Tuesday, October 30, 2012

Menghimpun 12 Elemen Ksatria Nusantara



         Di era zaman edan, di tengah jahiliyah-barbar-homo homini lupus-nya sistem masyarakat-negara-bangsa, kita berharap dan sangat merindukan bersatunya para ksatria nusantara. Mereka adalah manusia pilihan, anak bangsa berkeunggulan karakter dan berkeadaban, para priyayi otentik bernurani, putra-putra terbaik yang tersisa di negeri ini.

     Hanya mereka yang masih waras eling-mindfull, berkesadaran pandangan terang, berparadigma kombinasi trilogi “kebangsaan-sosial-religius,” yang dalam bahasa  Bung Karno disebut sebagai “Nasakom.” Hanya mereka yang bisa mendobrak tembok kemandegan, mengelupasi lumut kebosanan dan memecah batu kesunyian perjuangan.

     Adalah mereka yang bervisi menegakkan daulat res-publica-kepentingan umum-publik-rakyat yang mampu mengkonstruksikannya menjadi “haluan pedoman” membangun MWSI (Masyarakat Warga Sejati Indonesia) sekaligus RKRI (Rumah Keselamatan Republik Indonesia) wadah resmi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

     Kita merindukan berhimpunnya 12 elemen “Kaum Terbaik Bangsa, Khairu Ummah, The Best People” para pemimpin bangsa berkelas dunia, yang oleh Plato dikatakan sebagai The Philosofer King-sang raja filsuf, dan dikatakan oleh Mahatma Gandhi sebagai sosok ideal manusia yang mampu menyelaraskan pikiran, ucapan dan perbuatan.

Ke-12 elemen itu adalah:


  1. Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua”-Bhinneka Tunggal Ika: Mathius Ali, K.H. Sahal Makkfudz-K.H. Ilyas Rukyat, Romo Pandit J. Kaharuddin, Kardinal Indonesia, Pemimpin Parisada Hindu Indonesia, Pdt. Yewanggo, Bante Kheminda, Ki Grangsang ‘Suryo Mentaram’, Muhaji Fikriono, Romo Magnis Suseno, Haidar Baqir, Muhammad Munir Mulkan, KH Lukman Hakim ‘Hikmah Sufi’, Agus Abubakar Arsal, Alwi Shihab, Media Zainul Bahri.
  2. Ideologi Pancataqwa-Pancasila yang aktual dan kontekstual memberdayakan dan  menghidupkan ruang publik: Ikhlasul Amal, Pusat Studi Pancasila Universitas Gajahmada, Yogyakarta, Yuwono Sudarsono, KH Hasyim Muzadi, Saefuddin (antropolog UI), Syafii Maarif.
  3. Kebangsaan: Sri Sultan HB X, Tri Sutrisno, Sayidiman, Kiki Syakhnakri, Saurip Kadi, Permadi, Siswono Yudo Husodo.
  4. Pendidikan: Soedjijarto, KH Said Agil Siraj, HAR Tilaar, Connie Semiawan, Romo Mardiatmadja, Sesepuh Taman Siswa, Romo J Sudarminta, Daud Joesoef, Utomo Dananjaya, Yusuf HR.
  5. Ekonomi ‘Syariah’-Kerakyatan: Kwik Kian Gie, Bambang Ismawan, Amin Azis, Rizal Ramli, Romo Heri Priyono, Sri Edi Swasono, Budi Wiyono, Faisal Basri.
  6. Masyarakat Warga Sejati yang Madani Berkeadaban: Paulus Wirutomo, Budi Munawarrahman, Rahmawati Soekarno, Pimpinan Buddha Zsuci, Pimpinan Sokka Gakai, Komunitas Lintas Agama Yogya, Deffri Chaniago (Perhimpunan Pedagang Kaki Lima Indonesia), Wardah Hafidz (Konsorsium Kaum Miskin Kota), Bambang Ismawan (LSM), KH Masdar Mas’udi (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Pesantren), Yenny Wahid (Masyarakat Gusdurian), Komunitas Akar dan Sayap, Komunitas Ciliwung – Institut Ilmu Sosial-nya Romo Sandyawan, Habib Lutfi Yahya dengan Jam’iyyah Ahli Toriqoh Muktabaroh Annahdliyah, Jaringan ‘Ekonomi Syariah’ PIN-BUK beserta ICMI-nya, Masyarakat Slankers, Masyarakat ‘OI-Orang Indonesia’ Iwan Fals, Imam Prasodjo (Komunitas Nurani Dunia), Komunitas ‘Diversity’ Warna Warni, Komunitas Media Ramah Keluarga (MARKA), Hendra Guo (Komunitas Musik Klasik), Muhaji Fikriono (Komunitas Sadari-Ma’rifat Jawa), Ki Grangsang (Komunitas ‘Kawruh Begja’), Robertus Robert, F. Budi Hardiman, Yudhi Latif, Komaruddin Hidayat, Tamrin Amal Tomagola, Soegeng Sarjadi, Ade Armando, Meuthia Ganie Rahman, serta saudara-saudara pejuang kemanusiaan transenden yang otentik beserta komunitasnya, yang maaf tak bisa disebutkan satu persatu.
  7. Politikus Negarawan yang Bernurani dan Pembangun Akhlak Peradaban: Sayuti Assyatri, Romo Sandyawan, Budiman Sujatmiko, Romo Beni Susetio, Djoko Widodo, K.H. Syamsuri Badawi, Pupung Suharis, Sri Lustriningsih (mantan Bupati Karanganyar), Soemarsono Soemarsaid, Rocky Gerung, Sutrisno Bachir, J. Kristiadi, Rieke Dyah Pitaloka.
  8. Kebudayaan: Mohammad Sobari, Emha Ainun Madjid, KH Mustofa Bisri, Al Zastrow, Komunitas Lima Gunung, Iwan Fals, Slank, Slamet Rahardjo, Jen Akadir, Taufik Ismail, Sutardji Kalsoum Bachri.
  9. Hukum: Mahfud MD, Yusuf Manggabarani, Abdurrahaman Saleh (mantan Jaksa Agung), Taufikurrahman Ruki (mantan ketua KPK), Putera Astaman, Abraham Samad (Ketua KPK), J.E. Sahetapi.
  10. Roh Pluralisme-Kemajemukan :Muhammad Arifin, K.H. Masdar Mas’udi, Romo Sastra Prateja, Yenny Wahid, Azzumardi Azra.
  11. Administrasi Publik-Negara ‘Good Governance’ :Eko Prasodjo, Riyas Rasyid.
  12. Iptek: B.J. Habibie, Karlina Supeli, AS Hikam.

Dan masih banyak putra-putra terbaik bangsa yang berintegritas “Kebangsaan-Sosial-Relijius” yang tidak bisa disebutkan satu persatu. 

     Selama putra-putra terbaik bangsa para ksatria nusantara masih ada, maka masih ada pula masa depan bagi Indonesia. Kita mengharap, merindukan bersatunya mereka, berhimpun dalam satu tujuan bersama membangun MWSI, RKRI dalam NKRI.

     Namun jika masih tetap terpecah-pecah, terbelah-belah dan terpisah-pisah, maka rakyat akan tetap terkurung dalam penderitaan sepanjang sejarah. Seperti yang pernah diwasiatkan oleh pemimpin besar revolusioner-visioner, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah Belanda, tapi perjuangkanmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Maka hanya dengan berhimpun dalam satu barisan perjuangan, sekokoh-kokohnya tiran akan sanggup dirobohkan.

Salam pembaharuan...
El Jeffry

Sumber inspirasi: Achmad Badhawi (kontributor nafaspembaharuan.blogspot.com)

1 comment:

  1. maaf sebelumnya ada kesalahan redaksi, khususnya pada judul "Menghimpun 13 Elemen Ksatria nusantara"

    Seharusnya "Menghimpun 12 Elemen Ksatria Nusantara"
    dan telah direvisi.

    Salam pembaharuan...

    ReplyDelete