya Singapura justru berbalik unggul 4-3 atas Laos.

     Dengan hasil ini, maka Malaysia berhak maju ke babak semifinal sebagai runner-up mendampingi Singapura yang menjuarai grup dengan nilai sama 6 poin namun unggul dalam selisih gol. Sedang Indonesia harus segera berkemas untuk pulang lebih awal karena hanya berada di peringkat ke-3 dengan 4 poin, disusul Laos sebagai juru kunci dengan 1 poin.

    Tragis dan dramatis. Indonesia layak menangis. Kekalahan ini tak hanya menjadi kegagalan “pembalasan dendam sejarah” setengah abad silam saat Indonesia gagal memenangi duel konfrontasi dengan Malaysia. Juga kegagalan menebus kekalahan menyakitkan saat Garuda dibenamkan oleh Harimau Malaya di laga final Piala AFF 2010. 

      Kekalahan ini juga menambah kelam persepakbolaan nasional yang dalam beberapa puluh tahun fakir gengsi dan miskin prestasi, pailit prestise dan paceklik prestasi. Ditambah lagi, gonjang-ganjing kisruh dan perpecahan di tubuh PSSI yang sampai hari ini masih menjadi “hantu pemecah belah” persepakbolaan dalam negeri. Sarat intrik dan konflik, tarik-menarik antara kepentingan bisnis dan politik.

      Apa mau dikata? Memang demikianlah adanya. Bola itu bulat, tapi lapangan itu rata dan bertata-pola. Selalu ada jutaan kemungkinan dalam permainan sepakbola, kalah, seri dan menang adalah niscaya. Namun di sisi lain, strategi, organisasi, disiplin ilmu dan logika juga tak bisa diabaikan begitu saja. 

    Berita gembiranya, akan selalu ada hikmah di balik petaka yang menimpa. Kekalahan bukan alasan untuk berputus asa, bukan pula alasan untuk saling menyalahkan yang berujung pada makin runcingnya perpecahan. Petaka, bencana, musibah, adalah tanda-tanda nyata, bahwa ada sesuatu yang keliru dari manusia. Dan bagi sepakbola Indonesia, menjadi pesan maha penting untuk banyak berbenah, introspeksi dalam segala hal.

     Garuda di dada, lagu Indonesia Raya, bendera merah putih, simbol-simbol kebangsaan-kenegaraan yang selalu dihadirkan dalam setiap perhelatan sepakbola di arena dunia. Setelah 3 menit petaka, Garuda mesti ditata ulang, didigdayakan kembali agar kembali perkasa. Karena pada setiap helai bulunya, kepakan sayapnya, kibasan ekornya dan cengkeraman cakarnya, tersimpan arti dan cita-cita bangsa dan negara Indonesia.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment