Thursday, October 4, 2012

SBY Kupuji, SBY Kubenci


13493234671385565399
SBY: Presidenku, Kupuji Dan Kubenci. (sumber photo: http://www.waspada.co.id)

    Baca koran pagi, seorang teman lama menyodorkan sekelumit inspirasi, sebuah tulisan di Suara Merdeka hari ini, lalu berbaur dengan halusinasi dan imajinasi yang baru saja terusir dari mimpi malam tadi.

    SBY presidenku, SBY pemimpin tertinggi negara-bangsaku, SBY raja diraja tempat terakhir harapan dan impian akan masa depanku. Seorang sosok manusia luar biasa, yang oleh Iwan Fals lantunkan dalam lagu sebagai “Manusia Setengah Dewa,” kini ia tengah bertahta di atas singgasana istana merdeka.

    SBY, sebagai manusia, kini di masa-masa akhir menjelang lengsernya, masih saja tetap hadir dengan dua wajah, dua sisi, dua persepsi. Ibarat sekeping koin uang logam, logikaku dalam memandang, satu di kiri satu di kanan, hitam-putih, positif-negatif, plus-minus, gelap terang.

    SBY kupuji, SBY kubenci. Pujian dari salah satu anak negeri yang mengharap perubahan, pembaharuan dan perbaikan delapan tahun silam, saat carut-marut problem bangsa terus mendera tanpa ada secercah cahaya. SBY hadir dengan citra luar biasa sehingga aku terpana, terkesima dan terpesona.

    Telah hadir pemimpin bangsa sebenarnya, Satrio Piningit yang bakal membawa NKRI lepas dari kemelut ekstra-kusut, membuka gerbang cita-cita negara merdeka, mengalirkan udara reformasi yang sesungguhnya. Pemilihan langsung untuk kali pertama dalam sejarah demokrasi Indonesia, pilpres 2004, maka suara hati ku percayakan padanya, SBY.

   SBY presidenku, akhirnya suaraku menyatu dengan jutaan suara lainnya mengantarkan sang presiden ke singgasana istana. Lima tahun berlalu, aku belum bisa banyak menilai presiden pilihanku, karena zaman belum proporsional untuk menilai dalam-dalam kinerjanya. Pilpres 2009, aku berada dalam kebingungan, tak ada yang cukup meyakinkan dari seluruh calon ‘raja diraja’ yang hendak berlaga.

   Maka penilaian kinerja SBY presidenku kutunda. Mungkin lima tahun terlalu singkat untuk ‘mengubah wajah bangsa’ yang rusak parah tak terkira. Pada 2009 tak ada anak bangsa yang tampil ‘berlaga untuk layak menjadi raja.’ Pemimpin ideal, otentik, berkarakter, pluralis-kebangsaan sekaligus bersukma kerakyatan. Pilihan terbaik di antara yang buruk. Maka suara hatiku kembali ‘terpaksa’ kulabuhkan kembali untuk incumbent. SBY kupilih kembali menjadi presiden, sumbangan satu suaraku di antara jutaan suara lainnya yang bersikap sama.

   Kini telah memasuki tahun ke-4 kepemimpinan presiden pilihanku, baru makin terbuka pintu-pintu penutup misteri carut-marut bangsa ini. Semakin hari berganti, SBY semakin membuat sakit hati. Semakin waktu berlalu, SBY semakin membuat pilu. Semakin masa berjalan, semakin membuat hatiku didera kegamangan. Maka SBY kupuji, sekaligus juga kubenci. Kupuji karena berhasil memikat hati ini dengan tampilan dan pembawaan yang penuh simpati, orang pintar bilang, pesona ‘pencitraan.’ Tapi juga kubenci, karena gagal melegakan hati ini dengan prestasi nyata membawa hidupku lebih baik lagi.

    SBY kupuji, SBY kubenci. Kupuji karena dia begitu luar biasa memimpin dengan retorika, yang kadang-kadang seakan benar dan tepat secara logika, namun terasa perih dan sesak dalam dada. Kubenci karena carut-marut dan kemelut kusut masih mengurung perikehidupan bangsa ini hampir di semua lini. Hukum oleng sana-sini, korupsi menjadi-jadi, menyebar-merata ke seluruh kasta anak bangsa, dari kelas kakap-kerah putih-berdasi hingga kelas teri-kerah lusuh-tanpa alas kaki.

   Penggembosan KPK terorganisir berpola jahar dan sirr (terang-terangan dan terselubung), ketika lembaga pemberantasan korupsi ini tinggal satu-satunya menjadi harapan anak negeri. Sengketa KPK-Polri dalam ‘kompetisi bar-bar’ semakin menjadi. Politisi dan birokrasi berselingkuh dalam korporatokrasi. Penguasa dan pengusaha berkomplot dan berkonspirasi. Senayan, istana dan jalan raya, parade budaya koruptif mengalir bebas hambatan.

   SBY kupuji, karena ia begitu lantang berteriak tentang pemberantasan korupsi, bak panglima perang yang berani mati untuk berdiri di garda terdepan. Ikrar prajurit sejati, sumpah sapta marga jenderal prawira-ksatria gagah perkasa. Tapi SBY kubenci, karena semua itu hanya retorika dan wacana, deklamasi penghibur bocah-bocah sekolah di lapangan upacara. Konvoi kemunafikan para pemimpin bangsa, lain di mulut, lain di hati, lain di gerak tangan dan langkah kaki.

   SBY kupuji, karena sanggup menyihir dunia internasional dengan sederet penghargaan, khususnya di sela-sela menghadiri sidang Majelis Umum PBB di New York, AS, baru-baru ini. ''21st Century Economic Achievement Award'' dari US-ASEAN Business Council (USABC), organisasi advokasi perusahaan-perusahaan AS dalam menjalankan usaha di negara-negara ASEAN. Konon katanya, penghargaan ini didasarkan atas komitmen SBY dalam menciptakan kepastian hukum, menegakkan UU dan transparansi sehingga melahirkan iklim investasi yang sehat.

   SBY juga mendapat penghargaan ''Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security'' (CTI-CFF), diberikan oleh The Nature ConservancyWorld Resources Institute (WRI), dan World Wildlife Fund (WWF). Konon katanya, SBY menginspirasi para pemimpin lain di kawasan ASEAN dalam meluncurkan CTI-CFF tahun 2007 untuk melindungi sumber daya laut dan pantai, termasuk penyelamatan terumbu karang. Selain itu, SBY juga mendapat penghargaan medali ''Foreign Policy Association'', sebagai pengakuan tertinggi atas jasa-jasa dan peran SBY dalam memajukan perdamaian dunia dan kemajuan ekonomi global.

   Tapi SBY tetap kubenci, entah kebencian ini objektif atau sekadar luapan emosional orang kecil yang selalu gagal dan terkucil tanpa kepekaan pemimpin tertinggi negeri untuk berempati. Yang pasti, nyatanya aku tak sanggup melihat presidenku dalam satu sisi, satu wajah atau satu persepsi. Puji dan benci, suka dan maki, cinta dan amarah, tenang dan gelisah. SBY memaksaku terbelah pada dua wajah, hitam-putih, gelap-terang, plus-minus, harap-cemas, optimis-skeptis.

   Aku terjebak dalam penilaian yang menyiksa dada. Aku ingin husnuzhan, tapi setan kejahatan di lingkar kekuasaan menghalang lensa mata, su’uzhan niscaya kerap menggoda. Benarlah kata pepatah, “Semut di seberang lautan jelas kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata tak kelihatan.” Aku ingin percaya, tapi problem krisis multidimensi yang memenjara hari-hari memaksaku curiga.

   Aku ingin tetap memuji, namun kegagalan demi kegagalan yang semestinya bisa dihindarkan memaksaku untuk membenci, meski aku berusaha menahan diri untuk tidak mengumbar sumpah serapah dan caci-maki. Seperti tulisan temanku yang menginspirasi ini, dia yang mampu membeber dan membabar data, fakta dan realita ragam problema yang ada. Kegagalan di bidang ekonomi, hukum, keamanan, penegakan HAM menjadi alasan menggunungnya kebencian.

   Tapi pertumbuhan itu baru mencerminkan kuantitas, belum kualitas, sehingga angka kemiskinan dan pengangguran tetap tinggi, dan pemerataan pembangunan pun tidak terwujud. Misteri Century, Kisruh KPK-Polri, kasus Cicak-Buaya I dan II, terorisme merebak di mana-mana, kecelakaan transportasi darat, laut dan udara, konflik bernuansa SARA di sejumlah daerah serta pelanggaran kebebasan warga dalam beragama dan berkeyakinan, seperti dalam kasus Ahmadiyah dan Syiah, misteriusnya tragedi Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II pada 1998, dan masih panjang daftar lain yang hanya akan menambah gunung kebencian hingga menutup bukit puji dan penghormatan.

   SBY presidenku, SBY pemimpinku, SBY rajaku, maaf aku melihatmu sebagai dua wajah, yang di satu sisi kupuji, namun di lain sisi kubenci. Sebagai orang kecil yang selalu terkucil dan terjegal untuk tampil, juga sebagai WNI jelata anak bangsa, aku hanya bisa berkeluh-kesah lewat rangkaian kalimat sepenggal kisah. Mungkin kelak ada yang mengajari, atau kembali seorang teman menghembuskan inspirasi, bagaimana caranya agar rasa benci ini jangan sampai mendominasi isi hati.

Salam...

Sumber inspirasi: Karyudi Sutajah Putra (Dipuji Di Luar Dikritik Di Dalam/www.suaramerdeka.com/04/10/2012)

No comments:

Post a Comment