Wednesday, November 28, 2012

Sanggupkah Garuda Mencabik-Cabik Singa?


1354083471284448891
Bambang Pamungkas (Indonesia) berduel dengan Daniel Bennet (Singapura) di Piala AFF 2008. (sumber photo:http://www.duniasoccer.com)

      Dalam pertarungan hukum rimba di atas lapangan padang rumput, garuda memang lebih berpeluang mengalahkan singa. Cakar-cakar berkekuatan tinggi dalam mencengkeram, paruh tajam bagai pedang, dengan kepakan sayap perkasa menguasai segala sudut arah di udara. Garuda praktis lebih unggul dari singa.

     Tapi cerita akan mungkin berbeda ketika terjadi di hukum sepakbola. Sepakbola adalah pertarungan sportivitas yang melibatkan disiplin ilmu bela diri, sarat adu taktik-teknik-strategi, mental dan kualitas energi. Di atas lapangan hijau, nampaknya “Timnas Garuda” Indonesia harus berhitung ektra keras untuk menaklukkan “Timnas Singa”  The Lions Singapura dalam laga lanjutan penyisihan Grup B Piala AFF 2012.

   Stadium Bukit Jalil, Kualalumpur, Malaysia bakal menjadi saksi, ketika Rabu senja, 28 November 2012 “the real match” akan benar-benar terjadi pertarungan kedua negara lewat kesebelasan sepakbola. “Sang Garuda” yang semakin hari semakin kehilangan keperkasaan dan ketajamannya, butuh “suntikan energi” ekstra tinggi, dengan harapan “hujan keajaiban” untuk bisa menaklukkan “Sang Singa.”

     Banyak faktor yang menjadi pertimbangannya. Pertama, di atas kertas, berdasarkan data peringkat FIFA edisi September 2012, Singapura yang dengan poin 161 jelas 7 tingkat lebih tinggi dari Indonesia dengan poin 168. Kedua, secara mental dan moral, “Tim Merah Putih” yang baru saja mengalami kejatuhan pasca ditahan imbang tim Laos 2-2 dalam pertandingan perdana penyisihan Grup B Ahad kemarin. Padahal, Laos sendiri berada di peringkat yang jauh lebih rendah dengan poin 193.

    Sementara calon lawan berada dalam situasi sebaliknya, tengah berada dalam euforia pasca secara tak terduga sukses menjungkalkan tim juara bertahan Malaysia dengan skor 3-0. Dengan takluknya “Sang Harimau” Malaya, praktis “Sang Singa” untuk sementara terbukti layak menjadi raja rimba Piala AFF Grup B. Bermodal “hitungan matematika” dan kepercayaan diri yang tinggi, tim asuhan pelatih asal Serbia Radojko Avramovic ini bakal menjadi “hantu gentayangan” di lapangan yang menakutkan para ksatria nusantara asuhan Nil Maizar.

    Faktor ketiga, yang memaksa “Garuda” butuh keajaiban untuk bisa menaklukkan “Singa” adalah rekam pertemuan kedua tim. Memang, dalam total 51 kali pertemuan di berbagai kejuaraan, tim merah putih lebih unggul dengan 22 kemenangan, 15 seri dan 17 kekalahan. Namun, dalam 15 tahun terakhir, “Garuda” selalu gagal menaklukkan “Singa.” Bukti shahih dan aktual, bahwa The Lions era sekarang telah tumbuh menjadi kekuatan perkasa sepakbola Asia Tenggara yang di kejuaraan dua tahunan ini siap mengubur mimpi Indonesia.

    Faktor keempat, berbeda dengan Singapura yang sedang berada dalam performa terbaik, kubu Indonesia justru sedang krisis pemain, khususnya lini pertahanan yang menjadi kelemahan vital ketika Bambang Pamungkas cs ini tertahan imbang tim Laos. Dengan absennya kiper utama Endra Prasetya karena menjalani hukuman kartu merah, praktis Indonesia hanya mengandalkan satu-satunya kiper cadangan Wahyu Tri Nugroho. Wahyu pun memikul beban berat dan “haram hukumnya” untuk cidera atau mendapat hukuman serupa.

    Jika tidak, maka gawang “Garuda” akan menjadi sumber petaka, sebab, Nil yang telah meminta izin dari AFF untuk menambah kiper (kemungkinan Syamsidar yang sebelumnya sempat dicoret) belum mendapat jawaban dari AFF. Selain soal kiper, lini pertahanan juga dikhawatirkan berada dalam formasi tidak sempurna. Handi Ramdhan yang sejatinya mengisi barisan belakang bersama Novan Setya, Wahyu Wijiastanto dan Raphael Maitimo, sedang dibekap cidera.

    Nil Maizar sepertinya benar-benar tengah menghadapi situasi yang super rumit untuk berjuang menjaga peluang tim asuhannya untuk tidak masuk kotak terlalu dini. Memperbaiki lini belakang yang rapuh dengan kondisi yang tak mendukung, tak ada pilihan kecuali mempertajam lini depan. Sayangnya, pemain naturalisasi blesteran Belanda yang bermain cukup apik pada pertandingan perdana juga mengalami cidera sehingga masih diragukan untuk turun melawan Sinagpura.

    Lalu, bagaimanakah strategi yang bakal diterapkan oleh Nil untuk memuluskan mission impossible “Garuda” mencabik-cabik “Singa”? Kemungkinan, “Garuda” bakal mengandalkan duet Bambang Pamungkas dan Irfan Bachdim di lini depan untuk merobek-robek lini pertahanan “Singa.” Sementara itu, dengan formasi 4-4-2, lini tengah yang dikomandoi Andik Vermansyah dan Okto Maniani mesti bekerja ekstra di atas ekstra untuk meredam “menggilanya” kekuatan lini tengah lawan.

   Akankah “Garuda” sanggup menyalakan “api kesemangatan” menggelora luar biasa sebagai pelengkap kata keajaiban dalam sepakbola di pertandingan kedua, lalu lalu benar-benar mencabik-cabik “Singa”? Jawabannya tentu saja sore nanti, yang rencananya akan disiarkan RCTI pukul 18.00. “Haram hukumnya” bagi “Garuda” untuk seri, apalagi kalah, karena itu berarti semakin menutup peluang dan bakal membawa Indonesia menjadi pecundang.

    Seperti kata seorang teman, “Meski lapangan itu rata, namun bola itu tetapah bulat.” Di atas rata-rata data statistika dan kalkulasi matematika Indonesia mungkin kalah oleh Singapura. Namun ada 360 derajat kemungkinan dalam lingkaran, bahkan milyaran sudut kemungkinan di antara radial perhitungan. Dengan kebulatan tekad dan semangat menggelora hebat, teori dapat dipatahkan oleh heroisme sejati. Tak ada salahnya mengadopsi filosofi iklan obat masuk angin, bahwa “Orang pintar, kalah sama orang bejo (beruntung).”

     Akan selalu ada keberuntungan dalam sebuah pertarungan, jika dilandasi keyakinan sebagai perjuangan, dan kerap mengalahkan kepintaran teoretis matematis. Maka, tak ada pilihan, para “ksatria sepakbola nusantara” mesti bertarung hidup mati “berdarah-darah” layaknya tak ada pertandingan lagi di esok hari, tak perlu menggantungkan nasib pada hasil pertandingan antara Laos dan Malaysia.

    Di dada para ksatria sepakbola tersemat simbol bangsa dan negara, burung garuda. Ada harga diri, gengsi, kehormatan dan martabat bangsa yang dititipkan oleh lebih dari 240 juta manusia Indonesia. Negara besar mesti menunjukkan dirinya sebagai benar-benar besar dihadapan negara kecil yang luasnya hanya sebatas kota, Singapura. Entah bagaimana caranya, selama berada di atas hukum sportivitas sepakbola, “Garuda” harus bisa mencabik-cabik “Singa!”

Berikut prediksi line up Indonesia dan Singapura yang dirilis oleh republika.co.id:

Indonesia (4-4-2): Wahyu Tri; Novan Setya, Valentino, Wahyu Tanto, Raphael Maitimo; Oktavianus Maniani, Vendri Mofu, Taufik, Andik Vermansyah; Bambang Pamungkas, Irfan Bachdim

Singapura (4-1-3-2): Izwan Mahbud; Irwan Shah, Baharudin, Baihakki Khaizan, Daniel Bennett; Mustafic Fachrudin; Shahdan Sulaiman, Harris Harun, Shi Jiayi; Shahril Ishak, Khairul Amri.

Viva Sepakbola Indonesia...

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment