Wednesday, November 21, 2012

Berahi Korupsi dan Orgasme Politik



     Konon, ketika Tuhan hendak memperkenalkan surga kepada manusia, diciptakanlah 3 shoftware dalam jiwa manusia: syahwat, indera dan kemampuan orgasme. Lalu diturunkanlah 3 objek sentral ujian dalam kehidupan dunia, yang oleh kosmologi nusantara diterjemahkan dalam harta, tahta dan wanita, atau dalam bahasa universal terangkum dalam kekayaan-material, politik-kekuasaan dan cinta-seksualitas.

     Perhelatan mega akbar lakon kehidupan marcapada digelar, babak peristiwa mengisi kitab sejarah peradaban lembar demi lembar. Waktu berputar sejak zaman bar-bar hingga peradaban teknologi modern penuh hingar-bingar. Drama sarat dinamika, akting wajib khalifah bumi manusia di bawah alur skenario langitan. Sejak Adam pertama kali “dihukum” ke bumi, berlaku abadi hingga kiamat tiba, ketika alam semesta berakhir masa pakainya.

      Dan 3 objek sentral ujian harta-tahta-wanita (baca:cinta) masih berlaku, pasti dan baku berpola piramida segitiga. Syahwat-hasrat-keinginan yang terkumpul dalam satu ikatan berahi berkolaborasi dengan 3 titik dasar piramida. Indera sebagai media penangkap cita rasa menopang tiang-tiangnya, lalu berpuncak pada satu titik klimaks kepuasan atas seluruh pencapaian, orgasme.

      Indonesia 2012, korupsi menjadi temuan mutakhir dari ragam analisis dan teori yang disepakati sebagai salah satu dari extraordinary crime, kejahatan luar biasa dengan daya rusak luar biasa bagi bangunan kesehatan tata negara. Korupsi menjadi endemi tingkat tinggi, dengan virus, bakteri, kuman yang merusak sendi-sendi kehidupan negeri.

     Pada dasar piramida segitiga, korupsi yang semula hanya berkutat dari syahwat harta-kekayaan materi, kini telah berekspansi ke area tahta-kekuasaan-politik, sementara syahwat cinta-seksualitas-perkelaminan menjadi lem perekat sindikat di antara ketiganya. Berahi korupsi massal nasional, trans genetik-lintas gender, medan perselingkuhan nir-keadaban norma kemanusiaan, pendurhakaan nyata nilai-nilai sakral ketuhanan.

     Celakanya, kini demokrasi diperalat sebagai kuda tunggangan para pencari dan pencuri kekuasaan. Percaturan politik sarat intrik dan konflik, mayoritas aktor yang berkecimpung di dalamnya seolah tak peduli harus berlumur nista. Syahwat berkuasa terlampau deras menggelora, tak ayal ruang suci tata negara disihir menjadi istana kaca dunia maya. Semakin pudar sentuhan adab, moral, norma, etika dan tata krama khazanah mulia khas nusantara.

      Para pelaku politik, politisi, politikus, elit profesional maupun publik amatiran, larut dalam emulsi hitam kegilaan kekuasaan. Permainan perebutan kekuasaan telah menciderai fitrah politik yang sejatinya suci luhur. Tak beda dengan perkelaminan, politik telah berlumur lumpur nista pemenuhan syahwat tahta-kekuasaan semata. Obsesi utama para maniak politik berinsting primordial-primata, mencari dan mengejar klimaks kenikmatan, orgasme.

      Pengkhianatan aras res-publica membawa politik dikuasai-menguasai berahi korupsi. Maka republik abai pada spirit kemerdekaan proklamasi, pembunuhan struktural dan kultural suara kepentingan umum-publik-rakyat. Hukum yang secara substansi disepakati sebagai dasar bangunan negara-bangsa berdasarkan konstitusi, justru teksnya dijauhkan dari filosofi salus papuli suprema lex, bahwa kemaslahatan rakyat adalah hukum tertinggi.

     Lengkaplah sudah pendurhakaan demos-cratein-demos-cratos, amblaslah kedaulatan rakyat, dengan kerusakan sporadis berlipat-lipat ketimbang kejahatan kolonialisme Eropa di masa silam. Demokrasi kamuflase, republik imitasi, politik banal nan binal dengan kontestasi partai-partai abal-abal bercorak kanibal. Selama 57 tahun NKRI terlena dalam pesta demokrasi budaya extravaganza, larut dalam euforia negara merdeka, pemilu dalam 3 rezim, sekali di era orde lama pada 1955, 6 kali di era orde baru, dan 3 kali di era orde reformasi.

      Apa lacur, triliunan harta negara seakan terbuang sia-sia. Bukan adil sejahtera berkemanusiaan seperti diamanatkan Pancasila, justru kesenjangan antara si miskin dan si kaya yang semakin lebar menganga. Bangsa ini nyaris bisa dikatakan gagal mental, gagal moral atau gegar otak, sehingga kehilangan akal sehat. Orgasme politik kebablasan telah menggerus kesadaran bertata negara, obsesi pada kenikmatan-kesenangan-kepuasan persebadanan kekuasaan telah menon-aktifkan akal sehat pengemban amanat kepemimpinan.

     Berahi korupsi semakin hari semakin menggelora di dada para pencari kekuasaan, lewat pileg, pilpres, pilkada hingga pilkades. Uang menjadi nilai tukar yang di“absah”kan dalam perburuan suara rakyat. Sayangnya, pemimpin dan rakyat juga merupakan sebuah pertalian erat, berakad atau tanpa akad. Omne vivum ex ovo, telur berasal dari ayam. Di saat yang sama, ayam juga bermula dari telur yang menetas. Telur dan ayam berada dalam satu siklus yang tak jelas siapa yang menjadi kausa pertama, keduanya terjebak dalam lingkaran setan tak berujung tak berpangkal.

     Pemimpin dan rakyat tak ubahnya sebagai simbiosis mutualis antara maskulin-feminin yang saling membutuhkan untuk proses bersatu-kawin. Pemimpin sebagai pria, dan rakyat sebagai wanitanya. Hubungan “persebadanan” seharusnya sakral dan indah jika dan hanya jika dilangsungkan di atas kaidah hukum, norma etika adab susila. Ia pun akan menghasilkan orgasme di antara keduanya yang membawa kebaikan bersama. Pemimpin nikmat, rakyat nikmat, keduanya senang dan menang dalam kebersamaan, terbentuklah kehidupan keluarga bangsa harmonis penuh berkah tak habis-habis.

     Namun realitanya, hubungan “persebadanan” yang membudaya telah banyak melanggar segala kaidah di atas, menggilas negeri ini tanpa henti. Berahi korupsi yang kian hari kian mengganas karena hanya mengejar orgasme politik semata, membentuk jiwa-jiwa buas yang nggragas tanpa kenal batas puas. Bukan hanya “persebadanan” ala binatang dengan kemesuman-zina-perselingkuhan yang merusak tatanan hubungan sakral pemimpin-rakyat dalam keluarga negara-bangsa. Namun juga pelecehan, pencabulan, hingga pemerkosaan maskulin-pemimpin atas feminin-rakyat.

     Ledakan berahi korupsi yang tak terbendung, menjerumuskan kaum penguasa durhaka, seakan mereka memperkosa tubuh suci ibu pertiwi. Kenikmatan-kesenangan-kepuasan setan-iblis-dajjal yang bakal berbuah karma petaka. Manuver dan strategi politik serigala homo homini lupus berebut tahta hanya demi orgasme politik semata, hanya akan melahirkan generasi “haram jadah” anak bangsa tanpa kehormatan, keluarga “broken home” tanpa keindahan-keharmonisan, dan “penyakit kelamin” politik yang menyiksa di sekujur badan sepanjang zaman.

     Pada saatnya nanti, ketika hukum telah ditegakkan, para pemimpin-penguasa yang diperbudak berahi korupsi dan berlumur dosa dalam lumpur nista “perselingkuhan, zina dan pemerkosaan politik” mesti siap menghadapi eksekusi sumpah ibu pertiwi. Bisa dihukum kebiri sebagai kasim hingga tak sanggup merasakan nikmatnya orgasme lagi. Atau menjalani penebusan dosa dengan digelandang sepanjang jalan Indonesia Raya dengan tubuh telanjang penuh kehinaan. Dan pada klimaksnya, meregang nyawa merasakan pedihnya azab lemparan batu pengadilan rakyat dalam hukum rajam.

Salam...
El Jeffry

2 comments:

  1. semoga yang korupsi dan melakukan tindak kejahatan lainnya,segera bertobat ya pak,agar tidak tertimpa musibah atau azab yang pedih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamien bung darmanto...
      mari bertobat bersama, semoga tidak terlambat.
      Salam Pembaharuan... :)

      Delete