Monday, November 19, 2012

Trisula Abraham-Dipo-Dahlan Robek Kebuntuan




13533374441657665290
DIPO ALAM. Sumber photo: www.antaranews.com

     Belitan ekstra kuat tentakel gurita korupsi di nyaris seluruh organ tubuh bumi pertiwi membuat sesak nafas anak negeri. Bangsa ini megap-megap dalam udara pengap, suasana gelap, seakan segala jalan tertutup rapat. Korupsi menjadi penjara bertembok baja yang mengunci mati negara-bangsa untuk bebas merdeka dalam adil sejahtera.

     Kadang Tuhan keterlaluan dan “bercanda” dengan hamba-hamba-Nya. Tak terkecuali dengan manusia Indonesia, tanah surga zamrud khatulistiwa yang “di atas kertas” seharusnya bahagia-sentausa dengan limpahan karunia alam semesta. Namun komoditi ‘setani-iblisi-dajjali’ korupsi telah menjadi hantu zombie abadi, maka “di atas realitas” negeri ini pun menjadi tanah neraka zamrud derita. 

      Di puncak keletihan, buah manis penderitaan kerap baru bisa dipetik. Di ujung putus asa, pertolongan Tuhan kerap baru diturunkan. Pakem klasik drama panjang kehidupan manusia sepanjang sejarah peradaban. Nabi-nabi dan rasul-rasul pengemban tugas langitan, berikut para pewarisnya, para pejuang-mujahid-ksatria, penyelamat umat-bangsa dari kezaliman penguasa. 

    Di sini, di tanah tumpah darah yang selalu penuh dengan darah tertumpah sepanjang sejarah, kita yang tak berdaya menunggu dengan harap-harap cemas “uluran tangan” mukjizat-Nya. Lewat orang-orang pilihan yang telah ditentukan-Nya, di balik misteri yang selalu disembunyikan-Nya, dalam ujian korupsi yang telah diberlakukan-nya berpuluh-puluh tahun, atau mungkin berabad-abad lamanya atas penghuni nusantara.

     Syahdan, 3 di antara 240 juta lebih manusia Indonesia hadir ketika kita sebagai negara-bangsa sedang mengalami “deadlock” kebuntuan jalan operasi besar mengamputasi tentakel gurita korupsi. Mereka adalah “trio gila”, Ketua KPK Araham Samad, Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam. 

    Pembusukan struktural dan kultural di 3 pilar negara, eksekutif, legislatif dan yudikatif, korupsi menjadi tembok baja yang terlalu perkasa untuk dijebol. Siapa yang terjebak di dalamnya, bakal menjadi “bola pingpong” praktik kong kalikong. Pusaran jahiliyyah politik kumuh homo homini lupus terus menggerus idealisme suci politisi-politikus. Siapa masuk ke dalamnya, hampir semuanya terinfeksi virus dan bakteri korupsi.

    Praktis tinggal media massa sebagai pilar ke-4 negara yang masih tersisa. Tak ada jalan lain, hanya rakyat yang bisa menjadi “mitra koalisi” bagi para pejuang anti korupsi. Abraham Samad bersama KPK telah merasakan betapa kokohnya tembok baja korupsi. Sengketa demi sengketa menjadi serial drama di panggung tata negara, dari personel hingga lembaga. Abraham terjepit di percaturan politik bersama KPK di tengah perang politik segitiga, perang urat saraf dengan wakil rakyat di Senayan, hingga pertempuran panjang dalam kisruh similuator dengan lembaga Polri. 

    Abraham yang sudah terlanjur berikrar “jihad memerangi korupsi” tak bisa berbuat banyak. Membentur tembok baja formalitas-legalitas hukum, Abraham pun teriak ke media massa agar rakyat membuka telinga. Beruntung, sebagian besar rakyat Indonesia masih punya akal sehat, bahwa korupsi harus dihancurkan.Koin dukungan pun bergerak menggelombang, sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintah yang bisanya hanya membuat teks berisi perintah-perintah, wakil rakyat yang gemar khianati amanat rakyat, dan kepolisian yang kehilangan “ruh polis (πόλις )” kepentingan negara. 

     Hal sama di alami Dahlan Iskan yang terjebak dalam lingkaran oligarki kekuasaan di negeri kemunafikan. Kebuntuan tembok baja korupsi di kalangan anggota DPR memaksanya “mengadu kepada rakyat” lewat media massa. Daribalik kabinet, Dahlan melemparkan bola panas, pernyataan yang membuat kuping anggota dewan memanas, tentang anggota DPR sebagai “komunitas para pemeras.” BUMN, Badan Usaha Milik Negara, yang nota bene adalah pilar utama ekonomi hak milik rakyat, menjadi pelengkap penderita dari keganasan insting hedonis-kapital wakil rakyat. 

      Lalu kini Dipo Alam, orang kedua di internal kabinet SBY yang melanjutkan perang urat saraf dengan DPR, melengkapi “trio gila” perobek kebuntuan. Dipo melaporkan  dugaan "kongkalikong" antara pejabat kementerian dan oknum anggota DPR ke KPK. Sudah pasti, bola panas menggelinding lumayan deras. Polemik dan pro kontra juga niscaya. Yang pro pastinya rakyat, tokoh-tokoh kalangan pro rakyat dan barisan anti korupsi yang sudah geregetan tingkat tinggi, gerah dan bosan menghadapi benang kusut korupsi yang tak kunjung terurai. 

Tak terkecuali Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Samsuddin yang mengapresiasi dan mengajak Dipo untuk turut membongkar dugaan mafia narkoba di istana. Meski di sisi lain Din juga mengingatkan Dipo agar menyertakan laporan dengan bukti yang cukup agar tidak menjadi fitnah belaka, sekaligus mengingatkan KPK agar tidak melupakan kasus-kasus besar yang masih menumpuk di depan mata. 

Sedang yang kontra terhadap “keberanian” Dipo pun juga bisa ditebak. Sudah pasti anggota DPR yang merasa berulang-ulang mendapat tamparan keras, pedas dan tajam. Dewan yang terhormat, memang seharusnya mendapat perlakuan terhormat, bukan tuduhan dan tudingan memalukan, apalagi dituduh khianat. Tapi apa daya, rekam aksi dan sepak terjang wakil rakyat yang tak pernah lepas dari catatan media massa lebih banyak berisi warta memuakkan perut ketimbang melegakan dada rakyat. 

      Trio Abraham Samad, Dahlan Iskan dan Dipo Alam hanyalah sekelumit dari “permainan unik” Tuhan yang tengah menguji umat-bangsa (yang katanya ber-Tuhan) ini, dalam “game klasik” syahwat-perilaku korupsi manusia Indonesia. Gurita korupsi telah sedemikian rupa ber-evolusi menjadi mutan raksasa beringas bersyahwat buto Batara Kala. Ketika itu, hanya para pejuang-mujahid-ksatria sejati yang mampu menaklukkannya, setidaknya menggelorakan spirit operasi amputasi tentakelnya untuk meminimalisir daya gerak kejahatannya.

      Dan ksatria yang bisa melakukannya mesti mereka yang berkarakter “manusia setengah dewa” bersenjatakan pusaka trisula wedha. Sedikit menengok catatan klasik abad 13, dalam pertengahan bait pasal 159 dari Bait Terakhir Ramalan Jayabaya tertulis:
“…jinejer wolak-waliking zaman-wong nyilih mbalekake-wong utang mbayar-utang nyawa bayar nyawa-utang wirang nyaur wirang…” (…Tanda datangnya perubahan zaman, orang meminjam mengembalikan, orang berhutang membayar, hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu dibayar malu). Sedang simbol trisula weda bermakna “…landhepe triniji suci-bener, jejeg, jujur…” (… tajamnya tritunggal nan suci: benar, lurus, jujur…).

     Tritunggal Abraham, Dahlan dan Dipo semoga menjadi salah satu simbol trio pejuang sebagai trisula yang merobek kebuntuan negeri ini dalam mendobrak tembok baja korupsi. Atau bisa juga sebagai simbol goro-goro (introduksi), isyarat alam, pertanda zaman akan tumbangnya kezaliman lingkar oligarki kekuasaan. Waketum Partai Golkar Priyo Budi Santoso menilai, Indonesia mungkin tengah mengalami masa pancaroba, ditandai banyaknya kemelut yang berlanjut pada konflik masyarakat meski dipicu masalah sepele.

    Tak hanya itu, kegaduhan juga muncul dari pemerintahan yang sering menggosipkan masalah yang tengah terjadi, seperti perseteruan antar menteri, menteri dengan wakil rakyat dan kementerian dibawahnya. Dan kita tak tahu, apakah ini bagian dari pengalihan isu, atau memang saatnya senjakalaning (akhir kehancuran) kepemimpinan Presiden SBY. Yang pasti, sebagai “kejahatan tingkat tinggi,” korupsi mesti dihadapi dengan energi dan strategi tingkat tinggi pula, dan tetu saja, bersenjatakan trisula wedha.

Salam...
El Jeffry 

No comments:

Post a Comment