Saturday, November 24, 2012

Menggugat Bukti Jihad Abraham Samad

1353745931579399363

“...Saya ini semenjak mendaftar menjadi pimpinan KPK, saya sudah berkomitmen untuk mewakafkan diri saya untuk bangsa dan negara untuk memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Jika saya dalam mewakafkan diri saya kemudian menemui ajal, maka saya akan mati secara terhormat.

Kalau tidak berhasil saya selesaikan kasus korupsi dalam 1 tahun, pulanglah saya ke Makasar. Kami digaji oleh negara, ekspektasi masyarakat begitu besar, terus kami tidak bisa menyelesaikan, itu sama saja kita menerima gaji buta...”

       Demikianlah dua paragraf petikan wawancara Abraham Samad hampir setahun silam di Jakarta, tepatnya pada Jumat, 2 Desember 2011. (vivanews.com/2/12/1011). Dua pekan kemudian, pada 16 Desember 2011, DR. Abraham Samad SH. MH resmi dilantik di Istana Negara oleh Presiden SBY sebagai lembaga anti-raswah tertingi di republik ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

      Hari ini, 24 November 2012 adalah bulan ke-11  masa jabatan sang Ketua, atau H-23 menjelang setahun kepemimpinannya di KPK. Masih ada waktu 3 tahun lagi memang jabatan pria kelahiran Makassar 46 tahun silam ini secara resmi berakhir, yakni pada 2015. Namun waktu setahun adalah waktu krusial bagi seorang Abraham Samad untuk mempertanggungjawabkan “ikrar dan janji” yang pernah diucapkan.

      Sebagai seorang yang meyakini bahwa memerangi korupsi adalah sebagian dari jihad, perjuangan ekstra berat yang membutuhkan semangat dan tekad, tentu Abraham Samad yang telah mewakafkan dirinya untuk bangsa dan negara adalah salah satu sosok manusia terhormat. Memerangi korupsi memang tak semudah sulapan abrakadabra, apalagi di negeri yang telah terbelit secara struktural maupun kultural sebagai epidemi dan endemi akut tak terperi.

     Kita juga tidak menafikan keberanian dan “tekad jihad” yang menggelora dari sang ketua KPK, yang tanpa kenal lelah berpayah-payah melakukan berbagai gebrakan, hingga kadang menabrak tradisi dan melabrak tata etika khas nusantara. Namun ikrar tetap ikrar, dan janji tetap janji. Tak seperti striker kelas dunia asal Swedia Zlatan Ibrahimovic yang pada eranya sempat fenomenal sehingga dijuluki “si raja sulap gol-Ibrakadabra,” suka tak suka kita melihat Abraham belum layak membuat prestasi fenomenal di KPK untuk dijuluki “si raja sulap gol-Abrakadabra.”

      Yang masih tercatat jelas di kitab memori rakyat, Abraham pernah berjanji akan menuntaskan grand corruption, kasus-kasus besar, baik dari angka atau nominal, yang nyata-nyata memporak-porandakan struktur ekonomi nasional. Wisma Atlet macet, Hambalang mengambang, BLBI tersembunyi, dan Century masih tetap misteri. KPK di bawah Abraham, semakin hari semakin menunjukkan keciutan nyali, lebih nampak sebagai “macan ompong” yang kehilangan taring dan gigi.

      Tak ada gol indah dengan dijeratnya sutradara koruptor kelas tinggi, karena KPK selama ini hanya sibuk bermain “petak umpet” dengan koruptor kelas teri, dari kalangan spesies cere-semelekethe. Maka kiat belum layak melakukan selebrasi di lapangan terbuka bumi Indonesia. Dalam 4 kasus besar di atas, KPK seakan hanya berputar-putar ngesot di tangga terbawah dari hierarki koruptor, terlalu lamban membuat loncatan, apalagi ke tangga tertinggi, aktor utama dalang sesungguhnya.

      Padahal, dalam banyak hal terbuka pintu yang menganga lebar untuk KPK lebih gesit mengejar para koruptor. Yang disayangkan adalah Abraham tanpa sadar hampir terlalu sering berkoar mengumbar berita gembira kepada media massa. Namun ketika harapan itu berkobar, tiba-tiba dipadamkan begitu saja dengan alasan yang tak terduga.

     Abraham menjadikan KPK sebagai lembaga gerilya . Di pekan awal Agustus 2012, Ketika KPK terjebak dalam kisruh simulator versus Polri, sempat diberitakan bahwa dalam beberapa bulan ke depan, salah seorang menteri aktif bakal jadi tersangka, lalu tiba-tiba berita diralat dalam hitungan hari. Lalu, masih berkait dengan kisruh-simulator, beredar berita bahwa KPK hendak menjerat Irjen Djoko Susilo, figur sentral pemicu kisruh, bahwa sang jenderal akan dijerat di “Jumat keramat”. Namun lagi-lagi publik kembali hanya mendapat angin surga, terbukti di hari Jumat itu Djoko Susilo tetap  lolos dari “Jumat keramat.”

      Teranyar, Abraham kembali membuat kegaduhan politik dengan pernyataan mengenai penanganan kasus bail out Bank Century yang mengarah kepada “warga negara istimewa” wakil presiden Boediono.  Abraham menyebut bisa saja akan ada bukti dan keterangan baru yang memperkuat peranan mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono pada pengucuran dana talangan dalam bentuk FPJP Rp 600 miliar lebih ke Bank Century. Meskipun pernyataan itu kemudian diralat, namun tak pelak, kalangan DPR yang selama ini tengah bersitegang dalam “perang urat saraf” dengan KPK meradang.

       Sebagian kalangan menilai, bahwa Abraham lebih layak menjadi politisi ketimbang sebagai penegak hukum. Kisruh politik dan kisruh hukum mungkin memang menjadi penyebab utama dari berbagai problema bangsa kita. Gagal politik dan gagal hukum yang mengindikasikan tanda-tanda gagal negara hukum. KPK membentur tembok baja kekuasaan yang mengkhianati aras negara. Dan menghadapi lingkar oligarki kekuasaan yang demikian digdaya, KPK hanya seperti sekumpulan cicak melawan buaya raksasa. Maka kita mustahil berharap KPK menjelma menjadi cicak perkasa. Itu hanya utopia.

       Kadang kita yang di luar arena pertarungan, bisa sedikit memaklumi, dan kadang sedikit pula berburuk sangka, bahwa mungkin Abraham mulai diserang “setan keputusasaan” dalam kegagalan bertubi-tubi mengamputasi gurita korupsi di negeri ini. Nyatanya, seperti dikatakan Mahfud MD, pembusukan 3 pilar negara trias politika legislatif-eksekutif-yudikatif telah sedemikian parahnya. Praktis tinggal pilar ke-4 negara yang masih terjaga, yakni media massa. Lalu kepada siapa lagi KPK harus mengadu dan meminta dukungan, kecuali kepada media dan rakyat?

       Dan sejauh ini rakyat pun dengan sebagian kesadaran yang masih tersisa dengan suka rela dan menggelora selalu mendukung KPK, termasuk ketika bersengketa dengan DPR maupun Polri. Dalam beberapa hal upaya penggalangan dukungan dari rakyat dan “koalisi dengan media massa” ini efektif menjaga eksistensi KPK dari upaya rekayasa penggembosan, pelemahan maupun pengebirian sistemik-sistematik.

      Koin saweran gedung KPK, petisi dukung KPK di dunia maya, gelombang unjuk rasa LSM dan para tokoh masyarakat adalah bukti nyata bahwa rakyat masih percaya pada KPK, di dalamnya termasuk kepercayaan pada integritas sang ketua Abraham Samad. Sebagian dari hasilnya, Presiden SBY sempat turun tangan menengahi dan sedikit memberi angin segar kepada KPK, meski lewat pidato bersayap yang rawan penyimpangan tafsir dan masih bisa dipelintir-pelintir. Toh DPR juga akhirnya merestui anggaran gedung baru KPK dengan mencabut tanda bintang darinya.

      Namun kembali kepada komitmen dalam “ikrar dan janji” awal, kita ingin Abraham Samad memberi secuil contoh keteladanan akan pentingnya konsistensi ucapan seorang pimpinan. Bila dalam 1 tahun tidak menyelesaikan kasus korupsi, maka tak ada pilihan bagi seorang Abraham untuk pulang kampung ke Makassar. Kita tak ingin negeri ini kehilangan harkat dan kehormatan ketika sumpah menjadi sampah, ikrar dan janji hanya terbatas di lidah, terlebih bagi pimpinan “lembaga suci” anti-raswah.

       Masih ada 3 pekan ke depan bagi Abraham Samad untuk melunasi hutang ucapan dan membuktikan diri bahwa ia memiliki tekad jihad sejati. Mundur teratur dengan langkah terukur bukanlah suatu kekalahan atau kehinaan. Namun lebih kepada kejantanan khas laki-laki layaknya jiwa ksatria-mujahid-pejuang keadilan. Kecuali, jika waktu yang tersisa dalam hitungan hari bisa dimanfaatkan Abraham untuk membuat “gerakan magic” tak terduga. Secuil mukjizat, setidaknya satu gol indah, kita bisa memberinya kesempatan kedua, dan layak kita menjulukinya dengan gelar “Abraham Sang Abrakadabra.”

Salam...

El Jeffry


2 comments: