Sunday, November 25, 2012

Piala AFF: Lawan Laos Saja “Keok,” Apalagi Juara?


1353856839707182945
BAMBANG PAMUNGKAS: dalam pertandingan perdana piala AFF 2012 di Stadion Bukit Jalil, Kualalumpur, Malaysia, Ahad, 15/11/2012. (sumber photo: http://lipsus.kompas.com/aff2012)



     Indonesia nampaknya benar-benar tengah mengalami "kiamat sepakbola." Fakir gengsi, miskin prestasi, “Tim Garuda” yang pada eranya sempat menjadi macan Asia, kini tak lebih dari “macan ompong” tua yang lunglai tak berdaya. Jangankan berjaya di pentas dunia, di kawasan Asia saja kini “tim merah-putih” sudah tak dipandang sebelah mata oleh negara-negara tetangga.

     Indikasi "kiamat sepakbola" nusantara ini setidaknya terlihat pada pertandingan perdana penyisihan grup B Piala AFF melawan Laos Ahad sore beberapa jam lalu. Dengan materi yang “bertabur bintang” lokal dan beberapa pemain internasional yang telah dinaturalisasi, tim besutan Nil Maizar datang ke stadion Bukit Jalil dengan semangat tinggi.

    Namun petaka datang tiba-tiba. Baru 27 menit pertandingan dimulai di babak pertama, penjaga gawang Endra Prasetya mesti diganjar kartu merah karena pelanggaran keras. Kiper cadangan Wahyu Tri masuk, Okto Manianni ditarik keluar. Penalti sukses dieksekusi Khampheng Sayavutthi, Laos pun unggul dalam skor maupun dalam jumlah pemain. Skor 1-0 dan pemain 11-10 untuk Laos. Sebenarnya “tim merah putih” masih beruntung dengan dikartu merahnya pula pemain Laos Sophia Saysana akibat melanggar keras Andik Vermansyah pada menit ke-33.

     Namun keberuntungan ini gagal dimaksimalkan oleh laskar "Ksatria Garuda Nusantara."  Rapuhnya barisan pertahanan, monoton dalam serangan, koordinasi yang tak rapi, dan olah kaki yang jauh dari “sentuhan kelas tinggi.” Praktis, dalam banyak hal, permainan tim yang dikapteni pemain veteran Bambang Pamungkas tetap kalah kelas di hampir sepanjang babak pertama. Laos, yang di atas kertas seharusnya menjadi “lumbung gol” justru mendominasi permainan dengan derasnya arus serangan.

    Indonesia bernafas lega dan semangat untuk meraih kemenangan dengan gol Raphael Maitimo menjelang babak pertama usai. Skor imbang 1-1. Namun, memasuki babak kedua, petaka kembali datang, Wahyu Tri terpaksa memungut bola dari gawang sendiri untuk kedua kali ketika tendangan kaki pemain Laos Keoviengpheth 10 menit menjelang bubaran gagal dicegah. Lagi-lagi "dewi fortuna" masih memihak Garuda. Pada menit ke-90 Indonesia terhindar dari petaka memalukan ketika Vendy Mofu yang masuk menggantikan sang kapten Bepe berhasil menjebol gawang laos.

     Hingga peluit disemprit oleh sang wasit, skor imbang 2-2. “Hukuman” yang pantas buat Indonesia. Bukan hanya karena permainan lawan yang hebat, tapi lebih karena permainan “Tim Garuda” yang jauh dari harapan. Hasil imbang melawan tim yang seharusnya "wajib hukumnya" untuk ditaklukkan, sama saja artinya Indonesia "keok" dari tim Laos.

    Alhasil, posisi Indonesia seakan menghadapi pintu neraka, mengingat dua lawan berikutnya, yakni Singapura dan Malaysia, di atas kertas jauh lebih berat ketimbang Laos.  Dijadwalkan, tim Garuda akan bertemu dengan Singapura pada Rabu, 28/11/2012, lalu pekan depan bertemu dengan juara bertahan Malaysia pada Sabtu, 1/12/2012.

     Memang terlalu dini untuk mengatakan bahwa Indonesia mustahil menjadi juara. Karena bola itu bulat, bukan kotak atau segitiga, sehingga segala sudut kemungkinan akan selalu terbuka. Tapi untuk menjadi juara di Piala AFF, sepertinya kita mesti lebih realistis untuk tidak berharap terlalu optimis. Apalagi jika mengingat persepakbolaan tanah air yang senantiasa gonjang-ganjing terjebak dalam polemik, intrik dan konflik berbagai kepentingan olah raga, bisnis dan politik.

   Akhirnya, tinggal kita tunggu saja hasil selanjutnya. Dengan meminjam loyalitas Kumbakarna ketika terjebak dalam "perang cinta" antara saudaranya Rahwana dengan Rama, “Right or wrong is my country,” kita selayaknya tetap mendukung Timnas Garuda. Bukan benar atau salah adalah negeriku, tapi loyalitas dengan spirit sportivitas, “Baik atau buruk adalah sepakbola negeriku.” 

     Selalu ada hikmah di balik bencana. Semoga masih ada keajaiban bagi sepakbola Indonesia. Jika “Tim Garuda” berhasil memetik pelajaran berharga dari sebuah petaka “keok” dari Laos, maka ia bisa saja berubah kekuatan luar biasa yang bisa membalikkan hitung-hitungan matematika. Tak ada salahnya untuk bermimpi, apalagi hanya sekadar dalam ranah olahraga seperti sepakbola. Mari bermimpi di Piala AFF 2012 ini, bahwa Indonesia bakal menjadi juara.

Viva sepakbola...

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment