Saturday, December 1, 2012

Demi Sejarah Garuda, “Ganyang Malaysia”!


13543436001260913058
HARIMAU MALAYA SIAP BERHADAPAN DENGAN GARUDA. (sumber photo: http://www.hardika.com)

Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia!
Ganjang... Malaysia!
Bulatkan tekad!
Semangat kita badja!
Peluru kita banjak!
Njawa kita banjak!
Bila perlu satoe-satoe!

      Demikian petikan dari pidato bersejarah Bung Karno pada 27 Juli 1963, sebagai reaksi kemurkaan seorang pemimpin negeri yang tak rela kehilangan harga diri karena lambang negara diinjak-injak oleh negeri tetangga, Malaysia. Sebuah gelora anak bangsa yang dengan mengumandangkan Konfrontasi dengan Malaysia . Dan kita mengenangnya sebagai gerakan “Ganyang Malaysia.”

      Cerita bermula, ketika gelombang demonstran anti Indonesia menyerbu gedung di Kuala Lumpur. Mereka merobek-robek foto Presiden Soekarno sambil membawa lambang negara Garuda Pancasila. Di hadapan PM Malaysia Tunku Abdul Rahman, para demonstran memaksanya untuk menginjak-injak “Sang Garuda.”

      Konfrontasi dengan Malaysia pecah tak terhindarkan, memakan 114 korban jiwa di pihak Malaysia dan 590 di pihak Indonesia. Sementara, tercatat 181 korban cidera di pihak Malaysia dan 222 di pihak Indonesia. Skor 1-0 untuk Malaysia, bukan hanya mereka mampu membekap Indonesia dengan lebih banyak korban jiwa dan cidera. Namun juga, Sabah dan Serawak yang menurut Persetujuan Manila seharusnya masuk wilayah NKRI, akhirnya jatuh ke tangan Malaysia.

     Rezim berganti, Pak Harto berdiri, konfrontasi resmi berhenti pada 11 Agustus 1966. Namun konfrontasi tak berhenti cukup sampai di sini. Malaysia paham betul bagaimana karakter santun Indonesia yang lebih suka “mengalah” demi perdamaian. Alhasil, dalam rentang waktu puluhan tahun bertetangga, Malaysia kerap memicu konflik yang merupakan sebuah penghinaan terhadap keperkasaan “Burung Garuda.”

     Bermanuver dalam klaim wilayah atas Ambalat dan Sipadan-Ligitan, Malaysia semakin menunjukkan kegarangan layaknya “Harimau Malaya” di rimba Asia Tenggara. Dari konflik perbatasan wilayah, merembet ke persoalan tenaga kerja, hingga konflik budaya. Akselerasi Malaysia di ranah budaya nusantara terlihat nyata dengan klaim atas lagu “Rasa Sayange” dan “Jali-Jali,” Reog Ponorogo, kain batik dan kain ulos, alat musik angklung, hingga Tari Pendet, Tari Tor-Tor dan Gordang Sambilan.

      Alhasil, Indonesia di mata Malaysia nampak bagai “bocah bongsor autis” yang seenaknya bisa dipermainkan begitu saja oleh “bocah kecil cerdas.” Tanpa ada “perlawanan” sepadan, keperkasaan “sang garuda” seakan telah sirna. Negeri jiran seolah jumawa dengan keberanian klaim-klaim atas hak-hak kenusantaraan Indonesia.

        Kini, 50 tahun setelah peristiwa konfrontasi “Ganyang Malaysia” berlalu, Garuda kembali dihadapkan pada perulangan sejarah. Kali ini, konfrontasi tergelar di atas lapangan sepakbola, dalam laga lanjutan penyisihan Grup B Piala AFF 2012. “Garuda” akan diuji oleh “Harimau Malaya” dalam laga krusial penentu peluang ke semifinal. Laga ini, bagi kedua negara merupakan “laga final” layaknya pertarungan dua ikon perkasa penghuni rimba, harimau dan garuda.

        Kuala Lumpur kembali akan menjadi saksi sejarah, akankah Garuda terhina diinjak-injak sebagaimana terjadi di kota yang sama separuh abad silam. Juga saksi kalahnya Garuda oleh keganasan “Sang Harimau” 2 tahun silam dalam final Piala AFF 2010. Ataukah justru menunjukkan ketajaman cakar dan paruhnya dan membalas “kekalahan” sejarah, mencabik-cabik “Sang Harimau” sebagai simbol keberhasilan misi “Ganyang Malaysia”?

      Tak ada yang tahu pasti. Yang pasti, laga bersejarah bakal “berdarah-darah” akan melengkapi catatan panjang rekam “pertarungan” kedua negara. Dari total 64 pertemuan Sejak “konfrontasi” di lapangan hijau sejak 1957, Garuda masih lebih perkasa dengan 29 kali menang, 15 seri dan 20 kali kalah. Keunggulan sejarah ini mestinya jadi bekal mental dan kepercayaan diri “laskar merah putih” untuk bisa berkibar menjulang tinggi.

       Apalagi, di ajang gelaran piala ini, dari 7 kali pertemuan Indonesia juga masih unggul dengan 4 kali menang dan 3 kali kalah. Dan dalam 10 pertemuan terakhir di 10 tahun terakhir, Indonesia juga masih unggul dengan 4 kali menang, 3 kali seri dan 2 kali kalah. Modal sejarah, bagaimanapun penting artinya bagi mental dan kepercayaan diri para “ksatria Garuda nusantara” untuk bisa menaklukkan kejumawaan Malaysia.

     Memang ada catatan kelam sejarah dengan kekalahan dramatis di laga final Piala AFF 2010 silam, yang mengantarkan Malaysia merebut trofi juara, sekaligus mengubur impian Indonesia untuk mencetak sejarah kali juara untuk kali pertama. Juga kekalahan demi kekalahan dalam konflik wilayah, budaya dan tenaga kerja di hampir setiap konfrontasi dengan Malaysia. Namun semua itu justru mesti ditransformasi menjadi sumber energi dan motivasi Tim Garuda untuk membuktikan keperkasaannya.

      Dan yang lebih menguntungkan bagi Indonesia, Malaysia tengah berada dalam tekanan pasca kalah secara mengejutkan di pertandingan perdana dari Singapura. Meskipun tim asuhan Rajagopal ini akhirnya mampu menumbangkan Laos, dan menempati peringkat 3 klasemen dengan 3 poin, tim Harimau Malaya ini butuh kemenangan untuk tidak tergantung dari hasil pertandingan antara Singapura dan Laos di malam yang sama.

          Indonesia berada di atas angin dengan memuncaki klasemen sementara grup dengan 4 poin  dari hasil imbang 1-1 lawan Laos dan menang 1-0 atas tuan rumah Malaysia. Praktis, hasil seri sudah cukup mengantarkan tim asuhan Nil Maizar ini untuk lolos ke babak semifinal. Namun, demi harga diri dan kehormatan Garuda di mata Malaysia, Indonesia “wajib hukumnya” untuk memenangkan laga. Kemenangan akan menjadi sejarah luar biasa.

        Kemenangan, bukan hanya akan memuluskan jalan meretas mimpi menjadi juara Piala AFF pertama kali, namun juga sebagai “pembalasan dendam atas” pelecehan Malaysia atas Garuda, simbol kehormatan bangsa-negara Indonesia. Kemenangan juga akan berimbas positif bagi peredam kisruh sepakbola nasional yang sampai hari ini didera “cidera konflik” perpecahan organisasi PSSI.

       Maka, tak ada pilihan bagi laskar merah putih (rencananya akan ditayangkan RCTI Sabtu malam nanti pukul 20.45), saat berlaga melawan Malaysia, untuk berjuang “berdarah-darah” demi menuntaskan “dendam sejarah.” Kemarin, secara luar biasa Garuda sukses cabik singa. Dan hari iini, dengan iringan doa dan harapan jutaan rakyat Indonesia, demi tuah sejarah Garuda, hanya ada satu kata, cabik-cabik pula Harimau Malaya! “Ganyang Malaysia”!!!

Salam sepakbola Indonesia...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment