Sunday, October 28, 2012

Spirit Pemuda dan Industri Politik Lansia



      Gelaran ”Republik kethoprak setengah babak” belumlah usai. Hari ini, kita baru memasuki fase kedua dari berpuluh-puluh fase perjalanan sejarah bangsa dalam bertata negara-kota. Fase pertama, telah berlalu. “Bayi merah” nusantara, cikal-bakal seorang bocah yang kelak bernama NKRI, sejatinya baru terlahir 84 tahun silam. Sumpah pemuda 28 Oktober 1928, sebuah ikrar berkumandang, seumpama suara azan daniqamat di dua telinga saat kelahiran seorang anak manusia. 

      Nafas berhembus, gerak kehidupan bertanah air-bangsa-bahasa dalam satu ikatan. Sintesa-sinergi dari seluruh komponen negeri, putra dan putri bumi pertiwi dalam satu nama Indonesia, manifestasi dari embrio yang tersimpan selama 20 tahun di rahim suci, ketika ruh kebangkitan pertama kali ditiupkan pada 1908. 

        Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen peristiwa. “Bayi merah nusantara” tumbuh sehat menjadi bocah bangsa bersemangat hidup menggelora. Sedikit binal dan nakal namun tetap fenomenal, tumbuh remaja dalam penindasan zaman sebagai korban “kerakusan” imperial-kolonial Eropa-Belanda. Sang bocah jatuh bangun “berdarah-darah” hingga megerti arti kata “merdeka” tepat memasuki usai dewasa. Selang 17 tahun setelah lahir lewat Sumpah Pemuda, gerbang akil-baligh bangsa terbuka dengan proklamasi merdeka 17 Agustus 1945.

        Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen perisitiwa. Dua dasa warsa di era orde lama kembali menggodog bangsa dewasa-merdeka. Kawah candradimuka menempa, bangsa ini kembali “berdarah-darah” jatuh-bangun tertatih-tatih untuk sekadar lulus dari seleksi alam eksistensi negara-kota republik hingga 1965. Paruh pertama fase sejarah baru saja dilalui. Lalu bangsa ini mengulang penderitaan, terbenam dalam kawah candradimuka “model baru.” Orde baru merentang waktu 33 tahun. Seperti biasa, jatuh-bangun, tertatih-tatih dalam derita pedih-perih, “berdarah-darah” untuk ke sekian kalinya.

        Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen peristiwa. Berkat tuah angka 7, tepat 70 tahun pasca kelahiran “bayi merah” nusantara 1928, bangsa ini membuka lembar sejarah baru. Siklus renaissancenusantara pasca 90 tahun ruh kebangkitan pertama pada 1908. Orde reformasi, 1998 menjadi tongak sejarah terindah bangsa dewasa merdeka. Gegap gempita, euforia, pesta “dansa” demokrasi extravagansa. Tsunami kebebasan kebebasan berekspresi-kreasi atas nama demokrasi menjebol tembok batasan-batasan. 

        Gelora spirit reformasi, seperti geloranya spirit Sumpah Pemuda 1928 pada 70 tahun silam, seperti geloranya spirit kemerdekaan 1945 pada 53 tahun silam, seperti geloranya spirit penghancuran ideologi komunisme 1965 pada 33 tahun silam. Prolog ”Republik kethoprak setengah babak” menjadi pertanda fase kedua “trial and error” sejarah tata negara-kota. Spirit pembaharuan, dengan pemuda dan kepemudaan menjadi pilar kekuatan utama pendobrak tiran penderitaan berkepanjangan. Mahasiswa sebagai simbol protagonisme manusia terajar-berkecerdasan-berpendidikan, selalu menjadi godam pendobrak tembok baja “zona nyaman kekuasaan,” dari Boedi Oetomo 1908, “Jong-Jong entitas” elemen nusantara 1928, pasukan “merdeka atau mati” 1945, HMI 1965, hingga mahasiswa Trisakti 1998.

        Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen peristiwa. ”Republik kethoprak setengah babak” belum usai, meski 14 tahun telah lewat dari monumen bersejarah “kelabu” reformasi 1998. Tiba-tiba hari ini bangsa ini seakan kehilangan spirit pemuda dan kepemudaan dan spirit kecerdasan terdidik-terajar kemahasiswaan. Bendera setengah tiang berkibar di tiang panjang, ditengah lapang. Negara ini masi setengah matang, kalau tidak dikatakan bantet, atau gagal tanak dalam proses ramu masak. 

        Krisis kepemimpinan nasional menjadi lingkaran setan kegagalan total pembaharuan. Tak jelas ujung atau pangkal, hulu atau muara, krisis kepemimpinan bisa sebagai sebab dari seluruh sebab lanjutan, bisa juga sebagai akibat dari alur sesat sejarah silam. Yang pasti, spirit kepemudaan seperti ditunjukkan pada sumpah pemuda 1928 kini makin sayup-sayup terdengar. Tepat 84 tahun berselang, kini bangsa ini sunyi senyap dari geriap gelombang perjuangan “berdarah-darah” heroisme protagonis pemuda dan kepemudaan khas nusantara.

      Bendera setengah tiang, kita layak berbelasungkawa atas mati surinya “bayi merah nusantara” yang sejatinya telah tumbuh dewasa-perkasa sebagai jejaka-ksatria-prawira tumpuan kejayaan bangsa. Tawaran berujung tawuran. Gagal berdiplomasi berkeadaban tinggi, logika-hati mati, akal sehat dan akal budi terkunci, kekerasan fisik menjadi solusi. Negara hilang bentuk, dan remuk. 

      Korban nyawa sia-sia pelajar dan mahasiswa akibat tawuran primitif tak jua menggugah kesadaran jiwa bersama. Padahal setiap tahun peristiwa yang sama selalu berulang, persis, sama dan sebangun, kurikulum pendidikan nasional selalu mengalami penyempurnaan. Tapi paradoksal,  kontradiktif dan kontraproduktif dengan hasil di lapangan. Hingga kita tak percaya bahwa sejatinya dalam usia yang semakin dewasa, kita telah gagal sebagai bangsa, negara-kota, keluarga, dan bahkan gagal sebagai manusia.

        Di mana Indonesia? Di mana persatuan tumpah darah-tanah air, bangsa dan bahasa yang di-azan-iqamat-kan sebagai ikrar tali pengikat negara-kota saat “bayi merah nusantara” dilahirkan pada 1928? Hari ini kita terjebak hidup di “negeri zombie.” Eksodus mayat hidup bergentayangan, menuju satu pusaran jahiliyyahkekuasaan dalam industri politik lansia (lanjut usia). Kita yang sudah defisit leader berkarakter, diperparah dengan over stock dealer dan broker, di hampir seluruh elemen politik, kepartaian, kelembagaan, instansi dan institusi kenegaraan dan kemasyarakatan.

      Para pemimpin berkeadaban bersukma kerakyatan negarawan sejati yang diteladankan oleh 3 generasi 1908, 1928 dan 1945 menguap ke langit tinggi, gagal bertranformasi dalam proses regenerasi anak negeri. Pemimpin produk terkini, pasca 1998 didominasi oleh kaum kurcaca-buto-raksasa ala batara kala, dengan syahwat klasik kebinatangan serigala. Homo homini lupus, saling terkam, saling tikam dan saling makan hanya untuk pemenuhan naluri kekuasaan, pelampiasan ego primordial partikular sempit-pendek.

        Lihatlah di sana, elit-elit politik yang berparade akrobatik layaknya parodi topeng monyet, bangunan negara-bangsa makin rusak dengan dalam dan berlipat-lipat. Fitnah zaman edan, fitnal dajjal-iblis atas nama demokrasi, namun berkhianat terhadap ruh suci demos-cratein. Daulat rakyat sirna, pertarungan berebut tahta dan kemenangan penuh muslihat ala sihir antek-antek Fir’aun membudaya. Sayang seribu sayang, kegagalan regenarasi kepemimpinan ksatria-prawira nusantara melahirkan produk gagal kepemimpinan lansia.

        Bukalah lembar wacana pemilu-pilpres 214, maka akan terlihat “muka-muka lama” yang berkamuflase dengan casing baru dipenuhi oleh generasi lansia. Contoh kecil, lihatlah berita beberapa lembaga survei akhir-akhir ini. Tiga nama mencuat sebagai kandidat terkuat capres 2014, Prabowo Subianto (Gerindra), Megawati Soekarnoputri-Mega (PDI-P), Prabowo Subianto (Gerindra) dan Aburizal Bakrie-Ical (Golkar). Ketiganya adalah produk pemimpin lansia. Bukankah memasuki masa-masa pasca 60 tahun adalah fase-fase akhir usia senja, kalau tidak dikatakan tua atau renta?

         Hari ini, Mega memasuki usia ke-65 (lahir 23 Januari 1947), Ical 66 (lahir 15 November 1946), dan Prabowo 61 (lahir 17 Oktober 1951). Pertanyaannya, dapatkah negeri dengan lebih dari 240 juta jiwa yang tengah carut-marut dengan “sejuta satu problema” dapat diatasi dengan spirit dan energi manusia, kecuali hanya sisa-sisa belaka? Di mana spirit perjuangan kepemudaan PDI-P yang “berdarah-darah” melawan tiran kekuasaan orde baru? Di mana pula spirit kekaryaan kepemudaan Golkar yang “berpayah-payah” menumbangkan orde lama untuk membangun Indonessia baru? Di mana pula spirit kerakyatan Gerindra yang “bersusah-susah” merebut dukungan rakyat untuk Indonesia baru?

      Industri politik telah menggusur cita-cita mulia dan makna suci politik republik sejati. Bahwa politik adalah,polis (πόλις) , politika (Πολιτικά)policypolitics-polite, kearif-bijaksanaan bertata negara-kota demi kemalahatan publik-rakyat, strategi memegang amanat kakuasaan yang dilandasi etika-moral-kesopanan berkedaban. Industri politik telah menggeser arah tata negara-kota yang otentik menjadi lahan niaga liberal kapitalistik yang menempatkan insting buas keserakahan manusia dalam simbiosis iblis  harta-tahta. 

    Kepentingan, kebutuhan dan keinginan ego partikular-kelompok memberangus kepentingan, kebutuhan dan keinginan yang lebih besar dan mulia sebagai tujuan bersama berdirinya negara-kota Indonesia. Maka ketika politik di negeri ini telah menjadi komoditi dan transaksi untung rugi ala dagang sapi, generasi lansia niscaya akan selalu buas dan nggragas untuk tetap tampil berkuasa. Hukum klasik spesies manusia, kompetisi mengeruk harta merebut tahta tak akan pernah sirna sebelum liang lahat menjadi kuburnya.

       Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen peristiwa. Dan hari ini kita sebagai bangsa perlu sejenak mengingat kembali sejarah 84 tahun silam. Ikrar Sumpah Pemuda menjadi tonggak pertama persatuan kebangsaan demi cita-cita bersama negara merdeka, 28 Oktober 1928. Sedikit flashback, 7 abad silam Mahapatih Gajah Mada berhasil menyatukan nusantara di bawah bendera Majapahit lewat Sumpah Palapa pada 1336. Jika masih tersisa cita-cita meraih kembali kejayaan bangsa nusantara, mungkin kita perlu membuat ikrar baru dengan spirit kepemudaan sejati. Sumpah paripurna, lebih dari dua legenda sumpah sebelumnya, dengan “Sumpah Ketiga Nusantara.”

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment