Friday, October 19, 2012

Restorasi Meiji, Revolusi Zhu Rongji Dan Reformasi NKRI


1350642401146933444
ZHU RONGJI. Sumber photo: http://kids.britannica.com


Bau anyir darah yang kini memenuhi udaramenjadi saksi yang akan berkata :Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya.

(cuplikan dari SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA-W.S. Rendra. Sajak ini dibuat di Jakarta pada 17 Mei 1998 dan dibacakan Rendra di DPR)
***
    Pembaharuan, perubahan, perbaikan, pembenahan, penyempurnaan, adalah keniscayaan dari gerak zaman di setiap ruas peradaban manusia. Di setiap belahan dunia, setiap komunitas, setiap umat, bangsa dan negara. Ia bisa terangkum dalam nama restorasi, revolusi atau reformasi, semua memuat totalitas makna pembaharuan, gerak hijrah-perpindahan dari kegelapan menuju terang, dari dari keterpurukan menuju kekokohan. Renaissance, lahir kembali. Reinkarnasi, menitis lagi.

Jepang 1868.

    Gelombang pembaharuan terbesar dalam sejarah negeri matahari terbit. Masa pencerahan sebuah bangsa yang terkungkung dalam kegelapan tiran pemerintahan diktator militer feodalisme korup Tokugawa Ieyashu tahun 1600. Kaisar Meiji menjadi figur sentral  restorasi yang membawa perubahan besar-besaran struktur politik dan sosial Jepang. 

     Kata Meiji sendiri berarti kekuasaan pencerahan dan pemerintah waktu itu bertujuan menggabungkan “kemajuan Barat” dengan nilai-nilai “Timur” tradisional. Restorasi Meiji, Meiji Ishin, Revolusi Meiji, atau Pembaruan Meiji  menjadi titik tolak bangsa Jepang untuk menjadi negara modern berkeunggulan-keadaban, gerbang pembebasan setelah 265 tahun terisolasi dari dunia luar, di bawah 15 generasi keshogunan Tokugawa.

    Kegemilangan restorasi Meiji tak lepas dari peran besar para ksatria Jepang para prajurit samurai, yang dengan spirit “berani mati bushido” berkolaborasi bersama rakyat hendak memperjuangkan kembali kekuasaan yang absah ke tangan kaisar.  “Sonnō jōi!” (Dukung kaisar, usir barbar!), perjuangan aliansi pro-kaisar membuahkan hasil.

    3 Januari 1869 menjadi tonggak bersejarah dari restorasi, ketika Kaisar mengeluarkan deklarasi formal tentang pengembalian kekuasaan ke tangannya:

13417667991165429496
Remaja Kaisar Meiji dengan perwakilan asing di akhir Perang Boshin , 1868-1870. (sumber photo: http://en.wikipedia.org/wiki/Meiji_restoration)

    “Mulai saat ini kami akan melaksanakan kekuasaan tertinggi untuk urusan-urusan dalam dan luar negeri dari negara ini. Maka dari itu, semua penyebutan Taikun dalam perjanjian-perjanjian yang telah dibuat harus diganti dengan perkataan Kaisar. Para pejabat sedang ditunjuk oleh kami untuk melaksanakan urusan-urusan luar negeri. Perwakilan-perwakilan dari negara-negara penandatangan traktat hendaknya memaklumi pengumuman ini.”

    Alhasil, dalam kurun waktu kurang dari 4 dekade, Restorasi Meiji sukses mengakselerasi industrialisasi di Jepang yang dijadikan modal untuk kebangkitan Jepang sebagai kekuatan militer pada tahun 1905 di bawah slogan “Negara Makmur, Militer Kuat” (fukoke kyohei).
Restorasi Meiji, dengan semangat bushido samurai khas ksatria Jepang, negara ini mampu merevolusi feodalisme korup yang telah berlangsung 265 tahun dan kini menjadi negara maju dalam industri dan perkasa dalam ekonomi di arena dunia.
***
Cina 1998.

Di awal kepemimpinan, Perdana Menteri Zhu Rongji berpidato:
 ”Beri saya 100 peti mati dan saya akan mengubur 99 koruptor di negara ini, satu lagi akan saya pakai jika saya juga korupsi.''

     Kata-kata diatas bukan sekedar sumpah sampah, ikrar asal koar atau slogan kosong. Ribuan bahkan puluhan ribu orang di China telah dihukum mati sejak tahun 2001 karena terbukti melakukan berbagai kejahatan, termasuk korupsi. Tercatat setidaknya ada 7 contoh pejabat publik yang benar-benar masuk peti mati dieksekusi karena kasus korupsi.

    Mereka adalah Cheng Kejie (pejabat tinggi Partai Komunis Cina sekaligus Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional), Hu Changging (Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi), Xiao Hongbo (Deputi Manajer Cabang Bank Konstruksi China), Xu Maiyong (mantan Wakil Walikota Hangzho), Jiang Renjie (mantan Wakil Walikota Suzhou), Li Yushu (Wakil Wali Kota Leshan), dan Zhou Liangluo (mantan kepala distrik Haidan, Beijing).

     Pada 1999 saja, tercatat 1.263 koruptor dieksekusi. Jumlah ini melejit menjadi 4.367 orang pada 2001. Tidak hanya itu, puluhan ribu polisi dipecat karena menerima suap, berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di luar tugas dan kualitas di bawah standar. Hasilnya, menurut Transparency International, China yang tadinya berlabel negara terkorup, pada 2007 berada di urutan 64. 

     Sebab pejabat takut untuk korupsi, pertumbuhan ekonomi China mencapai 9% per tahun dengan PDB melonjak tinggi dan cadangan devisa negara lebih dari 300 miliar USD. China pun tumbuh menjadi menjadi salah satu kekuatan raksasa ekonomi dunia. Sumpah yang telah mengubah wajah China dari negara penuh korupsi menjadi negeri yang minim penyelewengan. 

     Hukuman mati yang diterapkan 'Negeri Tirai Bambu' terhadap para koruptor hanyalah salah contoh betapa seriusnya mereka memerangi penyimpangan. Aktivis hak asasi manusia (HAM) memang gencar mengecam, tetapi mereka bergeming. Ibarat anjing menggonggong kafilah berlalu, China jalan terus. Pantang surut karena memang dianggap prorakyat. Soal law enforcement, China memang bisa dijadikan contoh. Di negara komunis ini, peraturan adalah peraturan. Lurus, tidak bisa dibengkokkan oleh kekuasaan atau uang.
***

13506433591080566180
REFORMASI 1998. Sumber photo: http://www.lensaindonesia.com

NKRI 1998.

     Gong reformasi ditabuh. Suara pembaharuan rakyat, tokoh masyarakat dan mahasiswa menggema. Euforia kebebasan massa setelah tiga puluh tahun terkungkung dalam tiran meluap menggelora, bagai air tumpah dari bendungan besar. Rezim orde baru tumbang, The Smiling General Soeharto lengser keprabon tanpa sempat persiapan.

    Udara kemerdekaan yang dinanti-nantikan rakyat, harus ditebus dengan nyawa ribuan anak bangsa. Rakyat selalu jadi korban perubahan zaman, tumbal wajib setiap permainan kekuasaan. Perjuangan selalu membutuhkan bergalon- galon keringat, darah dan air mata. Rakyat kecil tak peduli, apapun dikorbankan dengan kepolosan khas tetap setia menjadi martir bagi perjuangan bangsa. Perubahan, perbaikan, pembaharuan.

     Namun reformasi NKRI hanya sambel terasi. 14 tahun berlalu, sayup-sayup gaung suara itu makin menghilang. Nyaris tak lagi terdengar, lenyap, senyap, sepi ditelan hari. Gelombang harapan yang dulu menggunung kini telah kandas, tinggal buih-buih dan riak kecil di tepian. Senada dan seirama dengan nasib sebagai penghuni wilayah tepian, kaum pinggiran. Harta, nyawa dan kebersamaan anak bangsa yang sempat terguncang gagal ditebus dengan harga yang layak dan sepadan. Kesia-siaan yang terulang, sudah kebiasaan, potret sejarah bangsa yang gagal mental. 

    Orde kolonialisme, orde lama, orde baru dan orde reformasi, rakyat kecil selalu saja disuguhi   menu istimewa, sambel terasi. Panas, sedap dan pedas berkobar saat mengunyah perjuangan, tapi rasa nikmatnya segera menghilang beberapa saat setelah kemenangan diproklamirkan. Perut-perut kecil kembali menahan lapar, justru mulas yang didapat. Sebab porsi nasi yang seharusnya dibagi dengan adil dan merata, habis ditelan mulut-mulut lebar para raksasa. Jatah kurcaci selalu cuma sisa-sisa, dan yang pasti, sambel terasi abadi.

     Di mana sekarang sang tokoh sentral penggerak reformasi, sang reformis Amien Rais yang dengan ikon KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme) berhasil mengikat energi mahasiswa dan rakyat untuk bersatu menggulirkan perubahan? Quo vadis Amien Rais? Di mana 10 wajah pada pagi 19 Mei 1998 yang meminta Pak Harto mundur? Ada K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Emha Ainun Nadjib, Nucholish Madjid (Cak Nur), Ali Yafie, Prof Malik Fadjar, Yusril Ihza Mahendra, K.H. Cholil Baidowi, Sumarsono, Achmad Bagdja dan Ma'ruf Amin. 

     Dua dari tokoh reformasi telah tiada, Gus Dur dan Cak Nur. Amien Rais bahkan telah putus asa, “reformasi telah mati ebelum tumbuh.” Sisanya, sibuk dengan urusan masing-masing, dan entah ke mana lainnya, sebab suaranya kini tak terdengar lagi. Bangsa ini krisis kepemimpinan. Maka reformasi galat, alias gagal alat. Potret buram dari bangsa gagal mental. Korupsi makin menemukan performa terbaiknya. Wilayah korupsi yang semula hanya terbatas eksklusif dai kalangan pejabat-birokrat-pemimpin, pasca reformasi justru menyebar luas ke seluruh lini, aspek, segi, strata, kasta, lintas ruang dimensi.

    Korupsi menjadi wabah endemik-sistemik-sistematik akut. Evolusi sempurna gurita korupsidengan delapan tentakelnya menjerat leher bumi pertiwi di delapan arah mata angin. Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, pertahanan dan keamanan. Karupsi massal nasional, gelap-gelapan dan terang-terangan, munfaridh dan berjama’ah.
***
      Berkaca dari restorasi Meiji Jepang 1868 dan revolusi Zhu Rongji China 1998, ada satu hal yang menjadi sumber utama reformasi NKRI yang terlunta-lunta. Syamsudin Haris dari LIPI mengemukakan, krisis kepemimpinan saat ini merupakan mata rantai krisis nasional yang tak kunjung putus sejak reformasi. Setidaknya terdapat empat mata rantai krisis nasional pasca reformasi, yakni akumulasi permasalahan pada rezim Orde Baru, gagalnya konsolidasi kekuatan politik sipil pada reformasi 1998, reformasi institusional yang tambal sulam, dan inkonsistensi paket UU bidang politik.

     Indonesia, Jepang dan Cina sesungguhnya memiliki sejarah dan latar belakang bangsa yang sebenarnya tak jauh berbeda, terlebih sebagai sesama bangsa rumpun Asia. Tapi kita gagal mengikuti jejak langkah dan kesuksesan negeri tetangga. Kita gagal merombak struktur politik, sosial dan budaya secara menyeluruh dengan semangat juang prawira-ksatria-mujahid khas Indonesia seperti halnya semangat bushido dan filosofi samurai khas Jepang, atau spirit keteladanan kepemimpinan khas China ala Zhu Rongji.

    China melangkah dalam waktu yang sama dengan kita, 1998, namun realita yang ada sungguh jah berbeda. Apalagi dibandingkan dengan Jepang yang sudah melewati waktu hampir 150 tahun. Jika tak bisa belajar dari kesuksesan restorasi Meiji yang melibatkan sinergi trilogi peran ksatria-bangsawan, rakyat dan pemimpin (kaisar), mungkin kita bisa belajar dari kesuksesan China yang digerakkan keteladanan pemimpin tertinggi Perdana Menteri Zhu Rongji melalui pet mati.

   Yang pasti, restorasi, revolusi, reformasi, semuanya bertujuan sama, perubahan, pembarauan, perbaikan total. Jika bangsa ini masih belum juga bisa menangkap pelajaran berharga dari negeri tetangga, sepertinya semua harus bersabar menunggu sampai tahun 2160-an, 150 tahun lagi atau lebih lama untuk mengikuti jejak Jepang atau China. Permasalahannya, sudahkah kita menyadari bahwa sejatinya kita sebagai bangsa belum memulai langkah nyata di hari ini?

Salam…
El Jeffry

(dari berbagai sumber)

No comments:

Post a Comment