Wednesday, December 26, 2012

Gelagat Kiamat 2013: Korupsi Meningkat!




       Jangan bergembira dulu setelah ramalan kiamat versi suku Maya 21 Desember telah terlewat. Di Indonesia, negeri tumpah darah-keringat-air mata kita, masih mesti menghadapi gelagat pertumpahan keringat-air mata dan penghisapan darah rakyat oleh kaum penjajah model baru, antek nekolim dan budak-kuli inlander. Lingkaran setan korupsi yang sukses bermutasi dalam dalam regenerasi, menjadi inti sari-pati. Kejahatan “kasta tinggi” dalam kemasan “kerah putih” masih belum juga terkendali.
       Kolusi menjadi kode kunci simbiosis mutualis. Elit-publik, pemimpin-rakyat, pejabat-jelata, birokrat-proletar. Transliterasi adagium klasik omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo. Telur dari ayam, atau ayam dari telur? Pemimpin produk rakyat, atau rakyat produk pemimpin? Siklus misterius tak kunjung putus. Keduanya benar, keduanya salah, dualisme logika gila dan gila logika, fitnah iblisi-dajjali zaman edan, kesalah-kaprahan jadi kebenaran.
      Bagi Indonesia, kiamat sudah dekat. Tanda-tanda dan gelagat kiamat diungkap oleh Indonesia Corruption Watch (ICW). “Ramalan”-nya, kiamat  akan terjadi dengan “aktivitas dan produktivitas” korupsi bakal meningkat di tahun 2013.  Alasannya, di tahun itu akan banyak gelaran pesta demokrasi-budaya ekstravaganza pemilukada dan penjelangan pemilu nasional 2014. Politik uang, politik transaksional-dagang sapi, jual-beli suara menjadi komoditi utama.
      Sementara leader politik, para pemimpin otentik semakin tergilas secara sitemik-sistematik, “broker dan dealer politik” bakal menyubur bak jamur menyambut musim hujan. Gelaran pilkada dan jelangan pemilu akan jadi momentum politisi-politikus, terutama pemegang kekeuasaan untuk mengumpulkan “investasi” politik. Tujuannya hanya ada dua, mempertahankan dan ekspansi wilayah kekuasaan. Sudah tabiat manusia politik primata homo homini lupus. Berahi korupsi dan orgasme politik, demi pemenuhan nafsu hasrat-syahwat dan obsesi kenikmatan kapitalistik-hedonistik.
       Penggelapan anggaran untuk pribadi dan kelompok partai sudah menjadi tradisi berantai. Metode politisi-politikus korup hanya ada dua, penggelembungan proyek dan pemberian hibah (bantuan). Penggelembungan proyek bisa dilakukan sendiri atau kongkalikong dengan pihak ketiga, para broker-pengusaha untuk meminta komisi. Sedang pemberian hibah (bantuan sosial) dilakukan untuk pengayaan diri dan peningkatan popularitas. Alhasil, “sinergi-chemstry” KKN dilakukan secara sadar dan berjamaah, antara politisi-politikus, pengusaha dan rakyat dalam satu kata “money politics.” 
       Apa daya kita? Demokrasi biaya tinggi belum menemukan pengganti “demokrasi rendah kalori” yang hemat-bersahaja. Bayangkan saja, dalam satu perioden 5 tahunan, rakyat disuguhi hidangan pesta-fiesta luar biasa besar biayanya. Maksimal, sekali pileg, dua putaran pilpres, dua putaran pilgub, sekali pilbuta (pemilihan bupat-walikota) dan sekali pilkades. Praktis, dalam 5 tahun negara berpesta minimal 5 kali (setahun sekali) dan maksimal 7 kali (8,5 bulan sekali). Luar biasa gila euforia dan kebebasan (atau kebablasan?) bersuara.
      Apa hendak dikata? Korupsi sedemikian parahnya membudaya. Telah 8 abad gurita korupsi dalam sejarah negeri, terlalu sulit bangsa ini berlepas diri. Ribuan cara dalam ribuan etika norma ayat-ayat agama dan pasal-pasal perundangan negara, tak sanggup sebagai terapi “pensucian jiwa” bangsa. Dengan hanya mengandalkan KPK, mustahil bangsa ini menaklukkan “gurita korupsi,” bahkan sekadar memperlemah mengamputasinya. Korupsi tak tercekal, tak tercegah dan tertangkal. Sebagai salah satu bentuk mutakhir kesepakatan setan, korupsi adalah virus endemik terganas yang membunuh logika-akal sehat hampir 250 juta manusia Indonesia.
       Sesuai filosofi telur dan ayam, korupsi hanya bisa diminimalisir dengan melibatkan seluruh elemen bangsa. Elit-publik, pemimpin-rakyat, atas-bawah, mesti satu kata. Tak hanya mengandalkan KPK dan pemimpin dalam 12 elemen ksatria nusantara, setiap anak bangsa yang masih berkesadaran keksatriaan mesti guyub-rukun holopis kuntul baris bekerja sama. Karena korupsi (dan kolusi) adalah pengkhianatan hukum simbosis mutualis. Saling menguntungkan kedua pihak, tapi tak memberi keuntungan martabat manusia berkualitas.
       Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, semua terlibat sekaligus terimbas dan terlibas dalam dan oleh “dosa sosial” keganasan korupsi. Lima pasal dari 7 dosa versi Mahatma Gandhi menjadi karmanya. politics without principle (politik tanpa prinsip), commerce without morality (bisnis tanpa etika), wealth without work  (pengayaan tanpa kerja), pleasure without conscience (kesenangan tanpa nurani) dan worship without sacrifice (agama tanpa pengorbanan).
       Politisi-politikus, pengusaha, tokoh agama, rakyat jelata, semua bermain dalam satu drama kejahatan luar biasa, hanya berbeda kasta, strata dan skalanya saja. Kesempatan dan momentum hanya pelengkap dan pembenar kejadiannya. Adakah kejahatan lebih tinggi dari korupsi? Melihat dampak luasnya kerusakan bagi peradaban manusia, bukankah layak jika korupsi yang menggurita adalah barometer dari kiamatnya sebuah bangsa?
       ICW telah mengabarkan pesan akan tanda-tanda kiamat itu bakal ada pada 2013. Sebagai watcher (pemerhati) “reality show” tragedi negeri, kita butuh refleksi dan introspeksi. Mungkin selama ini kita hanya jadi NATO (no action talk only) alias omdo (omong doang), lebih asyik menghujat-menyumpah-mencaci dengan kepala mendongak melihat koruptor kelas kakap menggelontor di ruangan ber-AC di kantor-kantor. Dan kita lupa mununduk ke bawah dan bercermin, bahwa kita juga adalah koruptor-koruptor kelas teri similikithi yang sewaktu-waktu bisa bermutasi.
      Tak ada penjual tanpa ada pembeli. Transaksi tercipta karena kesepakatan dua pihak manusia. Pemilu dan pilkada (termasuk pilkades) adalah bukti nyata. Kekuasaan dan uang menjadi berhala, bagi pemimpin maupun jelata. Mati satu tumbuh seribu, patah tumbuh hilang berganti, regenarasi korupsi akan selalu terjadi. Dan jika tak ada revolusi jiwa-bathin jama’ah bangsa, kiamat 2013 adalah niscaya. Tak ada pilihan untuk menghindarinya, kecuali “potong satu generasi.” Pertanyaannya, punya tekadkah kita untuk memulai? Cukup dengan 3 SKS, dari diri (S)endiri, dari hal-hal (K)ecil dan dari (S)aat ini! Buktikan kita (masih) bernyali!
Salam...
El Jeffry

1 comment: