Friday, November 30, 2012

Sepak Bola: Antara Olahraga, Berhala dan Agama




      Tuhan tak pernah kehabisan kreativitas dalam dalam mengolah peradaban si planet bundar bola bumi. Dan Tuhan juga tak pernah kehabisan inovasi dalam menghidupkan dinamika peradaban dunia. Dan Tuhan juga tak pernah kehabisan cara untuk “bercanda” dengan hamba-hambanya.

      Ketika kreativitas, inovasi dan candaan Tuhan disatukan, terciptalah sebuah “permainan maha unik” yang pernah ada dalam sejarah kehidupan manusia. Sepak bola, sebagian menyebutnya sebagai bola sepak, football atau soccer. Sebuah benda berbentuk bundar-atau lebih tepatnya bulat-berbungkus kulit yang akrab disebut bola.

      Beberapa orang saling berhadapan bertanding dalam kesebelasan. Di atas tanah lapang, dua gawang saling berseberangan, dengan seorang hakim-pengadil yang memimpin permainan, sang wasit. Format dibuat, organisasi dan lembaga dibentuk, peraturan diciptakan, hukum diberlakukan. Seiring perjalanan sejarah peradaban manusia selama konon sejak ribuan tahun silam hingga hari ini, sepakbola ber-evolusi, berinovasi sepanjang zaman.

      Dari sekadar permainan yang telah diilhamkan oleh Tuhan Sang Kreator Sejati, sepak bola di era terkini telah berubah menjadi sebuah industri. Melibatkan banyak manusia di hampir seluruh dunia, ragam profesi, ragam kepentingan, ragam bahasa, budaya, komunitas, agama dan negara. Sepak bola menjadi maha arena lintas batas dunia.

       Sepak bola, sebagai salah cabang olahraga, pada dasarnya bermain atas kaidah olahraga. Olahraga dibutuhkan manusia untuk menjaga kesehatan raga, meskipun, dalam perkembangannya sepakbola lebih dari sekadar olahraga. Ia bercabang-cabang menjadi ajang seni hiburan (entertainment), pelepasan beban kepenatan (refreshing), pembuktian kekuatan dan kedigdayaan sebuah komunitas (tournament).

       Terciptalah berbagai ajang kejuaraan (turnamen), dari tingkat RT-RW, desa-kelurahan, antar provinsi, antar negara, kawasan hingga antar benua. Seperti bulatnya bola, sepak bola menyebar bulat merata di seluruh permukaan bola dunia. Sepak bola kini telah mendunia.

      Sebagai industri, sepak bola adalah magnet luar biasa bagi pelaku niaga. Klub-klub profesional bertebaran. Di Eropa, tempat lahirnya sejarah sepak bola, klub-klub raksasa tumbuh sebagai industri yang menyedot eksodus para milyarder dan pemain-pemain besar dunia untuk mengadu nasib mendulang pundi-pundi harta. Gegap gempita sepak bola berimbas lebih luas ke ranah sosial budaya, politik hingga menyeruak ke dalam urusan rumah tangga negara.

       Sepakbola, pusaran beliung raksasa menggulung segala kepentingan manusia, pergulatan nilai-nilai hukum hingga politik-kekuasaan. Tiada medan magnetik berdaya tarik luar biasa selain sepak bola. Tua-muda, pria-wanita, awam-intelek, desa-kota, badui-modern, atheis-beragama, semua mata tak berdaya dan tersedot oleh pesonanya.

      Sepak bola, dari olahraga kini bermutasi menjadi berhala. Para pecandu, penggila, hingga supporter fanatik football-holic bernama hooligans, menjadikan sepak bola sebagai Tuhan lapangan, hingga tak sadar Tuhan sebenarnya terkesampingkan. Lihatlah jika orang sudah mulai keranjingan “setan bola-mania” ketika tergelar sebuah ajang turnamen antar negara berkelas dunia.

      Tak peduli pemain, official, penonton, yang menyaksikan pertandingan secara langsung maupun di layar teve, termasuk siaran tunda, hingga pendukung yang kadang belum tentu menghadirkan wakil negara untuk turut serta. Semua urusan sejenak terlupa, hingga kadang lupa waktu shalat, kebaktian di gereja, ibadah di pura, atau wihara untuk memenuhi panggilan Tuhannya.

     Sepak bola, pada akhirnya berposisi sebagai “tuhan pertama,” Tuhan (yang justru menciptakan inspirasi permainan) tergeser menjadi “tuhan kedua,” atau lebih parah, dilupakan begitu saja. Namun anehnya, dan manusia memang aneh, dalam memberhalakan sepak bola, manusia masih tetap saja membutuhkan Tuhan untuk “turun tangan” ke lapangan.

         Entah itu pertandingan amatiran sekelas turnamen antar RT di acara tujuh belasan, atau pertandingan internasional seperti Piala AFF 2012 yang tengah berlangsung saat ini, hampir semua para penyembah "berhala" sepak bola tak lupa berdoa, mengharap Tuhan berpihak pada kubunya. Unik, ketika kedua kesebelasan bertanding, ke kubu mana Tuhan akan berpihak, sebab kedua-duanya sama-sama meminta Tuhannya untuk memenangkan timya?

      Lihatlah pula ketika sebuah gol tercipta. Selebrasi ritual agama kerap dirayakan oleh pencetak gol, sujud syukur misalnya. "Berhala" sepak bola juga terlihat dengan berbagai klenis-mistis yang kental merasuk dalam “dunia sepakbola,” termasuk Indonesia. Dukun, pawang, peramal dan paranormal turut dilibatkan. Konon, demi kemenangan, apapun harus dilakukan, bahkan meski dengan diving “cara-cara setan.“

Para dhedhemit, genderuwokuntilanak hingga kuntilemak dan beberapa jenis jin pun konon laris kontrak. Menjadi tim bayangan yang tak terlihat oleh mata kepala, namun kehadirannya kerap diyakini ada di lapangan sepak bola (percaya tidak percaya, hanya orang berilmu tinggi yang bisa melihatnya, nah lho). Makanya, jangan heran jika kadang ada hal-hal aneh yang tak bisa diterima oleh logika pertandingan sepakbola.

         Namun begitu, sepak bola juga boleh dikatakan sebagai agama, bahkan “lebih baik” dari pada agama. Dalam dunia persepakbolaan dunia, hampir semua manusia patuh dan taat pada sebuah hukum. FIFA yang menjadi lembaga tertinggi federasi sepakbola di seluruh dunia, seakan mendapat amanat risalah dari Tuhan. FIFA mampu membuat semua manusia di seluruh dunia, dari segala agama (bahkan termasuk yang tak beragama) takluk di bawah satu peraturan.

      Lihatlah pula bagaimana klub-klub besar di Eropa mampu menyatukan para pemain berbeda-beda agama untuk bersatu-padu demi tim, tanpa menghiraukan apakah ia muslim, kristen, yahudi, budha, konghucu atau atheis. Semua guyub-rukun holopis kuntul baris dalam ukhuwwah-persatuan solid atas nama kesebelasan. Lihatlah pula bagaimana dalam setiap pergelaran resmi FIFA, selalu menggemakan nilai-nilai universal kemanusiaan, pertandingan amal untuk bantuan bencana, semangat sportivitas “fairplay,” propaganda anti rasialis dan spirit perdamaian.

         Lihatlah pula bagaimana tradisi nilai-nilai ditanamkan dalam setiap pertandingan. Saling memaafkan dengan bersalaman ketika berbuat “dosa” kesalahan melanggar lawan, membuang bola ketika lawan tengah tak berdaya karena ada salah satu pemain yang cidera, bertukar cindera mata, juga saling bersalaman antara kedua kubu, pra dan pasca kedua tim berlaga.

          Supremasi hukum FIFA benar-benar perkasa di dunia sepakbola. Hukuman keras pada tindak rasialis, skandal permainan, pengaturan skor, dan berbagai rekayasa. Sanksi tegas bagi perusak semangat “fair play” bermain sehat bermartabat, merupakan aktualisasi nyata dari fitrah hukum dan nilai-nilai agama.

       Sepak bola, dengan ritual 4 tahunan perhelatan Piala Dunia sebagai puncaknya, nyatanya telah mampu menyatukan manusia untuk sejenak melupakan perbedaan agama. Untuk sepakbola manusia relatif bersepakat dalam satu kata.

        Ketika dunia di sepanjang sejarah peradaban manusia tak kunjung reda dari pertikaian, peperangan dan permusuhan yang dipicu oleh perbedaan agama. sepakbola hadir sebagai “agama alternatif,” sarana pembauran-rekonsiliasi-toleransi terbaik di dunia. Mungkin, memang itulah cara Tuhan  dengan ke-Maha Kreatif-Inovatif-Canda-Nya mengajarkan manusia untuk memahami agama dengan benar, lewat sepakbola.

   Sebagaimana olahraga menyehatkan badan manusia, sepak bola juga mestinya menyehatkan peradaban dunia. Meskipun kadang menyeret manusia untuk memberhalakan sepak bola dengan kegembiraan, hiburan canda-tawa dan kegilaan luar biasa, namun sepak bola terbukti menyatukan ragam perbedaan manusia dari berbagai belahan dunia, termasuk perbedaan agama. Maka, bolehkah kiranya jika dikatakan, bahwa sepakbola adalah “agama” di atas segala agama?

Salam...
El Jeffry

Sumber photo: achiles-punyablog.blogspot.com

Thursday, November 29, 2012

Spirit Gol Andik bagi Perjuangan KPK


13541821421616151313
ANDIK DAN ABRAHAM. (sumber photo: http://indonesiarayanews.com dan www.abrahamsamad.com)


     Gol indah nan spektakuler Andik Vermansyah mengguncang media massa pertengahan pekan ini. Sebuah gol bersejarah, fenomenal dan monumental di laga krusial Piala AFF 2012 kala kontra Singapura. Sebuah gol semata wayang pengantar Indonesia kepada kemenangan. Sebuah gol yang menjawab segala keraguan publik “penggila” olah raga si kulit bundar. Sebuah gol penumbuh kesadaran akan pentingnya harapan, di puncak keputusasaan kita akan kebangkitan sepakbola nasional.

     Apa arti sebuah gol? Sebuah gol bukan hanya soal menendang bola dengan sekuat tenaga ke gawang lawan untuk menggetarkan jala. Sebuah gol bukan hanya teriakan gembira dan ritual selebrasi sebagai ledakan orgasme emosi. Sebuah gol bukan hanya ekspresi kedigdayaan akan keberhasilan menaklukkan lawan. Sebuah gol tak berarti apa-apa sebelum ia lahir di tempat dalam situasi yang tepat.

      Dalam sepakbola, di mana kebersamaan menjadi dasar kokohnya bangunan kekuatan, di mana perhelatan berbagai kejuaraan digelar untuk menjadi yang terbaik, sebuah gol akan menjadi cerita yang melahirkan jutaan berita di media massa. Dari media inilah manusia di hampir seluruh dunia mendapatkan pelajaran maha berharga, sebab gol dalam sepakbola adalah pucuk dari rangkaian pohon peristiwa, ujung dari jalan panjang perjuangan manusia. 

     Gol “AV10” di menit ke-87 di atas lapangan hijau Stadium Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia di hari Rabu bukanlah gol biasa. Dan kemenangan tim asuhan Nil Maizar ini ibarat oase di tengah sahara. Gol kerinduan publik sepakbola Indonesia pada prestasi Garuda di pentas dunia, yang dalam tahun-tahun terakhir ini terjerembab di titik nadir. Fakir prestasi, miskin gengsi, paceklik trofi, kekalahan dan kegagalan berkepanjangan tanpa tanda-tanda kebangkitan, apalagi kemajuan.

     Wajar, publik pun terombang-ambing dalam dualitas perasaan dan keyakinan. Benci tapi rindu. Cinta sekaligus dendam. Suka dan tak suka bercampur-baur dalam dada. Maka sebagian dari kita hilang kendali dalam menyikapi arti sportivitas olah raga dalam sepakbola. Berpecah-belah, gontok-gontokan dan saling jegal. Sepakbola nasional menjadi sentral polemik, intrik dan konflik, kadang berbaur pula dengan aroma pertarungan bisnis dan politik.

      Gol Andik dan kemenangan timnas, meski untuk sementara, menjawab keraguan publik yang sempat memandang rendah perjuangan Garuda meretas mimpi untuk menunjukkan prestasi lolos ke semifinal, atau bahkan bila perlu mencetak sejarah pertama merasakan nikmatnya berkasta juara Asia Tenggara. Gol Andik membuka mata kita, yang selama ini lebih memberhalakan kertas baca kalkulasi matematika. Bahwa dalam sepakbola segala kemungkinan selalu terbuka. Selalu ada kejutan dan hal-hal tak terduga terjadi di atas lapangan rumput sepakbola.

      Gol tunggal Garuda sekadar gol biasa, bahkan ketika ia berada dalam dunia olah raga. Gol adalah simbol dari persatuan seluruh personel yang terlibat di dalamnya. Pemain, pelatih, pendukung, semua saling mengisi dan bersinergi. Pengetahuan, teknologi, taktik-teknik-strategi, fisik-mental-moral, spiritualitas dan sportivitas, kekuatan, kecepatan dan keahlian, loyalitas-kesetiaan dan dedikasi-pengabdian, tekad, semangat dan harapan. Semua berkolaborasi dalam satu kesatuan badan kesebelasan. 

     Sebuah gol adalah muara dari ribuan kilometer alur dan arus perjuangan, tujuan akhir dari sebuah niat, itikad, keinginan dan hasrat. Di atas mekanisme hukum tetap yang telah disepakati, kaidah-kaidah peraturan yang mesti dijunjung tinggi. Sebuah gol, entah pada akhirnya membuahkan kemenangan atau tidak, tetaplah sebuah bukti shahih yang maha berharga bagi setiap manusia. Di manapun ia, kapanpun, bagaimanapun, berapapun, kecuali bunuh diri, gol akan selalu indah bagi penciptanya, penonton, pendukung atau pemrakarsa sang sutradara yang kadang harus terpaksa berdiri di luar arena. 

      Sepakbola juga bukan sekadar olah raga, sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk kesehatan raganya. Sepakbola adalah ruh, spirit, hukum, simbol, bahkan agama. Spiritualitas dan sportivitas adalah senyawa utama dari olah raga. Ibarat unsur hidrogen dan oksigen yang bersenyawa membentuk air, kebutuhan dasar manusia di seluruh dunia. Spiritualitas dan sportivitas bergerak lintas batas. Tak hanya di arena olah raga, namun juga politik, hukum, sosial-budaya. Sebab tanpanya komunitas manusia tak berbeda dengan sekumpulan penghuni rimba.

       Gol tunggal indah Andik Vermansyah semoga menjadi pelajaran sejarah. Di tanah air ini, tempat berhuni lebih dari 240 juta yang sebagian besarnya akrab dengan sepakbola, kita tengah terkurung dalam jeruji besi gurita korupsi yang membelit akstra kuat di seluruh lini. Ranah hukum, politik, dan sosial-budaya nusantara telah mencapai titik nadir dalam sejarah peradaban nusantara. Sayangnya, kita hanya bisa berharap dari satu-satunya lembaga KPK untuk lolos dari lubang jarum korupsi. Dan sayangnya lagi, sudah sekitar satu dasa warsa KPK hadir di tengah kita, belitan gurita korupsi tak kunjung mengendur, justru semakin perkasa.

      Hingga penghujung tahun 2012 hari ini, bahkan pimpinan KPK terbaru Abraham Samad yang kita gadang-gadang bakal mencetak sejarah baru pemberantasan korupsi di Indonesia, masih belum saja menunjukkan hasil yang melegakan dada. Pemberantasan korupsi seakan hanya merangkak beringsut, kalau tidak dikatakan jalan di tempat. Padahal, ketika hendak memanggul amanat berat memimpin KPK, sang ketua telah mengikrarkan tekad jihad, mewakafkan diri demi bangsa dan negara. 

      Abraham juga berucap janji untuk menuntaskan kasus-kasus besar korupsi dalam setahun masa jabatannya, jika tidak, maka pulang kampung ke Makassar adalah lebih baik baginya daripada makan gaji buta. Namun sayangnya, sampai hari ini, di mana waktu yang dijanjikan tinggal hitungan hari, tak satupun kasus besar terbukti dituntaskan. Kasus Hambalang, Wisma Atlet, BLBI, dan yang tengah mencuat di akhir-akhir ini, kasus Century semuanya masih gelap dan penuh misteri. KPK tak berdaya menjerat para sutradara, hanya berkutat pada aktor-aktor figuran dan pembantu semata. 

     Memang banyak hal yang menjadi penyebab kegagalan KPK dalam menuntaskan “misi suci”-nya. Sebagaimana kegagalan PSSI sebagai lembaga tertinggi sepakbola nasional, KPK juga terhimpit dalam arena polemik, intrik dan konflik yang melibatkan bisnis, hukum dan politik. Maka nasib KPK setali tiga uang dengan nasib sepakbola Indonesia, fakir prestasi, miskin gengsi, paceklik trofi. Publik resah gelisah harap-harap cemas, benci tapi rindu, cinta sekaligus dendam, campur aduk antara rasa geram dan delora dukungan. 

     Dalam kebuntuan, pesimisme dan ujung keputusaasaan kita, Abraham bersama KPK semestinya bisa mengambil simbol energi spirit gol Andik bersama Garuda. Kita memang rindu kemenangan KPK atas para koruptor musuh bebuyutan negara. Namun, melihat realita, kita juga tak menuntut terlalu tinggi agar KPK menjadi juara dengan tuntasnya korupsi secara sempurna. Kita hanya butuh satu bukti, sebuah gol, bahkan tak perlu indah, dengan terkuaknya satu kasus besar. 

      Lupakan masa lalu, tataplah masa depan. Abraham mesti cerdas dalam mentransfer energi spiritualitas dan sportivitas sepakbola ke dalam lembaga KPK. Sebuah gol akan menjawab keraguan kita akan ketumpulan KPK, entah karena upaya rekayasa pelemahan dan pengebirian yang sulit dibuktikan. Sebuah gol juga akan menghindarkan kita dari keputusasaan oleh kegagalan demi kegagalan KPK yang selalu saja secara diplomatis bisa dijawab oleh Abraham. 

     Sebuah gol yang lahir di tempat dan situasi yang tepat, akan membuka harapan baru bagi barisan pendukung anti korupsi untuk lebih bersatu menghimpun kekuatan. Gol indah KPK oleh Abraham, seperti gol Garuda oleh Andik, di masa injury time, H-17 babak setahun kepemimpinan sang ketua. Gol tunggal yang akan menjadi gol bersejarah, fenomenal dan monumental bagi kebangkitan moral dan mental bangsa ini dalam laga panjang pemberantasan korupsi.

Viva sepakbola Indonesia, viva KPK...

Salam...
El Jeffry

Gus Dur, Gusmao dan Guus Hiddink





Nama ketiga tokoh dunia ini, kebetulan berawalan sama, sama-sama Gus. 
Tokoh pertama adalah Gus Dur.

Gus Dur adalah tokoh besar Islam kaum Nahdliyin yang perjuangannya telah melintas batas wilayah negara, agama dan dunia. 

Gus Dur adalah kombinasi dari seorang budayawan, pembela HAM, pembela kaum minoritas,  pemikir Islam, ulama, sekaligus politikus-negarawan.
Gus Dur kini telah tiada. Namun, sebagai tokoh sakral Indonesia, sehingga terusik saja sedikit kehormatannya, akan memancing polemik dan pro kontra yang imbasnya dalam dunia politik sungguh luar biasa.

Tokoh kedua, adalah Xanana Gusmao.

Gusmao adalah dua wajah dunia. Bagi pemerintah Indonesia, ia adalah pemberontak yang mengancam keutuhan wilayah NKRI. Namun, bagi Timor Leste, ia adalah seorang pahlawan bangsa, yang dengan perjuangan gerilyanya membawa mereka ke alam merdeka.

Gusmao adalah Presiden Timor Leste pertama, lalu juga seorang Perdana Menteri ke-4 dan ke-5 yang masih dijabatnya hingga sekarang. Namun sebelumnya, Gusmao adalah seorang gerilyawan pejuang kemerdekaan, dan sebelumnya lagi juga seorang pemain sepakbola dan wartawan.

Lalu tokoh ketiga adalah Guus Hiddink.

Guus Hiddink adalah tokoh sepakbola asal Belanda, yang kiprahnya telah melintas dunia antar benua. Ia telah membuktikan profesionalisme dalam industri sepakbola, dengan menukangi klub-klub sepakbola Eropa. 

Guus Hiddink adalah pahlawan bagi sepakbola Asia, ketika sukses mengantarkan Korea Selatan menjadi juara ke-4 di Piala Dunia 2002. 

Guus Hiddink juga berjasa kepada Australia dengan meloloskannya ke pentas Piala Dunia 2006. 

Guus Hiddink juga sukses mendongkrak prestasi sepakbola Rusia dengan membawa tim itu melaju ke babak semifinal Piala Eropa 2008.

Gus Dur, Gusmao dan Gus Hiddink adalah orang-orang besar di bidangnya. Indonesia, Timor Leste dan Belanda menjadi saksi kebesaran mereka. Maka mereka adalah tiga dari tokoh dunia yang akan selalu di kenang sepanjang masa, oleh siapa saja yang terinspirasi dari pengabdian dan kesetiaan pada perjuangan yang untuk mengubah dunia.

Salam... 
El Jeffry 

Wednesday, November 28, 2012

”Garuda” Sukses Cabik “Singa,” Luar Biasa!




135411395859327520
Indonesia Menang 1-0 atas Singapura di Piala AFF 2012, Rabu, 28 November 2012. (sumber photo: http://www.mediaindonesia.com)
     Ternyata garuda tak hanya perkasa dalam hukum rimba di atas lapangan padang rumput untuk mengalahkan singa. Dalam laga lanjutan penyisihan grup B Piala AFF 2012, tim merah putih “Garuda” benar-benar membuktikan kedigdayaannya dengan menaklukkan tim “Singa” The Lions Singapura. Di Stadium Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Andik Vermansyah menjadi pahlawan kemenangan dramatis “Garuda” dengan gol tunggal yang sukses disarangkan menjelang bubaran pertandingan, tepatnya di menit ke-87.

     Tim “Garuda” yang di atas kertas “kalah total” dari tim “Singa,” baik secara mental maupun kekuatan tim, agak berbeda dengan pertandingan ketika melawan Laos. Tampil dengan formasi 4-4-2, dengan mengandalkan Irfan Bachdim dan striker senior Elie Aiboy, “Garuda” langsung menggebrak lini pertahanan “Singa” sejak menit-menit awal. Namun secara umum, pertandingan di 45 menit babak pertama lebih dikuasai oleh tim “Singa.”

     Laga krusial yang menentukan nasib “Garuda” untuk terus melaju atau masuk kotak sejak dini, maka tak ada pilihan bagi pelatih Nil Maizar untuk sedikit mengubah strategi di babak kedua. Untuk meningkatkan daya dobrak, Andik Firmansyah yang sempat dicadangkan di babak pertama diturunkan di menit ke-50 menggantikan Elie Aiboy. Lalu pada menit ke-55, Bambang Pamungkas masuk menggantikan Rahmat Syamsuddin.

     Rupanya pergantian pemain membawa energi baru yang mengubah irama dan efektif meningkatkan permainan “Garuda.” Dewi fortuna nampaknya memihak pula pada Tim “Garuda” dan berbuah petaka bagi Tim “Singa.” Di menit ke-65, pemain Singapura Muhammad Irwan Ahah diusir wasit karena kartu kuning ke-2, setelah melakukan tackling keras kepada Andik.

     Unggul jumlah pemain, kesebelasan tim “Garuda” menggempur “kesepuluhan” tim “Singa” secara sporadis. Namun serangan demi serangan dan beberapa peluang gagal dimanfaatkan “Garuda.” Di sisi lain, “Singa” juga masih menunjukkan taring dan cakarnya sebagai tim tangguh dengan sesekali mengancam gawang Indonesai yang dikawal kiper Wahyu Tri, yang secara luar biasa tampil gemilang dengan beberapa penyelamatan.

    Ketika “Garuda” hampir dilanda keputus-asaan dalam kebuntuan, keajaiban alam  akhirnya datang. Striker yang sempat menimba ilmu di DC United Andik Vermansyah menjadi pahlawan “Garuda” dengan gol indah tendangan jarak jauh dari luar kotak penalti 3 menit menjelang bubaran waktu normal. Setelah melewatiinjury time sekitar 5 menit, skor 1-0 bertahan hingga peluit terakhir disemprit oleh sang wasit.

       Dengan kemenangan ini, Indonesia memuncaki klasemen sementara grup B dengan 4 poin setelah sebelumnya bermain remis melawan tim Laos pada pertandingan perdana. Singapura yang sebelumnya secara tak terduga menjungkalkan tim juara bertahan Malaysia 3 gol tanpa balas menempati peringkat 2 dengan 3 poin. Malaysia yang baru saja mengalahkan Laos dengan skor telak 4-1 berada di peringkat 3 dengan 3 poin (sama dengan Singapura namun kalah selisih gol). Sedang Laos menjadi juru kunci di posisi terbawah dengan 1 poin. 

      Kemenangan“Garuda” atas “Singa” sangat luar biasa artinya bagi sepakbola Indonesia. Kemenangan yang mengubah rekam kelam sejarah Tim Nasional Garuda, yang belum pernah meraih dalam 15 kali pertemuan dengan Singapura. Kemenangan ini juga menunjukkan dominasi Indonesia atas Singapura dalam sejarah pertemuan kedua tim di berbagai kejuaraan internasional menjadi 52 kali menjadi 23 kali menang, 15 kali seri dan 17 kalah.

Kemenangan yang membawa harapan baru bagi publik sepakbola Indonesia. Seperti diketahui, sepanjang 8 kali pergelaran turnamen bergengsi di Asia Tenggara ini sejak 1996 dengan nama Piala Tiger, Indonesia belum pernah sekalipun menjadi juara. Maka, tak ada salahnya sedikit gila dalam bermimpi di Piala AFF kali ini, bahkan meski sebagian dari “penggila” sepakbola Indonesia tak percaya, ketika di pertandingan perdana “keok” harapan dengan ditahan imbang Laos 2-2. (boleh baca: Piala AFF:Lawan Laos Saja “Keok,” Apalagi Juara?

      Kesuksesan “Garuda” dalam mencabik-cabik “Singa” ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, khususnya sepakbola Indonesia yang tengah gonjang-ganjing diterpa kemelut, polemik, intrik dan konflik. Di tengah pesimisme dan keraguan sebagian kalangan akan kemampuan tim kebanggan merah putih dengan “Garuda” di dada, Nil Maizar kembali membuat kita harus percaya, bahwa seperti kata seorang teman,  “Meski lapangan itu rata, namun bola itu tetapah bulat.”

      Di atas rata-rata data statistika dan kalkulasi matematika Indonesia seharusnya kalah oleh Singapura. Namun ada 360 derajat kemungkinan dalam lingkaran, bahkan milyaran sudut kemungkinan di antara radial perhitungan. Dengan kebulatan tekad dan semangat menggelora hebat, teori dapat dipatahkan oleh heroisme sejati. Malam ini semua terbukti nyata. Kemenangan ini juga menjadi salah satu bukti filosofi iklan obat masuk angin, bahwa “Orang pintar, kalah sama orang bejo (beruntung).”

     Jalan masih panjang, para ksatria “Garuda” tak bisa larut dalam euforia dan jumawa dengan kesuksesan menumbangkan “Singa.” Masih ada satu pertandingan tersisa di babak penyisihan grup. Malaysia yang selama ini menjadi “musuh bebuyutan” baik dalam persoalan sejarah negara-bangsa maupun dalam dunia olahraga sepakbola menunggu di depan. Keperkasaan “Garuda” akan benar-benar diuji oleh “raja rimba” spesies lain “Harimau Malaya” pada 1 Desember mendatang.

     Pertemuan dua negeri jiran Indonesia-Malaysia akan menjadi pertarungan legendaris yang mempertaruhkan banyak hal di dalamnya. Bukan hanya persaingan sengit dalam perebutan tiket semifinal, namun pertarungan ini akan sarat dengan pertarungan harga diri dan gengsi, kehormatan dan jati diri, keperkasaan dan kebanggaan sebagaimana layaknya pertarungan “berdarah-darah” antara burung garuda dan harimau di rimba belantara.

      Lalu, akankah “Garuda” akan tetap perkasa di laga-laga berikutnya dan membuat babak sejarah baru bagi dunia persepakbolaan nusantara? Atau bahkan masih berani bermimpi di Piala AFF ini, dengan campur tangan “sang keajaiban” dan keberuntungan untuk pertama kalinya merengkuh predikat juara. Lagi-lagi, terlalu dini untuk menjawabnya. Jalan masih panjang, dan masih terlalu banyak kerja keras yang dibutuhkan untuk sebuah perjuangan. Sebaiknya, sambil tetatp berdoa untuk kebangkitan sepakbola Indonesia, kita tunggu saja bersama kelanjutan ceritanya...

Viva sepakbola Indonesia...

Salam...
El Jeffry


Sanggupkah Garuda Mencabik-Cabik Singa?


1354083471284448891
Bambang Pamungkas (Indonesia) berduel dengan Daniel Bennet (Singapura) di Piala AFF 2008. (sumber photo:http://www.duniasoccer.com)

      Dalam pertarungan hukum rimba di atas lapangan padang rumput, garuda memang lebih berpeluang mengalahkan singa. Cakar-cakar berkekuatan tinggi dalam mencengkeram, paruh tajam bagai pedang, dengan kepakan sayap perkasa menguasai segala sudut arah di udara. Garuda praktis lebih unggul dari singa.

     Tapi cerita akan mungkin berbeda ketika terjadi di hukum sepakbola. Sepakbola adalah pertarungan sportivitas yang melibatkan disiplin ilmu bela diri, sarat adu taktik-teknik-strategi, mental dan kualitas energi. Di atas lapangan hijau, nampaknya “Timnas Garuda” Indonesia harus berhitung ektra keras untuk menaklukkan “Timnas Singa”  The Lions Singapura dalam laga lanjutan penyisihan Grup B Piala AFF 2012.

   Stadium Bukit Jalil, Kualalumpur, Malaysia bakal menjadi saksi, ketika Rabu senja, 28 November 2012 “the real match” akan benar-benar terjadi pertarungan kedua negara lewat kesebelasan sepakbola. “Sang Garuda” yang semakin hari semakin kehilangan keperkasaan dan ketajamannya, butuh “suntikan energi” ekstra tinggi, dengan harapan “hujan keajaiban” untuk bisa menaklukkan “Sang Singa.”

     Banyak faktor yang menjadi pertimbangannya. Pertama, di atas kertas, berdasarkan data peringkat FIFA edisi September 2012, Singapura yang dengan poin 161 jelas 7 tingkat lebih tinggi dari Indonesia dengan poin 168. Kedua, secara mental dan moral, “Tim Merah Putih” yang baru saja mengalami kejatuhan pasca ditahan imbang tim Laos 2-2 dalam pertandingan perdana penyisihan Grup B Ahad kemarin. Padahal, Laos sendiri berada di peringkat yang jauh lebih rendah dengan poin 193.

    Sementara calon lawan berada dalam situasi sebaliknya, tengah berada dalam euforia pasca secara tak terduga sukses menjungkalkan tim juara bertahan Malaysia dengan skor 3-0. Dengan takluknya “Sang Harimau” Malaya, praktis “Sang Singa” untuk sementara terbukti layak menjadi raja rimba Piala AFF Grup B. Bermodal “hitungan matematika” dan kepercayaan diri yang tinggi, tim asuhan pelatih asal Serbia Radojko Avramovic ini bakal menjadi “hantu gentayangan” di lapangan yang menakutkan para ksatria nusantara asuhan Nil Maizar.

    Faktor ketiga, yang memaksa “Garuda” butuh keajaiban untuk bisa menaklukkan “Singa” adalah rekam pertemuan kedua tim. Memang, dalam total 51 kali pertemuan di berbagai kejuaraan, tim merah putih lebih unggul dengan 22 kemenangan, 15 seri dan 17 kekalahan. Namun, dalam 15 tahun terakhir, “Garuda” selalu gagal menaklukkan “Singa.” Bukti shahih dan aktual, bahwa The Lions era sekarang telah tumbuh menjadi kekuatan perkasa sepakbola Asia Tenggara yang di kejuaraan dua tahunan ini siap mengubur mimpi Indonesia.

    Faktor keempat, berbeda dengan Singapura yang sedang berada dalam performa terbaik, kubu Indonesia justru sedang krisis pemain, khususnya lini pertahanan yang menjadi kelemahan vital ketika Bambang Pamungkas cs ini tertahan imbang tim Laos. Dengan absennya kiper utama Endra Prasetya karena menjalani hukuman kartu merah, praktis Indonesia hanya mengandalkan satu-satunya kiper cadangan Wahyu Tri Nugroho. Wahyu pun memikul beban berat dan “haram hukumnya” untuk cidera atau mendapat hukuman serupa.

    Jika tidak, maka gawang “Garuda” akan menjadi sumber petaka, sebab, Nil yang telah meminta izin dari AFF untuk menambah kiper (kemungkinan Syamsidar yang sebelumnya sempat dicoret) belum mendapat jawaban dari AFF. Selain soal kiper, lini pertahanan juga dikhawatirkan berada dalam formasi tidak sempurna. Handi Ramdhan yang sejatinya mengisi barisan belakang bersama Novan Setya, Wahyu Wijiastanto dan Raphael Maitimo, sedang dibekap cidera.

    Nil Maizar sepertinya benar-benar tengah menghadapi situasi yang super rumit untuk berjuang menjaga peluang tim asuhannya untuk tidak masuk kotak terlalu dini. Memperbaiki lini belakang yang rapuh dengan kondisi yang tak mendukung, tak ada pilihan kecuali mempertajam lini depan. Sayangnya, pemain naturalisasi blesteran Belanda yang bermain cukup apik pada pertandingan perdana juga mengalami cidera sehingga masih diragukan untuk turun melawan Sinagpura.

    Lalu, bagaimanakah strategi yang bakal diterapkan oleh Nil untuk memuluskan mission impossible “Garuda” mencabik-cabik “Singa”? Kemungkinan, “Garuda” bakal mengandalkan duet Bambang Pamungkas dan Irfan Bachdim di lini depan untuk merobek-robek lini pertahanan “Singa.” Sementara itu, dengan formasi 4-4-2, lini tengah yang dikomandoi Andik Vermansyah dan Okto Maniani mesti bekerja ekstra di atas ekstra untuk meredam “menggilanya” kekuatan lini tengah lawan.

   Akankah “Garuda” sanggup menyalakan “api kesemangatan” menggelora luar biasa sebagai pelengkap kata keajaiban dalam sepakbola di pertandingan kedua, lalu lalu benar-benar mencabik-cabik “Singa”? Jawabannya tentu saja sore nanti, yang rencananya akan disiarkan RCTI pukul 18.00. “Haram hukumnya” bagi “Garuda” untuk seri, apalagi kalah, karena itu berarti semakin menutup peluang dan bakal membawa Indonesia menjadi pecundang.

    Seperti kata seorang teman, “Meski lapangan itu rata, namun bola itu tetapah bulat.” Di atas rata-rata data statistika dan kalkulasi matematika Indonesia mungkin kalah oleh Singapura. Namun ada 360 derajat kemungkinan dalam lingkaran, bahkan milyaran sudut kemungkinan di antara radial perhitungan. Dengan kebulatan tekad dan semangat menggelora hebat, teori dapat dipatahkan oleh heroisme sejati. Tak ada salahnya mengadopsi filosofi iklan obat masuk angin, bahwa “Orang pintar, kalah sama orang bejo (beruntung).”

     Akan selalu ada keberuntungan dalam sebuah pertarungan, jika dilandasi keyakinan sebagai perjuangan, dan kerap mengalahkan kepintaran teoretis matematis. Maka, tak ada pilihan, para “ksatria sepakbola nusantara” mesti bertarung hidup mati “berdarah-darah” layaknya tak ada pertandingan lagi di esok hari, tak perlu menggantungkan nasib pada hasil pertandingan antara Laos dan Malaysia.

    Di dada para ksatria sepakbola tersemat simbol bangsa dan negara, burung garuda. Ada harga diri, gengsi, kehormatan dan martabat bangsa yang dititipkan oleh lebih dari 240 juta manusia Indonesia. Negara besar mesti menunjukkan dirinya sebagai benar-benar besar dihadapan negara kecil yang luasnya hanya sebatas kota, Singapura. Entah bagaimana caranya, selama berada di atas hukum sportivitas sepakbola, “Garuda” harus bisa mencabik-cabik “Singa!”

Berikut prediksi line up Indonesia dan Singapura yang dirilis oleh republika.co.id:

Indonesia (4-4-2): Wahyu Tri; Novan Setya, Valentino, Wahyu Tanto, Raphael Maitimo; Oktavianus Maniani, Vendri Mofu, Taufik, Andik Vermansyah; Bambang Pamungkas, Irfan Bachdim

Singapura (4-1-3-2): Izwan Mahbud; Irwan Shah, Baharudin, Baihakki Khaizan, Daniel Bennett; Mustafic Fachrudin; Shahdan Sulaiman, Harris Harun, Shi Jiayi; Shahril Ishak, Khairul Amri.

Viva Sepakbola Indonesia...

Salam...
El Jeffry

Tuesday, November 27, 2012

Jokowi-El Jeffry di Republik Mimpi




13540052411830133113
JOKOWI-EL JEFFRY di REPUBLIK FB. (sumber photo: www.facebook.com)

    Hari ini aku ingin bermimpi. Mimpi anak negeri. Mimpi seorang warga negara yang kadang merasa terbuang sebagai warga negara. Mimpi rakyat kecil yang kerap merasa jengah terhadap pengkhianatan para pemimpinnya. Mimpi seorang anak manusia yang lelah tertikam problema, begah dalam himpitan para kurcaca, gelisah tergilas kemunafikan jama’ah bangsa.

    Hari ini aku ingin berilusi, menjadi pemimpin di republik ini. Negeri tumpah darah yang selalu berdarah-darah dalam pertumpahan darah sepanjang sejarah. Demi perjuangan menegakkan keadilan, mewujudkan kesejahteraan dalam kekeuargaan, namun selalu beriring dengan pengkhianatan para pemimpinnya. Amboi, duhai kiranya El Jeffry tampil ke depan, melanjutkan regenerasi kepemimpinan, memegang amanat kekuasaan.

    Hari ini aku ingin berfantasi. Melihat perjalanan seorang Jokowi memimpin DKI, dengan seribu inspirasi, seribu energi, seribu motivasi. Bagaimana kiranya jika aku dipanggil untuk mendampingi memimpin negeri ini. Jokowi menjadi presidennya, dan aku menjadi wakilnya. Atau aku menjadi presidennya, dan Jokowi yang menjadi wakilnya. Jokowi dan El Jeffry berduet memimpin NKRI. Hahaha... apa kata dunia?

     Hari ini aku ingi berhalusinasi. Berkolaborasi dengan Jokowi, memenuhi panggilan ibu pertiwi, bersama mewujudkan mimpi republik ini. Bukankah mimpi, ilusi, fantasi dan halusinasi tidak dilarang di negeri ini? Bukankah semua waraga negara meberhak mendapatkan persamaan hak untuk mimpi, ilusi, fantasi, dan halusinasi? Bukankah semua pencapaian bermula dari mimpi, ilusi, fantasi dan halusinasi?

     Tapi ngomong-ngomong, lama-lama kusadari, bahwa mimpiku sepertinya terlalu tinggi. Jangankan bersama Jokowi memimpin NKRI, ketemu muka saja belum pernah meski cuma sekali. Bahkan, sejujurnya, bertemu di alam mimpi pun belum pernah kualami. Blaiii... El Jeffry hanya “pemimpi,” mana bisa jadi “pemimpin.” Jangankan untuk memimpin negeri, untuk memimpin diri ini saja susahnya setengah mati.

     Maka, sekedar untuk menghibur diri, aku cukupkan mimpi ini dengan berduet dengan Jokowi di dunia maya, “Republik FB,” itupun cukup gambarnya saja. Entah duet sebagai apa, terserah, setidaknya duet sebagai dua manusia yang ingin berbuat sebaik-baiknya dalam hidup di dunia. 

     Orang bijak berkata, “Tak penting berapa besar jumlah manusia yang engkau pimpin, namun penting untuk berjuang sebaik-baiknya ketika engkau memimpin, karena sejatinya setiap manusia adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bakal dimintai pertanggung-jawaban.”

Salam mimpi...
El Jeffry

Monday, November 26, 2012

Rhoma-Zaskia: “Duet Gotik” Republik Musik


1353915910801162590

ZASKIA GOTIK BERSAMA BUDI "DO RE MI" YANG BERGAYA ALA RHOMA IRAMA. (sumber photo: 
hot.detik.com/readfoto/2012/10/09)

     Bicara politik di negeri republik-demokratik tak pernah berhenti pada satu titik. Konon katanya, politik adalah warisan klasik paling unik yang pernah ada di dunia. Tak hanya sarat matan-matan logika akal sehat manusia, namun juga penuh aroma ghaib, klenik dan mistik. Pastinya, semakin rumit dan pelik, semakin penuh intrik dan konflik, politik akan semakin mengundang daya tarik. Politik menjadi skspresi polah tingkah manusia yang gemar pletak-pletik (meloncat-loncat), kompetisi ‘adu jangkrik’ saling kilik, meski bagi rakyat awam kebanyakan, tak lebih dari parade latah-kaprah ala bebek, pol-polane mung ngitik (ujung-ujungnya cuma membebek).

    Panggung politik terkini di negeri republik, masih saja menjadi magnet sentral pesta pertunjukan. Terma politik yang kini surut menciut kepada perhelatan ‘perebutan kekuasaan’ menjadikannya lebih sebagai ‘tontonan’ ketimbang ‘tuntunan’ keteladanan. Pengejawantahan politik teraktual sebagai pertarungan heroik palsu nan banal dan binal, dalam ranah sempit dan dangkal. Trayek kendaraan politik berbolak-balik dari terminal industri-bisnis-transaksional ke terminal entertainment-hiburan. Dari tema canda-tawa dalam dagelan, hingga drama romantika dan tragedi dalam opera atau kethoprak Jawa, aktor-aktor politik bermain massal di atas “Panggung Sandiwara-sinema politikana Indonesia.

     Bicara politik hampir tak ada beda dengan bicara musik. Ketika politik berkolaborasi dengan musik, kita akan melihatnya sebagai sebuah orkestra. Alunan suara vokal manusia dan iringan musik yang membahana berirama, panggung orkestra tata negara akan menjadi showbiz dengan pesona luar biasa bagi tiap lensa mata. Namun semua itu belum sempurna jika belum hadir goyangan di dalamnya. Sebab goyangan adalah ekpresi dari kesenangan, kenikmatan, sekaligus kegairahan berahi manusia. Di dalam goyangan tersimpan energi kesemangatan, dinamika pergerakan, sebagai salah satu penjaga kesehatan badan.

      Bicara goyangan di republik tak bisa lepas dari fenomena “Si Raja Dangdut” Rhoma Irama yang melegenda bersama Soneta. Raden Haji Oma Irama yang akrab dengan “Bang Haji,” lewat musik dangdut revolusioner ternyata tak cuma piawai dalam menggoyang “panggung orkestra”, namun juga amboi dan aduhai dalam menggoyang “panggung politik” tata negara Indonesia. Atraktif pletak-pletik dari antar partai politik, “Bang Haji” seakan fenomena seniman yang ahli mengkolaborasikan urusan seni-musik dengan urusan politik.

       Terbukti, pesona suara dan goyangan “Bang Haji” mampu mendongkrak suara PPP sejak aktif bergabung pada 1977. Bersuara lantang dengan spirit pemberontakan, menggelorakan perubahan, mensosialisasikan kebhinnekaan dan kebangsaan, mendakwahkan persatuan dan keadilan, “Si Raja Dangdut” pada zamannya menjadi ikon perjuangan rakyat kebanyakan. Tak pelak, hegemoni rezim orde baru memaksanya mati kutu. Rhoma dicekal dan dijegal selama 11 tahun. Rhoma pun melakukan aksi akrobatik loncatan politik dengan bergabung ke Golkar pada 1988. Loncatan brilian seorang maestro seniman, menjadi anggota DPR mewakili utusan golongan pada 1992 dan berdekat-dekat dengan kekuasaan membawa namanya semakin berkibar.

      Abaikan soal privacy hubungan asmara dengan beberapa “bidadari jelita” yang menghiasi mahligai rumah tangga “sang mega star.” Entah itu yang berkenaan dengan Veronica pada 1972, Ricca Rachim pada 1984, Gita Andini Saputri pada 1999, atau Angel Lelga pada 2005. Entah itu dilakukan secara terbuka lewat lembaga KUA atau nikah sirri semata. Entah itu pernah dikabarkan pula melibatkan artis dangdut Ayu Soraya. Abaikan saja, karena yang pasti “magnet cinta” seorang selebriti memang luar biasa. Hadir sebagai figur populer seorang seniman, politisi dan ulama, suka tak suka mengundang berjuat pesona kaum hawa. Rhoma Irama ibarat sang Rama yang mengundang pesona Shinta-Shinta.

       Musik telah membawa Rhoma benar-benar leluasa “berkelana” dari dunia asmara ke dunia agama, dari dunia musik ke dunia politik, dengan goyangan yang makin asyik dan menggelitik. Bosan berlama-lama dengan Golkar, kembali berita besar diciptakan oleh “Sang Mega Star.” Rhoma pun “rujuk” bergabung kembali dengan PPP pada 2009. Alhasil, “Si Raja Dangdut” sempat dijuluki “Si Raja Kutu Loncat.” Julukan yang tak berlebihan, ketika pada 2004, dengan figur “keulamaan” dan keislamannya Rhoma kahirnya justru getol berkampanye untuk PKS. Dan terakhir, Rhoma secara tak sengaja telah memantik api kontroversi dengan ceramah bernuansa SARA ketika mendukung Foke-Nara dalam Pilkada DKI 2012.

     Pesona Rhoma berikut suara dan goyangan khasnya bagaimanapun masih berdaya jual tinggi dalam “bisnis politisi” di negeri ini. Terbukti, di penghujung tahun 2012 ini, ketika aktor-aktor politik disibukkan persiapan menyambut perhelatan akbar 5 tahunan Pilpres 2014, nama Rhoma muncul kembali sebagai fenomena. Konon katanya, umat dan rakyat menghendaki “sang raja” untuk tampil di depan memimpin Indonesia, menjadi Presiden RI pada 2014. Sudah biasa, berhamburanlah pro-kontra. Keniscayaan dalam demokrasi, di mana setiap manusia Indonesia berhak bersuara dan menyatakan pendapatnya. Terlebih media massa telah terbuka sebagai sarana “perang opini” seluas-luasnya, bahkan hingga kadang lepas bablas tanpa kendali.

     Dari goyangan politik yang luar biasa inilah Rhoma layak kita juluki sebagai “Si Raja Gotik,” raja goyang politik yang secara apik menggabungkan unsur-unsur musik ke dalam senyawa politik republik. Dan bicara “Gotik” lalu kita teringat kepada fenomena goyangan musik penyanyi cantik yang baru-baru ini tenar lewat goyang semi erotik ala itik. Goyang Itik dara belia pelantun lagu “Satu Jam Saja” ini telah melambungkan namanya secara fenomenal sebagai Zaskia Gotik. Goyang itik yang cantik dan erotik ini pun tak pelak mempesona jutaan mata anak muda Indonesia. Penuh daya tarik, menggoda mata untuk melirik, goyang itik pun boleh dibilang berdaya jual tinggi bagi “bisnis politik” republik ini.

      Sekadar berkhayal di negeri yang warga negaranya dijamin untuk berkhayal, bolehlah kiranya kita mengkolaborasikan Gotik ala Zaskia dengan Gotik ala Rhoma Irama. Sama-sama berangkat dari energi Gotik, rasanya duet Rhoma-Zaskia akan penuh daya tarik sebagai pasangan unik dan eksentrik dua artis musik. Toh Gotik memang pas sebagai goyang politik maupun goyang itik. Lagipula, politik dan itik kan tak jauh berbeda dalam perilaku di republik musik. Duet capres-cawapres Rhoma-Zaskia mungkin bisa memecahkan kebuntuan dan mencairkan ketegangan politik di Pilpres 2014. Sebab, meskipun berisik, musik tetap dibutuhkan manusia untuk menghangatkan suasana.

     Duet Gotik Rhoma-Zaskia juga akan menjadi simbol kolaborasi apik kepemimpinan antara pria dan wanita, yang diharapkan akan tercipta keharmonisan negara-bangsa layaknya bangunan mahligai rumah tangga. Duet Gotik juga menjadi simbol kolaborasi dua generasi, antara generasi tua yang diwakili oleh Rhoma dengan usia 66 tahun dengan generasi muda yang diwakili Zaskia dengan usia 22 tahun. Dan yang pasti, DuetGotik akan menjadi tontonan asyik, menarik dan menggelitik di panggung politik republik musik.

Salam...
El Jeffry

Sunday, November 25, 2012

Piala AFF: Lawan Laos Saja “Keok,” Apalagi Juara?


1353856839707182945
BAMBANG PAMUNGKAS: dalam pertandingan perdana piala AFF 2012 di Stadion Bukit Jalil, Kualalumpur, Malaysia, Ahad, 15/11/2012. (sumber photo: http://lipsus.kompas.com/aff2012)



     Indonesia nampaknya benar-benar tengah mengalami "kiamat sepakbola." Fakir gengsi, miskin prestasi, “Tim Garuda” yang pada eranya sempat menjadi macan Asia, kini tak lebih dari “macan ompong” tua yang lunglai tak berdaya. Jangankan berjaya di pentas dunia, di kawasan Asia saja kini “tim merah-putih” sudah tak dipandang sebelah mata oleh negara-negara tetangga.

     Indikasi "kiamat sepakbola" nusantara ini setidaknya terlihat pada pertandingan perdana penyisihan grup B Piala AFF melawan Laos Ahad sore beberapa jam lalu. Dengan materi yang “bertabur bintang” lokal dan beberapa pemain internasional yang telah dinaturalisasi, tim besutan Nil Maizar datang ke stadion Bukit Jalil dengan semangat tinggi.

    Namun petaka datang tiba-tiba. Baru 27 menit pertandingan dimulai di babak pertama, penjaga gawang Endra Prasetya mesti diganjar kartu merah karena pelanggaran keras. Kiper cadangan Wahyu Tri masuk, Okto Manianni ditarik keluar. Penalti sukses dieksekusi Khampheng Sayavutthi, Laos pun unggul dalam skor maupun dalam jumlah pemain. Skor 1-0 dan pemain 11-10 untuk Laos. Sebenarnya “tim merah putih” masih beruntung dengan dikartu merahnya pula pemain Laos Sophia Saysana akibat melanggar keras Andik Vermansyah pada menit ke-33.

     Namun keberuntungan ini gagal dimaksimalkan oleh laskar "Ksatria Garuda Nusantara."  Rapuhnya barisan pertahanan, monoton dalam serangan, koordinasi yang tak rapi, dan olah kaki yang jauh dari “sentuhan kelas tinggi.” Praktis, dalam banyak hal, permainan tim yang dikapteni pemain veteran Bambang Pamungkas tetap kalah kelas di hampir sepanjang babak pertama. Laos, yang di atas kertas seharusnya menjadi “lumbung gol” justru mendominasi permainan dengan derasnya arus serangan.

    Indonesia bernafas lega dan semangat untuk meraih kemenangan dengan gol Raphael Maitimo menjelang babak pertama usai. Skor imbang 1-1. Namun, memasuki babak kedua, petaka kembali datang, Wahyu Tri terpaksa memungut bola dari gawang sendiri untuk kedua kali ketika tendangan kaki pemain Laos Keoviengpheth 10 menit menjelang bubaran gagal dicegah. Lagi-lagi "dewi fortuna" masih memihak Garuda. Pada menit ke-90 Indonesia terhindar dari petaka memalukan ketika Vendy Mofu yang masuk menggantikan sang kapten Bepe berhasil menjebol gawang laos.

     Hingga peluit disemprit oleh sang wasit, skor imbang 2-2. “Hukuman” yang pantas buat Indonesia. Bukan hanya karena permainan lawan yang hebat, tapi lebih karena permainan “Tim Garuda” yang jauh dari harapan. Hasil imbang melawan tim yang seharusnya "wajib hukumnya" untuk ditaklukkan, sama saja artinya Indonesia "keok" dari tim Laos.

    Alhasil, posisi Indonesia seakan menghadapi pintu neraka, mengingat dua lawan berikutnya, yakni Singapura dan Malaysia, di atas kertas jauh lebih berat ketimbang Laos.  Dijadwalkan, tim Garuda akan bertemu dengan Singapura pada Rabu, 28/11/2012, lalu pekan depan bertemu dengan juara bertahan Malaysia pada Sabtu, 1/12/2012.

     Memang terlalu dini untuk mengatakan bahwa Indonesia mustahil menjadi juara. Karena bola itu bulat, bukan kotak atau segitiga, sehingga segala sudut kemungkinan akan selalu terbuka. Tapi untuk menjadi juara di Piala AFF, sepertinya kita mesti lebih realistis untuk tidak berharap terlalu optimis. Apalagi jika mengingat persepakbolaan tanah air yang senantiasa gonjang-ganjing terjebak dalam polemik, intrik dan konflik berbagai kepentingan olah raga, bisnis dan politik.

   Akhirnya, tinggal kita tunggu saja hasil selanjutnya. Dengan meminjam loyalitas Kumbakarna ketika terjebak dalam "perang cinta" antara saudaranya Rahwana dengan Rama, “Right or wrong is my country,” kita selayaknya tetap mendukung Timnas Garuda. Bukan benar atau salah adalah negeriku, tapi loyalitas dengan spirit sportivitas, “Baik atau buruk adalah sepakbola negeriku.” 

     Selalu ada hikmah di balik bencana. Semoga masih ada keajaiban bagi sepakbola Indonesia. Jika “Tim Garuda” berhasil memetik pelajaran berharga dari sebuah petaka “keok” dari Laos, maka ia bisa saja berubah kekuatan luar biasa yang bisa membalikkan hitung-hitungan matematika. Tak ada salahnya untuk bermimpi, apalagi hanya sekadar dalam ranah olahraga seperti sepakbola. Mari bermimpi di Piala AFF 2012 ini, bahwa Indonesia bakal menjadi juara.

Viva sepakbola...

Salam...
El Jeffry

Republik Enam Tanda Baca


(??????)
enam tanda tanya terkurung dalam penjara negara
apa, mengapa, berapa, di-ke-dari mana, bilamana, bagaimana

(??????)
enam presiden sejak merdeka
Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, mBak Mega, pakDe SBY

(??????)
enam ruang bangsa terkurung dalam negara penjara
ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan-keamanan
enam tanda tanya anak bangsa tak jua memperoleh jawaban

(??????)
enam tanda tanya pada enam presiden di enam ruang bangsa
terkurung dalam penjara tembok baja
dengan dua pintu katup, terbuka dan tertutup
mengapit dan menjepit enam tanda tanya

(...??????...)
enam titik mengiringi enam tanda tanya
di depan, di belakang, fase-fase sejarah perjalanan bangsa
dalam batasan yang tak terhingga
tapi selalu terkurung dalam penjara

(!!!!!!)
enam tanda seru juga terkurung dalam penjara
atau justru merekalah pemicu dari hadirnya penjara
pemerintah yang hanya bisa memberi perintah
kekerasan dan pertumpahan darah
dendam kebencian dan amarah
caci-maki dan sumpah serapah
atau perjuangan yang tak kenal lelah

(!!!!!!)
enam tanda seru terkurung dalam penjara
anak bangsa beradu berebut harta-tahta-cinta
insting kodrati primata melata
di balik penjara raga citra manusia

(...!!!??????!!!...)
enam tanda titik, enam tanda tanya dan enam tanda seru
fase-fase sejarah, penuh kekerasan, sarat pertanyaan
semua terkurung dalam penjara kehidupan

(!!!...??????...!!!)
kekerasan menjadi sejarah, perjalanan panjang sarat pertanyaan
kurungan penjara menjadi jawabannya

(?)(!)(.)
pertanyaan bisa mengantar manusia ke dalam kurungan penjara
kekerasan bisa mengantar manusia ke dalam kurungan penjara
setitik fase perjalanan juga bisa mengantar manusia ke dalam kurungan penjara

........)( )( )( )( )( )(........
penjara-penjara diciptakan untuk mengurung manusia
pintunya selalu membuka, siap menyeret di setiap titik fase perjalanan peristiwa

(((!!!!!! ......??????)))
negara-negara merdeka kehilangan kemerdekaan
kepala negara kehilangan kemerdekaan
kekerasan antar manusia kehilangan kemerdekaan
semua terpenjara oleh hukum langitan
sejak dimulai enam masa penciptaan oleh Tuhan

??????????  ??????????  ??????????  ??????????  ??????????  ??????????  
??????????  ??????????  ??????????  ??????????  ??????????  ??????????  
??????????  ??????????  ??????????  ??????????  ??????????  ??????????  
??????????  ??????????  ??????????  ??????????  ??????????  ??????????  
dua ratus empat puluh tanda tanya merdeka
tanpa kurungan penjara di pintu depan dan belakangnya
menjadi wakil dari dua ratus empat puluh juta manusia Indonesia
pertanyaan abadi akan arti kata res-publica

Comal, 25 November 2012

El Jeffry
Salam...