Wednesday, October 10, 2012

Putus Asa Yang Menyelamatkan Jiwa




“Menulis adalah hasil meditasi atas pengamatan di sekeliling, memaknainya, selanjutnya mengikat makna dan mengabadikan dalam tulisan hingga menginspirasi banyak orang.”

(Iqbal Jawad- Atase Pendidikan KBRI Tokyo: cuplikan artikel Pepih Nugraha dalam Tokyo : Untung di Jepang Tak Ada Front Pembela Shinto)


    Mencoba sedikit menangkap arti  meditasi ini, ada sebuah peristiwa kecil dari sekelompok ikan lele kecil di kolam samping rumah. Tanpa bermaksud berbagi inspirasi, karena justru saya yang menjadi ‘korban’ inspirasi, ada satu ‘pesan singkat’ dalam pengamatan yang cukup singkat.

   Alkisah, suatu malam sekitar seribu ekor benih lele sedang mengalami stress lingkungan karena perubahan air yang terlalu ekstrem. Sebagian dari lele-lele kecil ini berjuang mencari suasana baru dengan meloncat-loncat di bibir kolam. Karena memang permukaan air dari bibir kolam hanya berjarak sekitar sejengkal, maka sebagian dari mereka berhasil keluar, setelah berkali-kali mencoba tanpa pernah putus asa.

    Apa yang terjadi? Dari separoh ikan yang stress, yang pantang mundur meloncat-loncat sepanjang malam, separoh di antaranya berhasil keluar (sekitar 250 ekor). Ketika pagi tiba, sebagian dari mereka menjadi santapan tikus dan kucing yang ternyata siap menghadang menunggu hujan ikan dari bibir kolam. Sebagian lagi mati dikerumuni semut-semut api. Sebagian lagi yang berhasil ‘melarikan diri’ ke tempat aman pun mati karena gagal bernafas di udara, mati lemas di atas tanah. Lalu sisa-sisa bangkai ikan dipatoki ayam ketika pagi telah tiba.

     Sementara separoh lagi yang juga stress, namun mengambil jalan lain dengan berputus asa, sebagian memang gagal meloncat karena kurang daya hingga memilih untuk putus asa tak mengikuti jejak perjuangan rekan-rekan mereka. Diam di kolam dalam kelelahan dan keputusasaan.

      Seiring waktu berjalan dan menahan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang tak nyaman, lama-lama ikan-ikan yang putus asa ini menemukan kembali kenyamanannya. Setelah tiga hari berlalu, seluruh ikan yang tersisa di dalam kolam nampak bergembira, berenang ke sana-ke mari dengan sehat dan lincah seakan tak pernah terjadi sesuatu sama sekali.

    Ternyata putus asa kadang menjadi “penyelamat jiwa” tanpa pernah disengaja. Mungkinkah ini bisa menjadi inspirasi bagi manusia? Terserah Anda bagaimana menangkap makna dan menafsirkannya. Tapi kadang dalam hidup ada misteri yang tak pernah manusia memahami kecuali harus mengalaminya sendiri. Anda tak akan pernah mengerti makna sejati “lidah api” sebelum merasakan ujung jari Anda panas dan melepuh dengan menyentuh lidah api.

     Ada sebuah perhitungan pasti “matematika alam” yang telah menjadi ketetapan. Ketika telah ditetapkan bahwa telur ayam menetas dalam tempo 21 hari, kita tak dapat mempercepatnya dengan memecahkan cangkang sebelum waktunya, tidak pula mengundurkannya sedikitpun. Rekayasa “pemaksaan penetasan” pada bukan waktunya kadang bisa berakibat fatal dan berujung kematian.  

    Kita kadang dihadapkan pada satu hal yang sangat-sangat buruk dan ingin bersegera memerdekakan diri dari siksaan keadaan. Namun keadaan tak memungkinkan untuk mengambil pilihan, maju salah, mundur salah, bergerak ke manapun salah. Hampir seluruh nasehat berkata, “Jangan pernah berputus asa!” Namun kadang ketika kita memilih untuk diam dan berputus asa, memutus segala keinginan dengan menyerah total pada keadaan, di saat itulah kadang jalan keluar terbaik baru terbuka.

     Kadang kita perlu merenung sejenak untuk bermeditasi, samadi, tafakkur atau berkontemplasi, melepaskan semua ego-keinginan dan obsesi gerakan, seperti yang dikatakan orang sebagai “pelepasan energi” dalam diam. Karena ketika kita tahu bahwa yang menghalangi jalan adalah tembok baja, maka memukulinya dengan kepalan tangan hanya akan membuat luka-luka dan berdarah.

       Sampai ketika kita putus asa dan berhenti ‘berjuang’ memukulinya, lalu diam, duduk dan berbaring menghela nafas panjang, kemudian seiring waktu berlalu baru kita menyadari ketika “kekuatan dahsyat” tahu-tahu mengangkat atau meruntuhkan tembok itu. Maka, entah hendak dikatakan sebagai kesabaran atau keberserahan, yang pasti, bagi sekelompok ikan lele kecil ini, kadang putus asa bisa menyelamatkan jiwa. Bagaimana dengan pengamatan Anda?  

Salam...
El Jeffry


No comments:

Post a Comment