Saturday, December 15, 2012

Arogansi ARB, Politisi ABG dan Malafungsi USG



    Satu lagi, fragmen lanjutan opera “republik kethoprak setengah babak.” Aroma laga Pilpres 2014 kian tajam merebak. Aktor-aktor politik pletak-pletik bermanuver dalam aksi akrobatik di papan catur politik. Gerak zig-zag ngulik, penuh taktik dan energik, adu teknik hingga improvisasi cantik dan ciamik. Dari natural hingga rekadaya, dari batas-batas realita hingga menabrak-nabrak logika. Demi pemenuhan syahwat-hasrat berahi kekuasaan, untuk obsesi orgasme politik. Di ranjang politik homo homini lupus, “foreplay” tak perlu fairplay. Jika sudah menggelinjang, apapun dilakukan asal tercapai tujuan, Indonesia-1 2014.

    Adalah dia Aburizal Bakrie, alias ARB. Genderang perang sudah ditabuh sejak Juni 2012 untuk secara resmi memproklamirkan diri sebagai kandidat capres. Meminjam slogan sang mentor, JK, “Lebih cepat lebih baik,” ARB melesat bak anak panah dalam menyambut laga bersejarah. Mencuri “kue tart” simpati publik dengan “mencuri strart” kampanye cerdik, berkendaraan bisnis layar kaca TV One, ARB pun gencar beriklan.

   Makin tenar makin bersinar. Makin populer makin tokcer. Makin dikenal makin berpeluang menang. Bagian dari prinsip politik tanpa prinsip. Padahal, politik tanpa prinsip adalah satu dari “7 dosa versi Mahatma Gandhi.” Tapi apa pentingnya ARB bicara dosa? Belum cukup popularitas untuk retasan aman jalan menuju istana. Opini harus dicipta. Citra harus ditempa. Layaknya mengukir lekuk-lekuk desain keris, pamor harus digambar sempurna, meski butuh waktu lama. Jangan pernah segan berguru dengan masa lalu. Termasuk belajar dari kemenangan orang-orang terdahulu.

    Pilpres 2009. Slogan menang “satu putaran saja” efektif mengantarkan SBY ke kursi Indonesia 1 dengan “angka mutlak.” Kekuatan opini mampu menyihir alam sadar manusia dalam menentukan suara. Kadang itu menjadi fakta, kadang kebetulan semata? Tak mau melewatkan “trik rahasia” kesuksesan SBY, Di Garut, di acara temu kader dalam rangkaian safari politik, ARB pun melontarkan kampanye satu putaran. ARB optimis bakal bisa memenangi Pilpres 2014 dengan “satu putaran saja” sesuai target perolehan suara 60%.

    Mungkin ARB bukan mengada-ada. Faktanya, dari hasil jajak pendapat sejumlah lembaga survei, popularitas dan elektabilitas Golkar relatif unggul atas partai-partai lain. Tapi ARB sepertinya menutup mata, bahwa dari hasil sejumlah lembaga survei pula, keunggulan Golkar tak berbanding lurus dengan sang ketua umum dalam kapasitas sebagai kandidat capres.

    Sedikit contoh, enam lembaga survei (SSS, LSN, JSI, SMRC, LSI dan Puskaptis) telah melakukan survei dalam medio Mei-September 2012, nama ARB memang masuk ke dalam 5 besar (kecuali LSI-yang merilis survei terakhir 28 November 2012-ARB tidak masuk daftar). Namun, sari keenamnya, tak satupun nama ARB menempati peringkat pertama dalam daftar. ARB mesti mengakui keunggulan nama kandidat capres lain.

    Prabowo Subianto “jawara” di 3 lembaga survei (SSS, LSN dan SMRC), Megawati “top” di JSI, Mahfud MD paling unggul di LSI, dan Wiranto nomor wahid di Puskaptis. ARB justru “bersaing ketat” dengan sang senior dari Golkar Jusuf Kalla, yang justru lebih unggul dengan masuk 5 besar di keenam lembaga survei. Bahkan secara umum di hampir seluruh lembaga survei, nama ARB masih di bawah Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri. (selengkapnya: Daftar Kandidat Capres 6 Lembaga Survei).

   Keberanian ARB memproklamirkan “menang pilpres satu putaran” tak berdasar? Mungkin. Ia bisa dibaca lebih sebagai sebuah “strategi usang” penggiringan opini publik untuk menyibak “awan mendung” yang masih menyelimuti sang kandidat. Atau bisa pula sebagai ekspresi arogansi untuk mengusir ketidakpercayaan diri akibat namanya tak kunjung terdongkrak. Padahal gerak cepat sudah dilakukan, investasi iklan sudah digencarkan, aksi akrobatik sudah dipertontonkan.

    Ataukah ARB telah mulai frustasi oleh ambisi dan obsesinya sendiri, lalu berhalusinasi untuk menghibur diri? Entah, yang pasti, strategi “menang satu putaran” yang membawa SBY berjaya di Pilpres 2012 rasanya sudah tak relevan lagi bila melihat kecerdasan politik rakyat yang secara signifikan semakin meningkat. Terlebih jika ARB lebih cerdas untuk bercermin pada “gagal adopsi” strategi tim Foke-Nara dan Demokrat di Pilkada DKI 2012 belum lama berselang.

   Kala itu, Foke-Nara getol berkampanye “cukup satu putaran” (mungkin) berusaha menjiplak kemenangan mutlak sang presiden di 2009. Hasilnya, jauh panggang dari api. Terbukti di 11 Juli. Bukan hanya gagal “menang angka mutlak,” jutru kalah suara dari Jokowi-Basuki dan hanya berada di urutan ke-2 pada putaran 1. Tak cukup sampai di situ, sang petahana justru gagal total di putaran 2, terpaksa “turun tahta” dari kursi DKI1 dan menyerahkannya kepada gubernur baru Jokowi. Adakah itu “hukuman alam” dari sebuah ambisi, obsesi dan optimisme berlebihan, serta kejumawaan, kesombongan, alias arogansi?

     SBY-SBY, Foke-Foke, dan ARB-ARB. Aburizal Bakrie, kandidat capres terawal menabuh genderang perang sejak Juni 2012, penguasa kerajaan bisnis yang di panggung politik telah malang melintang, lintas batas era dari orde baru hingga orde reformasi. ARB adalah ARB, salah satu anak bangsa yang (mungkin) merasa mendapat “wangsit” sebagai “Satrio Piningit” RI1 generasi 7” (?). Maka dengan “terawangan”  visionernya ia menembus waktu dan peristiwa untuk memenuhi karma hidupnya di tahun 2014.

    Apapun harus dilakukan, tak peduli sekadar keyakinan, ghirah-semangat juang, atau kejumawaan. Karena bagi ARB, seperti slogan iklan di televisi “Pengabdian pada partai adalah pengabdian pada tanah air.” Untuk mencapai tujuan, kadang manusia berjiwa kurcaca-buto-raksasa abai nilai-nilai norma-nurani-etika. Toh media massa ada dalam genggamannya, politisasi kurcaci demi harga tahta kurcaca adalah hal sewajarnya. (Hari, Bakrie-kurcaca-dan-kurcaci).

    ARB, dengan arogansinya di usianya yang tak lagi muda, 66 tahun di hari ini, hanyalah salah satu dari bidak-bidak catur di papan perpolitikan negara-bangsa. Gagal tata-ramu dan tata-olah dalam tata-boga nutrisi kepemimpinan di kuali politik-kekuasaan, SDM demokrasi di negeri ini pun gagal matang. Pemimpin karbitan bantet-rendah kwalitet, tak pernah bisa tumbuh dewasa, apalagi arif-bijaksana meski sudah memasuki era “lansia.” Politik childish-kekanak-kanakan, kata Gus Dur suka bermain-main politik ala “anak TK.” Hanya saja ARB sedikit lebih tua sebatas remaja, alias ABG (anak baru gede).

    Politisi ABG tak akan sanggup berpikir panjang, apalagi lintas waktu dan ruang. Karena terkurung tempurung sempit-pendek parsial-partikular-kepartaian, gagal merdeka ke area luas-panjang-kebangsaan. Politisi ABG hanya menuruti ledakan emosi pubertas, bermental bablas hingga kadang culas dan menabrak-nabrak tembok moralitas. Hanya memperturutkan desakan syahwat di masa-masa pertama manusia mengenal erotisme dunia. Dan arogansi muncul dari mati surinya kepekaan cipta-rasa-karsa sehingga buta dari realita.

    Dalam politik modern, lembaga survei adalah kebutuhan untuk sejenak bercermin pada kenyataan. Terlepas dari hasil survei yang tidak independen (konon bisa dibeli) dan kadang diperalat untuk mendongkrak popularitas, namun kredibilitas lembaga survei tetap relatif bisa dipertanggungjawabkan. Ibarat mesin ultrasonografi (USG) digunakan kalangan medis sebagai alat pendeteksi hal-ikhwal kehamilan, maka lembaga survei juga dibutuhkan sebagai alat pendeteksi hal-ikhwal perpolitikan. Secara sederhana, popularitas akan berefek pada elektabilitas, tergantung dari kapasitas, kapabilitas dan integritas.

     Alhasil, melihat ARB dengan “kampanye menang satu putaran” rasanya terlalu dini untuk bisa diyakini, jika tidak dikatakan arogansi. Tapi akan menjadi benar jika itu dolontarkan oleh politisi ABG, ditambah lagi adanya malafungsi USG. Rusaknya alat pendeteksi aspirasi dan suara rakyat lewat alat USG lembaga survei, sengaja mengabaikan, atau memang hendak menghibur diri menghadapi ketidakberpihakan kenyataan. Kadang manusia lupa, memperturutkan emosi pubertas ABG hingga lepas kendali dan abai terhadap hasil USG, bisa berakibat fatal berakhir diruang UGD (unit gawat darurat).

    Tapi mungkin bagi ARB semua itu tak penting. Maklum saja, dengan kekuatan materialistik-kapitalistik berlimpah-ruah, mendongkrak popularitas bukanlah hal susah dan tidak pula salah. Di sini, ARB lebih terlihat sebagai OKB (orang kaya baru) yang lupa diri dan berpikir bahwa semua yang ada di dunia bisa dibeli, termasuk suara hati nurani. Abai hasil USG survei, abai potret kemiskinan rakyat di lingkungan sekitar, abai peringatan dan tanda-tanda alam, salah satunya bencana lumpur Lapindo.  (Ical, Satrio Piningit, Caturdosa dan Bangsa Amnesia).

    Akhirulkalam, lakon ARB di papan percaturan politik Pilpres 2014, lengkap dengan ABG, USG, OKB dan UGD, anggap saja OVJ (Opera Van Java). Serangkaian opera dagelan tradisional bernuansa mistik sedikit menggelitik dengan lakon “RI1-2014, Satrio Piningit dan Tuah Angka 7”. Tak perlu ditonton dengan terlalu serius hingga dahi berkerut. Biar dalangnya bingung, lakon wayangnya juga bingung, yang penting penonton bisa tertawa gembira. Hahaha...

Salam...
El Jeffry 

No comments:

Post a Comment