Friday, November 23, 2012

Pilkada Jabar, Panggung Sandiwara dan Sinema-Politikana



1353655228714151611
DEDDY MIZWAR, RIEKE DYAH PITALOKA DAN DEDE YUSUF. (Sumber photo: www.cumicumi.com)

     Dalam beberapa bulan ke depan, Jawa Barat bakal kembali larut dalam hiruk-pikuk dan gegap gempita “perang bintang” di atas papan “panggung sandiwara” percaturan politik kekuasaan. Parade artis-aktor-aktris yang bereksodus dari “panggung seni” ke panggung politik praktis menciptakan medan magnetis. Tak salah dan tak dosa, disamping karena kesetaraan hak politik yang dijamin oleh negara, kehadiran artis di dunia politis juga diharapkan bisa sedikit mengubah “keangkeran” wajah politik dan penambah dinamika.

     Panggung politik selama ini memang identik dengan intrik-konflik dalam gesekan panas bernuansa buas, ketegangan saraf yang membuat kita cepat tua sebelum waktunya. Mungkin kini saatnya kita sedikit relaksasi dengan mencoba menjadikannya sebagai “panggung hiburan” yang nyata, bukan sekadar parodi cerita basa-basi. Toh selama ini kita yang telah merdeka hampir 70 tahun lamanya juga jengah dan begahdengan gelaran “drama dagelan” kekuasaan.

   Seperti puisi Taufik Ismail dalam lagu “Panggung Sandiwara” yang dicipta bersama Ian Antono dan dipopulerkan oleh artis gaek Ahmad Albar, pilkada Jabar kali ini sangat cocok sebagai pergelaran “Panggung Sandiwara” persembahan teranyar sinema-politikana Indonesia. Dari kelima pasangan yang bakal bertarung, tiga di antaranya diperkuat oleh selebriti seni abad ini. Dipercaya oleh banyak kalangan, 3 seniman ini justru bakal menjadi sentral pertarungan perebutan kursi Jabar1 dan Jabar2.

    Yang pertama adalah aktor muda berbakat Dede Yusuf “Macan Effendi,” (46 tahun), sang wagub petahana yang kali ini maju sebagai cagub berpasangan dengan Lex Laksamana. Lalu aktris Rieke Dyah Pitaloka, kali ini maju sebagai cagub berpasangan dengan tokoh pegiat anti korupsi Teten Masduki. Dan yang terakhir adalah Deddy Mizwar, aktor gaek yang kondang sebagai “Naga Bonar” dan kali ini maju sebagai cawagub mendampingi gubernur petahana Ahmad Heryawan.

    Akankah kehadiran 3 “ahli sandiwara” dalam dunia hiburan di dunia kenyataan, dengan spesifikasi ikon dan citra masing-masing, bisa diharapkan akan membawa perubahan warna dan tekstur dalam kanvas perpolitikan-kekuasaan? Jawabannya, bisa ya, bisa tidak, alias semua penuh kemungkinan. Abaikan partai politik yang berada di belakang ketiganya, mari coba sedikit mengulas kans dan mengupas peluang, siapa di antara ketiganya yang bakal meraih “piala citra” kekuasaan pada pilkada Jabar 2013 mendatang. 

    Kecuali Rieke, di dalam sinema layar lebar dan sinema elektronika (sinetron), Dede dan Deddy memang tampil sebagai sosok protagonis. Dede Yusuf, yang sepanjang kariernya sejak 1987 telah melakoni peran di 12 judul film dan sinetron, hampir identik dengan seorang jagoan, khususnya dalam film “Perwira dan Ksatria.” Apalagi Dede yang sempat populer dengan nama Jojo (peran dalam serial sinetron TVRI 1988 Jendela Rumah Kita) memang “jago” ilmu bela diri pencak silat, kungfu dan taekwondo.

   Namun agaknya “ruh kependekaran” sang aktor di “dunia sandiwara” film tak begitu sempurna ber-“Reinkarnasi” dalam dunia nyata kekuasaan. Beberapa kalangan menilai Dede Yusuf tak berprestasi ketika hampir 5 tahun menjabat sebagai wagub Jabar. Di samping itu, selebriti yang sejak 1994 membintangi 8 produk iklan ini tengah mengalami penurunan elektabilitas di mata publik sejak kepindahannya dari PAN ke Demokrat yang kini mengusungnya.

     Berbeda dengan citra dalam lakon “panggung sandiwara” sinema Dede Yusuf, aktris Rieke Dyah Pitaloka (38 tahun) yang lebih identik dengan tokoh wanita lugu sedikit o’on-pandir sebagai isteri Bajuri, kali ini maju dengan berbekal politik sebagai anggota DPR periode 2009-2014 dari PDI-P. Berbekal intelektualitas pendidikan S2 di jurusan filsafat Universitas Indonesia, Rieke nampak jauh berbeda dengan sosok “Oneng” yang diperankannya.

    Selain berlatar artis dan aktif dalam politik, Rieke juga dikenal sebagai penulis buku, pembawa acara, pemain teater, aktif di kegiatan sosial dengan mendirikan “Yayasan Pitaloka” yang bergerak di bidang santera dan sosial kemasyarakatan.  Sudah 13 sinetron dan 4 judul film yang dibintanginya (yang palingngetop adalah sitkom Bajaj Bajuri dan Laskar Pelangi). Meski masih belum terlalu memuaskan, ada sedikit catatan prestasi politik Rieke di DPR, khususnya dalam memperjuangkan kaum buruh.

     Di DPR pula Rieke gigih memperjuangkan RUU Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS), bersuara lantang agar moratorium Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak diberlakukan, dan getol mendesak pemerintah untuk menghapuskan aturan tentang tenaga kerja “outsourcing” dan upah murah. Di tingkat internasional, Rieke belum lama ini menerima Penghargaan Internasional Young Global Leaders 2011 dari World Economic Forum, karena dinilai sebagai politisi muda dan anggota parlemen yang punya pengaruh di Asia.

    Rieke Dyah Pitaloka menjadi satu-satunya “srikandi” muda yang siap berlaga di “panggung sandiwara” pilkada Jabar. Namun untuk berjaya menjadi jawara di antara 4 pasang ksatria “maskulin” lainnya, Rieke mesti bisa “berakting” lebih kepada heroisme sebagaimana spirit srikandi dalam tokoh protagonis pewayangan Jawa. Citra o’on “Oneng” mesti dilepaskan dari dirinya, karena provinsi berpendudukhampir 50 juta jiwa butuh pemimpin yang benar-benar berkarakter “fighter” bervisi kerakyatan. Bukan type ibu rumah tangga lugu berkapasitas “Jaka Sembung” yang selalu gagal nyambung dengan rakyat.

     Lalu bagaimana dengan Deddy Mizwar? Dalam banyak hal di dunia seni-sinema, aktor yang satu ini memang unggul segalanya. Jauh lebih tua dari Dede dan Rieke dalam usianya yang ke-57, serta prestasi seni yangbejibun menjadikan Deddy sebagai sang maestro dalam urusan “panggung sandiwara.” Ragam peran yang dimainkan dari komedi, polisi hingga religi lewat 38 film sejak 1976, 5 sinetron, 10 produk iklan, segudang penghargaan dalam dunia sinematografi, dan tak hanya sebagai aktor, melainkan sekaligus sebagai sutradara dan produser. Deddy Mizwar dalah simbol ikon loyalitas seorang pekerja seni yang tak tertandingi.

     Aktor yang populer dengan lakon kocak pejuang Batak “Naga Bonar” dan “Bang Jack” dalam sekuel sinetron TV berdurasi terpanjang (sampai 6 tahun: 2007-2012) “Para Pencari Tuhan memang “ahli sandiwara” luar biasa. Jika dunia “panggung sandiwara” yang menjadi ukurannya, bisa dipastikan Deddy bakal berjaya menyisihkan lawan-lawannya. Sayangnya, berangkat dari nol kilometer pengalaman politik menjadikan langkahnya tak mudah. Sinema politikana di “panggung nyata” tak semudah dan seindah sinema elektronika di “panggung sandiwara.”

    Meski begitu, berbekal sebagai pendamping gubernur petahana Ahmad Heryawan dan diusung oleh partai militan PKS, Deddy dimungkinkan bakal menjadi kekuatan yang mengantarkan sang petahana untuk kembali mempertahankan kekuasaan untuk periode ke-2. Dalam beberapa faktor, Deddy Mizwar berpeluang besar untuk berkibar, beralih peran dari peran pura-pura kepada peran wajar, dalam politik kekuasaan sesungguhnya sebagai wakil gubernur Jabar.

    Akhir kata, sebagai “panggung kesenian rakyat” di lapangan terbuka demokrasi, Pilkada Jabar akan menjadi pentas akbar entertaining politik yang seru, syahdu, indah, hingar-bingar dan momentum cukup penting untuk sarana bangsa ini belajar. Tak ada salahnya kita kembali ber-“trial and error” dalam tata dekorasi penyulingan kepemimpinan negeri ini, dengan melibatkan para ahli seni. Toh dunia ini memang “panggung sandiwara” yang ceriteranya mudah berubah sesuai tuntutan masa dan massa.

     Ia selalu berupa perang-laga kebaikan-kejahatan antara Pandawa-Kurawa layaknya kisah Mahabharata. Dan kadang ia juga bisa berupa Tragedi Yunani yang berakhir dengan duka lara. Apa daya kita, sudah konsekuensi dari konsesus bersama demokrasi dalam bertata-negara. Tanggung jawab kita, khususnya 37 juta pemilih warga Jawa Barat, hanya memainkan peran dengan sebaik mungkin agar amanat suara tertitip dengan benar. Dan semoga kita bisa “lulus casting” sebagai pemeran manusia terbaik dalam permainan penuh misteri “panggung sandiwara,” termasuk dalam sinema-politikana Indonesia.

Salam...
El Jeffry 

No comments:

Post a Comment