Monday, December 3, 2012

Akhirnya, Djoko Susilo Pun Ditahan KPK


135451600338811803
IRJEN DJOKO SUSILO. (sumber photo: http://www.republika.co.id)

      Drama panjang perseteruan KPK-Polri memasuki babak baru. Akhir dari “Duel lanjutan” dua “jagoan hukum” yang beradu kedigdayaan. Ternyata Abraham Samad yang mewakili KPK terbukti “lebih sakti” dari Djoko Susilo mewakili Polri. Setelah melalui pemeriksaan selama lebih dari 8 jam, tersangka kisruh simulator SIM Irjen Djoko Susilo resmi ditahan KPK. 

      Sebelumnya, layaknya “jagoan neon” sang jenderal masih terlihat begitu  jumawa. Lewat kuasa hukumnya Federich, Djoko Susilo menantang KPK. ”Djoko Susilo akan ditahan? Coba saja kalau berani!” Penahanan ini sekaligus menjawab keraguan publik bahwa Abraham Samad hanya bisa mengumbar keberanian lewat kata-kata di media massa, tapi selalu gagal memberi bukti nyata. 

     Seperti diketahui, bekas gubernur Akpol yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus  korupsi senilai Rp. 196 ini sempat lolos dari jerat “Jumat Keramat” pada pemeriksaan perdana 5 Oktober silam. Padahal, sehari sebelumnya Abraham sempat “berkoar” bahwa dia tidak akan bergeser dari tempat duduk dan ruangan hanya untuk menunggu teman-teman penyidik di lantai 7 dan 8 untuk menyodorkan surat penahanan.

     Nyatanya, alih-alih menahan sang jenderal, justru pemeriksaan berbuntut panjang dengan insiden pengepungan kantor KPK sore harinya, oleh sepasukan aparat kepolisian Daerah Bengkulu. Misinya, menjemput paksa Kompol Novel Bawedan, penyidik KPK yang juga ketua tim satuan tugas kasus simulator. Kisruh sengketa antar dua lembaga penegak hukum yang seharusnya bersinergi dalam memberantas korupsi, semakin meruncing dan bersuhu ekstra tinggi. 

      Tak berhenti sampai di situ, lini depan Polri makin berani berakselerasi dengan “serangan bertubi-tubi” untuk mengobrak-abrik lini pertahanan KPK. Medio September 2012, Polri menarik 20 penyidik yang ditugaskan di KPK. Alhasil, KPK kocar-kacir tak berdaya. Polri memang “sakti mandraguna dan digdaya!”

        Kisruh simulator yang berakibat pada sengketa antara KPK-Polri tak kunjung mencapai titik temu. SBY yang semula “mati suri” terpaksa bangun untuk “hidup lagi.” Turun tangan layaknya wasit, sang presiden mengeluarkan “panca sabda” lewat  pidato bersayap khas pemimpin “Republik MoU.” Polri disemprit, kartu kuning pertama. Urusan simulator SIM wajib diserahkan ke KPK. Di ujung sayap yang lain, KPK dan Polri harus memperbaharui MoU. Padahal, nota kesepahaman inilah yang sebenarnya menjadi sumber utama pemicu pecahnya ‘perang saudara’ dua lembaga penegakan hukum ini.

       Bagi Abraham Samad, penahanan Djoko Susilo hari ini tentu sangat berarti. Penahanan ini juga sedikit memberi bukti bahwa tidak ada “warga negara istimewa” di republik ini. Tak peduli ia seorang pejabat, konglomerat, jenderal atau bahkan wakil presiden mesti tunduk pada supremasi hukum. Meskipun masih jauh dari harapan, penahanan Djoko Susilo sedikit memberi dorongan mental dan moral Abraham Samad untuk lebih bersemangat dalam “berjihad” menjerat para koruptor kelas kakap pada kasus-kasus lain yang lebih besar. 

     Hingga saat ini, KPK telah menetapkan 4 orang tersangka dalam kasus ini, yaitu Djoko Susilo, Didik Purnomo, Budi Susanto, dan Sukotjo Bambang. Tersangka terakhir, yang juga merupakan saksi kunci kasus simulator SIM, telah divonis tetap 3 tahun 10 bulan penjara oleh Mahkamah Agung, setelah sebelumnya, di tingkat Pengadilan Negeri Bandung, divonis lebih ringan, 3 tahun 6 bulan penjara.

     Penahanan Djoko Susilo semoga menjadi momentum untuk Abraham Samad dan KPK untuk berjuang lebih “berdarah-darah” demi mensucikan sejarah. Masih banyak tugas lain lebih besar dari sekadar kasus simulator. Hambalang mengambang, Wisma Atlet, BLBI tersembunyi, dan Century misteri. Sedikit menyegarkan ingatan, setahun silam, tepatnya pada 2 Desember 2011, dalam sebuah wawancara dengan VIVAnews.com, Abraham pernah berjanji, “Kalau tidak berhasil saya selesaikan kasus korupsi dalam 1 tahun, pulanglah saya ke Makassar.

     Bagi “laga akbar” KPK versus korupsi Indonesia, penahanan ini memang belum termasuk kategori “gol indah” yang layak untuk dirayakan. Namun, hari ini Abraham Samad dan KPK setidaknya telah membuktikan diri setingkat lebih “sakti” dari Djoko Susilo, semoga pula termasuk dari Polri. Sebagai bagian dari anak bangsa yang memimpikan negeri ini “tersucikan” dari “setan korupsi” akut di negeri ini, kadang ingin menggugat bukti jihad Abraham Samad. Namun mungkin kita bisa sedikit memberi toleransi kepada Abraham Samad untuk menuntaskan segala “ikrar dan janji.”

      Semoga Abraham Samad, sebagai salah satu dari segelintir manusia pilihan dari 13 elemen ksatria nusantara tetap teguh pada komitmen awal. Bahwa dia telah mewakafkan diri untuk bangsa dan negara untuk memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Jika menemui ajal, maka dia akan mati “syahid” secara terhormat. Terus berjuang Abraham! Terus berjuang KPK! Tunjukkan bahwa kita masih layak menjadi manusia di negara-bangsa Indonesia.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment