Sunday, December 30, 2012

Gagal Negara, Gagal Agama dan Gagal Manusia



     Kegagalan adalah hantu paling menakutkan bagi manusia. Tak seorangpun manusia berniat dan bercita-cita menjadi orang gagal. Dan tak ada manusia yang sanggup serta-merta menerima kegagalan sebagai keniscayaan hukum alam. Bahwa keseimbangan ada dalam satu paket pasangan dua hal berlawanan. Putih-hitam, positif-negatif, baik-buruk, plus-minus, cahaya-kegelapan dan keberhasilan-kegagalan.

     Manusia Indonesia hampir 250 juta jiwa. Hidup dalam negara beragama dan agama bernegara, kita mengalami persoalan serupa.  Kita bukan negara agama di mana agama mengatur ketatanegaraan sedemikian rupa. Kita juga bukan negara sekuler yang menempatkan agama dan negara dalam kamar terpisah bagai dua  dunia berbeda. Di sini, agama dan negara ibarat ruh dan jasad yang bersenyawa dalam tubuh manusia hidup. 

     Ketika dikatakan bahwa kita telah gagal agama, sudah pasti 99,99% dari kita yang beragama akan serta-merta akan menolak telak-telak. Dan ketika dikatakan bahwa kita telah gagal negara, sudah pasti pula 99,99% dari pemerintah yang mengelola negara akan membantah mentah-mentah. Sudah dikatakan di muka, bahwa manusia cenderung membenci kegagalan. Ada 1001 alasan untuk menolak kenyataan pahit bernama kegagalan. 

     Lalu, bagaimana jika kita memang benar-benar telah gagal agama? Jawaban yang sulit sekaligus mudah, tergantung dari alat teropong kita melihatnya. Jika alat teropong itu adalah bangunan material dan upacara ritual-seremonial, kita tak menemukan jawabannya. Sejajar dengan geriap pembangunan dan teknologi, bangunan tempat ibadah bertebaran mewah dan megah. Masjid, gereja, pura, wihara, klenteng, hampir tak pernah sepi jama’ah dan jemaat. Ceramah, dakwah, dan lain-lain siraman rohani tak pernah henti diguyurkan tak peduli kemarau hujan, di tempat terbuka dan di media massa.

     Bagi mayoritas agama di negeri ini, Islam, lebih luar biasa. Kumandang azan wajib hukumnya disiarkan di televisi, ketika saat maghrib dan subuh tiba. Kuota haji makin bertambah setiap tahun hingga harus antri bertahun-tahun untuk bisa pergi  ke tanah suci. Ritual puasa dan lebaran idul fitri, euforia saat natal tiba, meriahnya peringatan imlek adalah sebagian dari bukti nyata keberagamaan kita yang begitu terlihat menggelora. Islam, Kristen, Protestan, Hindu, Buddha dan Konghucu sama saja.

     Tapi, semua itu seakan sirna manakala kita melihat dengan alat teropong realita. Maraknya kejahatan, dengan barometer 3 kejahatan luar biasa (korupsi-terorisme-narkoba) yang membawa negeri kita pada ‘kasta tinggi’ di antara negara-negara di dunia menjadi paradoks. Kontraproduktif dengan ‘wajah alim’ yang dinampakkan ke dunia, negeri kita dikenal sebagai salah satu negeri terkorup, lahan subur peredaran narkoba dan sarang teroris kelas dunia.

     Belum lagi kejahatan kemanusiaan, pelanggaran HAM, carut-marut hukum dan keadilan. Singkat kata, 5 unsur kejahatan yang terangkum dalam filosofi Jawa mo-limo, maling (mencuri-korupsi), madon (pelacuran-prostitusi), main (judi), mabuk (miras) dan madat (narkoba), sudah menjadi menu harian yang selalu terhidang di depan mata dengan aneka warta di media massa. Padahal, sepakat tidak sepakat, semua itu adalah pengkhianatan nyata terhadap nilai-nilai dan ajaran agama. Lho kok bisa?

     Ketika kesalehan ritual-seremonial terkurung dalam penjara tekstual, maka kesalehan     sosial-komunal membumbung tinggi ke angkasa. Jauh panggang dari api. Orang arif bijaksana berkata, kita baru di kelas ‘anak TK,’ belum SMP, mahasiswa, apalagi sarjana. Beragama dalam syariat tanpa naik ke tangga ma’rifat (hakikat) tak akan pernah memahamkan manusia pada agama. Kita baru berada di anak tangga ilmu pengetahuan (alim-ulama-pandai-pintar), tapi belum menginjak anak tangga pengenalan (arif-arifin-bijak bestari). 

     Lalu, masihkah kita keukeuh untuk mengklaim bahwa kita telah berhasil dalam bernegara? Jawaban sama, sulit sekaligus mudah. Jika alat teropongnya adalah bangunan fisik dan euforia kebebasan demokrasi, mungkin kita telah berhasil. Gedung pencakar langit, akses komunikasi dan kemudahan teknologi, imbas dari modernisasi dan globalisasi, kita nampak berbeda dengan kehidupan primitif ala zaman batu dan setingkat lebih maju dari peradaban Majapahit. Terlebih jika mata yang meneropong adalah pemerintah (baca: penguasa), maka yang pasti muncul adalah klaim keberhasilan pembangunan dan kemajuan negara. 

     Tapi jika alat teropongnya adalah rakyat adil sejahtera sebagai amanat proklamasi dan sila ke-5 Pancasila, maka kembali cita-cita negara merdeka ini masih jauh panggang dari api. Kesejahteraan itu mungkin ada, karena alam bumi pertiwi yang berlimpah. Tapi keadilan itu yang belum terlihat. Kesenjangan teramat lebar antara sikaya-simiskin di mana kekayaan ratusan juta rakyat sepadan dengan kekayaan beberapa puluh konglomerat. Pemerataan kesempatan berusaha, pendidikan dan kesehatan masih berupa wacana. Kesetaraan hukum belum terlihat di negara hukum. 

     Apa hendak dikata? Ketika hukum bisa diperjual-belikan, masihkan bisa diharapkan tegaknya keadilan? Lalu, bolehkah dikatakan bila gagal agama dan gagal negara sebagai gejala awal gagal manusia? Man behind the gun. Manusia di belakang senjata. Dalam dunia mayapada, negara dan agama hanyalah wayang-wayang, manusia adalah dalangnya. Tradisi, sistem dan hukum dalam negara dan agama hanya wayang-wayang. Baik-buruk perannya di alam nyata tergantung dari baik-buruk manusia yang memainkan lakonnya. 

     Negara, agama dan manusia adalah tiga titik dalam satu garis rantai kausalitas. Jika negara sebagai jasad, maka negara butuh ruh agama untuk bisa hidup. Jika agama sebagai jasad, maka ia butuh ruh manusia untuk bisa hidup. Jika manusia sebagai jasad, maka ia butuh ruh quddus-suci Tuhannya untuk bisa hidup. Hulunya, Tuhan selalu menjadi kausa prima bagi manusia yang beragama dan bernegara. Tuhan membuat “permainan maha unik” di alam semesta, manusia sebagai alat bagi Tuhan sesuai citra penciptaanNya, dunia sebagai panggung perhelatan untuk menguji manusia, dari era Adam pertama kali diturunkan hingga kiamat tiba.

     Di alam demokrasi, yang ditafsir Thomas Jefferson sebagai bonum commune-publicum (agama publik), tempat digelar panggung ‘demonstrasi’ penyulingan saripati cratein-publica, ruh Tuhan mentransformasi dalam ruh manusia. Dikenal vox populi vox dei, suara rakyat, suara Tuhan. Siapa mengenal dirinya, niscaya mengenal Tuhannya. Ketika manusia tak mengenal Tuhannya, ia tak akan mengenal diri (dan kemanusiaan)nya, tak akan mengenal agamanya, dan tak akan mengenal pula negaranya. Ketika manusia tak mengenal apa-apa, maka hakikatnya ia telah gagal hidup. Tak hanya gagal beragama dan bernegara, bahkan ia telah gagal sebagai manusia. 

Salam...
El Jeffry





No comments:

Post a Comment